Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

17 August 2016

Guru

Saya adalah seorang guru. Tidak pernah terniatkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru. Dulu saya beranggapan bahwa menjadi seorang guru akan mengekang kebebasan saya. Ya, saya dulu adalah seorang yang bebas. Tidak ingin terikat dalam suatu aturan baku. Atau diperintahkan oleh sebuah sistem yang kaku. Menjebak saya dalam sebuah perilaku yang rancu. Cita-cita saya bukanlah menjadi guru. Karena saya bukan orang yang pantas digugu.

Tugas guru adalah mendidik dan membimbing. Sumber foto Matra Pendidikan.

Tapi, semuanya termentahkan. Beberapa tahun saya menjadi seorang guru, perlahan saya mulai memahami betapa pentingnya sosok seorang guru. Ayah saya (almarhum) adalah seorang guru. Pagi-pagi sekali beliau sudah bangun. Menyiapkan dirinya untuk mengabdi. Menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Saya ingat, setiap pukul tujuh pagi beliau sudah berangkat ke sebuah sekolah dasar. Kadang-kadang beliau mengantarkan kami ke bangku sekolah. Rutinitas harian yang selalu dilakukannya. Dari situlah saya mulai mengerti tentang sebuah kedisiplinan.

Guru adalah pribadi yang kompleks. Sebuah pribadi yang datang dari jiwa. Seorang guru bukan sekadar mentransferkan ilmu kepada murid-muridnya, melainkan lebih dari itu. Guru harus menunjukkan sikap yang pantas ditiru, baik itu sikap, perilaku, tutur, dan kehidupan sosialnya. Bukan main-main tugas seorang guru.

Saya mulai merasakan keindahan menjadi seorang guru. Dalam kehidupan sosial, saya mulai menunjukkan jati diri saya sebagai seorang guru. Saya tak malu lagi menjadi seorang guru atau orang-orang yang memanggil saya dengan sebutan cek gu, tak lagi merasa risih. Bukankah menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang besar? Pekerjaan yang mendidik, membimbing, dan mendoktrin arah masa depan anak-anak bangsa.

Sudah semestinya seorang guru mendapatkan tempat yang layak di mata masyarakat. Para orang tua seharusnya juga harus mengikhlaskan anak-anak mereka yang telah dititip di sekolah kepada para guru. Kita masih ingat dengan kasus Pak Guru Dasrul di Makassar yang telah menjadi korban kekerasan orang tua murid. Kasus yang sangat sederhana ini namun telah mencoreng wajah pendidikan kita. Pak Guru Dasrul mendapatkan kekerasan fisik karena orang tua salah seorang murid tidak bisa menerima hukuman yang diberikan kepada anaknya.

Hukuman adalah sebuah hal yang lazim ditemui dalam dunia sekolah. Hukuman itu dapat bermacam-macam tergantung tingkat kesalahan yang dilakukan oleh seorang murid. Kita jangan membandingkan hukuman yang diterima murid-murid era 90-an atau 2000-an ke bawah, di mana guru tak segan-segan melayangkan tangannya untuk mencubit, menampar, atau bahkan memukul murid-murid yang bersalah. Di era sekarang, hukuman serupa itu dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

Saya yakin, hukuman berupa fisik yang diterima oleh murid-murid tak sampai membuat mereka harus diopname di rumah sakit. Hukuman itu hanya bersifat sementara, tidak akan menjadi permanen. Mengenai tingkat hukuman yang harus diterima oleh murid-murid yang bersalah memang berbeda-beda, atau menjadi perdebatan yang membingungkan. Menghadapi murid-murid yang keras kepala atau bandel susahnya minta ampun. Beda guru, beda pula cara penyelesaian masalahnya. Beda murid, beda juga cara pendekatannya. Beda orang tua, bedalah cara mereka mendidik anak-anaknya di rumah. Segala perbedaan itu, segala penyelesaian masalah yang ada, mau tidak mau harus diterima dengan pikiran yang jernih.

Dalam hal ini, saya tak sepenuhnya membela seorang guru. Guru adalah seorang pribadi, seorang manusia juga, yang memiliki sikap emosional yang berbeda-beda. Saya melihat rekan-rekan seprofesi saya sebagai mitra yang harus siap dengan tugasnya dalam mendidik dan membimbing. Saya tak membantah jika ada guru-guru yang masih belum menjiwainya dirinya sebagai seorang pendidik. Guru yang seperti ini masih banyak ditemukan di negara kita. Guru yang bermental lemah, yang menganggap tugasnya hanya sebatas masuk ke dalam kelas saja, menghabiskan waktu mengajar dengan hal-hal yang tak berguna. Bahkan ada guru yang tak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya karena urusan-urusan yang beragam.

Guru semisal ini "belumlah layak" menjadi seorang guru. Mereka hanya menghitung hak-hak yang mesti mereka peroleh semata. Tapi lupa bagaimana kewajiban mereka harus dipenuhi.

Dunia pendidikan kita selalu menarik untuk dikupas habis. Segala persoalan yang negatif dapat dengan mudah dijumpai dalam ranah ini. Semua saling menyalahkan. Agar dunia pendidikan kita dapat berbenah, marilah kita mengaca pada diri kita sendiri dan jangan segan-segan untuk mengaku salah.

13 July 2016

Pelatah

Pelatah adalah orang yang latah. Sedangkan latah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian, yaitu 1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2) berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi); dan 3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Kita sering melihat orang latah, dan kadang-kadang orang yang tak latah pun sering melatah-latahkan diri.

Orang latah, sumber foto: detik.

Berkembangnya media sosial merupakan surga bagi pelatah. Ketika kita bergelut dalam keasyikan media sosial, kita sering menemukan "sampah-sampah kalimat" yang bertaburan atau foto-foto yang kadang tidak sesuai dengan caption. Katakanlah ada isu-isu yang belum jelas benar salahnya yang sudah dikonsumsi oleh orang-orang. Ini tentu akan sangat berbahaya dalam membentuk pola pikir. Bagaimana nasib orang yang menjadi korban isu-isu tak sedap itu? Bagi yang mudah termakan isu, sampai kebenaran terwujud pun tidak akan mampu mengubah prinsip orang itu. Dia sudah terlanjur mengambil sikap terhadap isu-isu yang tak benar itu. Dan malah mempertahankan ketidakjelasan tersebut di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat yang ramai. Akhirnya, dengan bangga juga membagi-bagikan "sampah-sampah kalimat" itu di media sosial dengan menambahkan sedikit bumbu-bumbu kalimat yang hambar dengan majas-majas yang tak jelas.

Sama halnya dengan foto. Memakai aplikasi ubah foto, dengan semena-mena oknum tak dikenal mengubah foto-foto dengan satir-satir yang menyakitkan. Satir yang menghasut, satir yang mengundang kebencian, dan satir yang tak punya selera humor. Pelatah yang demikian ini tak ubahnya dengan burung beo yang suka meniru meski tak sempurna. Apa yang ditiru tak pernah dicerna dan dikaji sebab akibatnya. Jika kita mengajarkan beo kata-kata makian, si beo pun akan meniru ucapan kita. Nah, bagaimana kalau kata-kata makian si beo itu berkicau pada saat yang tidak tepat? Ya, kita akan merasa malu. Jika tidak punya rasa malu, kata orang Aceh (bentuk sindiran), orang itu benar-benar sudah putus urat malunya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat orang yang mengganggu si pelatah. Keusilan mereka hanyalah untuk menciptakan kelucuan saja. Padahal, si pelatah sudah sangat menderita untuk mengulang-ulang apa yang dialaminya. Tapi kita sudah terlanjur tertawa girang. Namun dapatkah kita membayangkan jika si pelatah ini dengan tak sengaja melukai orang di dekatnya secara fisik? Lebih parah lagi jika si pelatah sedang memegang sesuatu yang tajam sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang berada di sampingnya.

Di facebook, atau twitter, pelatah-pelatah gadungan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling benar. Banyak berita tak jelas dikonsumsi dengan mentah. Anehnya, berita yang dikonsumsi itu tidak membuat si pelatah muntah. Dalam agama, kita dianjurkan untuk meneliti dulu sesuatu yang disampaikan kepada kita, agar apa yang disampaikan tersebut tidak menimbulkan fitnah atau membahayakan sesuatu golongan.
Wahai, orang-orang yang beriman, jika ada seorang yang fasiq mendatangi kalian dengan membawa suatu berita penting, maka telitilah dulu (tabayyun), agar kalian jangan sampai menimpakan suatu bahaya kepada sesuatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian kalian menyesal atas perbuatan kalian. (QS. Al-Hujurat:6)
Tapi kenyataannya sebaliknya. Kita sering terpancing dengan judul suatu berita yang sangat bombastis atau vulgar, tapi isi berita tak sesuai dengan judul berita. Di media online, pernah juga saya jumpai hal tersebut. Menjamurnya media online ternyata tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Inilah salah satu sebab yang membuat saya enggan membaca media online yang tidak jelas. Sumber-sumber berita yang diambil pun tidak jelas. Kejadian-kejadian yang tak penting pun kini sudah menjadi berita. Isi berita ditulis dengan sedikit aroma drama.

Pelatah gadungan adalah orang yang menderita penyakit kejiwaan. Apakah kita termasuk pelatah yang demikian? Yang kedudukannya seimbang dengan orang-orang yang tak waras.

3 July 2016

Thayr al-'Uryan - Hamzah Fansuri

Syair Thayr al-'Uryan karya Hamzah Fansuri merupakan karya puisi dan bisa dianggap menjadi salah satu karya-karya terbaik dari Syekh Hamzah Fansuri. Thayr al-'Uryan memakai burung sebagai tamsilannya untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh untuk mencari kesempurnaan dirinya. Berikut ini saya ketik ulang teks Thayr al-'Uryan yang disarikan dari beberapa sumber.


I

Thayr al-'Uryan unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnainya pingai terlalu sufi
Tempatnya kursi yang maha 'ali

Sungguh pun 'uryan bukannya gila
Mengaji al-Quran dengan tartila 
Tempatnya mandi sungai salsabila
Di dalam firdaus ra'su Zanjabila

Sungai ini terlalu 'ali
Akan minuman Thayr al-'Uryan
Setelah minum jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi

Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau sayang
Inilah harga arak yang garang

Thayr al-'Uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk harus kau hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim

Minuman itu tiada terbagi
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal Thayyibun pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai

Minuman itu terlalu sufi
Yogya akan syurbaty maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kira radhi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi

Minuman itu yogya kaum permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain 
Inilah 'Uryan pada ahl-batin

Jika Engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah 'Uryan jangankan katamu
Orang yang 'Uryan bukan rupamu

Riya dan khayal tiada qabil
Pada orang arif yang sudah kamil
Lain daripada mabuk dan ilmu wasit
Pada ahl-haqiqah sekalian batil

Tiya dan khayal ilmu nafsani
Di manakan sampai pada ilmu yang 'ali
Seperti Bayazid dan Mansur Bagdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan Qawl Subhani

Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl-ma'rifat terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang

Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu

II

Unggas pingai terlalu 'asyiq
Da'im bermain di kursi khaliq
Bangsanya Rahman yang fa'iq
Menjadi sultan terlalu la'iq
Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal Allah terlalu nyata
Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Sayapnya bernama Furqan
Tubuhnya bersurat Quran
Kakinya Hannan dan Mannan
Da'im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan anggannya
Nur Allah akan matanya
Nur Muhammad da'im tenggernya

Liqa Allah nama 'ishq-nya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman dan Rahim akan hatinya
Menyembah Tuhan dengan sucinya

Bumi langit akan sangkarnya
Mekkah dan Madinah akan pangkalannya
Bait Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da'im sekalian luruh

Rupanya akan Mahbubnya
Lakunya akan Marghubnya
Bangsanya akan Matlubnya
Buraq al mi'raj akan markubnya

'Ilm al-yaqin nama ilmunya
'Ain al-yaqin hasil tahunya 
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari'at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya
Ma'rifat yang wasil akan isainya

'Alam nasut akan hambanya
Perisai malakut akan kutanya
Duldul jabrul nama kudanya
Menyerang laut akan kerjanya

Dengarkan hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kamu ramu
Supaya jadi mulya adamu

III

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da'im di kursi raya
Daripada nurnya faqir dan kaya
Menjadi insa, tuan dan saya

Kuntu kanzan asalnya sarang
'Alam lahut nama kandangnya
Terlalu luas dengan lapangnya
Itulah kanzan dengan larangnya

Aql al-kulli nama bulunya
Qalam al-'ala nama kukunya
Allah ta'ala nama gurunya
Oleh karena itulah tiada judunya

Jalal dan Jamal nama kakinya
Nur al-awwal nama jarinya
Lawh al-mahfudzh nama hatinya
Menjadi jauhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal nabinya
Dari nur Allah dengan sucinya
Sekalian alam pancar nurinya
Menjadi langit serta buminya

Alam ini asal warnanya
Di sana-sini pancar sertanya
Sidang ghafil(un) dengan karmanya
Lupakan nuri dengan warnanya

Setelah zahir sekalian alam
Ia pun datang serupa Adam
Menjadi Rasul Nabi yang khatam
Supaya umatnya jangan karam

Ia datang dengan burhannya
Lengkap lagi dengan ayat Qurannya
Yogya kau turur kata firqannya
Supaya jadi engkau qurbannya

Ahmad datng dengan satarnya
Mengatakan Allah dengan jabbarnya
Sungguh pun Tuhan dengan gaffarnya
Yogya kau turut akan qahharnya

Nabi dan wali sekalian takut
Akan jabbarnya seperti laut
Manakan dapat engkau menyahut
Di laut qahhar ke hilir hanyut 

Ilmu jauhar sungguh pun qabil
Akan kuat badan hanya hasil
Pada ilmu Allah kerjanya ha'il
Antara Allah dan orang kamil

Ilmu Allah terlalu 'ali
Dengan jawhar tiadakan kafi
Ilmu Allah yogya kau cabut
Supaya dapat hidupmu baqi

Jauhar itu terlalu mulia
Akan orang yang muda belia
Bukannya ilmu Allah yang sedia
Dengan ghayr Allah jang bersetia

Pada dzat Allah tiadakan lulus
Akan orang yang berlumpai putus
Ahl al-jawhar makanan kurus
Seperti Ahmad dan 'Isa lukus

Hamzah gila berkawan-kawan
Mencari jauhar akan cahaya badan
Oleh makhluk pergi tertawan
Makanan jadi engkau bangsawan

IV

Thayr al-'Uryan unggas sultani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah subhani
Gila dan mabuk akan rabbani

Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da'im di balik tirai
Awwalnya itu bernama ruhi
Millatnya terlalu sifui
Mashafnya besar suratnya kufi
Tubuhnya terlalu suci
'Arasy Allah akan pangkalannya
Habib Allah akan taulannya
Bait Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufinya bukannya kain
Fil-Mekkah da'im bermain
Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu raji

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan tandangnya
'Alam lahur akan kandangnya
Pada da'irah Hu tempat pandangnya

Dzikir Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tauhid akan minumannya
Da'im bertemu dengan Tuhannya

Suluh terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalanna terlalu henang
Barang mendapat dia terlalu menang
Cahayanya itu tiada berha'il
Bayna ilahi dan bayna-amil
Syari'atnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil

Jika engkau dapat asal ilmunya
Engkaulah yang amat tertahunya
'Amal ini engkau empunya
Di sana sini engkaulah sukunya

Ilmunya tiada berbagai
Fadunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan engkau lali

Ilmunya ilmu yang pertama
Mazhabnya mazhab ternama
Cahayanya cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama-sama

Ingat-ingat hai anak dagang
Nafsumu itu lawan berperang
Angkamu jadikan sarang
Cintamu satu jangan bercawang

Siang hari hendak kau sa'im
Malamnya yogya kau qa'im
Kurangkan makan lagi dan na'im
Nafi dan itsbat kerjakan da'im

Tuhan kita itu yang punya 'alam
Menimbulkan Hamzah yang sudah karam
'Isyqnya jangan kau padam
Supaya wasil dengan laut dalam

[[--------------------]]

Ada beberapa bait syair Thayr al-'Uryani di atas yang saya lihat hampir sama dengan Syair Ruh. Saya belum menemukan jawaban. Barangkali ada di antara pembaca yang dapat memberikan jawaban. Namun, dugaan (hanya dugaan saja), ada kemungkinan syair di atas dan syair ruh memang menggunakan komposisi kalimat yang sama untuk menjelaskan maksud yang dikehendaki oleh Hamzah Fansuri. Sebagaimana pengantar di atas, syair ini merupakan sebuah gambaran tentang tamsilan unggas yang melakukan pengembaraan untuk mencari kesempurnaan dirinya (jiwa). Nah, begitu juga (mungkin) dalam "Syair Ruh".

Baca juga karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

29 June 2016

Cerita Said Abubakar Saat G 30 S PKI Di Aceh

Ilustrasi demonstrasi pembubaran PKI, sumber foto dari bbc.com.

Pada tanggal 23 Mei 1965 di suatu warung Jalan Perdagangan Banda Aceh, kami sedang duduk-duduk, Aku saat itu aktif di SOKSI, dan M. Nur Bentara yang bekerja di Biro Keuangan Kantor Gubernur aktif di SBII. Sambil minum, Saudara Nur Bentara nyelutuk, "Bagaimana pendapat Bung Said melihat pawai HUT 45 yang baru saja melintas di depan kami. Mereka nampaknya telah berani memperlihatkan kekuatannya, dan telah banyak pemuda-pemudi WNI Cina yang ikut pawai." Memang, jawabku. Ini adalah akibat Bung Karno telah merangkul, memberi angin, membina Nasakom. Dan tidak mustahil barisan pawai tadi disiapkan untuk angkatan kelima. Benar, kata Nur Bentara. Dan ini akan menjadi cemeti untuk mereka mengadakan aksi. Sampai di situ pembicaraan dan kami pun berpisah.

Dalam pikiran aku timbul pertanyaan, para petinggi Pemerintah Pusat, mempunyai kebijaksanaan yang kontradiksi atau paradoks. Waktu aku menerima indoktrinasi dari Panitia Retoling Aparatur Negara (Tim Manipol Pusat) tahun 1960 di Prapat. Baik Ruslan A. Gani dan maupun Kolonel Payakun (mewakili A.H. Nasution), dijelaskan atas pertanyaan peserta, bahwa Nasakom ini di bidang politik saja, tidak dalam eksekutif. Dari S.K Bonar Staf Departemen Penerangan dalam ceramahnya di Salemba 14 Jakarta, kepada aku dan kawan-kawan peserta, bahwa Nasakom telah mara ke eksekutif (kabinet) dan hal ini semua partai-partai setuju kecuali secara pribadi yang tidak setuju adalah K.H Idham Khalid.

CD PKI Aceh menurut evaluasi aku sedang melakukan konsolidasi dengan overbouw-nya, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, GCMI, Lekra, SBKA, dan PGRI Non Vak Sentral serta merangkul juga Baperki.

Wakil Sekretaris CD PKI Aceh Thaib Adamy aktif pergi ke daerah-daerah dan desa-desa, melakukan kampanye pidato-pidato yang menhasut rakyat akibat tidak beresnya aparatur dan pejabat pemerintah dengan Pidato Bung karno setiap tanggal 17 Agustus, ia menggembleng massa, untuk suatu ketika dapat digerakkan untuk mengadakan aksi.

Di eksekutif, selaku BPH tingkat Propinsi duduk Anas AC (Pemuda Rakyat), M. Samikidin duduk selaku BPH Kotamadya Banda Aceh, duduk di Front Nasional. Sementara itu oleh CC PKI tenaga muda Hery Sucipto, ia bertindak sebagai kurir (caraka) samarannya sebagai Wartawan Harian Rakyat.

Dalam bidang dana, pihak Consul RRC Medan memberikan rekomendasi kepada Bank of China Medan melalui jaringan atau jalur CHCH (Yun Hin cs dan Khu Bun Cang cs) diinvestasikan kepada Min Fa (Anyi) Baperki dengan membuka sebuah toko (Toko Cendrawasih) di Banda Aceh. Ching Chin Sum (Baperki) duduk dalam Front Nasional, Lim Ka Kee (Baperki) duduk dalam Pengurus Partindo Banda Aceh. Yang sering mampir di Toko Cendrawasih (penghubung) adalah Cut Husin, dia anggota CD PKI Aceh.

Menjelang shalat Jumat tanggal 1 Oktober 1965, aku dibisikkan oleh seorang kawan dari SOKSI bahwa ia mendengar berita di RRI, di Jakarta telah terjadi coup de tat yang menamakan diri G 30 S dibawah komando Letkol Untung Cakrabirawa. Sesudah shalat aku melapor pada Bupati Ibrahim Saidy dan Kapten M. Syah Asyik di Kodim 0101.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, Front Nasional mengadakan rapat untuk menyatakan sikap mengutuk gerakan yang mengambil alih kekuasaan negara. Rapat dipimpin oleh Nyak Adam Kamil (Gubernur Aceh). Hadir pula Ishak Djuarsa (Pangdam I/Iskandar Muda), Syamsuri Martoyoso (Kepala Kepolisian), Said Mukhtar (PSII), Syaifuddin (NU), T. Ibrahim (Perti), Thaib Adamy dan Abubakar Sidik (PKI), H. Syamaun (PNI). Pangdam I/Iskandar Muda dengan tegas mengatakan: "Serahkan saja kepada rakyat, apakah ia mau mempertahankan Pancasila atau memihak PKI. Rakyat harus bertindak?"

Sejak tanggal 5 Oktober 1965 di Banda Aceh dan kota lain di Aceh telah terjadi demonstrasi dari PNI (Haji Syamaun), para mahasiswa, dan organisasi massa. Dengan mengelukan Allahu Akbar, menuntut agar PKI dibubarkan. Kantor PKI diobrak-abrik. Malamnya terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap anggota dan overbouw PKI serta Baperki.

Waktu terjadi demonstrasi itu, kebetulan aku berdiri di samping Osman Adamy. Para demonstran meneriakkan yel-yel: Bubarkan PKI! Bunuh orang PKI! Osman Adamy mengacungkan tangannya tanda setuju (meskipun Thaib Adamy adalah adik kandungnya sendiri).

Pada 16 Desember 1965, diadakanlah Musyawarah Ulama Aceh yang melahirkan fatwa "Komunisme hukumnya kufur dan haram". Oleh Pangdam I / Iskandar Muda selaku Ketua Pepelrada, untuk Kodim 0101 (Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar) selaku Kosekhan, maka diperintahkan untuk membentuk Tim Screening guna meneliti dan memproses para anggota PKI dan ormasnya. Tim Screening ini dapat menentukan apakah mereka terlibat atau tidak dalam G 30 S PKI.

Dengan adanya tim ini, telah dapat dihindarkan tindakan liar dari para pemuda atau ormas untuk mengambil keputusan terhadap orang yang dituduhkan sebagai anggota PKI atau ormasnya.

Ketua Tim Screening Kosekhan 0101 dipegang langsung oleh Dandim, Wakil Kapten Drs. M. Syah Asyik. Anggota-anggota: Letnan T. M. Jalil, Letnan M. Daud Musa (CPM), Peltu Syamsuddin (CPM), Suherman, A. Mukti, Syamsuddin (dari Kepolisian), Sudarman (dari Kejaksaan Negeri), dan aku sendiri (Said Abubakar) mewakili dari Biro Politik dan Keamanan.

Kantornya di gedung Baperki, sekarang SMP 7 Peunayong Banda aceh, kemudian dipindahkan ke kantor Kodim 0101 di Jalan. Sultan Mahmudsyah.

Selain dari itu, anggota PKI dan ormasnya dari Kotamadya Sabang, juga dibawa ke Banda Aceh untuk diseleksi terlibat atau tidak.

Sekretaris dan Wakil Sekretaris CD PKI Aceh, Muhammad Samikidin dan Thaub Adamy telah terbunuh. Thaib Adamy waktu akan dipancung, dia minta disampaikan salam kepada Bung Karno, dan meneriakkan "Hidup Bung Karno!". Ketua Gerwani, Ketua Pemuda Rakyat, anggota CGMI, Ketua Baperki, dan lain-lainnya telah dieksekusi oleh pemuda. Biro Khusus Nyak Amat diajukan ke pengadilan. Keluarga (isteri dan anak-anak M. Samikidin) oleh Kosekhan (Tim Screening) dikawal melalui kereta api diantar dengan selamat ke kampungnya di Tanjungpura. Kalau ada 1 orang yang dibunuh massa anak-anak 14 tahun adalah Husni (anak Thaub Adamy). Kasan Siregar, mantan Ketua PKI, pada waktu akan dieksekusi, sesudah ia shalat, lalu berbisik kepadaku di kantor Screening. Pak Said, katanya: "Saya sudah tua, kalau mati tidak jadi soal. Tapi anak saya masih ada yang kecil." Aku hanya menjawab: "Pak Kasan, ini air bah, akan merusak tebing-tebing dan menumbangkan pohon di pinggirnya".

Selain daripada itu, khusus di luar Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, penertiban gerakan aksi massa seperti menangkap aktivis PKI, disarankan kepadaku oleh A. Wahab Ibrahim dan M. Daud Mansur. Aktivis PKI yang lari keluar Aceh, yaitu Cut Husin, K. Ampio, dan Lim Ka Kee. Isu diluaran ada sekitar 10.000 aktivis PKI di seluruh daerah Aceh. Tetapi menurut perkiraanku dan kawan-kawan, hanya sekitar 3.000 orang temasuk 1 orang (Kifli) dan Hery S yang pernah dilatih di Lubang Buaya. Seorang dokter pribadi presiden yang ikut dalam rombongan Presiden Soekarno ke Aceh, pernah bertanya kepadaku apakah benar orang Aceh telah banyak membunuh wanita dan anak-anak? Aku jawab tidak benar, seperti diiuskan, kalau perempuan tidak lebih dari 15 orang (Gerwani dan CGMI) dan anak-anak hanya 1 orang (Anak Thaib Adamy).

Pada saat aksi massa bergulir, diisukan para pemuda yang memperkosa dan mengambil harta Cina. Menurut analisaku, tidak semuanya benar. Hanya 1 orang dari Pertindo dan telah dieksekusi oleh Tim Screening. Tetapi oknum-oknum lain mempunyai berbagiai silang sengketa sesama penduduk, memang ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, memfitnah lawannya dengan PKI. Namun, Tim Scereening cukup arif, Dan salah satu kasus, aku dan Wakil Kapolres Aceh Besar (A. Jalil Ibrahim) dapat menyelesaikan dengan cara perdamaian di sutu meunasah Montasik.


Cerita di atas bersumber dari buku otobiografi yang berudul Berjuang Untuk Daerah Otonomi Hak Azazi Insani karya Said Abubakar, halaman 96-100.

Baca juga:  

25 June 2016

Riwayat Kehidupan Lengkap Ali Hasjmy

Prof. Ali Hasjmy

Ali Hasjmy yang lahir tanggal 28 Maret 1914 memiliki nama kecilnya yaitu Muhammad Ali Hasjim. Dalam tahun 30-an dan 40-an sering memakai beberapa nama samaran dalam setiap karangan-karangan berupa puisi dan cerpen, seperti misalnya Al Hariry, Aria Hadiningsun, dan Asmara Hakiki.

Pendidikan yang telah ditempuhnya, yaitu Government Inlandsche School Montasie Banda Aceh, Thawalib School Tingkat Menengah Padang Panjang, Al-Jami'ah Al-Qism Adaabul Lughah wa Tarikh Al-Islamiyyah (Perguruan Tinggi Islam Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam) di Padang dan dalam tahun 50-an mengikuti kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.

Hidup dengan seorang isteri dan mempunyai tujuh orang anak, enam laki-laki dan seorang perempuan, yaitu:

Isteri bernama Zuriah Aziz yang lahir pada bulan Agustus 1926 dan menikah pada tanggal 14 Agustus 1941. Dari hasil perkawinan tersebut, lahirlah sebagai berikut:
  1. Mahdi A. Hasjmy, lahir 15 Desember 1942.
  2. Surya A. Hasjmy, lahir 11 Februari 1945.
  3. Dharma A. Hasjmy, lahir 9 Juni 1947.
  4. Gunawan A. Hasjmy, lahir 5 September 1949 (meninggal 12 September 1949)
  5. Mulya A. Hasjmy, lahir 23 Maret 1951.
  6. Dahlia A. Hasjmy, lahir 14 Mei 1953.
  7. Kamal A. Hasjmy, lahir 21 Juni 1955.


Pengalaman Pergerakan

Sejak muda, Ali Hasjmy telah aktif bergerak dalam berbagai pergerakan, di antaranya tahun 1932 sampai dengan 1935 menjadi anggota Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) dan dari tahun 1933 sampai dengan 1935 menjadi Sekretaris HPII Cabang Padang Panjang. HPII merupakan onderbow dari partai politik Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), suatu partai radikal yang menganut sistem nonkooperasi terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, tahun 1934 dipenjarakan selama empat bulan di Padang Panjang dengan tuduhan melanggar undang-undang larangan rapat.

Pada tahun 1935, bersama-sama beberapa pemuda yang baru kembali dari Padang mendirikan Sepia (Serikat Pemuda Islam Aceh)) dan kemudian terpilih menjadi Sekretaris Umum Pengurus Besar Sepia. Sepia kemudian diubah menjadi Peramiindo (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), menjadi salah seorang anggota pengurus besarnya. Peramiindo merupakan suatu gerakan pemuda radikal yang giat melakukan gerakan politik menentang penjajahan Belanda.

Sejak tahun 1939, menjadi Anggota Pengurus Pemuda PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Aceh Besar serta menjadi Wakil Kwartir Kepanduan KI (Kasysyafatul Islam) Aceh Besar. PUSA meskipun bukan partai politik, tetapi kegiatannya merupakan gerakan politik menetang penjajahan Belanda. Kemudian tahun 1941, bersama beberapa orang teman dari Pemuda PUSA mendirikan suatu gerakan rahasia (gerakan bawah tanah) dengan nama "Gerakan Fajar", dengan tujuan mengorganisir pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan ini dengan cepat menjalar ke seluruh daerah Aceh. Sejak awal tahun 1942, gerakan ini aktif melakukan sabotase di seluruh Aceh sampai meningkat kepada perlawanan fisik, di antaranya minggu ketiga Februari 1942, sejumlah pemuda Kasysyafatul Islam yang terlatih menyerbu Kota Seulimuem dan membunuh Kontroleur Tiggelmen dan terjadi pula pertempuran di Kemireu. Selanjutnya pertempuran menjalar ke seluruh daerah Aceh.

Karena Ali Hasjmy memimpin pemberontakan itu pula maka ayahnya Teungku Hasjim ditangkap Belanda dan baru bebas setelah Belanda lari dari Aceh. Pada awal tahun 1945, bersama-sama sejumlah pemuda yang bekerja pada Kantor Aceh Sinbun dan Domei, mendirikan suatu gerakan rahasia IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang bertujuan mengadakan persiapan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda kalau Belanda kembali setelah kalahnya Jepang yang memang waktu itu telah diperkirakan kekalahannya.

Setelah Jepang menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, IPI bergerak aktif secara terang-terangan terutama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menggerakkan kekuatan rakyat terutama pemuda untuk mempertahankan Proklamasi otu.

IPI kemudian berubah menjadi BPI (Barisan Pemuda Indonesia), berubah lagi menjadi PRI (Pemuda Republik Indonesia), dan akhirnya menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).

Pesindo Aceh memisahkan diri dari DPP Pesindo setelah DPP Pusat dipengaruhi oleh PKI dan berdiri sendiri dengan mengambil Islam menjadi asasnya. Pesindo Aceh yang telah mengambil Islam menjadi dasarnya, mendirikan sebuah divisi lasykar yang bernama Divisi Rencong. Sejak dari IPI sampai kepada Divisi Rencong, terus berada di bawah pimpinan Ali Hasjmy. Divisi Rencong, bersama-sama dengan Divisi Gajah (kemudian menjadi Divisi X), Divisi Teungku Chik Payabakong dan Divisi Teungku Chik Di Tiro berjuang dengan heroik untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Partai politik yang pernah dimasukinya yaitu Permi (Persatuan Muslim Indonesia) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Waktu di Aceh menjadi Ketua Dewan Pinpinan Wilayah. Setelah pindah ke Jakarta, terpilih menjadi Ketua Departemen Sosial Lajnah Tanfiziyah DPP PSII.

Demikianlah secara kontinyu dan terus-menerus aktif dalam setiap kegiatan baik sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Pada awal September 1945, dengan menghadapi ancaman Jepang yang masih berkuasa di Aceh, dalam suatu upacara yang penuh khidmat dinaikkanlah Sang Saka Merah Putih di depan Kantor IPI (bekas Kantor Aceh Sinbun) yang disaksikan oleh ribuan pemuda dan masyarakat umum. Inilah bendera Merah Putih yang pertama dikibarkan di angkasa Banda Aceh yang kemudiannya baru disusul di tempat-tempat yang lain.

Pengalaman Kepegawaian

Setelah Indonesia merdeka, aktif sebagai pegawai negeri dan menduduki berbagai jabatan, di antaranya: pernah menjadi Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh, Kutaraja (1946-1947); menjadi Kepala Jawatan Sosial Keresidenan Aceh dengan pangkat Bupati (1949); Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Propinsi Aceh (1950); Kepala Bagian Umum pada Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial Kementerian Sosial di Jakarta (1957); diangkat menjadi Gubernur Propinsi Aceh (1957); dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh (1960-1964); menjadi anggota "kabinet" Menteri Dalam Negeri (1964-1966) di Jakarta, dan dipensiunkan sebagai pegawai negeri sebelum masanya (dalam usia 52 tahun) atas permintaan sendiri (1966); diangkat kembali sebagai tenaga sukarela menjadi Dekan Fakultas Dakwah/Publisistik IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (1968); diangkat dan dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam Ilmu Dakwah (1976) dan kemudiannya diangkat sebagai pegawai bulanan organik menjadi Rektor IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh (1977 sampai November 1982).

Selain aktif sebagai pegawai negeri, juga bergerak dalam berbagai bidang kegiatan kemasyarakatan, di antaranya menjadi Anggota Badan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (1946-1947); Anggota Staf Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947); Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (1949); Pimpinan Kursus Karang Mengarang di Kutaraja dan menjadi staf pengajar (1947-1948 dan 1950-1951); menjadi Ketua II Panitia Persiapan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan (1957); Wakil Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Ekonomi Negeri Kutaraja (1958); Ketua Umum Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Agama Islam Negeri Kutaraja (1959); Anggota Pengurus Besar Front Nasional (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) (1960); Ketua DPR-GR Daerah Istimewa Aceh (1961); Ketua Dewan Kurator Universitas Negeri Syiah Kuala (1962-1964)' Rektor IAIN Ar-Raniry (1963); Pimpinan Umum Harian Nusa Putra dan Staf Redaksi Harian Karya Bhakti di Jakarta (1964-1965); Anggota MPRS Golongan B (Wakil Daerah Istimewa Aceh) tahun 1967; dan sejak itu pula menjadi dosen dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam, Ilmu Dakwah, dan Publisistik, pada beberapa fakultas di Kopelma Darussalam. Kemudian dipilih menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sampai 1994), dan sejak berdirinya terus menjadi anggota Dewan Petimbangan Majelis Ulama Indonesia Pusat di Jakarta; Ketua Umum LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh); Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia Daerah Istimewa Aceh.

Khususnya dengan Daerah Istimewa Aceh dan Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam, Ali Hasjmy mempunyai andil yang cukup besar.

Pengangkatan beliau sebagai Gubernur Aceh tidak terlepas dari usaha pemulihan keamanan Daerah Aceh yang sedang diamuk perang saudara sehingga Daerah Aceh bisa berubah dari darul harb menjadi darussalam.

Demikian pula dalam rangka mengejar ketinggalan Daerah Aceh dari daerah-daerah lainnya akibat perang yang terus-menerus, sejak diangkat menjadi Gubernur Aceh, Ali Hasjmy bersama beberapa orang kawan seperjuangan lainnya mulai memikirkan dan memusatkan pikirannya untuk membangun pusat-pusat pendidikan di seluruh daerah Aceh.
Sebagai hasilnya, kini telah dapat kita saksikan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam dan dua perguruan tinggi di dalamnya, IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

Kopelma Darussalam merupakan pusat pendidikan untuk tingkat propinsi. Di samping itu telah berdiri pula beberapa perkampungan pelajar di beberapa kabupaten dan beberapa Taman Pelajar pada beberapa kecamatan di seluruh daerah Aceh. Dan kini telah meningkat menjadi Pusat Pendidikan Tinggi Darussalam Mini.

Telah puluhan kali Ali Hasjmy menghadiri dan menyampaikan makalah dalam berbagai seminar, lokakarya, simposium, konferensi, dan muktamar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Akhirnya dapat dijelaskan bahwa Ali Hasjmy telah tiga kali menunaikan ibadah haji, beberapa kali melaksanakan ibadah umrah dan telah beberapa kali melakukan perlawatan ke Timur Tengah (Mesir, Saudi Arabia, Kuwait, dan Bahrain), Pakistan, Muangthai, Singapura, Malaysia, Philipina, Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.

Perlawatan ke luar negeri yang pernah dilakukan antara lain:
  1. Tahun 1949 menjalankan tugas negara Republik Indonesia sebagai Anggota Misi Haji Republik Indonesia II ke Saudi Arabia dan Mesir selama tiga bulan.
  2. Dalam tahun 60-an beberapa kali ke Malaysia dan Singapura untuk menyertai berbagai seminar dan pertemuan sastra.
  3. Dalam tahun 1979 berkunjung ke Sabah, memenuhi undangan Kerajaan Negara Bahagian dan Yayasan Sabah untuk memberi serangkaian dakwah Islamiyah dan menghadiri beberapa diskusi tentang Islam.
  4. Dalam tahun 1979 juga berkunjung ke Ipoh dan Kuala Lumpur untuk Hari Sastra Malaysia, dan memberi sebuah prasaran yang berjudul "Bahasa dan Sastra Melayu di Aceh". 
  5. Bersama dengan istri, dalam tahun 1978 menunaikan ibadah haji.
  6. Dalam tahun 1979, bersama Menteri Agama RI mengunjungi Bahrain, Saudi Arabia, dan Kuwait.
  7. Dalam tahun 1980 berkunjung ke Korea Selatan memenuhi undangan untuk meninjau pembangunan masyarakat desa dan pembangunan pendidikan. Dalam perjalanan pulang, singgah di Tokyo, Taiwan, Hingkong, dan Singapura.
  8. Selain dari itu, juga pernah berkunjung ke Thailand, India, dan Pakistan.
  9. Dalam tahun 1981, berkunjung ke Jepang (Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima, dan lain-lain) memenuhi undangan untuk mempelajari adat-istiadat dan kebudayaan Jepang.
  10. Dalam tahun 1981 berkunjung lagi ke Philipina memenuhi undangan Imam Besar Masid Jami' Maharlika Manila, untuk mempelajari pendidikan dan kebudayaan Islan di sana.
  11. Dalam tahun 1981 juga mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Trengganu, dan Kelantan, memenuhi undangan untuk menghadiri Hari Sastra dan seminar.
  12. Akhir tahun 1982 berkunjung ke Thailand atas undangan organisasi di sana dan menyampaikan makalah dalam simposium internasional tentang Kesusasteraan Melayu Tradisional di Kuala Lumpur.
  13. Dalam tahun 1985, 1986, dan 1987 mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Ipoh, Kelantan, Johor Baru, Perlis, Alor Star, dan lain-lain untuk menyampaikan makalah dalam berbagai seminar.
  14. Juli 1988 menunaikan ibadah haji sebagai Naib Amirul hajj; Amirul Hajj-nya Menteri Kehakiman Ismail Saleh, SH.
  15. November-Desember 1989 bersama isteri menunaikan ibadah umrah dan selanjutnya melakukan safari budaya ke Mesir, Turki, Spanyol, Belanda dan Singapura.
  16. November 1990 berkunjung ke Kuala Lumpur untuk menyampaikan makalah dalam Seminar Islam dan Kesenian. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke Singapura dan Brunei Darussalam.
  17. 9-24 Agustus 1991 melakukan safari budaya ke Uni Sovyet (Tasykent, Samarkanda, Bukhara, Urgent, Chiva, Leningrad, Moskow) dan ke Denmark.
  18. Tahun 1991 puluhan kali menghadiri seminar/simposium di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Buku-buku yang Telah Dikarang

Sejak umur 20 sampai kekinian sudah lebih lima puluh buah buku yang telah diakrang dalam berbagai disiplin ilmu, sejarah kebudayaan, agama, pendidikan moral, politik, dan sebagainya dan telah diterbitkan oleh berbagai penerbit baik di dalam maupun di luar negeri, yaitu:
  1. Kisah Seorang Pengembara (sajak), Medan: Pustaka Islam, 1936
  2. Sayap Terkulai (roman perjuangan), 1983, tidak terbit, naskahnya hilang di Balai Pustaka waktu pendudukan Jepang
  3. Dewan Sajak (puisi), Medan: Centrale Courant, 1938
  4. Bermandi Cahaya Bulan (roman pergerakan), Medan: Indische Drukkrij, 1939 dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  5. Melalui Jalan Raya Dunia (roman masyarakat), Medan: Indische Drukkrij, 1939, dam Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  6. Suara Azan dan Lonceng Gereja (roman antar agama), Medan: Syarikat Tapanuli, 1940, dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978, dan Singapura: Pustaka Nasional, 1982
  7. Cinta Mendaki (roman filsafat/perjuangan), naskahnya hilang di Balai Pustaka, Jakarta, waktu pendudukan Jepang
  8. Dewi Fajar (roman politik), Banda Aceh: Aceh Sinbun, 1943
  9. Kerajaan Saudi Arabia (riwayat perjalanan), Jakarta: Bulan Bintang, 1957
  10. Pahlawan-pahlawan Islam yang Gugur (saduran dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1981 (cetakan ke-4), dan Singapura: Psutaka Nasional, 1971 (cetakan ke-2, 1982)
  11. Rindu Bahagia (kumpulan sajak dan cerpen), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
  12. Jalan Kembali (sajak bernafaskan Islam), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Hafiz Arif (Harry Aveling)
  13. Semangat Kemerdekaan dalam Sajak Indonesia Baru (analisa sastra)), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
  14. Di Mana Letaknya Negara Islam (karya ilmiah tentang ketatanegaraan Islam), Singapura: Pustaka Nasional, 1970, dan Surabaya: Bina Ilmu
  15. Sejarah Kebudayaan dan Tamaddun Islam, Banda Aceh: Lembaga Penerbit IAIN Jami'ah Ar-Raniry, 1969
  16. Yahudi Bangsa Terkutuk, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1970
  17. Sejarah Hukum Islam, Banda Aceh:: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh, 1970
  18. Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1971
  19. Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern (terjemahan dari bahasa Arab), Singapura: Pustaka Nasional, 1972
  20. Pemimpin dan Akhlaknya, Banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, 1973
  21. Rubai Hamzah Fansury, Karya Sastra Sufi Abad XVII, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1974
  22. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, 1974 (cetakan ke-3, 1994)
  23. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975 (cetakan ke-5, 1993)
  24. Cahaya Kebenaran, Terjemahan Al-Quran, Juz Amma, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, dan Singapura: Pustaka Nasional
  25. Sumbangan Kesusasteraan Aceh dalam Pembinaan Kesusasteraan Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  26. Iskandar Muda Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh Terbesar, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  27. Tanah Merah (roman perjuangan), Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  28. Meurah Johan (roman sejarah Islam di Aceh), Jakarta: Bulan Bintang, 1950
  29. Risalah Akhlak, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  30. Surat-surat dari Penjara (catatan waktu dalam penjara berupa surat-surat kepada anak tahun 1953-1954), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  31. Peranan Islam dalam Perang Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  32. 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  33. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda (berasal dari buku Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, setelah ditambah dan disempurnakan), Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  34. Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1980
  35. Langit dan Para Penghuninta (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  36. Apa Sebab Al-Quran Tidak Bertentangan dengan Akal (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  37. Mengapa Ibadah Puasa Diwajibkan (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  38. Mengapa Umat Islam Mempertahankan Pendidikan Agama dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  39. Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang, Jakarta: Mutiara, 1978
  40. Dakwah Islamiyah dan Kaitannya dengan Pembangunan Manusia, Jakarta: Mutiara, 1978
  41. Sastra dan Agama, Banda Aceh: BHA Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
  42. Perang Gerilya dan Pergerakan Politik di Aceh untuk Merebut Kemerdekaan Kembali, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
  43. Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1981
  44. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
  45. Mengenang Kembali Perjuangan Missi Hardi, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
  46. Syiah dan Ahlussunnah Saling Rebut Pengaruh di Nusantara, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
  47. Benarkah Dakwah Islamiyah Bertugas Membangun Manusia, Bandung: Al-Ma'arif, 1983
  48. Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
  49. Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  50. Hikayat Pocut Muhammad dalam Analisa, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  51. Kesusasteraan Indonesia dari Zaman ke Zaman, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  52. Sejarah Kesusasteraan Islam Arab, masih berupa naskah
  53. Publisistik dalam Islam, Jakarta:: Penerbit Beuna, 1983
  54. Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1990
  55. Mengarang dalam berbagai majalah dan harian yang terbit di Banda Aceh, Medan, Padang Panjang, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Singapura, dan Malaysia. Sebelum Perang Dunia II karangannya tampil di: Pujangga Baru (Jakarta), Angkatan Baru (Surabaya), Pahlawan Muda (Padang), Kewajiban (Padang Panjang), Raya (Padang), Panji Islam (Medan), Pedoman Masyarakat (Medan), Gubahan Maya (Medan), Suluh Islam (Medan), Fajar Islam (Singapura), Miami (Medan), Matahari Islam sebagai Pemimpin Redaksi (Padang). Setelah Perang Dunia II pada media-media seperti: Dharma, Pahlawan, Widjaya, Bebas, Sinar Darussalam (Pemimpin Umum) yang semua media tersebut berada di Banda Aceh, Nusa Putera, Karya Bakti, Majalah Amanah, Panji Masyarakat, Harmonis, Mimbar Ulama, semua media tersebut berada di Jakarta, Majalah Puwan (Banda Aceh), Gema Ar-Raniry (Banda Aceh), Harian Waspada (Medan), Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh).
Dalam awal tahun 1989, Ali Hasjmy telah mendirikan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Dalam tahun 1990, telah mewakafkan kepada yayasan tersebut tanah miliknya seluas hampir 3.000 meter persegi rumahnya, kitab-kitab/buku-buku dengan lebih 15.000 jilij, naskah-naskah tua, album-album foto bernilai sejarah dan budaya serta banyak sekali benda budaya untuk dijadikan sebagai koleksi Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hajsmy.
 
Tanggal 15 Januari 1991, Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy telah diresmikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 
 
Pada tanggal 18 Januari 1988, beliau meninggal dunia dalam usia 83 tahun. 
 
Demikian riwayat kehidupan Prof. Ali Hasjmy yang disadur dari buku Delapan Puluh Tahun Melalui Jalan Raya Dunia, Ali Hasjmy, Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. []

24 June 2016

Syair Ma'rifat - Hamzah Fansuri

Ilustrasi syair ma'rifat

Aho segala kita ummat Nabi!
Akan ma'rifat Allah yogya diketahui
Karena ma'rifat itu pada sekalian wali
Mulianya sangat terlalu qawi

Ma'rifat itu yang terlalu qabul
Dengan Mahbubmu da'im beroleh wusul
Pakaian Mahbub yang bernama RRasul
Terlalu jauh daripada zuluman jahul

Marajal bahrayni yaltaqiyan
Bayna huma barzakhun la yabghiyan

Bahrayn itu terlalu 'ajib
Barzakh di antaranya bi Nuril Habib
Olehnya zahir terlalu qarib
Kelihatan jauh pada sekalian gharib

Bahrayn itulah ma'nanya dalam
Menyatakan pertemuan Tuhan dan 'alam
Inilah rahasia Nabi yang Khatam
Menyalakan 'Asyik tiada ia padam

Bahrayn itu tiada bertating
Airnya suci terlalu hening
Bukan di mata hidung dan kening
Jangan dipandang di sana pening!

Erti qaba qawsyny aw adna
Pertemuan hamba dan Tuhan yang A'la
Pada ma kadhabal fu adu ma ra-a
Tiada lagi lain 'ala ma yura

Qaba qawsayni itu suatu tamsil
Ma'nanya 'ali timbangnya tsaqil
Babrayn di dalamnya sempurna jamil
Orang mengetahui dia terlaly qalil

Orang qaba qawsayni itu seperti kandang
Tali di antaranya bukannya benang
Bazrakh namanya di sana terbentang
Ketiganya wahid yogya kau pandang

Tuhan kita itu tiada bermakan
Zahir-Nya nyata dengan rupa insan
Man 'arafa nafsahu suatu burhan 
Fa qad 'arafa rabbahu terlalu bayan

[[-----------------]]

Syair ma'rifat di atas adalah salah satu karya Hamzah Fansuri yang kaya maknanya. Bagi yang awam seperti saya, sangat sulit untuk memaknai setiap kalimat-kalimatnya. Syair yang saya postingkan ini tidak bermaksud atau saya bukanlah penganut sesuatu aliran yang kelak dapat mengaburkan pemahaman banyak orang. Syair ini, secara kesusasteraan layak mendapatkan apresiasi. Kita dapat melihat bagaimana kekayaan bahasa yang dimiliki oleh Hamzah Fansuri yang mampu merangkai kata per kata dari beberapa bahasa asing (Arab). Inilah salah satu syair bagi Anda penyuka karya-karya Hamzah Fansuri. Syair di atas saya ketik ulang seutuhnya dari buku hasil suntingan Abdul Hadi WM dan LK Ara yang berjudul Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga karya-karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

Syair Ruh - Hamzah Fansuri

ilustrasi

(a)

Unggas itu yang amat burhana
Diamnya nentiasa di dalam astana
Tempatnya bermain di bukit Tur Sina
Majnun dan Si Layla adalah di sana

Unggas itu bukannya nuri
Berbunyi ia sedekala hari
Bermain tamasya pada sekalian negeri
Demikianlah murad al-insanu sirri

Unggas itu bukannya balam
Nentiasa berbunyi siang dan malam
Tempatnya bermain pada sekalian 'alam
Di sanalah tamasya melihat ragam

Unggas itu tahu berkata-kata
Sarangnya di padang rata
Tempatnya bermain pada sekelian anggauta
Ada yang bersalahan, ada yang sekata

Unggas itu terlalu indah
Olehnya banyak ragam dan ulah
Tempatnya bermain (di dalam) Ka'bah
Pada bukit 'Arafat kesudahan musyahadah

Unggas itu bukannya merak
Nentiasa bermain di dalam surga
Kenyataan mu'jizat tidur dan jaga
Itulah wujud meliputi rongga

Unggas itu terlalu pingai
Nentiasa main dalam mahligai
Rupanya elok sempurna bisai
Menyamarkan diri pada sekalian sakai

Unggas itu bukannya gagak
Bunyinya terlalu sangat galak
Tempatnya tamasya pada sekalian awak
Itulah wujud menyatakan kehendak

Unggas itu bukannya bayan
Nentiasa berbunyi pada sekalian a'yan
Tempatnya tamasya pada sekalian kawan
Itulah wujud menyatakan kelakuan

Unggas itu bukannya burung
Nentiasa berbunyi di dalam tanglung
Tempatnya tamasya pada sekalian lurung
Itulah wujud menyatakan tulung

Unggas itu bukannya Baghdadi
Nentiasa berbunyi di dalam jasadi
Tempatnya tamasya pada sekalian fu'adi
Itulah wujud menyatakan 'ahdi

Unggas itu yang weruh angasmu
Nentiasa 'ashiq tiada kala jemu
Menjadi dagang lagi ia jamu
Itulah wujud menyatakan 'ilmu

(b)

Tayrul 'uryani unggas sultani
Bangsanya Nurul Rahmani
Tasbihnya Allah Subhani
Gila dan mabuk akan Rabbani

Unggas itu terlalu pingai 
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Dukuknya da'im di balik tirai

Putihnya terlalu suci
Olehnya itu bernama ruhi
Milatnya terlalu sufi
Mashafnya bersurat Kufi

'Arsh Allah akan pangkalnya
Habib Allah akan taulannya
Bayt Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufitnya bukannya kain
Fil Makkah da'im bermain
'Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu rajin

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan dipandangnya
'Alam Lahut akan kandangnya
Pada da'irah Huwa tempat pandangnya

Zikir Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tawhid akan minumnya
Da'im bertemu dengan Tuhannya

Suluhnya terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalannya terlalu hening
Barang mendapat dia terlalu menang

Cahayanya tiada berha'il
Baynallah dan baynal 'amil
Syari'atnya terlalu kamil
Barang yang mungkin menjadi jahil

Jika kau dapat asal 'ilmunya
Engkaulah yang tertahunya
'Alam nin engkau yang punya
Di sana sini engkau sukunya 

'Ilmunya tiada berbagai bagai
Fardunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan kau lalai

'Ilmunya 'ilmu yang pertama
Mazhabnya mazhab bernama 
Cahayanyan cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama sama

(c)

Tayrul 'uryani unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat rahmani
Warnanya pingai rupanya safi
Tempatnya Kursi yang maha 'ali

Sungguh pun 'uryan bukannya gila
Mengaji Quran dengan tartila
Tempatnya mandi sungai Salsabila
Di dalam firdaus ra'su Zanjabila

(d)

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da'im di Kursi Raja
Daripada nurinya faqir dan kaya
Menjadi insan, Tuhan dan saya

Kuntu hanzan asal sarangnya
'Alam Lahut nama padangnya
Terlalu Luas dengan lapangnya
Itulah hanzam dengan lawangnya

'Aqlul Kulli nama bulunya
Qalam al-a'la nama kukunya
Allah Ta'ala akan gurunya 
Oleh itulah tiada jodohnya

Jalal dan jamal nama kakinya
Nurul Awwal nama jarinya
Lawhul Mahfuz nama hatinya
Menjadi jawhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal Nabinya
Nur Allah dengan sucinya
Sekalian 'alam pancar daripada nurinya 
Menjadi langit serta buminya

(e)

Unggas Pingai terlalu 'asyiq
Da'im bermain di Kursi Khaliq
Bangsanya Rahman yang fa'iq
Menjadi sultan terlalu la'iq

Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal diri terlalu nyata

Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Sayapnya bernama Furqan
Tubuhnya bersurat Quran
Kakinya Hannan dan Mannan
Da'im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan angganya
Nur Allah nama matanya 
Nur Muhammad da'im sertanya

Liqa Allah nama 'isyqinya
Shaut Allah akan bunyinya
Rahman Rahim nama hatinya
Menyembah Tuhan dengan safinya

Bumi langit akan sangkarannya
Makkah Madinah akan pangkalannya
Bayt Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da'im sekalian luruh

Rupanya akan mahbubnya
Lakunya akan marghubnya
Bangsanya akan matlubnya
Buraq al-Mi'raj akan markubnya

'Ilmul yaqin nama 'ilmunya
'Aynul yaqin hasil tahunya
Haqqul yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari'at akan ripinya
Tariqat akan budinya
Haqiqat akan tirainya
Ma'rifat yang wasil akan isinya

'Alam nasut nama hambanya
Perisai malakut akan katanya
Duldul jabarut nama kudanya
Menyerang lahut akan kerjanya

Dengarkan hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu!

(f)

Ikan Tunggal bernama fadil
Dengan air da'im ia wasil
'Isyiqnya terlalu kamil
Di dalam laut tiada bersahil

Ikan itu terlalu 'ali
Bangsanya Nur al-Rahmani
Anggapnya rupa insani
Da'im bermain di laut baqi

Bismillah akan namanya
Ruh Allang akan nyawanya
Wajh Allah akan mukanya
Zahir dan batin sertanya

Nur Allah nama bapainya
Khalaqat Allah akan sakainya
Raja Sulayman akan pawainya
Da'im berbunyi dalam balainya

Empat bangsa akan ibunya
Summun bukmun akan tipunya
Kerja Allah yang ditirunya
Mengenal Allah dengan bisunya

Fana fillah akan sucinya
Inni anallah akan bunyinya
Memakai dunya akan ruginya
Radikan mati da'im pujinya

Tarkudud dunya akan labanya
Menuntut dunya akan maranya
'Abdul Wahid asal namanya
Da'im "Anal haqq" akan katanya

Kerjanya mabuk dan 'asyiq
'Ilmunya sempurna fa'iq
Mencari air terlalu sadiq
Di dalam laut bernama Khaliq

Ikan itu terlalu zahir
Olehnya da'im di dalam air
Sungguh pun ia terlalu hanyir
Wasilnya da'im di laut halir

[[--------------------]]



Syair di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung dengan penyunting Abdul Hadi WM dan LK Ara.

Baca juga karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

23 June 2016

Syair Iba Hati - Hamzah Fansuri

ilustrasi

Tuhan kita yang bernama Qadim
pada sekalian makhluq terlalu karim
tanda-Nya qadir lagi dan hakim
menjadikan 'alam daripada al-Rahman al-Rahim

Rahman itulah yang bernama sifat
tiada bercerai dengan kunhi Dhat
Dhat di sana perhimpunan sekalian 'ibarat
itulah haqiqat yang bernama ma'lumat

Rahman itulah yang bernama wujud
keadaan Tuhan yang sedia ma'bud
kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
dari Rahman itulah sekalian mawjud

ma'bud itulah terlalu bayan
pada kedua 'alam kulla yaumin huwa fi shakn
ayat ubu daripada Surat al-Rahman
sekalian 'alam di sana hayran

ma'bud itulah yang bernama haqiq
sekalian 'alam di dalamnya ghariq
olehnya itulah sekalian fariq
pada kunhinya itu tiada beroleh tariq

haqiqat itulah terlalu 'ayan
pada rupa kita sekalian insan
aynama tuwallu suatu burhan
fa thamma wajhu Llah pada sekalian makan

insan itu terlalu 'ali
haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
ahsani taqwimin itu rabbani
akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani

Subhani itu terlalu 'ajib
daripada hablil warid pun ia qarib
indah sekali qadi dan khatib
demikian hampir tiada beroleh nasib

aho segala kita yang 'ashiqi
ingatkan ma'na insani
jika sungguh engkau bangsa ruhani
jadikan dirimu akan rupa Sultani

kenal dirimu hai anak 'alim!
supaya engkau nentiasa salim
dengan dirimu itu yogya kau qa'im
itulah haqiqat salam dan sa'im

dirimu itu bernama khalil
tiada bercerai dengan Rabbal Jalil
jika ma'na dirimu dapat akan dalil
tiada bergunan mazhab dan sabil

kullu man 'alayha fan ayat min Rabbihi
menyatakan ma'na irji'i ila aslihi
akan insan yang diperoleh tawfiqi
supaya karam di dalam sirru sirrihi

situlah wujud sekalian funun
tinggallah engkau daripada mal wal banun
Engkaulah 'ashiq terlalu junun
inna lillahi wa inna ilayhi raji'un

[[-----------------]]
Syair Iba Hati di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung, penyunting Abdul Hadi WM dan LK Ara.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya berikut ini: