2 July 2016

Beberapa Pendapat Penulis Sejarah Tentang Perang Belanda di Aceh

Dalam sebuah buku yang berjudul Perang di Jalan Allah karya Ibrahim Alfian, di bagian lampiran, saya menemukan beberapa pendapat singkat dari para penulis buku sejarah Aceh berkebangsaan asing. Pendapat-pendapat ini sebenarnya dikumpulkan oleh Ibrahim Alfian agar kita tahu bagaimana dahsyatnya perang kolonial Belanda di Aceh. Berikut beberapa pendapat tersebut.

Gijsbert Brand Hooijer
Gijsbert Brand Hooijer, sumber: De Nederlandse Krijgsmacht

Agak susah menemukan siapa sebenarnya G. B. Hooijer. Namun dalam situs berbahasa Belanda "De Nederlandse Krijgsmacht", saya menemukan sebuah tulisan tentang G. B. Hooijer yang ditulis oleh Menke de Groot. Dan setelah menerjemahkan ala kadar dengan bantuan Google Translate, maka G. B. Hooijer atau Gijsbert Brand Hooijer adalah seorang perwira berpangkat letnan kolonel. Ia lahir pada 9 Mei 1848 dan wafat 16 Februari 1934. Dalam bukunya yang berjudul De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch-Indie van 1811 tot 1894, Jilid III, 1897, halaman 5, ia menulis:
Oleh karenanya perang Belanda di Aceh selalu akan menjadi sumber pelajaran bagi tentara kita dan oleh sebab itu pulalah saya menganggap tepat sekali, jilid ketiga dan terakhir mengenai sejarah peperangan (di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan buat menjelaskan peperangan di Aceh.

Henri Carel Zentgraaff
Zentgraaff, sumber: Biografisch Woordenboek van Nederland:1880-2000
 
Masih dalam situs berbahasa asing "Biografisch Woordenboek van Nederland:1880-2000" atau "Biographical Dictionary of the Netherlands::1880-2000" disebutkan bahwa H. C. Zentgraaff atau Henri Carel Zentgraaff adalah seorang jurnalis di Hindia Belanda yang lahir di Hontenisse pada 1 Oktober 1874 dan wafat di Bandung pada 22 Maret 1940. Ia adalah anak Pieter Hendrik Carel Zentgraaff yang merupakan direktur telegraf dan Pauline Wilhelmine Caroline Gesthuisen. Dalam bukunya yang berjudul Atjeh, 1938, pada halaman 1, ia menulis:
Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita.
Selanjutnya H. C. Zentgraaff dalam buku yang sama pada halaman 63 menulis:
Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain.
Dan pada halaman 100, ia menulis:
Demikianlah berakhir kehidupan Teungku di Barat dan ulama-ulama termasyhur lainnya di daerah itu yang lebih menyukai "mati syahid" daripada "melaporkan diri" (menyerah kalah kepada lawan) ... dan adakah satu bangsa di permukaan bumi ini yang tidak akan menulis di dalam buku-buku sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroik dengan penghargaan yang setinggi-tingginya?

A. Doup
Saya tidak menemukan keterangan dari A. Doup. Namun dalam bukunya Gedenkboek van het Korps Marechaussee 1890-1940, terbitan tahun 1940? pada halaman 248, ia telah menulis:
Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsose serta kekagumannya akan keberanian, kerelaan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris secara teratur.

Paul van't Veer
Paul van't Veer, sumber: De Atjeh-oorlog
 
Di bagian cover belakang buku De Atjeh-oorlog, disebutkan bahwa Paul van't Veer (1922-1979) sejak tahun 1945 telah menjadi wartawan di Indonesia, New York, dan Amsterdam. Dikenal sebagai wartawan politik yang memiliki minat sejarah dan sastra. Ia juga tergolong wartawan Belanda yang paling ahli mengenai Indonesia. Hal ini terlihat dalam artikel politik, reportase perjalanan, dan karangan dalam majalah. Sebagian besar membicarakan Indonesia atau tentang soal-soal yang bertalian dengan Indonesia. Salah satu jasa Paul van't Veer, menurut Joop van de Broek adalah pelukisan yang luas tentang latar belakang perang Aceh dan terutama tentang orang-orang yang memainkan peran utama di dalamnya. Dalam buku De Atjeh-oorlog, 1969, halaman 293, ia menulis:
Perang Belanda di Aceh tidak berakhir pada tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914 terentang seutas benang merah ke tahun 1942, sebuah jejak pembunuhan dan pemukulan sampai mati, dari perlawanan di bawah sampai ke atas tanah yang menyebar luas sedemikian rupa dari tahun-tahun 1925 sampai tahun 1927 dan kemudian lagi dalam tahun 1933 sehingga kemudian terjelmalah pemberontakan-pemberontakan setempat. Puluhan "pembunuhan Aceh" yang terjadi di antara tahun-tahun itu cukup diketahui di seluruh Hindia Belanda. Pada masa-masa belakangan ini disadari bahwa benang merah itu menjurus dari tahun 1914 ke tahun 1942 sehingga sejarahnya sejak tahun 1873 sampai dengan tahun 1942, yakni saat orang-orang Belanda meninggalkan daerah Aceh untuk selama-lamanya, harus dianggap sebagai sebuah perang Belanda yang besar di Aceh atau boleh juga disebut sebagai sebuah deret, terdiri dari empat atau lima buah peperangan Belanda di Aceh yang berbagai-bagai sifatnya.
Selanjutnya pada halaman 301 dalam buku yang sama, Paul van't Veer menegaskan:
Aceh adalah daerah terakhir yang ditaklukkan oleh Belanda dan merupakan daerah pertama yang terlepas dari kekuasaannya. Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup.

Anthony Reid
Anthony Reid, sumber: Australian National University

Dalam wikipedia disebutkan bahwa Prof. Anthony Reid, Ph. D lahir di Selandia Baru tahun 1939. Ia adalah seorang sejarawan asal Selandia Baru. Karya-karyanya banyak berkaitan dengan sejarah Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia Belanda pada abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara. Dalam bukunya The Contest for North Sumatra, 1969, pada halaman 288-289, ia menulis:
Selama berabad-abad, orang-orang Aceh telah membuktikan kesanggupan mereka baik dalam bidang perdagangan dan pertanian maupun dalam bidang peperangan. Selama tahun-tahun pertama perjuangan mereka melawan Belanda di Aceh, mereka telah membuktikan bahwa mereka layak memperoleh perhatian yang besar dari orang-orang Eropa dan kaum muslimin di dunia. Dalam hubungan ini, orang-orang Aceh juga telah memberikan sumbangan kepada perkembangan kesetiaan yang lebih besar di daerah-daerah lain kepada Indonesia.

Pierre Heijboer
Pierre Heijboer, sumber: Motie van Aanwijzing

Dalam wikipedia Belanda  disebutkan bahwa Pierr Heijboer adalah seorang wartawan Belanda yang lahir di Hoensbroek pada tanggal 7 Mei 1937 dan meninggal di Amsterdam pada tanggal 23 Maret 2014. Dalam bukunya yang berjudul Klamboes, Klewangs, Klapperbomen, 1977, halaman 137, ia menulis:
Orang-orang Aceh ternyata bukan saja pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun kubu-kubu pertahanan yang ulung sekali.
Begitulah beberapa pendapat para penulis buku sejarah tentang betapa mengerikan perang Belanda di Aceh.

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik