Pelatah adalah orang yang latah. Sedangkan latah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian, yaitu 1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2) berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi); dan 3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Kita sering melihat orang latah, dan kadang-kadang orang yang tak latah pun sering melatah-latahkan diri.
Berkembangnya media sosial merupakan surga bagi pelatah. Ketika kita bergelut dalam keasyikan media sosial, kita sering menemukan "sampah-sampah kalimat" yang bertaburan atau foto-foto yang kadang tidak sesuai dengan caption. Katakanlah ada isu-isu yang belum jelas benar salahnya yang sudah dikonsumsi oleh orang-orang. Ini tentu akan sangat berbahaya dalam membentuk pola pikir. Bagaimana nasib orang yang menjadi korban isu-isu tak sedap itu? Bagi yang mudah termakan isu, sampai kebenaran terwujud pun tidak akan mampu mengubah prinsip orang itu. Dia sudah terlanjur mengambil sikap terhadap isu-isu yang tak benar itu. Dan malah mempertahankan ketidakjelasan tersebut di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat yang ramai. Akhirnya, dengan bangga juga membagi-bagikan "sampah-sampah kalimat" itu di media sosial dengan menambahkan sedikit bumbu-bumbu kalimat yang hambar dengan majas-majas yang tak jelas.
Sama halnya dengan foto. Memakai aplikasi ubah foto, dengan semena-mena oknum tak dikenal mengubah foto-foto dengan satir-satir yang menyakitkan. Satir yang menghasut, satir yang mengundang kebencian, dan satir yang tak punya selera humor. Pelatah yang demikian ini tak ubahnya dengan burung beo yang suka meniru meski tak sempurna. Apa yang ditiru tak pernah dicerna dan dikaji sebab akibatnya. Jika kita mengajarkan beo kata-kata makian, si beo pun akan meniru ucapan kita. Nah, bagaimana kalau kata-kata makian si beo itu berkicau pada saat yang tidak tepat? Ya, kita akan merasa malu. Jika tidak punya rasa malu, kata orang Aceh (bentuk sindiran), orang itu benar-benar sudah putus urat malunya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat orang yang mengganggu si pelatah. Keusilan mereka hanyalah untuk menciptakan kelucuan saja. Padahal, si pelatah sudah sangat menderita untuk mengulang-ulang apa yang dialaminya. Tapi kita sudah terlanjur tertawa girang. Namun dapatkah kita membayangkan jika si pelatah ini dengan tak sengaja melukai orang di dekatnya secara fisik? Lebih parah lagi jika si pelatah sedang memegang sesuatu yang tajam sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang berada di sampingnya.
Di facebook, atau twitter, pelatah-pelatah gadungan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling benar. Banyak berita tak jelas dikonsumsi dengan mentah. Anehnya, berita yang dikonsumsi itu tidak membuat si pelatah muntah. Dalam agama, kita dianjurkan untuk meneliti dulu sesuatu yang disampaikan kepada kita, agar apa yang disampaikan tersebut tidak menimbulkan fitnah atau membahayakan sesuatu golongan.
Pelatah gadungan adalah orang yang menderita penyakit kejiwaan. Apakah kita termasuk pelatah yang demikian? Yang kedudukannya seimbang dengan orang-orang yang tak waras.
![]() |
| Orang latah, sumber foto: detik. |
Berkembangnya media sosial merupakan surga bagi pelatah. Ketika kita bergelut dalam keasyikan media sosial, kita sering menemukan "sampah-sampah kalimat" yang bertaburan atau foto-foto yang kadang tidak sesuai dengan caption. Katakanlah ada isu-isu yang belum jelas benar salahnya yang sudah dikonsumsi oleh orang-orang. Ini tentu akan sangat berbahaya dalam membentuk pola pikir. Bagaimana nasib orang yang menjadi korban isu-isu tak sedap itu? Bagi yang mudah termakan isu, sampai kebenaran terwujud pun tidak akan mampu mengubah prinsip orang itu. Dia sudah terlanjur mengambil sikap terhadap isu-isu yang tak benar itu. Dan malah mempertahankan ketidakjelasan tersebut di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat yang ramai. Akhirnya, dengan bangga juga membagi-bagikan "sampah-sampah kalimat" itu di media sosial dengan menambahkan sedikit bumbu-bumbu kalimat yang hambar dengan majas-majas yang tak jelas.
Sama halnya dengan foto. Memakai aplikasi ubah foto, dengan semena-mena oknum tak dikenal mengubah foto-foto dengan satir-satir yang menyakitkan. Satir yang menghasut, satir yang mengundang kebencian, dan satir yang tak punya selera humor. Pelatah yang demikian ini tak ubahnya dengan burung beo yang suka meniru meski tak sempurna. Apa yang ditiru tak pernah dicerna dan dikaji sebab akibatnya. Jika kita mengajarkan beo kata-kata makian, si beo pun akan meniru ucapan kita. Nah, bagaimana kalau kata-kata makian si beo itu berkicau pada saat yang tidak tepat? Ya, kita akan merasa malu. Jika tidak punya rasa malu, kata orang Aceh (bentuk sindiran), orang itu benar-benar sudah putus urat malunya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat orang yang mengganggu si pelatah. Keusilan mereka hanyalah untuk menciptakan kelucuan saja. Padahal, si pelatah sudah sangat menderita untuk mengulang-ulang apa yang dialaminya. Tapi kita sudah terlanjur tertawa girang. Namun dapatkah kita membayangkan jika si pelatah ini dengan tak sengaja melukai orang di dekatnya secara fisik? Lebih parah lagi jika si pelatah sedang memegang sesuatu yang tajam sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang berada di sampingnya.
Di facebook, atau twitter, pelatah-pelatah gadungan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling benar. Banyak berita tak jelas dikonsumsi dengan mentah. Anehnya, berita yang dikonsumsi itu tidak membuat si pelatah muntah. Dalam agama, kita dianjurkan untuk meneliti dulu sesuatu yang disampaikan kepada kita, agar apa yang disampaikan tersebut tidak menimbulkan fitnah atau membahayakan sesuatu golongan.
Wahai, orang-orang yang beriman, jika ada seorang yang fasiq mendatangi kalian dengan membawa suatu berita penting, maka telitilah dulu (tabayyun), agar kalian jangan sampai menimpakan suatu bahaya kepada sesuatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian kalian menyesal atas perbuatan kalian. (QS. Al-Hujurat:6)Tapi kenyataannya sebaliknya. Kita sering terpancing dengan judul suatu berita yang sangat bombastis atau vulgar, tapi isi berita tak sesuai dengan judul berita. Di media online, pernah juga saya jumpai hal tersebut. Menjamurnya media online ternyata tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Inilah salah satu sebab yang membuat saya enggan membaca media online yang tidak jelas. Sumber-sumber berita yang diambil pun tidak jelas. Kejadian-kejadian yang tak penting pun kini sudah menjadi berita. Isi berita ditulis dengan sedikit aroma drama.
Pelatah gadungan adalah orang yang menderita penyakit kejiwaan. Apakah kita termasuk pelatah yang demikian? Yang kedudukannya seimbang dengan orang-orang yang tak waras.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik