Saya akan melanjutkan kisah Muhammad Daud berdasarkan imajinasi saya dan bersumber dari buku. Sebelumnya, di Kisah Muhammad Daud Bagian Pertama, saya telah menceritakan Muhammad Daud yang keras kepala dan berprinsip teguh sampai ia ditangkap oleh Jepang karena terlalu reaksioner.
Pada awal-awal proklamasi kemerdekaan, Muhammad Daud dan rekan-rekannya bersikukuh untuk mempertahankan jiwa proklamasi dari perkosaan NICA. Mereka berjuang dalam mempertahankan front Aceh dengan tenaga dan alat sekadarnya sehingga melambungkan namanya ke seluruh Sumatera bahkan namanya terdengar hingga ke Jawa. Presiden Soekarno pun bergetar dan terusik. Bukan karena dapat mengancam posisinya, tapi karena ketakjuban beliau terhadap sosok Muhammad Daud. Karenanya, Presiden Soekarno mengangkat Muhammad Daud menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia, meskipun berkedudukan di Aceh.
![]() |
| Foto Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diambil dari Wikipedia. |
Namun, saya sempat mendengar sebuah prahara ketika negara hendak membentuk TNI di Aceh. Pembentukan TNI merupakan lanjutan dari TRI dengan laskar-laskar rakyat. Di Aceh, banyak sekali laskar rakyat yang bertebaran. Salah satu yang sangat ditakuti oleh musuh adalah Laskar Mujahidin yang dipimpin langsung oleh Muhammad Daud. Laskar ini ternyata tidak ingin bergabung dengan TRI yang resmi. Jika pun dipaksa, maka mereka akan melawan. Alasan laskar ini adalah mereka juga memiliki jasa dalam revolusi yang masih belum selesai itu. Mereka punya cara sendiri dalam melakukan pergerakan dan berjuang dengan senjata.
Kami khawatir, jika ketegangan ini tak mampu diredam, maka akan pecah perang sesama anak bangsa. Namun, Muhammad Daud dengan bijak dan adil berhasil mendamaikan laskarnya dengan pihak TRI. Ia berhasil juga membujuk laskar-laskarnya untuk rela bergabung di bawah TRI.
Ketika Muhammad Daud diangkat menjadi Gubernur Militer untuk wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, banyak kalangan yang terkejut, termasuk saya. Bukankah Muhammad Daud tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi yang formal? Ia hanyalah seorang anak lulusan pesantren (dayah). Namun, pemerintah memiliki alasan lain. Muhammad Daud adalah seorang pemimpin laskar rakyat yang sangat berpengaruh. Laskar ini memiliki jumlah tentara yang banyak. Dan tidak boleh diremehkan oleh siapa pun. Laskar-laskar ini tidak hanya murid-murid Muhammad Daud saja, tapi juga terdiri dari rakyat-rakyat yang telah dilatih dalam bertempur. Pemerintah tak menyoalkan jabatan ini, bahkan Muhammad Daud kala itu diberi pangkat Jenderal Mayor Tituler.
Saat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, Aceh dijadikan propinsi. Muhammad Daud menjadi Gubernur Sipil yang sebelumnya adalah Gubernur Militer. Namun, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, Aceh berada di bawah Propinsi Sumatera Utara. Di sinilah muncul kegaduhan baru. Bagaimana mungkin, kita sebagai orang Aceh yang telah berjuang mati-matian mengusir penjajah dan memiliki garis sejarah tersendiri digabungkan dengan daerah lain.
Kisah selanjutnya akan begitu panjang. Kita hanya bisa membacanya saja dari berbagai sumber. Dan kisah yang saya ceritakan ini hanyalah berasal dari satu sumber saja. Bisa saja sumber ini tak akurat, atau sebaliknya. Sejak saat itu, saya belum mendengar kabar tentang Muhammad Daud.

