![]() |
| Prof. Ali Hasjmy |
Ali Hasjmy yang lahir tanggal 28 Maret 1914 memiliki nama kecilnya yaitu Muhammad Ali Hasjim. Dalam tahun 30-an dan 40-an sering memakai beberapa nama samaran dalam setiap karangan-karangan berupa puisi dan cerpen, seperti misalnya Al Hariry, Aria Hadiningsun, dan Asmara Hakiki.
Pendidikan yang telah ditempuhnya, yaitu Government Inlandsche School Montasie Banda Aceh, Thawalib School Tingkat Menengah Padang Panjang, Al-Jami'ah Al-Qism Adaabul Lughah wa Tarikh Al-Islamiyyah (Perguruan Tinggi Islam Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam) di Padang dan dalam tahun 50-an mengikuti kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.
Hidup dengan seorang isteri dan mempunyai tujuh orang anak, enam laki-laki dan seorang perempuan, yaitu:
Isteri bernama Zuriah Aziz yang lahir pada bulan Agustus 1926 dan menikah pada tanggal 14 Agustus 1941. Dari hasil perkawinan tersebut, lahirlah sebagai berikut:
- Mahdi A. Hasjmy, lahir 15 Desember 1942.
- Surya A. Hasjmy, lahir 11 Februari 1945.
- Dharma A. Hasjmy, lahir 9 Juni 1947.
- Gunawan A. Hasjmy, lahir 5 September 1949 (meninggal 12 September 1949)
- Mulya A. Hasjmy, lahir 23 Maret 1951.
- Dahlia A. Hasjmy, lahir 14 Mei 1953.
- Kamal A. Hasjmy, lahir 21 Juni 1955.
Pengalaman Pergerakan
Sejak muda, Ali Hasjmy telah aktif bergerak dalam berbagai pergerakan, di antaranya tahun 1932 sampai dengan 1935 menjadi anggota Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) dan dari tahun 1933 sampai dengan 1935 menjadi Sekretaris HPII Cabang Padang Panjang. HPII merupakan onderbow dari partai politik Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), suatu partai radikal yang menganut sistem nonkooperasi terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, tahun 1934 dipenjarakan selama empat bulan di Padang Panjang dengan tuduhan melanggar undang-undang larangan rapat.
Pada tahun 1935, bersama-sama beberapa pemuda yang baru kembali dari Padang mendirikan Sepia (Serikat Pemuda Islam Aceh)) dan kemudian terpilih menjadi Sekretaris Umum Pengurus Besar Sepia. Sepia kemudian diubah menjadi Peramiindo (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), menjadi salah seorang anggota pengurus besarnya. Peramiindo merupakan suatu gerakan pemuda radikal yang giat melakukan gerakan politik menentang penjajahan Belanda.
Sejak tahun 1939, menjadi Anggota Pengurus Pemuda PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Aceh Besar serta menjadi Wakil Kwartir Kepanduan KI (Kasysyafatul Islam) Aceh Besar. PUSA meskipun bukan partai politik, tetapi kegiatannya merupakan gerakan politik menetang penjajahan Belanda. Kemudian tahun 1941, bersama beberapa orang teman dari Pemuda PUSA mendirikan suatu gerakan rahasia (gerakan bawah tanah) dengan nama "Gerakan Fajar", dengan tujuan mengorganisir pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan ini dengan cepat menjalar ke seluruh daerah Aceh. Sejak awal tahun 1942, gerakan ini aktif melakukan sabotase di seluruh Aceh sampai meningkat kepada perlawanan fisik, di antaranya minggu ketiga Februari 1942, sejumlah pemuda Kasysyafatul Islam yang terlatih menyerbu Kota Seulimuem dan membunuh Kontroleur Tiggelmen dan terjadi pula pertempuran di Kemireu. Selanjutnya pertempuran menjalar ke seluruh daerah Aceh.
Karena Ali Hasjmy memimpin pemberontakan itu pula maka ayahnya Teungku Hasjim ditangkap Belanda dan baru bebas setelah Belanda lari dari Aceh. Pada awal tahun 1945, bersama-sama sejumlah pemuda yang bekerja pada Kantor Aceh Sinbun dan Domei, mendirikan suatu gerakan rahasia IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang bertujuan mengadakan persiapan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda kalau Belanda kembali setelah kalahnya Jepang yang memang waktu itu telah diperkirakan kekalahannya.
Setelah Jepang menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, IPI bergerak aktif secara terang-terangan terutama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menggerakkan kekuatan rakyat terutama pemuda untuk mempertahankan Proklamasi otu.
IPI kemudian berubah menjadi BPI (Barisan Pemuda Indonesia), berubah lagi menjadi PRI (Pemuda Republik Indonesia), dan akhirnya menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).
Pesindo Aceh memisahkan diri dari DPP Pesindo setelah DPP Pusat dipengaruhi oleh PKI dan berdiri sendiri dengan mengambil Islam menjadi asasnya. Pesindo Aceh yang telah mengambil Islam menjadi dasarnya, mendirikan sebuah divisi lasykar yang bernama Divisi Rencong. Sejak dari IPI sampai kepada Divisi Rencong, terus berada di bawah pimpinan Ali Hasjmy. Divisi Rencong, bersama-sama dengan Divisi Gajah (kemudian menjadi Divisi X), Divisi Teungku Chik Payabakong dan Divisi Teungku Chik Di Tiro berjuang dengan heroik untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
Partai politik yang pernah dimasukinya yaitu Permi (Persatuan Muslim Indonesia) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Waktu di Aceh menjadi Ketua Dewan Pinpinan Wilayah. Setelah pindah ke Jakarta, terpilih menjadi Ketua Departemen Sosial Lajnah Tanfiziyah DPP PSII.
Demikianlah secara kontinyu dan terus-menerus aktif dalam setiap kegiatan baik sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Pada awal September 1945, dengan menghadapi ancaman Jepang yang masih berkuasa di Aceh, dalam suatu upacara yang penuh khidmat dinaikkanlah Sang Saka Merah Putih di depan Kantor IPI (bekas Kantor Aceh Sinbun) yang disaksikan oleh ribuan pemuda dan masyarakat umum. Inilah bendera Merah Putih yang pertama dikibarkan di angkasa Banda Aceh yang kemudiannya baru disusul di tempat-tempat yang lain.
Pengalaman Kepegawaian
Setelah Indonesia merdeka, aktif sebagai pegawai negeri dan menduduki berbagai jabatan, di antaranya: pernah menjadi Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh, Kutaraja (1946-1947); menjadi Kepala Jawatan Sosial Keresidenan Aceh dengan pangkat Bupati (1949); Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Propinsi Aceh (1950); Kepala Bagian Umum pada Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial Kementerian Sosial di Jakarta (1957); diangkat menjadi Gubernur Propinsi Aceh (1957); dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh (1960-1964); menjadi anggota "kabinet" Menteri Dalam Negeri (1964-1966) di Jakarta, dan dipensiunkan sebagai pegawai negeri sebelum masanya (dalam usia 52 tahun) atas permintaan sendiri (1966); diangkat kembali sebagai tenaga sukarela menjadi Dekan Fakultas Dakwah/Publisistik IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (1968); diangkat dan dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam Ilmu Dakwah (1976) dan kemudiannya diangkat sebagai pegawai bulanan organik menjadi Rektor IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh (1977 sampai November 1982).
Selain aktif sebagai pegawai negeri, juga bergerak dalam berbagai bidang kegiatan kemasyarakatan, di antaranya menjadi Anggota Badan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (1946-1947); Anggota Staf Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947); Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (1949); Pimpinan Kursus Karang Mengarang di Kutaraja dan menjadi staf pengajar (1947-1948 dan 1950-1951); menjadi Ketua II Panitia Persiapan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan (1957); Wakil Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Ekonomi Negeri Kutaraja (1958); Ketua Umum Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Agama Islam Negeri Kutaraja (1959); Anggota Pengurus Besar Front Nasional (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) (1960); Ketua DPR-GR Daerah Istimewa Aceh (1961); Ketua Dewan Kurator Universitas Negeri Syiah Kuala (1962-1964)' Rektor IAIN Ar-Raniry (1963); Pimpinan Umum Harian Nusa Putra dan Staf Redaksi Harian Karya Bhakti di Jakarta (1964-1965); Anggota MPRS Golongan B (Wakil Daerah Istimewa Aceh) tahun 1967; dan sejak itu pula menjadi dosen dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam, Ilmu Dakwah, dan Publisistik, pada beberapa fakultas di Kopelma Darussalam. Kemudian dipilih menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sampai 1994), dan sejak berdirinya terus menjadi anggota Dewan Petimbangan Majelis Ulama Indonesia Pusat di Jakarta; Ketua Umum LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh); Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia Daerah Istimewa Aceh.
Khususnya dengan Daerah Istimewa Aceh dan Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam, Ali Hasjmy mempunyai andil yang cukup besar.
Pengangkatan beliau sebagai Gubernur Aceh tidak terlepas dari usaha pemulihan keamanan Daerah Aceh yang sedang diamuk perang saudara sehingga Daerah Aceh bisa berubah dari darul harb menjadi darussalam.
Demikian pula dalam rangka mengejar ketinggalan Daerah Aceh dari daerah-daerah lainnya akibat perang yang terus-menerus, sejak diangkat menjadi Gubernur Aceh, Ali Hasjmy bersama beberapa orang kawan seperjuangan lainnya mulai memikirkan dan memusatkan pikirannya untuk membangun pusat-pusat pendidikan di seluruh daerah Aceh.
Sebagai hasilnya, kini telah dapat kita saksikan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam dan dua perguruan tinggi di dalamnya, IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala.
Kopelma Darussalam merupakan pusat pendidikan untuk tingkat propinsi. Di samping itu telah berdiri pula beberapa perkampungan pelajar di beberapa kabupaten dan beberapa Taman Pelajar pada beberapa kecamatan di seluruh daerah Aceh. Dan kini telah meningkat menjadi Pusat Pendidikan Tinggi Darussalam Mini.
Telah puluhan kali Ali Hasjmy menghadiri dan menyampaikan makalah dalam berbagai seminar, lokakarya, simposium, konferensi, dan muktamar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Akhirnya dapat dijelaskan bahwa Ali Hasjmy telah tiga kali menunaikan ibadah haji, beberapa kali melaksanakan ibadah umrah dan telah beberapa kali melakukan perlawatan ke Timur Tengah (Mesir, Saudi Arabia, Kuwait, dan Bahrain), Pakistan, Muangthai, Singapura, Malaysia, Philipina, Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.
Perlawatan ke luar negeri yang pernah dilakukan antara lain:
- Tahun 1949 menjalankan tugas negara Republik Indonesia sebagai Anggota Misi Haji Republik Indonesia II ke Saudi Arabia dan Mesir selama tiga bulan.
- Dalam tahun 60-an beberapa kali ke Malaysia dan Singapura untuk menyertai berbagai seminar dan pertemuan sastra.
- Dalam tahun 1979 berkunjung ke Sabah, memenuhi undangan Kerajaan Negara Bahagian dan Yayasan Sabah untuk memberi serangkaian dakwah Islamiyah dan menghadiri beberapa diskusi tentang Islam.
- Dalam tahun 1979 juga berkunjung ke Ipoh dan Kuala Lumpur untuk Hari Sastra Malaysia, dan memberi sebuah prasaran yang berjudul "Bahasa dan Sastra Melayu di Aceh".
- Bersama dengan istri, dalam tahun 1978 menunaikan ibadah haji.
- Dalam tahun 1979, bersama Menteri Agama RI mengunjungi Bahrain, Saudi Arabia, dan Kuwait.
- Dalam tahun 1980 berkunjung ke Korea Selatan memenuhi undangan untuk meninjau pembangunan masyarakat desa dan pembangunan pendidikan. Dalam perjalanan pulang, singgah di Tokyo, Taiwan, Hingkong, dan Singapura.
- Selain dari itu, juga pernah berkunjung ke Thailand, India, dan Pakistan.
- Dalam tahun 1981, berkunjung ke Jepang (Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima, dan lain-lain) memenuhi undangan untuk mempelajari adat-istiadat dan kebudayaan Jepang.
- Dalam tahun 1981 berkunjung lagi ke Philipina memenuhi undangan Imam Besar Masid Jami' Maharlika Manila, untuk mempelajari pendidikan dan kebudayaan Islan di sana.
- Dalam tahun 1981 juga mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Trengganu, dan Kelantan, memenuhi undangan untuk menghadiri Hari Sastra dan seminar.
- Akhir tahun 1982 berkunjung ke Thailand atas undangan organisasi di sana dan menyampaikan makalah dalam simposium internasional tentang Kesusasteraan Melayu Tradisional di Kuala Lumpur.
- Dalam tahun 1985, 1986, dan 1987 mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Ipoh, Kelantan, Johor Baru, Perlis, Alor Star, dan lain-lain untuk menyampaikan makalah dalam berbagai seminar.
- Juli 1988 menunaikan ibadah haji sebagai Naib Amirul hajj; Amirul Hajj-nya Menteri Kehakiman Ismail Saleh, SH.
- November-Desember 1989 bersama isteri menunaikan ibadah umrah dan selanjutnya melakukan safari budaya ke Mesir, Turki, Spanyol, Belanda dan Singapura.
- November 1990 berkunjung ke Kuala Lumpur untuk menyampaikan makalah dalam Seminar Islam dan Kesenian. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke Singapura dan Brunei Darussalam.
- 9-24 Agustus 1991 melakukan safari budaya ke Uni Sovyet (Tasykent, Samarkanda, Bukhara, Urgent, Chiva, Leningrad, Moskow) dan ke Denmark.
- Tahun 1991 puluhan kali menghadiri seminar/simposium di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Buku-buku yang Telah Dikarang
Sejak umur 20 sampai kekinian sudah lebih lima puluh buah buku yang telah diakrang dalam berbagai disiplin ilmu, sejarah kebudayaan, agama, pendidikan moral, politik, dan sebagainya dan telah diterbitkan oleh berbagai penerbit baik di dalam maupun di luar negeri, yaitu:
- Kisah Seorang Pengembara (sajak), Medan: Pustaka Islam, 1936
- Sayap Terkulai (roman perjuangan), 1983, tidak terbit, naskahnya hilang di Balai Pustaka waktu pendudukan Jepang
- Dewan Sajak (puisi), Medan: Centrale Courant, 1938
- Bermandi Cahaya Bulan (roman pergerakan), Medan: Indische Drukkrij, 1939 dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Melalui Jalan Raya Dunia (roman masyarakat), Medan: Indische Drukkrij, 1939, dam Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Suara Azan dan Lonceng Gereja (roman antar agama), Medan: Syarikat Tapanuli, 1940, dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978, dan Singapura: Pustaka Nasional, 1982
- Cinta Mendaki (roman filsafat/perjuangan), naskahnya hilang di Balai Pustaka, Jakarta, waktu pendudukan Jepang
- Dewi Fajar (roman politik), Banda Aceh: Aceh Sinbun, 1943
- Kerajaan Saudi Arabia (riwayat perjalanan), Jakarta: Bulan Bintang, 1957
- Pahlawan-pahlawan Islam yang Gugur (saduran dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1981 (cetakan ke-4), dan Singapura: Psutaka Nasional, 1971 (cetakan ke-2, 1982)
- Rindu Bahagia (kumpulan sajak dan cerpen), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
- Jalan Kembali (sajak bernafaskan Islam), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Hafiz Arif (Harry Aveling)
- Semangat Kemerdekaan dalam Sajak Indonesia Baru (analisa sastra)), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
- Di Mana Letaknya Negara Islam (karya ilmiah tentang ketatanegaraan Islam), Singapura: Pustaka Nasional, 1970, dan Surabaya: Bina Ilmu
- Sejarah Kebudayaan dan Tamaddun Islam, Banda Aceh: Lembaga Penerbit IAIN Jami'ah Ar-Raniry, 1969
- Yahudi Bangsa Terkutuk, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1970
- Sejarah Hukum Islam, Banda Aceh:: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh, 1970
- Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1971
- Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern (terjemahan dari bahasa Arab), Singapura: Pustaka Nasional, 1972
- Pemimpin dan Akhlaknya, Banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, 1973
- Rubai Hamzah Fansury, Karya Sastra Sufi Abad XVII, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1974
- Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, 1974 (cetakan ke-3, 1994)
- Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975 (cetakan ke-5, 1993)
- Cahaya Kebenaran, Terjemahan Al-Quran, Juz Amma, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, dan Singapura: Pustaka Nasional
- Sumbangan Kesusasteraan Aceh dalam Pembinaan Kesusasteraan Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
- Iskandar Muda Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh Terbesar, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
- Tanah Merah (roman perjuangan), Jakarta: Bulan Bintang, 1977
- Meurah Johan (roman sejarah Islam di Aceh), Jakarta: Bulan Bintang, 1950
- Risalah Akhlak, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
- Surat-surat dari Penjara (catatan waktu dalam penjara berupa surat-surat kepada anak tahun 1953-1954), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Peranan Islam dalam Perang Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda (berasal dari buku Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, setelah ditambah dan disempurnakan), Jakarta: Bulan Bintang, 1979
- Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1980
- Langit dan Para Penghuninta (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Apa Sebab Al-Quran Tidak Bertentangan dengan Akal (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Mengapa Ibadah Puasa Diwajibkan (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
- Mengapa Umat Islam Mempertahankan Pendidikan Agama dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
- Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang, Jakarta: Mutiara, 1978
- Dakwah Islamiyah dan Kaitannya dengan Pembangunan Manusia, Jakarta: Mutiara, 1978
- Sastra dan Agama, Banda Aceh: BHA Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
- Perang Gerilya dan Pergerakan Politik di Aceh untuk Merebut Kemerdekaan Kembali, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
- Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1981
- Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
- Mengenang Kembali Perjuangan Missi Hardi, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
- Syiah dan Ahlussunnah Saling Rebut Pengaruh di Nusantara, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
- Benarkah Dakwah Islamiyah Bertugas Membangun Manusia, Bandung: Al-Ma'arif, 1983
- Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
- Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
- Hikayat Pocut Muhammad dalam Analisa, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
- Kesusasteraan Indonesia dari Zaman ke Zaman, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
- Sejarah Kesusasteraan Islam Arab, masih berupa naskah
- Publisistik dalam Islam, Jakarta:: Penerbit Beuna, 1983
- Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1990
- Mengarang dalam berbagai majalah dan harian yang terbit di Banda Aceh, Medan, Padang Panjang, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Singapura, dan Malaysia. Sebelum Perang Dunia II karangannya tampil di: Pujangga Baru (Jakarta), Angkatan Baru (Surabaya), Pahlawan Muda (Padang), Kewajiban (Padang Panjang), Raya (Padang), Panji Islam (Medan), Pedoman Masyarakat (Medan), Gubahan Maya (Medan), Suluh Islam (Medan), Fajar Islam (Singapura), Miami (Medan), Matahari Islam sebagai Pemimpin Redaksi (Padang). Setelah Perang Dunia II pada media-media seperti: Dharma, Pahlawan, Widjaya, Bebas, Sinar Darussalam (Pemimpin Umum) yang semua media tersebut berada di Banda Aceh, Nusa Putera, Karya Bakti, Majalah Amanah, Panji Masyarakat, Harmonis, Mimbar Ulama, semua media tersebut berada di Jakarta, Majalah Puwan (Banda Aceh), Gema Ar-Raniry (Banda Aceh), Harian Waspada (Medan), Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh).
Dalam awal tahun 1989, Ali Hasjmy telah mendirikan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Dalam tahun 1990, telah mewakafkan kepada yayasan tersebut tanah miliknya seluas hampir 3.000 meter persegi rumahnya, kitab-kitab/buku-buku dengan lebih 15.000 jilij, naskah-naskah tua, album-album foto bernilai sejarah dan budaya serta banyak sekali benda budaya untuk dijadikan sebagai koleksi Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hajsmy.
Tanggal 15 Januari 1991, Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy telah diresmikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.
Pada tanggal 18 Januari 1988, beliau meninggal dunia dalam usia 83 tahun.
Demikian riwayat kehidupan Prof. Ali Hasjmy yang disadur dari buku Delapan Puluh Tahun Melalui Jalan Raya Dunia, Ali Hasjmy, Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. []

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik