![]() |
| Salah satu kegiatan di Ambactshcool, sumber: NMVW-collectie. |
Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga-tenaga tukang yang dapat mengisi jabatan-jabatan rendah pada lembaga-lembaga pemerintahan seperti masinis kereta api, perbengkelan, montir, dan sebagainya, maka pemerintah Hindia Belanda membuka sebuah Ambachtschool (Sekolah Pertukangan) yang ditempatkan di Atjeh Spoor di Sigli (Noordkust van Atjeh). Pada mulanya sekolah ini dikhususkan dalam kejuruan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan logam (besi) dan kemudian juga dibuka bahagian pertukangan yang berhubungan dengan kayu. Menurut Gubernur van Aken (1932-1936) jenis pendidikan tukang tersebut terutama tukang kayu sangat sesuai untuk daerah Aceh pada masa itu, mengingat oetoeih-oetoeih (tukang-tukang) orang Aceh, terutama mereka yang ahli dalam membangun rumah-rumah Aceh maupun yang menempa besi-besi untuk membuat alat-alat perang dan perlengkapan lainnya, tidak menunjukkan adanya perkembangan, baik dalam sistem maupun dalam teknik mereka bekerja, yang pada umumnya masih secara tradisional. Dan sehubungan dengan sekolah pertukangan ini, van Aken juga menganjurkan supaya di Aceh didirikan pula sebuah kursus montir.
Menurut catatan R. Broersma dalam karyanya Atjeh Als Land Voor Handel en Bedriif di Kutaraja dalam tahun 1925 sudah terdapat sebuah Ambachtschool. AJ. PPiekaar (bekas sekretaris residen pemerintah Hindia Belanda yang terakhir di Aceh), juga menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1939 di seluruh Aceh hanya terdapat satu sekolah tukang, dan sekolah tersebut berada di Kutaraja. Dapat ditambahkan bahwa meskipun sangat langkanya sekolah tukang itu, tetapi beberapa Kursus Pertukangan (Ambacht Leergang) pada sekitar tahun tiga puluhan juga terdapat di Aceh. Di antaranya Ambacht Leergang yang terdapat di Tapak tuan, dengan guru-gurunya antara lain M. Jusuf dan M. Syam.
Seperti telah disinggung di atas bahwa di Aceh (Distrik Ulee Lheue) sejak tanggal 1 Mei 1910 telah didirikan sebuah Meisjesschool (sekolah puteri). Dan sampai pada tahun 1918 jumlah sekolah-sekolah ini di seluruh Aceh sudah mencapai 20 buah dengan jumlah murid 1321 orang. Meisjesscholen (sekolah-sekolah puteri) ini adalah identik dengan sekolah kejuruan wanita, karena yang diajarkan di sini pada umumnya adalah keterampilan dengan pekerjaan tangan dan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kepentingan rumah tangga. Dalam perkembangannya sekolah puteri yang di Ulee Lheue itu telah lebih dikhususkan lagi dalam hal pertenunan, sehingga sekolah ini pada sekitar tahun tiga puluhan disebut juga terutama oleh orang-orang Belanda dengan nama Weefschool (Sekolah Pertenunan).
Menurut memori serah terima jabatan Gubernur van Aken, pada masa pemerintahannya di Aceh sudah terdapat dua buah sekolah pertenunan, yang satu berlokasi di Ulee Lheue dan yang sebuah lagi di Samalanga. Pada kedua sekolah kejuruan ini, terutama diajarkan bagaimana cara bertenun dengan menggunakan alat-alat yang digerakkan oleh tangan yang pada masa dahulu pernah terkenal di Aceh. Maka untuk ini, motif-motif Aceh lama, perlu diperkenalkan dan dihidupkan kembali melalui sekolah-sekolah kejuruan itu. Dan dalam hubungan ini perlu disebutkan bahwa masing-masing uleebalang di kedua daerah tempat sekolah tersebut berlokasi, ikut berpartisipasi membantu kelancaran jalannya pendidikan tersebut. Malahan Teuku Teungoh (uleebalang Mukim Meuraksa Ulee Lheue) merelakan tempat tinggalnya digunakan untuk tempat sekolah tersebut.
Berdasarkan pasal 6 ad, d, statuta dan anggaran rumah tangga dari Vereeniging Atjeh (Serikat Atjeh) tahun 1916, yang bunyinya:
Kalau dirasa perlu oleh Hoofdbestuur maka diberikan djoega pertolongan dengan wang kepada moerid-moerid dari Normal Cursus, Ambachtschool dan Landbouwschool
Maka dapat diketahui bahwa pada tahun 1916, di Aceh juga sudah terdapat jenis pendidikan kejuruan. Di antaranya yaitu Normal Cursus (kursus untuk mendidik guru-guru sekolah rakyat), Ambatchtschool (sekolah pertukangan), dan Landbowschool (sekolah pertanian). Menurut J. Langhout dalam karya Economische Staatkunde in Atjeh, sekolah-sekolah kejuruan tersebut mulai didirikan di Aceh pada masa H. N. A. Swart menjadi Gubernur Aceh dan Daerah-daerah Takluknya sejak tahun 1908 sampai tahun 1918. Adapun Mornaal Cursus mulai dibuka pada tanggal 7 Februari 1910 di Kutaraja, sedangakan Landbouwschool (sekolah-sekolah pertanian) didirikan di Ulee Kareng (tidak begitu jauh dari Kutaraja) dan di Beureunuen.
Kalau di atas telah disebutkan bahwa pada beberapa Vervolgschool di Aceh ditambah satu tahun ajaran yang khusus diperuntukkan bagi pendidikan kejuruan pertanian dengan sistem kurikulum seperti juga telah disebutkan, maka pada beberapa sekolah ini lainnya juga telah ditambah dengan sebuah kelas lagi, di mana murid-murid diberi tambahan pelajaran Hitung Dagang dan Memegang Buku. Dan rupa-rupanya pendidikan kejuruan ini diperuntukkan khusus bagi mereka yang hendak bekerja dalam bidang perdagangan.
Artikel tulisan di atas bersumber dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 52-54.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik