8 July 2016

Messi dan Argentina

Saya terperanjat ketika mendengar Lionel Messi memutuskan hubungannya dengan Tim Nasional Argentina. Kemarahan dan ketidaksetujuan menggores hati saya. Beberapa kali saya menghubungi Messi, tapi teleponnya selalu saja tidak aktif. Saya tahu kekecewaannya. Tapi fans Messi tentu tidak mau tahu apa yang sedang dialami oleh Messi. Kami beranggapan bahwa sikap Messi terlalu kanak-kanak. Keputusan yang diambil dengan tergesa-gesa menunjukkan lemahnya mental seorang Messi. Padahal dia adalah seorang kapten tim.

Lionel Messi gagal mempersembahkan Copa America Centenario 2016. Foto: Getty Images.
Umurnya masih 29 tahun. Sejatinya umur ini merupakan masa puncak bagi seorang pesebakbola. Tapi Messi telah duluan bersinar. Pada masa-masa mudanya, dia telah menjadi seorang penyandang gelar pemain terbaik dunia. Bahkan sudah lima kali. Jumlah yang lumayan banyak. Kita dapat memahami kekecewaannya. Kegagalan kali ini adalah kegagalan ke-empat baginya untuk mempersembahkan piala bagi Argentina. Sudah empat final kejuaraan yang dilaluinya, dan kegagalan demi kegagalan menjadi kutukan baginya. Argentina bukanlah tempat baginya untuk berpesta pora.


Tapi kegagalan kali ini sangat menyakitkan dan akan terus dikenang sepanjang masa hidupnya. Dia menganggap dialah yang menjadi penyebab kekalahan Argentina. Di layar televisi, saya melihat bagaimana ekspresi wajahnya sebelum menendang bola penalti. Tidak seperti biasanya, Messi yang begitu tenang menghadapi bola-bola mati, kali ini dia tampak gugup. Begitulah saya melihatnya. Dan benar saja, dia menendang dengan kekuatan ~ tanpa perasaan ~ bola di titik putih itu. Bolanya melenceng deras. Bukannya ke dalam gawang.

Tanggal 26/06/2016, Minggu, final Copa Amerika, Argentina melawan Chili, skor 0-0, dilanjutkan dengan adu pinalti, dan sahabat saya itu gagal mengeksekusinya. Dia akan mencatat hari itu dalam lembaran kelam bagi karirnya.

Saya melihat beban di pundaknya yang begitu berat. Maradona, sang maestro sejati Argentina, berkali-kali mengumbar di media bahwa Messi-lah yang terbaik untuk saat ini di dunia. Messi akan menjadi penerusnya, bukan saja di Argentina, tapi juga di dunia. Namun orang-orang menganggap bahwa Messi akan selevel Maradona jika Messi berhasil mengangkat piala bersama Argentina. Inilah yang menjadi hantu bagi Messi. Padahal segala upaya telah dikerahkan, tapi bayangan itu tidak bisa ditepis yang membuat kecut hatinya. 
Ini berat, bukan waktunya untuk menganalisa. Di ruang ganti saya berpikir bahwa ini adalah akhir bagi saya dengan tim nasional, ini bukan untuk saya.
Maaf, Messi. Kami tidak berniat menganalisa keputusan Anda. Bagi kami, sepakbola adalah seni dan hiburan. Pemain bola adalah seniman. Bola yang diolah di panggung hijau oleh para seniman itulah yang menjadi hiburan bagi kami. Anda bermain bola untuk menghibur penonton. Di mana saja, kapan saja, dan di tim atau klub apa pun Anda bermain, posisi Anda tetap sebagai penghibur. Menang kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan. 

Banyak yang belum bisa menerima keputusan Messi untuk gantung sepatu. Maradona misalnya, dia meminta (dengan harapan) agar Messi untuk membatalkan niatnya itu. Messi harus ke Rusia (Piala Dunia 2018) untuk membawa piala itu ke Argentina. Presiden Argentina, Mauricio Macri juga tak bisa menerima keputusan Messi itu. Macri berkata bahwa ia akan selalu bangga dengan Argentina. Ia berharap pemain-pemain terbaik akan terus bermain di sini untuk tahun-tahun selanjutnya. Messi harus menutup telinga terhadap setiap kritikan dan tekanan yang dibebankan padanya.

Jika saja Borges masih hidup ~ walaupun dia sangat membenci sepakbola ~ saya yakin, dia akan menertawai keputusan Lionel Messi itu. Itu adalah humor yang paling menggelitik bagi saya.

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik