Showing posts with label Hamzah Fansuri. Show all posts
Showing posts with label Hamzah Fansuri. Show all posts

14 September 2016

Secangkir Kopi Bersama Fansuri

Saya memasuki sebuah taman yang ditumbuhi oleh beberapa pohon rindang. Sudah lama saya tak singgah di taman itu. Rasa sejuk pun mulai membasuh saya walau siang begitu teriknya. Di sudut taman itu, ada sebuah warung kopi yang secara tak sadar langkah saya telah berayun ke sana. Hingar-bingarnya deru kendaraan yang berada di depan taman itu tidak mengurangi kesejukan yang saya rasakan. Setibanya di warung kopi taman tersebut, saya menilik ke sekeliling. Warung telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik berdiskusi. Tak ada tempat kosong. Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang laki-laki tua sederhana yang sedang menyendiri menatap ke arah lalu-lalangnya kendaraan di bawah sebuah pohon rindang. 

Saya menyapa laki-laki itu seraya meminta izin untuk dapat duduk bersamanya dengan dalih tak ada tempat lain yang bisa ditempati. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan kami duduk saling berhadapan. Kemudian saya memesan secangkir kopi. Tak butuh waktu lama untuk menghirup nikmatnya aroma kopi tersebut karena dengan segera kopi telah terhidang di hadapan saya.

Saya tatap laki-laki tua itu yang tak bergeming sedikit pun sejak saya duduk bersamanya. Ia terus menatap hampa seakan tak menggubris keberadaan saya. Saya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sedang Anda pikirkan, Teungku?" tanya saya sesantun mungkin. Laki-laki itu menatap tajam ke arah saya dan menjawab singkat, "Tuhan!" Saya kaget mendengar jawaban tersebut. Sungguh seorang laki-laki yang agak misterius bagi saya.

"Bisakah Anda menjelaskannya lebih lanjut kepada saya mengenai Tuhan?" pinta saya. Laki-laki tua itu lama menatap saya seakan menyangsikan pertanyaan yang saya ajukan. "Tuhan, ketika segala sesuatu itu belum ada (berwujud), maka ketahui olehmu yang pertama sekali ada itu hanyalah Allah sebagai zat semata, tanpa sifat dan nama. Allah sebagai zat adalah Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas. Allah adalah yang awwal dan yang akhir, dan yang tiada teribaratkan dan tiada termisalkan. Nama zat semata tersebut adalah Huwa."

Saya tersentak dalam kegamangan dan bertanya lagi, "Apakah yang Anda maksudkan Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas tersebut?" Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas serupa laut yang dalam, karena hakikat zat tidak dapat diketahui dan tak seorang pun dapat mengenalinya. Allah yang dalam sisi-Nya tanpa aktivitas adalah zat semata dan bernama Huwa. Maka ketika Allah dalam kondisi beraktivitas adalah wujud Allah. Akhirnya zat Allah dan wujud Allah adalah Esa.

Maka dapat dipahami bahwa wujud Allah dan wujud alam adalah Esa. Karena alam ada pada dirinya sendiri dan tidak memiliki wujud. Karena alam itu bukanlah wujud. Wujud alam itu adalah bayang-bayang (wahmi) yang maksudnya adalah bayang-bayang seperti pada cermin, di mana ia tampak memiliki wujud tapi pada hakikatnya tidak. Maka dapat disimpulkan bahwa alam ini tidak memiliki wujud sendiri melainkan diberikan wujudnya oleh Allah.

Simbol bayangan pada cermin ini merupakan hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan antara Allah dan alam seperti tampak dalam ajarannya mengenai penciptaan. Proses penciptaan ini tidak lain karena manifestasi Allah terhadap diri-Nya sendiri (tajalli). Proses manifestasi diri ini dilakukan dengan beberapa fase (ta'ayyunat). berupa kenyataan pertama atau disebut juga martabat wahdat, atau pemanifestasian zat kepada diri-Nya sendiri. Allah melihat kesempurnaan diri-Nya sendiri dan sungguh Allah Maha Sempurna atas segalanya.

Saya terkesan dengan uraian tersebut walau agak sulit dipahami. Lalu saya menyeruput kopi untuk memecah kebuntuan pikiran. "Kemudian bagaimana dengan manusia? Apakah manusia dapat mencapai Tuhan atau zat-Nya? Bisakah Anda memberikan gambaran bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan?"

Beliau memberikan tamsilan secara tasawuf, bahwa manusia ibarat seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Luas dan dalamnya laut tidak mampu dilukiskan dengan akal pikiran sepertti halnya kedalaman dan keluasan ilmu dan zat-Nya.

Namun seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat samapi, bertemu, dan pada akhirnya bersatu dengan Allah (wahdatul wujud). Seorang hamba yang dapat bersatu dengan Allah adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fana fillah, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan inni ana-llah yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.

Saya terhenyak dan hampir saja melompat mendengar penjelasan yang terakhir ini. Bukankah ini hampir serupa dengan pernyataan Al-Hallaj dengan perkataannya ana al-haq yang akhirnya digantung karena dianggap menyesatkan. Tapi saya belum berani bersimpul dan mendengar penjelasan beliau selanjutnya. Dalam mencari Tuhan, manusia juga ibarat seekor burung dan Tuhan ibarat ruang angkasa. Sama seperti ikan dan lautan yang luas. Burung dan ikan tidak akan mungkin mencari Tuhan di angkasa maupun di lautan karena keduanya sangat luas, tak berujung, dan tak bertepi. Ini adalah gambaran sebuah pengembaraan jiwa atau ruh seseorang dalam mencari kesempurnaan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa kesempurnaan diri seseorang terpusat pada hatinya. Semakin jernih hati seseorang semakin jelas dan terang ia dapat mengetahui dan melihat Tuhan.

"Apakah kamu memahaminya, wahai anak muda?" Saya menggeleng. "Maka renungkanlah apa yang sudah saya katakan tadi. Saya menduga kamu pasti telah berkesimpulan bahwa apa yang saya katakan tadi telah menyeleweng dari akidah. Ketahui olehmu bahwa ini bukanlah konsep panteisme yang sering diperdebatkan itu. Wujudiyah yang saya maksudkan di sini memiliki makna lebih tinggi, yakni aspek rohaniah yang sangat tinggi (as-sirr fissirr). Pahamilah tasawuf secara sempurna karena manusia biasa amat sulit menemukan labirin rantai-rantai rohaniah dengan Tuhan. Banyak yang mulhidah (menyimpang) dari wujudiyah murni, dan saya tetap pada wujudiyah muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan). Untuk itu, dalam melakukan usaha-usaha ini dibutuhkan seorang mursyid (guru) yang akan membimbing proses ini. Karena manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dan dapat menyatu dengan Tuhan (wahdatul wujud) adalah manusia yang telah memperoleh ilmu ladunni ataupun ma'rifatullah secara sempurna dan telah berhasil mencapai taraf ketiadaan diri.

Saya akhirnya tersenyum pertanda mulai memahami penjelasan laki-laki tua itu. Kopi terakhir yang saya cicipi pun semakin nikmat. Diskusi ini sangat berarti bagi saya dan saya terdorong untuk lebih mengenal laki-laki tua tersebut.

"Maaf, Teungku! Bolehkah saya tahu siapa Anda dan dari mana Anda berasal?"

Laki-laki tua itu bangkit dari duduknya dan hanya berkata, "Saya harus pergi karena Tuhan telah memanggil." 

Saya terpaku dan tampak sedih karena mungkin saya tidak akan berjumpa lagi dengannya untuk sebuah diskusi baru. Namun sebelum beliau pergi, beliau berujar, "Segala muda dan sopan, segala tuan berhuban, 'uzlatnya berbulan-bulan, mencari Tuhan ke dalam hutan."

3 July 2016

Thayr al-'Uryan - Hamzah Fansuri

Syair Thayr al-'Uryan karya Hamzah Fansuri merupakan karya puisi dan bisa dianggap menjadi salah satu karya-karya terbaik dari Syekh Hamzah Fansuri. Thayr al-'Uryan memakai burung sebagai tamsilannya untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh untuk mencari kesempurnaan dirinya. Berikut ini saya ketik ulang teks Thayr al-'Uryan yang disarikan dari beberapa sumber.


I

Thayr al-'Uryan unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnainya pingai terlalu sufi
Tempatnya kursi yang maha 'ali

Sungguh pun 'uryan bukannya gila
Mengaji al-Quran dengan tartila 
Tempatnya mandi sungai salsabila
Di dalam firdaus ra'su Zanjabila

Sungai ini terlalu 'ali
Akan minuman Thayr al-'Uryan
Setelah minum jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi

Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau sayang
Inilah harga arak yang garang

Thayr al-'Uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk harus kau hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim

Minuman itu tiada terbagi
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal Thayyibun pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai

Minuman itu terlalu sufi
Yogya akan syurbaty maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kira radhi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi

Minuman itu yogya kaum permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain 
Inilah 'Uryan pada ahl-batin

Jika Engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah 'Uryan jangankan katamu
Orang yang 'Uryan bukan rupamu

Riya dan khayal tiada qabil
Pada orang arif yang sudah kamil
Lain daripada mabuk dan ilmu wasit
Pada ahl-haqiqah sekalian batil

Tiya dan khayal ilmu nafsani
Di manakan sampai pada ilmu yang 'ali
Seperti Bayazid dan Mansur Bagdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan Qawl Subhani

Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl-ma'rifat terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang

Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu

II

Unggas pingai terlalu 'asyiq
Da'im bermain di kursi khaliq
Bangsanya Rahman yang fa'iq
Menjadi sultan terlalu la'iq
Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal Allah terlalu nyata
Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Sayapnya bernama Furqan
Tubuhnya bersurat Quran
Kakinya Hannan dan Mannan
Da'im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan anggannya
Nur Allah akan matanya
Nur Muhammad da'im tenggernya

Liqa Allah nama 'ishq-nya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman dan Rahim akan hatinya
Menyembah Tuhan dengan sucinya

Bumi langit akan sangkarnya
Mekkah dan Madinah akan pangkalannya
Bait Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da'im sekalian luruh

Rupanya akan Mahbubnya
Lakunya akan Marghubnya
Bangsanya akan Matlubnya
Buraq al mi'raj akan markubnya

'Ilm al-yaqin nama ilmunya
'Ain al-yaqin hasil tahunya 
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari'at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya
Ma'rifat yang wasil akan isainya

'Alam nasut akan hambanya
Perisai malakut akan kutanya
Duldul jabrul nama kudanya
Menyerang laut akan kerjanya

Dengarkan hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kamu ramu
Supaya jadi mulya adamu

III

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da'im di kursi raya
Daripada nurnya faqir dan kaya
Menjadi insa, tuan dan saya

Kuntu kanzan asalnya sarang
'Alam lahut nama kandangnya
Terlalu luas dengan lapangnya
Itulah kanzan dengan larangnya

Aql al-kulli nama bulunya
Qalam al-'ala nama kukunya
Allah ta'ala nama gurunya
Oleh karena itulah tiada judunya

Jalal dan Jamal nama kakinya
Nur al-awwal nama jarinya
Lawh al-mahfudzh nama hatinya
Menjadi jauhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal nabinya
Dari nur Allah dengan sucinya
Sekalian alam pancar nurinya
Menjadi langit serta buminya

Alam ini asal warnanya
Di sana-sini pancar sertanya
Sidang ghafil(un) dengan karmanya
Lupakan nuri dengan warnanya

Setelah zahir sekalian alam
Ia pun datang serupa Adam
Menjadi Rasul Nabi yang khatam
Supaya umatnya jangan karam

Ia datang dengan burhannya
Lengkap lagi dengan ayat Qurannya
Yogya kau turur kata firqannya
Supaya jadi engkau qurbannya

Ahmad datng dengan satarnya
Mengatakan Allah dengan jabbarnya
Sungguh pun Tuhan dengan gaffarnya
Yogya kau turut akan qahharnya

Nabi dan wali sekalian takut
Akan jabbarnya seperti laut
Manakan dapat engkau menyahut
Di laut qahhar ke hilir hanyut 

Ilmu jauhar sungguh pun qabil
Akan kuat badan hanya hasil
Pada ilmu Allah kerjanya ha'il
Antara Allah dan orang kamil

Ilmu Allah terlalu 'ali
Dengan jawhar tiadakan kafi
Ilmu Allah yogya kau cabut
Supaya dapat hidupmu baqi

Jauhar itu terlalu mulia
Akan orang yang muda belia
Bukannya ilmu Allah yang sedia
Dengan ghayr Allah jang bersetia

Pada dzat Allah tiadakan lulus
Akan orang yang berlumpai putus
Ahl al-jawhar makanan kurus
Seperti Ahmad dan 'Isa lukus

Hamzah gila berkawan-kawan
Mencari jauhar akan cahaya badan
Oleh makhluk pergi tertawan
Makanan jadi engkau bangsawan

IV

Thayr al-'Uryan unggas sultani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah subhani
Gila dan mabuk akan rabbani

Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da'im di balik tirai
Awwalnya itu bernama ruhi
Millatnya terlalu sifui
Mashafnya besar suratnya kufi
Tubuhnya terlalu suci
'Arasy Allah akan pangkalannya
Habib Allah akan taulannya
Bait Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufinya bukannya kain
Fil-Mekkah da'im bermain
Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu raji

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan tandangnya
'Alam lahur akan kandangnya
Pada da'irah Hu tempat pandangnya

Dzikir Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tauhid akan minumannya
Da'im bertemu dengan Tuhannya

Suluh terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalanna terlalu henang
Barang mendapat dia terlalu menang
Cahayanya itu tiada berha'il
Bayna ilahi dan bayna-amil
Syari'atnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil

Jika engkau dapat asal ilmunya
Engkaulah yang amat tertahunya
'Amal ini engkau empunya
Di sana sini engkaulah sukunya

Ilmunya tiada berbagai
Fadunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan engkau lali

Ilmunya ilmu yang pertama
Mazhabnya mazhab ternama
Cahayanya cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama-sama

Ingat-ingat hai anak dagang
Nafsumu itu lawan berperang
Angkamu jadikan sarang
Cintamu satu jangan bercawang

Siang hari hendak kau sa'im
Malamnya yogya kau qa'im
Kurangkan makan lagi dan na'im
Nafi dan itsbat kerjakan da'im

Tuhan kita itu yang punya 'alam
Menimbulkan Hamzah yang sudah karam
'Isyqnya jangan kau padam
Supaya wasil dengan laut dalam

[[--------------------]]

Ada beberapa bait syair Thayr al-'Uryani di atas yang saya lihat hampir sama dengan Syair Ruh. Saya belum menemukan jawaban. Barangkali ada di antara pembaca yang dapat memberikan jawaban. Namun, dugaan (hanya dugaan saja), ada kemungkinan syair di atas dan syair ruh memang menggunakan komposisi kalimat yang sama untuk menjelaskan maksud yang dikehendaki oleh Hamzah Fansuri. Sebagaimana pengantar di atas, syair ini merupakan sebuah gambaran tentang tamsilan unggas yang melakukan pengembaraan untuk mencari kesempurnaan dirinya (jiwa). Nah, begitu juga (mungkin) dalam "Syair Ruh".

Baca juga karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini: