Showing posts with label Imajiner. Show all posts
Showing posts with label Imajiner. Show all posts

14 September 2016

Secangkir Kopi Bersama Fansuri

Saya memasuki sebuah taman yang ditumbuhi oleh beberapa pohon rindang. Sudah lama saya tak singgah di taman itu. Rasa sejuk pun mulai membasuh saya walau siang begitu teriknya. Di sudut taman itu, ada sebuah warung kopi yang secara tak sadar langkah saya telah berayun ke sana. Hingar-bingarnya deru kendaraan yang berada di depan taman itu tidak mengurangi kesejukan yang saya rasakan. Setibanya di warung kopi taman tersebut, saya menilik ke sekeliling. Warung telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik berdiskusi. Tak ada tempat kosong. Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang laki-laki tua sederhana yang sedang menyendiri menatap ke arah lalu-lalangnya kendaraan di bawah sebuah pohon rindang. 

Saya menyapa laki-laki itu seraya meminta izin untuk dapat duduk bersamanya dengan dalih tak ada tempat lain yang bisa ditempati. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan kami duduk saling berhadapan. Kemudian saya memesan secangkir kopi. Tak butuh waktu lama untuk menghirup nikmatnya aroma kopi tersebut karena dengan segera kopi telah terhidang di hadapan saya.

Saya tatap laki-laki tua itu yang tak bergeming sedikit pun sejak saya duduk bersamanya. Ia terus menatap hampa seakan tak menggubris keberadaan saya. Saya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sedang Anda pikirkan, Teungku?" tanya saya sesantun mungkin. Laki-laki itu menatap tajam ke arah saya dan menjawab singkat, "Tuhan!" Saya kaget mendengar jawaban tersebut. Sungguh seorang laki-laki yang agak misterius bagi saya.

"Bisakah Anda menjelaskannya lebih lanjut kepada saya mengenai Tuhan?" pinta saya. Laki-laki tua itu lama menatap saya seakan menyangsikan pertanyaan yang saya ajukan. "Tuhan, ketika segala sesuatu itu belum ada (berwujud), maka ketahui olehmu yang pertama sekali ada itu hanyalah Allah sebagai zat semata, tanpa sifat dan nama. Allah sebagai zat adalah Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas. Allah adalah yang awwal dan yang akhir, dan yang tiada teribaratkan dan tiada termisalkan. Nama zat semata tersebut adalah Huwa."

Saya tersentak dalam kegamangan dan bertanya lagi, "Apakah yang Anda maksudkan Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas tersebut?" Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas serupa laut yang dalam, karena hakikat zat tidak dapat diketahui dan tak seorang pun dapat mengenalinya. Allah yang dalam sisi-Nya tanpa aktivitas adalah zat semata dan bernama Huwa. Maka ketika Allah dalam kondisi beraktivitas adalah wujud Allah. Akhirnya zat Allah dan wujud Allah adalah Esa.

Maka dapat dipahami bahwa wujud Allah dan wujud alam adalah Esa. Karena alam ada pada dirinya sendiri dan tidak memiliki wujud. Karena alam itu bukanlah wujud. Wujud alam itu adalah bayang-bayang (wahmi) yang maksudnya adalah bayang-bayang seperti pada cermin, di mana ia tampak memiliki wujud tapi pada hakikatnya tidak. Maka dapat disimpulkan bahwa alam ini tidak memiliki wujud sendiri melainkan diberikan wujudnya oleh Allah.

Simbol bayangan pada cermin ini merupakan hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan antara Allah dan alam seperti tampak dalam ajarannya mengenai penciptaan. Proses penciptaan ini tidak lain karena manifestasi Allah terhadap diri-Nya sendiri (tajalli). Proses manifestasi diri ini dilakukan dengan beberapa fase (ta'ayyunat). berupa kenyataan pertama atau disebut juga martabat wahdat, atau pemanifestasian zat kepada diri-Nya sendiri. Allah melihat kesempurnaan diri-Nya sendiri dan sungguh Allah Maha Sempurna atas segalanya.

Saya terkesan dengan uraian tersebut walau agak sulit dipahami. Lalu saya menyeruput kopi untuk memecah kebuntuan pikiran. "Kemudian bagaimana dengan manusia? Apakah manusia dapat mencapai Tuhan atau zat-Nya? Bisakah Anda memberikan gambaran bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan?"

Beliau memberikan tamsilan secara tasawuf, bahwa manusia ibarat seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Luas dan dalamnya laut tidak mampu dilukiskan dengan akal pikiran sepertti halnya kedalaman dan keluasan ilmu dan zat-Nya.

Namun seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat samapi, bertemu, dan pada akhirnya bersatu dengan Allah (wahdatul wujud). Seorang hamba yang dapat bersatu dengan Allah adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fana fillah, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan inni ana-llah yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.

Saya terhenyak dan hampir saja melompat mendengar penjelasan yang terakhir ini. Bukankah ini hampir serupa dengan pernyataan Al-Hallaj dengan perkataannya ana al-haq yang akhirnya digantung karena dianggap menyesatkan. Tapi saya belum berani bersimpul dan mendengar penjelasan beliau selanjutnya. Dalam mencari Tuhan, manusia juga ibarat seekor burung dan Tuhan ibarat ruang angkasa. Sama seperti ikan dan lautan yang luas. Burung dan ikan tidak akan mungkin mencari Tuhan di angkasa maupun di lautan karena keduanya sangat luas, tak berujung, dan tak bertepi. Ini adalah gambaran sebuah pengembaraan jiwa atau ruh seseorang dalam mencari kesempurnaan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa kesempurnaan diri seseorang terpusat pada hatinya. Semakin jernih hati seseorang semakin jelas dan terang ia dapat mengetahui dan melihat Tuhan.

"Apakah kamu memahaminya, wahai anak muda?" Saya menggeleng. "Maka renungkanlah apa yang sudah saya katakan tadi. Saya menduga kamu pasti telah berkesimpulan bahwa apa yang saya katakan tadi telah menyeleweng dari akidah. Ketahui olehmu bahwa ini bukanlah konsep panteisme yang sering diperdebatkan itu. Wujudiyah yang saya maksudkan di sini memiliki makna lebih tinggi, yakni aspek rohaniah yang sangat tinggi (as-sirr fissirr). Pahamilah tasawuf secara sempurna karena manusia biasa amat sulit menemukan labirin rantai-rantai rohaniah dengan Tuhan. Banyak yang mulhidah (menyimpang) dari wujudiyah murni, dan saya tetap pada wujudiyah muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan). Untuk itu, dalam melakukan usaha-usaha ini dibutuhkan seorang mursyid (guru) yang akan membimbing proses ini. Karena manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dan dapat menyatu dengan Tuhan (wahdatul wujud) adalah manusia yang telah memperoleh ilmu ladunni ataupun ma'rifatullah secara sempurna dan telah berhasil mencapai taraf ketiadaan diri.

Saya akhirnya tersenyum pertanda mulai memahami penjelasan laki-laki tua itu. Kopi terakhir yang saya cicipi pun semakin nikmat. Diskusi ini sangat berarti bagi saya dan saya terdorong untuk lebih mengenal laki-laki tua tersebut.

"Maaf, Teungku! Bolehkah saya tahu siapa Anda dan dari mana Anda berasal?"

Laki-laki tua itu bangkit dari duduknya dan hanya berkata, "Saya harus pergi karena Tuhan telah memanggil." 

Saya terpaku dan tampak sedih karena mungkin saya tidak akan berjumpa lagi dengannya untuk sebuah diskusi baru. Namun sebelum beliau pergi, beliau berujar, "Segala muda dan sopan, segala tuan berhuban, 'uzlatnya berbulan-bulan, mencari Tuhan ke dalam hutan."

18 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (2)

Saya akan melanjutkan kisah Muhammad Daud berdasarkan imajinasi saya dan bersumber dari buku. Sebelumnya, di Kisah Muhammad Daud Bagian Pertama, saya telah menceritakan Muhammad Daud yang keras kepala dan berprinsip teguh sampai ia ditangkap oleh Jepang karena terlalu reaksioner.

Pada awal-awal proklamasi kemerdekaan, Muhammad Daud dan rekan-rekannya bersikukuh untuk mempertahankan jiwa proklamasi dari perkosaan NICA. Mereka berjuang dalam mempertahankan front Aceh dengan tenaga dan alat sekadarnya sehingga melambungkan namanya ke seluruh Sumatera bahkan namanya terdengar hingga ke Jawa. Presiden Soekarno pun bergetar dan terusik. Bukan karena dapat mengancam posisinya, tapi karena ketakjuban beliau terhadap sosok Muhammad Daud. Karenanya, Presiden Soekarno mengangkat Muhammad Daud menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia, meskipun berkedudukan di Aceh. 

Foto Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diambil dari Wikipedia.
Namun, saya sempat mendengar sebuah prahara ketika negara hendak membentuk TNI di Aceh. Pembentukan TNI merupakan lanjutan dari TRI dengan laskar-laskar rakyat. Di Aceh, banyak sekali laskar rakyat yang bertebaran. Salah satu yang sangat ditakuti oleh musuh adalah Laskar Mujahidin yang dipimpin langsung oleh Muhammad Daud. Laskar ini ternyata tidak ingin bergabung dengan TRI yang resmi. Jika pun dipaksa, maka mereka akan melawan. Alasan laskar ini adalah mereka juga memiliki jasa dalam revolusi yang masih belum selesai itu. Mereka punya cara sendiri dalam melakukan pergerakan dan berjuang dengan senjata.

Kami khawatir, jika ketegangan ini tak mampu diredam, maka akan pecah perang sesama anak bangsa. Namun, Muhammad Daud dengan bijak dan adil berhasil mendamaikan laskarnya dengan pihak TRI. Ia berhasil juga membujuk laskar-laskarnya untuk rela bergabung di bawah TRI. 

Ketika Muhammad Daud diangkat menjadi Gubernur Militer untuk wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, banyak kalangan yang terkejut, termasuk saya. Bukankah Muhammad Daud tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi yang formal? Ia hanyalah seorang anak lulusan pesantren (dayah). Namun, pemerintah memiliki alasan lain. Muhammad Daud adalah seorang pemimpin laskar rakyat yang sangat berpengaruh. Laskar ini memiliki jumlah tentara yang banyak. Dan tidak boleh diremehkan oleh siapa pun. Laskar-laskar ini tidak hanya murid-murid Muhammad Daud saja, tapi juga terdiri dari rakyat-rakyat yang telah dilatih dalam bertempur. Pemerintah tak menyoalkan jabatan ini, bahkan Muhammad Daud kala itu diberi pangkat Jenderal Mayor Tituler.

Saat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, Aceh dijadikan propinsi. Muhammad Daud menjadi Gubernur Sipil yang sebelumnya adalah Gubernur Militer. Namun, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, Aceh berada di bawah Propinsi Sumatera Utara. Di sinilah muncul kegaduhan baru. Bagaimana mungkin, kita sebagai orang Aceh yang telah berjuang mati-matian mengusir penjajah dan memiliki garis sejarah tersendiri digabungkan dengan daerah lain.

Kisah selanjutnya akan begitu panjang. Kita hanya bisa membacanya saja dari berbagai sumber. Dan kisah yang saya ceritakan ini hanyalah berasal dari satu sumber saja. Bisa saja sumber ini tak akurat, atau sebaliknya. Sejak saat itu, saya belum mendengar kabar tentang Muhammad Daud.

15 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (1)

Namanya Muhammad Daud. Sungguh nama yang luar biasa. Betapa tidak! Bukankah dua nama itu termasuk dalam 25 nabi yang mesti kita hafal. Saya ingat dulu, ketika di sekolah, guru mewajibkan kami untuk menghfal 25 nabi itu. Muhammad adalah nabi kita yang terakhir. Dan kalian jangan percaya jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa dialah nabi, seorang utusan Tuhan. Orang bebal sekali pun (mungkin) tidak akan percaya. Kitalah umat Muhammad, umat nabi yang terakhir, umat yang paling mulia ~ umat sebelumnya juga umat yang mulia ~ di mana Nabi kita akan memperjuangkan nasib kita kelak di akhirat di hadapan Allah. Semoga kita semua masuk ke surga. Sedangkan Daud, juga seorang nabi Allah yang mulia. Pendahulu Muhammad, yang mengajarkan Zabur untuk umatnya. Semoga umat Zabur juga akan berkumpul bersama kita kelak.

Teungku Daud Beureueh, sumber foto saya ambil di Wikipedia
Lantas, kenapa orang tua Muhammad Daud tidak membubuhkan nama Daud terlebih dahulu sebelum Muhammad? Padahal Daud adalah sang pendahulunya. Itulah mulianya seorang Muhammad di mata umatnya. Kita kerap mendahulukan Muhammad atau menabalkan nama Muhammad terlebih dahulu, sebelum diikuti dengan nama yang lain. Sudah semestinya kita menjaga nama baik Muhammad apabila nama kita serupa dengan namanya. 

Saya mengenal Muhammad Daud kecil sebagai seorang yang tak pernah mengecap bangku sekolah. Tapi ajaibnya, Muhammad Daud tidak buta dengan huruf latin. Berbeda dengan sebayanya yang juga tak ke sekolah. Tapi dalam perihal agama, Muhammad Daud mampu mengulik isi kitab yang dipelajarinya di pesantren. Mulanya Muhammad Daud berguru dengan Teungku Muhammad Hamid di Titeu. Tak lama memang. Hanya satu setengah tahun saja. Dulu dia sempat mengajak saya untuk ikut bersamanya. Namun, saya menolaknya. Kemudian Muhammad Daud berguru ke Teungku Ahmad Harun yang dikenal dengan Teungku di Tanoh Mirah. Empat tahun setengah Muhammad Daud bertekun di sana. Benih-benih kealimannya mulai muncul. Kami kerap bertanya masalah hukum kepadanya yang dijawab dengan lugas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kisah percintaan Muhammad Daud berakhir di Kampung Usi Meunasah Dayah. Meskipun Muhammad Daud sangat tertutup tentang masalah ini kepada kami, tapi Muhammad Daud sungguh beruntung menikahi Teungku Halimah. Di sana ia mendirikan sebuah pesantren yang santrinya berasal dari seluruh Aceh. Tahun 1930, Muhammad Daud membentuk Jami'ah Diniyyah. Setelah itu, Muhammad Daud juga mendirikan Madrasah Sa'adah Abadiah di Blang Paseh, Sigli. Di sini, Muhammad Daud berhasil meyakinkan penganut-penganut ajaran Al-Hallaj. Penganut ini yakin bahwa Allah, Muhammad, dan Adam hakikatnya adalah satu. Serupa kain, benang, dan kapas.

Muhammad Daud adalah pemuda yang keras kepala dan tahan uji terhadap segala persoalan pelik yang membelitnya. Ia tak segan-segan menentang pemerintah mengenai persoalan yang tak cocok dengan prinsipnya. Dikisahkan oleh seseorang, Muhammad Daud muda sangat menentang feodalisme. Utamanya kekuasaan para uleebalang yang culas. Adalah Teuku Keumangan Umar yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Muhammad Daud. Ia sangat membenci Muhammad Daud sampai-sampai ia melarang Muhammad Daud untuk mengajar di daerah kekuasaan uleebalang itu. Banyak yang tak suka terhadap Teuku Keumangan Umar karena sikapnya yang terlalu feodal, kolot, brutal, dan gemar memeras rakyat. Pernah di suatu masa, Teuku Keumangan dihalau oleh Belanda ke Ulee Lheue, Kutaraja akibat laporan keuangan yang dikirimkan ke Belanda tidak beres. Kampung yang berada di wilayahnya seakan "terbebaskan". Perkara-perkara sengketa yang terjadi di kampung tak pernah sampai ke pengadilan uleebalang di Beureunun. Pajak tak pernah juga disetor ke Beureunun, tapi disetor ke kantor asisten residen di Sigli. Sungguh perbuatan yang sangat licik.

Muhammad Daud bahkan pernah ditahan selama tiga hari oleh Teuku Keumangan Umar karena dianggap sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Belanda di wilayah kekuasaannya. Namun dia dibebaskan oleh Belanda karena tak terbukti. Sungguh kesal Teuku Muhammad Keumangan. Akibat desakan Teuku Muhammad Keumangan kepada Belanda dan semakin meruncingnya konflik di antara dua tokoh ini, maka Belanda mendesak Muhammad Daud untuk hijrah ke Tapak Tuan, Aceh Selatan. Ia menerimanya. Tapi saya belum tahu alasannya.

Kisah lain yang saya dengar tentang Muhammad Daud adalah ketika dalam khutbah Jum'at di Mesjid Raya Kutaraja, Muhammad Daud mengupas ringkas tentang Islam dan Komunis. Tegas dan terang ia menyebutkan bahwa komunis adalah musuh Islam. Ia menasehatkan agar umat Islam harus menjauhkan diri dari PKI yang pada masa itu mulai berkembang. 

Lidah Muhammad Daud tak segan-segan menyebut kafir kepada orang yang tidak disenanginya. Dalam artian bahwa orang itu berkelakuan tak sesuai dengan agama. Vonis bagi si kafir bisa saja ia katakan di mana pun ia bersuara. Apakah itu di masjid, di dalam rapat, atau tempat-tempat yang menurut pemahamannya layak "dikafirkan". Muhammad Daud memang seorang tokoh yang unik. Perpaduan antara Bung Tomo dan Bung Karno. Pidatonya lancar, bahannya tak pernah habis, ia sanggup berdiri di atas podium berlama-lama.

Kisah Muhammad Daud terus berbinar. Tahun 1939, ia mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). PUSA dan Muhammad Daud tak terpisahkan. Orang-orang yang mendengar Muhammad Daud atau pada masa itu orang sudah lebih mengenalnya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh tentu akan terbayang PUSA. 

Saya terhenyak ketika melihat kemajuan pesat yang dialami oleh Muhammad Daud. Dan saya semakin takzim saat mengetahui bahwa Muhammad Daud dan PUSA dengan semangat berapi-api mengusir Hindia Belanda dari tanah Aceh. Sudah sepantasnya kita berhutang terima kasih kepadanya dan rekan-rekan seperjuanganya. Mereka telah mengubah sejarah Aceh.

Lantas, bagaimana kiprah Muhammad Daud setelah Hindia Belanda pergi? Ketika Jepang berkuasa, Muhammad Daud pernah ditahan oleh Jepang karena terlalu reaksioner. Padahal kita tahu bahwa PUSA pernah membantu Jepang untuk mendarat di Aceh (Baca juga: Saat Jepang Masuk ke Aceh). Tapi, Muhammad Daud dibebaskan kembali.

Ah, sudah terlalu malam. Kisah sahabat saya itu akan saya lanjutkan di waktu mendatang. Ini hanyalah sebuah kisah imajiner saya. Anda boleh percaya atau tidak. Tapi kisah ini saya olah dari buku karangan M. Nur El Ibrahimy yang berjudul Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh.

8 July 2016

Messi dan Argentina

Saya terperanjat ketika mendengar Lionel Messi memutuskan hubungannya dengan Tim Nasional Argentina. Kemarahan dan ketidaksetujuan menggores hati saya. Beberapa kali saya menghubungi Messi, tapi teleponnya selalu saja tidak aktif. Saya tahu kekecewaannya. Tapi fans Messi tentu tidak mau tahu apa yang sedang dialami oleh Messi. Kami beranggapan bahwa sikap Messi terlalu kanak-kanak. Keputusan yang diambil dengan tergesa-gesa menunjukkan lemahnya mental seorang Messi. Padahal dia adalah seorang kapten tim.

Lionel Messi gagal mempersembahkan Copa America Centenario 2016. Foto: Getty Images.
Umurnya masih 29 tahun. Sejatinya umur ini merupakan masa puncak bagi seorang pesebakbola. Tapi Messi telah duluan bersinar. Pada masa-masa mudanya, dia telah menjadi seorang penyandang gelar pemain terbaik dunia. Bahkan sudah lima kali. Jumlah yang lumayan banyak. Kita dapat memahami kekecewaannya. Kegagalan kali ini adalah kegagalan ke-empat baginya untuk mempersembahkan piala bagi Argentina. Sudah empat final kejuaraan yang dilaluinya, dan kegagalan demi kegagalan menjadi kutukan baginya. Argentina bukanlah tempat baginya untuk berpesta pora.


Tapi kegagalan kali ini sangat menyakitkan dan akan terus dikenang sepanjang masa hidupnya. Dia menganggap dialah yang menjadi penyebab kekalahan Argentina. Di layar televisi, saya melihat bagaimana ekspresi wajahnya sebelum menendang bola penalti. Tidak seperti biasanya, Messi yang begitu tenang menghadapi bola-bola mati, kali ini dia tampak gugup. Begitulah saya melihatnya. Dan benar saja, dia menendang dengan kekuatan ~ tanpa perasaan ~ bola di titik putih itu. Bolanya melenceng deras. Bukannya ke dalam gawang.

Tanggal 26/06/2016, Minggu, final Copa Amerika, Argentina melawan Chili, skor 0-0, dilanjutkan dengan adu pinalti, dan sahabat saya itu gagal mengeksekusinya. Dia akan mencatat hari itu dalam lembaran kelam bagi karirnya.

Saya melihat beban di pundaknya yang begitu berat. Maradona, sang maestro sejati Argentina, berkali-kali mengumbar di media bahwa Messi-lah yang terbaik untuk saat ini di dunia. Messi akan menjadi penerusnya, bukan saja di Argentina, tapi juga di dunia. Namun orang-orang menganggap bahwa Messi akan selevel Maradona jika Messi berhasil mengangkat piala bersama Argentina. Inilah yang menjadi hantu bagi Messi. Padahal segala upaya telah dikerahkan, tapi bayangan itu tidak bisa ditepis yang membuat kecut hatinya. 
Ini berat, bukan waktunya untuk menganalisa. Di ruang ganti saya berpikir bahwa ini adalah akhir bagi saya dengan tim nasional, ini bukan untuk saya.
Maaf, Messi. Kami tidak berniat menganalisa keputusan Anda. Bagi kami, sepakbola adalah seni dan hiburan. Pemain bola adalah seniman. Bola yang diolah di panggung hijau oleh para seniman itulah yang menjadi hiburan bagi kami. Anda bermain bola untuk menghibur penonton. Di mana saja, kapan saja, dan di tim atau klub apa pun Anda bermain, posisi Anda tetap sebagai penghibur. Menang kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan. 

Banyak yang belum bisa menerima keputusan Messi untuk gantung sepatu. Maradona misalnya, dia meminta (dengan harapan) agar Messi untuk membatalkan niatnya itu. Messi harus ke Rusia (Piala Dunia 2018) untuk membawa piala itu ke Argentina. Presiden Argentina, Mauricio Macri juga tak bisa menerima keputusan Messi itu. Macri berkata bahwa ia akan selalu bangga dengan Argentina. Ia berharap pemain-pemain terbaik akan terus bermain di sini untuk tahun-tahun selanjutnya. Messi harus menutup telinga terhadap setiap kritikan dan tekanan yang dibebankan padanya.

Jika saja Borges masih hidup ~ walaupun dia sangat membenci sepakbola ~ saya yakin, dia akan menertawai keputusan Lionel Messi itu. Itu adalah humor yang paling menggelitik bagi saya.