2 June 2016

Pendidikan Menengah Umum Zaman Belanda di Aceh

MULO Fort de Kock (Bukit Tinggi) Sumatera Barat, sumber: NMVW-collectie.
Menurut laporan umum pendidikan di Hindia Belanda tahun 1928, satu-satunya lembaga pendidikan menengah yang terdapat di Aceh dan daerah-daerah takluknya adalah MULO (Meer Uitgbreid Lager Onderwijs), yang sejak zaman pendudukan Jepang hingga sekarang dikenal dengan nama SMP (Sekolah Menengah Pertama). Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang paling tinggi yang ada di Aceh, dan didirikan pertama kali pada tahun ajaran 1920/1921 di Kutaraja dengan lamanya masa belajar 3 tahun. Berdasarkan memori serah terima jabatan asisten residen Aceh Besar C. E. Maier pada 17 Juni 1935, jumlah murid pada sekolah itu (tahun 1935) adalah 79 orang.

Pada mulanya pendirian MULO di Aceh selain dimaksudkan untuk menampung murid-murid yang telah menamatkan pendidikan pada HIS dan ELS serta mereka yang berkeinginan untuk melanjutkan pelajarannya, juga dalam rangka untuk mendidik kader-kader uleebalang yang terampil. Maka sehubungan dengan maksud tersebut, Gubernur Van Aken (yang merupakan gubernur terakhir dari pemerintahan Hindia Belanda di Aceh, karena sesungguhnya Aceh berada di bawah seorang residen) menyebutkan bahwa pendidikan tingkat MULO sangat diperlukan di Aceh, terutama untuk para keluarga uleebalang yang mampu dan untuk keluarga pemuka-pemuka adat lainnya. 

Lebih lanjut Van Aken menambahkan bahwa meskipun pemerintah Hindia Belanda telah mengirimkan anak-anak uleebalang ke luar Aceh seperti ke Fort de Kock (Bukit Tinggi), Asahan dan ke Pulau Jawa untuk dididik di sana, tetapi akan lebih baik lagi bila mereka itu dapat dididik dengan pendidikan Barat dalam lingkungan sendiri, agar mereka tidak begitu "jauh" dari lingkungan masyarakat dan kebudayaannya.

Hampir bersamaan dengan didirikan MULO, pemerintah juga telah mendirikan sebuah asrama yang diberi nama Atjehsch Internaat. Meskipun dalam statut internaat itu yang bertanggal 27 Januari 1922, disebutkan bahwa internaat itu dibuka bagi segala suku bangsa yang berasal dari luar Kutaraja, tetapi dalam pelaksanaannya hanya diperuntukkan buat pemondokan para siswa yang bersekolah di MULO dan HIS yang umumnya terdiri dari putera-putera uleebalang.

Pada masa residen J. Jongejans (1936-1938) mulai terbuka kesempatan yang lebih luas kepada setiap suku bangsa untuk memasuki sekolah MULO dan menurut J. Jongejans pada masa itu di antara murid-murid sekolah itu juga terdapat beberapa putera Aceh dari golongan bangsawan. Menjelang berakhirnya pemerintahan Belanda di Aceh, jumlah sekolah ini tetap satu buah. tetapi perhatian masyarakat terhadap jenis pendidikan ini semakin besar. 

Dan sebagai akibat dari pendidikan ini, maka di Aceh telah lahir suatu golongan yang berpendidikan menengah, sehingga mengharuskan pemerintah untuk mengadakan seleksi dalam penerimaan pegawai-pegawai pada berbagai jenis jabatan pemerintah di Aceh pada masa itu.


Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 51-52

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik