15 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (1)

Namanya Muhammad Daud. Sungguh nama yang luar biasa. Betapa tidak! Bukankah dua nama itu termasuk dalam 25 nabi yang mesti kita hafal. Saya ingat dulu, ketika di sekolah, guru mewajibkan kami untuk menghfal 25 nabi itu. Muhammad adalah nabi kita yang terakhir. Dan kalian jangan percaya jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa dialah nabi, seorang utusan Tuhan. Orang bebal sekali pun (mungkin) tidak akan percaya. Kitalah umat Muhammad, umat nabi yang terakhir, umat yang paling mulia ~ umat sebelumnya juga umat yang mulia ~ di mana Nabi kita akan memperjuangkan nasib kita kelak di akhirat di hadapan Allah. Semoga kita semua masuk ke surga. Sedangkan Daud, juga seorang nabi Allah yang mulia. Pendahulu Muhammad, yang mengajarkan Zabur untuk umatnya. Semoga umat Zabur juga akan berkumpul bersama kita kelak.

Teungku Daud Beureueh, sumber foto saya ambil di Wikipedia
Lantas, kenapa orang tua Muhammad Daud tidak membubuhkan nama Daud terlebih dahulu sebelum Muhammad? Padahal Daud adalah sang pendahulunya. Itulah mulianya seorang Muhammad di mata umatnya. Kita kerap mendahulukan Muhammad atau menabalkan nama Muhammad terlebih dahulu, sebelum diikuti dengan nama yang lain. Sudah semestinya kita menjaga nama baik Muhammad apabila nama kita serupa dengan namanya. 

Saya mengenal Muhammad Daud kecil sebagai seorang yang tak pernah mengecap bangku sekolah. Tapi ajaibnya, Muhammad Daud tidak buta dengan huruf latin. Berbeda dengan sebayanya yang juga tak ke sekolah. Tapi dalam perihal agama, Muhammad Daud mampu mengulik isi kitab yang dipelajarinya di pesantren. Mulanya Muhammad Daud berguru dengan Teungku Muhammad Hamid di Titeu. Tak lama memang. Hanya satu setengah tahun saja. Dulu dia sempat mengajak saya untuk ikut bersamanya. Namun, saya menolaknya. Kemudian Muhammad Daud berguru ke Teungku Ahmad Harun yang dikenal dengan Teungku di Tanoh Mirah. Empat tahun setengah Muhammad Daud bertekun di sana. Benih-benih kealimannya mulai muncul. Kami kerap bertanya masalah hukum kepadanya yang dijawab dengan lugas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kisah percintaan Muhammad Daud berakhir di Kampung Usi Meunasah Dayah. Meskipun Muhammad Daud sangat tertutup tentang masalah ini kepada kami, tapi Muhammad Daud sungguh beruntung menikahi Teungku Halimah. Di sana ia mendirikan sebuah pesantren yang santrinya berasal dari seluruh Aceh. Tahun 1930, Muhammad Daud membentuk Jami'ah Diniyyah. Setelah itu, Muhammad Daud juga mendirikan Madrasah Sa'adah Abadiah di Blang Paseh, Sigli. Di sini, Muhammad Daud berhasil meyakinkan penganut-penganut ajaran Al-Hallaj. Penganut ini yakin bahwa Allah, Muhammad, dan Adam hakikatnya adalah satu. Serupa kain, benang, dan kapas.

Muhammad Daud adalah pemuda yang keras kepala dan tahan uji terhadap segala persoalan pelik yang membelitnya. Ia tak segan-segan menentang pemerintah mengenai persoalan yang tak cocok dengan prinsipnya. Dikisahkan oleh seseorang, Muhammad Daud muda sangat menentang feodalisme. Utamanya kekuasaan para uleebalang yang culas. Adalah Teuku Keumangan Umar yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Muhammad Daud. Ia sangat membenci Muhammad Daud sampai-sampai ia melarang Muhammad Daud untuk mengajar di daerah kekuasaan uleebalang itu. Banyak yang tak suka terhadap Teuku Keumangan Umar karena sikapnya yang terlalu feodal, kolot, brutal, dan gemar memeras rakyat. Pernah di suatu masa, Teuku Keumangan dihalau oleh Belanda ke Ulee Lheue, Kutaraja akibat laporan keuangan yang dikirimkan ke Belanda tidak beres. Kampung yang berada di wilayahnya seakan "terbebaskan". Perkara-perkara sengketa yang terjadi di kampung tak pernah sampai ke pengadilan uleebalang di Beureunun. Pajak tak pernah juga disetor ke Beureunun, tapi disetor ke kantor asisten residen di Sigli. Sungguh perbuatan yang sangat licik.

Muhammad Daud bahkan pernah ditahan selama tiga hari oleh Teuku Keumangan Umar karena dianggap sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Belanda di wilayah kekuasaannya. Namun dia dibebaskan oleh Belanda karena tak terbukti. Sungguh kesal Teuku Muhammad Keumangan. Akibat desakan Teuku Muhammad Keumangan kepada Belanda dan semakin meruncingnya konflik di antara dua tokoh ini, maka Belanda mendesak Muhammad Daud untuk hijrah ke Tapak Tuan, Aceh Selatan. Ia menerimanya. Tapi saya belum tahu alasannya.

Kisah lain yang saya dengar tentang Muhammad Daud adalah ketika dalam khutbah Jum'at di Mesjid Raya Kutaraja, Muhammad Daud mengupas ringkas tentang Islam dan Komunis. Tegas dan terang ia menyebutkan bahwa komunis adalah musuh Islam. Ia menasehatkan agar umat Islam harus menjauhkan diri dari PKI yang pada masa itu mulai berkembang. 

Lidah Muhammad Daud tak segan-segan menyebut kafir kepada orang yang tidak disenanginya. Dalam artian bahwa orang itu berkelakuan tak sesuai dengan agama. Vonis bagi si kafir bisa saja ia katakan di mana pun ia bersuara. Apakah itu di masjid, di dalam rapat, atau tempat-tempat yang menurut pemahamannya layak "dikafirkan". Muhammad Daud memang seorang tokoh yang unik. Perpaduan antara Bung Tomo dan Bung Karno. Pidatonya lancar, bahannya tak pernah habis, ia sanggup berdiri di atas podium berlama-lama.

Kisah Muhammad Daud terus berbinar. Tahun 1939, ia mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). PUSA dan Muhammad Daud tak terpisahkan. Orang-orang yang mendengar Muhammad Daud atau pada masa itu orang sudah lebih mengenalnya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh tentu akan terbayang PUSA. 

Saya terhenyak ketika melihat kemajuan pesat yang dialami oleh Muhammad Daud. Dan saya semakin takzim saat mengetahui bahwa Muhammad Daud dan PUSA dengan semangat berapi-api mengusir Hindia Belanda dari tanah Aceh. Sudah sepantasnya kita berhutang terima kasih kepadanya dan rekan-rekan seperjuanganya. Mereka telah mengubah sejarah Aceh.

Lantas, bagaimana kiprah Muhammad Daud setelah Hindia Belanda pergi? Ketika Jepang berkuasa, Muhammad Daud pernah ditahan oleh Jepang karena terlalu reaksioner. Padahal kita tahu bahwa PUSA pernah membantu Jepang untuk mendarat di Aceh (Baca juga: Saat Jepang Masuk ke Aceh). Tapi, Muhammad Daud dibebaskan kembali.

Ah, sudah terlalu malam. Kisah sahabat saya itu akan saya lanjutkan di waktu mendatang. Ini hanyalah sebuah kisah imajiner saya. Anda boleh percaya atau tidak. Tapi kisah ini saya olah dari buku karangan M. Nur El Ibrahimy yang berjudul Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh.

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik