![]() |
| Cover film Dragon Blade (2015), sumber foto: IMDb. |
Huo An adalah seorang pemimpin pasukan pelindung jalur sutra di wilayah-wilayah barat. Bersama pasukannya, Huo An menjadi penengah suku-suku yang sedang bertikai untuk mendapatkan kehidupan yang layak di jalur sutra. Yang diinginkan oleh Huo An adalah perdamaian, meskipun perdamaian itu hanya ada dalam impian. Kekerasan dan konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia untuk mempertahankan hidup di tengah-tengah badai gurun yang bisa datang kapan saja.
Impian Huo An hampir saja musnah ketika dia dikhianati oleh pasukannya sendiri, Yin Po yang haus kekuasaan. Diam-diam, Yin Po telah menjalin kerjasama dengan Tiberius, penerus Kerajaan Romawi yang menjadi tokoh antagonis dalam kisah ini. Yin Po digiurkan oleh keserakahan jabatan. Jika Tiberius berhasil menguasai Gerbang Wild Geese, maka Tiberius akan memuluskan rencana Yin Po untuk menjadi Kepala Perfektur. Rencana mereka berjalan mulus. Pasukan pelindung telah dijebak. Mereka pun ditangkap karena tuduhan penggelapan emas. Huo An dan pasukannya dikirim ke Gerbang Wild Geese, sebuah daerah perbatasan. Hukuman ini telah menodai kiprah pasukan pelindung jalur sutra yang terkenal bersih dari segala perbuatan kotor.
Di Gerbang Wild Geese, mereka bergabung bersama terhukum lainnya dari berbagai suku bangsa dan dijadikan budak untuk menyiapkan proyek Gerbang Wild Geese yang kelak akan menjadi salah satu tempat strategis di jalur sutra. Di sinilah serangkaian kisah mulai menarik. Suatu hari, Lucius, seorang panglima Kerajaan Romawe yang lari dari kejaran Tiberius karena menyelamatkan adik Tiberius, melihat Gerbang Wild Geese. Huo An, yang tidak ingin melihat pertumpahan darah tidak berhasrat meladeni peperangan dengan Lucius. Tapi tidak bagi Lucius, dia harus menguasai Gerbang Wild Geese. Setidak-tidaknya, dia dan pasukannya dapat memulihkan kekuatan agar bisa menyerang balik Tiberius.
Huo An dengan sikap diplomatis dan tahu bagaimana cara mengubah musuh sejati menjadi teman sejati membujuk Lucius untuk tidak berperang. Bujukan, apalagi disampaikan dengan cara yang halus atau seseorang sedang dihimpit oleh situasi yang sulit, ternyata mampu menjadi penawar ampuh dalam meredakan konflik. Terbukti, Lucius pun luluh karena dia membutuhkan pertolongan untuk kesehatan Publius, adik kandung Tiberius yang berusaha dibunuhnya agar posisi raja mutlak beralih ke tangan Tiberius. Huo An melakukan pendekatan yang masih dengan Lucius. Berbicara dari hati ke hati di saat senggang. Bercerita tentang kehidupannya yang suram. Dan menyampaikan visi perdamaiannya untuk masa mendatang. Lucius takjub melihat kepribadian Huo An. Meskipun dia tadi telah menghina Huo An, tapi sedikit pun tidak ada rasa dendam pada diri Huo An.
Sekelumit cerita di atas adalah kisah yang saya nonton dalam film Dragon Blade (2015). Huo An diperankan oleh Jackie Chan, Lucius oleh John Cusack, dan Tiberius oleh Adrien Brody. Dalam kehidupan nyata, kita sulit menemukan sosok budiman seperti Huo An yang nihil dendam, rasa benci berlebihan, dan mampu memfasilitasi konflik menjadi sebuah perdamaian. Banyak penyebab yang dapat memicu konflik. Serupa jerami, jika sedikit saja disulut dengan sepercik bara api, maka jerami itu akan menyebabkan api yang mampu melumat benda apa pun di sekitarnya.
Namun, apakah konflik dapat diakhiri? Di Aceh, kita tahu konflik yang berkepanjangan dan telah menimbulkan begitu banyak korban, secara tertulis telah sepakat untuk segera diakhiri oleh kedua belah pihak yang bertikai. Kelompok Hasan Tiro telah berjanji dan berikrar setia untuk kembali ke pangkuan Indonesia. Maka, setiap tanggal 15 Agustus, kita pun selalu diingatkan terhadap momen tersebut. Kita mengisi perdamaian dengan beragam cara. Pemerintah Indonesia yang dulu dianggap musuh, sekarang telah menjadi teman baik bagi mantan para kombatan.
Kita pun patut bersyukur atas anugerah perdamaian tersebut. Paling tidak kita tak lagi menyaksikan atau mendengarkan orang hilang atau ada orang yang mati sia-sia tanpa diketahui kesalahannya. Musim culik dan musim bunuh itu telah usai. Kini sudah dua periode Aceh dipimpin oleh mantan pembangkang. Lewat kendaraan politik yang mereka tunggangi ~ Partai Aceh yang telah mampu menarik simpati masyarakat ~ akhirnya mereka berhasil berkuasa di Aceh. Namun, kisah indah ini mulai tercoreng. Beberapa kelompok yang merasa ditindas dan merasa kurang diperhatikan oleh Pemerintah Aceh melakukan perlawanan. Sebut saja komplotan Din Minimi yang masyhur itu. Dan beberapa komplotan lain yang membuat gaduh, baik terang maupun sembunyi.
Berkali-kali dia bersuara di surat kabar dan televisi. Dia mengaku tidak melakukan serangkaian kejahatan yang kerap dituduhkan kepadanya. Dia juga selalu menuntut agar pemerintah ZIKIR agar berlaku adil kepada masyarakat Aceh, dan khususnya bagi para mantan pembangkang lain yang tingkat kesejahteraan mereka sungguh memperihatinkan. Inilah yang menjadi salah satu alasan beraksinya Din Minimi dan kawan-kawan. Sampai saat ini, aparat keamanan telah menyatakan kesungguhannya untuk terus memburu komplotan Din Minimi. Segala cara akan mereka terapkan.
Sungguh sayang, jika Indonesia mampu merangkul GAM untuk kembali ke pelukan ibu pertiwi, apakah tidak mungkin jika Pemerintah Aceh dapat merayu Din Minimi dan kawan-kawan untuk kembali ke jalan yang lurus? Din Minimi hanya menganggap pemerintah zalim sebagai musuh utamanya. Sebaliknya, pemerintah menganggap Din Minimi sebagai musuh yang mesti ditumpas. Jika ego tetap bertahan, konflik tidak akan pernah berujung. Apakah pemerintah kita terjebak dalam adagium tidak ada teman sejati, tidak ada musuh sejati, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Jika tidak, pinta perdamaian selalu terbuka lebar. Jika ya, sia-sialah anugerah perdamaian yang jauh-jauh diteken di negeri asing.
Abraham Lincoln, anak seorang tukang sepatu pada suatu hari pernah dicegat oleh seorang senator yang sangat memusuhinya. Sang senator sampai saat itu sangat membenci Lincoln. Namun Lincoln tak gentar dengan segala ancaman dan tekanan. Secara meyakinkan, dia berpidato dan mengucapkan terima kasih kepada musuh-musuhnya atas setiap penghinaan yang diterimanya.
Terima kasih telah mengingatkan saya terhadap kebaikan ayah saya. Setahu saya, ayah sayalah yang telah membuat sepatu yang mungkin sedang Anda pakai sekarang. Jika di antara Anda ada yang merasa tidak cocok dengan sepatu-sepati tersebut, perkenankanlah saya untuk memperbaikinya.
Kalimat-kalimat itu mendapatkan sambutan luar biasa dari para pendengar. Sang senator merasa takjub dan berdebar. Sedikit pun di dalam kampanyenya menyinggung rasa kebencian dan permusuhan. Apa alasannya? Dengan menjadikan musuh sebagai teman, saya yakin tidak ada lagi orang yang akan memusuhi saya. Begitulah tegasnya.
Huo An dan Abraham Lincoln adalah dua kisah menarik antara fiksi dan nyata. Tentu, kita juga digurui tentang bagaimana mengelola sebuah konflik menjadi sebuah akhir yang bahagia.
Catatan di atas pernah dipostingkan di tahun 2015.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik