17 June 2016

Konsientisasi (Pemikiran Pendidikan Paulo Freire)

Paulo Freire, 19 September 1921 - 2 Mei 1997, sumber foto: wikipedia.

Pendahuluan
Paulo Freire adalah salah seorang tokoh pendidikan yang berasal dari Brasil. Dia lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di Brasil bagian timur laut, wilayah yang miskin dan terbelakang. Ayahnya, Joaquim Temistocles Freire adalah seorang anggota polisi militer di Pernambuco yang berasal dari Rio Grande do Norte. Sedangkan ibunya, Eldetrus Neves Freire juga berasal dari Pernambuco (F. Danuwinata dalam Paulo Freire, 2008:x).

Pada tahun 1929, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat berimbas ke Brasil. Orang tua Paulo Freire yang tergolong dalam kelas menengah ikut mengalami kejatuhan finansial. Paulo Freire merasakan bagaimana kehidupan anak-anak yang sedang bersekolah mengalami kelaparan. Dia juga belajar mengerti apa artinya menjadi lapar. Sehingga dia bertekad untuk mengabdikan kehidupannya pada perjuangan melawan kelaparan agar anak-anak lain jangan sampai mengalami kesengsaraan yang tengah dialaminya itu.

Pada tahun 1960-an, terjadilah keresahan sosial di Brasil. Sejumlah gerakan pembaharuan berkembang secara serentak. Gerakan-gerakan ini dilatarbelakangi oleh tujuan politiknya masing-masing. Pada waktu itu Brasil mempunyai penduduk sekitar 34,5 juta jiwa dan hanya 15,5 juta yang dapat mengikuti pemilihan umum. Hak ikut serta dalam pemilu dikaitkan dengan kemampuan orang untuk menuliskan nama masing-masing (Paulo Freire, 2008:xi-xii). Jadi, penduduk Brasil yang tidak dapat menggunakan hak politiknya lebih dari setengah total jumlah penduduk Brasil. Paulo Freire merasa prihatin dengan situasi ini. Untuk itulah Paulo Freire mulai merancang program pendidikan guna membantu masyarakat Brasil yang buta huruf.

Pada tahun 1961, Joao Goulart menjadi Presiden Brasil menggantikan Janio Quadros. Joao Goulart adalah seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Gerakan Paulo Freire mendapat dukungan dari sang presiden. Paulo Freire menerapkan program kenal aksara di kalangan petani di daerah timur laut. Apa yang dibangkitkan dalam proses kenal aksara tidak hanya terbatas pada kemampuan mereka untuk membaca dan menulis, tetapi juga membawa mereka ke proses kesadaran politik. Artinya mereka berpartisipasi aktif dan secara nyata ikut menentukan arah perkembangan bersama (Paulo Freire, 2008:xiii). Dari proses-proses inilah lahirnya konsep konsientisasi, sebuah kata kunci yang sering digunakan oleh Paulo Freire dalam perkembangan pemikiran pendidikannya.

Pemahaman Konsientisasi
Istilah konsientisasi dapat diartikan sebagai penyadaran. Istilah ini juga dapat digunakan untuk belajar memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut (Paulo Freire, 2008:1). Penggunaan kata konsientisasi bukan ditujukan untuk mengadakan perlawanan secara fisik. Konsientisasi berarti proses menyadarkan atau membuka kesadaran seseorang agar lebih peka terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di lingkungannya. 

Lebih lanjut Paulo Freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga fase (William A. Smith, 2008:xvii), yaitu:
  1. Kesadaran magis (magical consciousness), yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan antara kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketidakberdayaan.
  2. Kesadaran naif (naival consciousness), keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat.
  3. Kesadaran kritis (critical consciousness), kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.
Dari pemaparan singkat di atas, konsientisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses kesadaran manusia untuk memahami realitas kultural yang ada di lingkungan mereka. Konsientisasi juga merupakan sebuah pemikiran untuk mengubah suatu kesadaran manusia dari kesadaran magis, menuju kesadaran naif, dan akhirnya terbentuklah kesadaran kritis. Kesadaran kritis inilah yang menjadi tujuan utama konsientisasi. Sebuah konsep pemikiran pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire.

Menuju Kesadaran Kritis
Paulo Freire adalah seorang tokoh yang kritis. Pada masanya, kondisi masyarakat Amerika Latin merupakan masyarakat yang tertutup dengan ciri-ciri sebagai berikut (Paulo Freire, 2007:134-135):
  • struktur sosialnya sangat rigid dan hirarkis
  • sedikitnya jumlah pasar karena perekonomian ditentukan oleh negara asing
  • mengekspor bahan-bahan mentah dan mengimpor barang-barang jadi tanpa memiliki daya tawar
  • sistem pendidikannya selektif dan 'berbahaya' dengan peran sekolah sebagai alat untuk mempertahankan status quo
  • banyaknya orang yang buta huruf dan terserang penyakit
  • tingginya angka kematian bayi
  • kekurangan gizi yang berakibat pada gangguan mental yang sulit diobati
  • rendahnya tingkat harapan hidup, dan
  • tingginya angka kejahatan
Meninjau kondisi di atas, Paulo Freire melihat adanya model kesadaran yang berkorespondensi dengan kehidupan nyata masyarakat yang belum mandiri. Kesadaran semacam ini secara hostoris terbentuk karena struktur sosial. Ciri pokok kesadaran ini, seperti masyarakat yang belum mandiri, adalah ketaatan semu pada kondisi yang ada, atau seolah-olah mengikuti arus namun sebenarnya tidak. Kesadaran seperti ini tidak cukup menjada jarak dengan realitas sehingga sulit untuk mengobjektifikasinya secara kritis. Kesadaran ini disebut dengan kesadaran semin intransitif (Paulo Freire, 2007:135) atau kesadaran magis.

Orang-orang yang berada pada fase kesadaran ini akan sangat mudah terperangkap ke dalam mitos-mitos atau kepercayaan-kepercayaan kuno. Keadaan ini akan sangat mudah digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkuasa untuk memperdayai masyarakatnya. Di Indonesia, keadaan seperti ini terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru. Masyarakat banyak yang dibungkam dengan kondisi nyata kehidupan sosial, politik, dan ekonomi mereka.

Paulo Freire melihat kesadaran magis ini dengan menekankan dua orientasi dasar, yaitu menyerahkan fakta-fakta kepada penguasa (pemerintah) untuk menjelaskan mengapa segalanya seperti ini dan pandangan yang sederhana tentang hubungan kausalitas. Di Amerika Latin, kita dapat melihat contoh situasi yang menggambarkan kesadaran magis ini. Misalnya pernyataan-pernyataan: "Kami tidak dapat belajar karena kami tidak memiliki uang," atau "Masyarakat Indian kami tidak bersekolah, tidak mempelajari sesuatu, karena mereka tidak mengerti sesuatu." Kasus tersebut dapat kita simpulkan bahwa mereka hanya melihat hubungan antara dua hal, uang dan sekolah, atau sekolah dan pemahaman, tetapi mereka gagal bertanya mengapa mereka tidak memiliki uang atau mengapa mereka tidak bersekolah (William A. Smith, 2008:63-67).

Fase kesadaran selanjutnya adalah kesadaran naif atau transitif. Perubahan dari kesadaran magis ke kesadaran naif adalah perubahan dari menyesuaikan diri dengan fakta-fakta kehidupan yang tak terelakkan ke memperbarui penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan individu-individu dalam sebuah sistem yang pada dasarnya keras. Kontradiksi yang dihadapi oleh individu yang naif ini terjadi antara sistem ideal yang seharusnya berjalan, dan pelanggaran terhadap sistem tersebut oleh orang-orang jahat dan bodoh. Jika mereka dapat memperbarui perilakunya, maka sistem tersebut akan berjalan dengan baik.

Orang-orang menyederhanakan masalah dengan cara menimpakan penyebabnya pada individu-individu, bukan pada sistem itu sendiri. Argumentasi-argumentasi mereka rapuh ketika menjelaskan bahwa individu terpisah dari sistem di mana mereka hidup dan pada puncaknya mengarah pada argumentasi yang larut dengan realitas (William A. Smith, 2008:69).

Fase ketiga yaitu kesadaran kritis. Isu yang muncul adalah perubahan sistem yang tidak adil, bukannya pembaruan atau penghancuran individu-individu tertentu. Proses perubahan ini memiliki dua aspek, yaitu pertama, penegasan diri dan penolakan untuk menjadi 'inang bagi benalu', dan kedua, berusaha secara sadar dan empiris untuk mengganti sistem yang menindas dengan sistem yang adil dan bisa mereka kuasai. Tidak seperti kesadaran naif, individu ini tidak menyalahkan individu-individu, tetapi justru menunjukkan pemahaman yang benar atas dirinya sendiri dan sistem yang memaksa tertindas dan penindas berkolusi (William A. Smith, 2008:80-81).

Pada tingkat kesadaran naif, di mana individu tertindas ingin memperbarui sistem yang telah dirusak oleh orang-orang jahat yang melanggar norma dan aturan bisa dibagi menjadi dua sub kesadaran (William A. Smith, 2008:102):
  1. Individu-individu menyalahkan diri mereka sendiri dan kawan-kawannya karena dianggap telah melanggar norma. Dengan perasaan bersalah dan melakukan tindak kekerasan horizontal, mereka itu justru memperkuat kepercayaan penindas. Tindakan-tindakan mereka diarahkan untuk mengubah diri mereka sendiri dan meniru penindas: menjadi lebih berpendidikan, lebih berkuasa, dan lebih putih.
  2. Individu-individu tertindas menyalahkan individu penindas atau kelompok penindas tertentu karena melanggar norma-norma yang ada. Mereka mengetahui maksud dan betapa kasarnya perilaku penindas tersebut, tetapi mereka menimpakan penyebab persoalan ini pada individu penindas. Tindakan-tindakan mereka diarahkan untuk mempertahankan diri dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh pelanggaran norma individu penindas.
Individu-individu yang berkesadaran kritis menganggap sistem ini perlu ditransformasi. Tetapi untuk mengubah realitas secara mendasar tidak cukup dengan melakukan tambal-sulam terhadap hubungan antara penindas dan tertindas, karena penyebab penindasan ini adalah sistem, yakni seperangkat norma yang menguasai si tertindas dan penindas. Proses transformasi ini dimulai dengan menolak dan menyingkirkan ideologi penindas dan meningkatnya penghargaan terhadap diri sendiri dan kekuatan komunitas. Mereka berpikir secara ilmiah dan tidak lagi merujuk pada kasus-kasus penindasan tetapi pada wilayah sosio-ekonomi makro di mana kehidupan berjalan dalam konteks glibal. Individu-individu yang krisis mulai mencari model-model peran baru, mengandalkan kekuatan diri dan sumber-sumber daya komunitas, keberanian mengambil resiko dan independen terhadap penindas. Pendekatan baru dalam pemecahan masalah ini, yaitu polemik diganti dialog dengan kawan-kawannya, menyebabkan individu tertindas harus memformulasikan tindakan-tindakan sendiri yang berujung pada pembebasan dan transformasi yang sebenarnya (William A. Smith, 2008:102-103).

Paulo Freire yang mengutip dari Fransisco Weffert menyebutkan bahwa bangkitnya kesadaran kritis membuka jalan ke arah pengungkapan ketidakpuasan sosial secara tepat karena ketidakpuasan itu adalah unsur-unsur yang nyata dari sebuah situasi yang menindas (Paulo Freire, 2008:3). Dengan adanya kesadaran kritis ini, maka individu-individu cenderung berpikir dan bertindak secara kritis. Dalam lingkup pendidikan misalnya, kesadaran kritis perlu dikembangkan kepada peserta didik. Inilah yang menjadi salah satu gambaran dari konsientisasi.

Kesimpulan
Konsientisasi merupakan belajar memahami pertentangan-pertentangan sosial ekonomi serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari situasi pertentangan itu. Konsientisasi juga merupakan proses di mana manusia berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan.
Yang diharapkan dari proses konsientisasi ini adalah adanya suatu perubahan kesadaran dari kesadaran magis ke kesadaran naif, dan akhirnya terwujudlah cita-cita konsientisasi itu sendiri, yakni kesadaran kritis. Kesadaran kritis ini mutlak diperlukan untuk mengubah situasi sosial, ekonomi, dan politik di negara-negara yang miskin dan terbelakang atau negara-negara yang masih dijajah secara sosial ekonomi.
Dalam lingkup pendidikan, teori konsientisasi dapat dikategorikan sebagai teori pendidikan perkembangan. Fase-fase dalam konsientisasi bersifat hirarkis. Kesadaran kritis lebih berbeda dan integral dibandingkan dengan kesadaran magis. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kesadaran kritis menunjukkan fase kesadaran yang lebih tinggi atau 'lebih baik'.
Daftar Pustaka
  • Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
  • Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2008
  • William A. Smith, Conscientizacao: Tujuan Pendidikan Paulo Freire, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik