Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah menyerah kepada tentara sekutu. Dengung kemerdekaan Indonesia mulai bergema di setiap daerah, mulai dari kota hingga menjalar ke kampung-kampung. Kekalahan Jepang ini berhubungan langsung dengan kekalahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya yang juga baru usai kala itu.
![]() |
| Rumah Teuku Muhammad Daud Cumbok di Lam Meulo, sumber foto Media KITLV. |
Tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai diumumkan oleh Soekarno dan Hatta ke seluruh dunia. Kabar ini menjadi sebuah berita hangat dan ramai diperbincangkan oleh orang-orang. Merah putih berkibar di mana-mana. Termasuk juga di Aceh.
Di Lam Meulo, seorang uleebalang bernama Teuku Daud Cumbok pesimis dengan kemerdekaan ini. Ia ragu dan memandang sinis terhadap gerakan-gerakan rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air Indonesia. Menurut pandangannya, Indonesia belum sanggup untuk merdeka karena belum matang dan Belanda kapan saja siap untuk merenggut kemerdekaan itu dari tangan bangsa kita.
Anjuran dari Residen NRI untuk mengibarkan bendera merah putih di setiap wilayah malah ditertawakan oleh Teuku Daud Cumbok. Ketika surat kawat perihal itu tiba di tangannya, ia meremas-remas surat itu. Malah, ketika di setiap sudut Kota Lam Meulo ditempelkan maklumat-maklumat dan berita-berita tentang kemerdekaan Indonesia, semua pengumuman itu dirobek-robek oleh kaki tangan Teuku Daud Cumbok.
Parahnya lagi, ketika dilangsungkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Lam Meulo dan rapat-rapat umum yang diadakan, tak sekali pun Teuku Daud Cumbok menghadirinya. Bahkan, ketika ada rapat umum yang diadakan di wilayah kekuasaannya, ia menghalang-halanginya agar rapat umum itu mengalami kegagalan. Jika ada orang-orang yang memakai lencana merah putih dihina dan dilecehkan.
Pernah di suatu ketika, pada tanggal 12 Oktober 1945, bendera merah putih berkibar di Kantor Gunco (Wedana) Lam Meulo yang dinaikkan oleh barisan rakyat, bendera itu langsung diturunkan oleh Teuku Daud Cumbok. Ia sebagai seorang Gunco memiliki hak dan tanggung jawab di kantor itu. Tidak boleh ada bendera yang berkibar di sana kecuali atas izinnya.
Serangkaian sikap-sikap Teuku Daud Cumbok di atas, diyakini menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Cumbok yang sangat memalukan itu, karena terjadinya pertikaian antara saudara sebangsa dan seiman.
Selain sikap-sikapnya yang licik itu, diam-diam Teuku Daud Cumbok menjalin hubungan rahasia dengan agen-agen NICA yang waktu itu masih berkeliaran bebas. Menurut kabar, ia pernah mengirimkan uang sebesar 5.000 gulden kepada bekas Kontroleur Belanda Lam Meulo melalui kaki tangannya.
Ia telah banyak mengumpulkan bekas-bekas serdadu Belanda untuk mengajarkan seni peperangan kepada pengikut-pengikutnya. Melalui juru propagandanya, Teuku Daud Cumbok juga berusaha menarik simpati rakyat. Ia mengklaim dirinya telah menerima surat-surat dari Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Jawa. Dalam surat itu, ia diperintahkan untuk mendirikan tentara-tentaranya sendiri di kawasan Lam Meulo. Akibat propaganda ini, banyak rakyat yang bodoh ikut bergabung dengannya.
Akibat perbuatannya ini, kedudukan TKR di wilayah Lam Meulo sedikit terancam. Hal ini akan semakin memperuncing keadaan yang bertambah panas, dan kapan saja pertikaian senjata dapat meletus.
Dari rentetan peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh uleebalang pada saat itu berjiwa nasionalis. Salah seorang uleebalang yang jiwa nasionalisnya dapat diandalkan adalah Teuku Nyak Arief yang dengan berani menentang setiap penjajahan. Sedangkan uleebalang-uleebalang yang anti nasionalis merasa khawatir akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi ketika mengetahui Jepang sudah kalah. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya yang didapatkan secara turun-temurun, seperti Teuku Muhammad Daud Cumbok ini. Sang uleebalang Cumbok, yang menguasai wilayah (kecamatan) Lam Meulo. Sekarang menjadi Kota Bakti di Kabupaten Pidie. Demikianlah.
Catatan:
Tulisan singkat di atas diolah dari buku Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjumbok karangan Abdullah Arif yang diterbitkan di Koetaradja oleh Semangat Merdeka tahun 1946.
Ia telah banyak mengumpulkan bekas-bekas serdadu Belanda untuk mengajarkan seni peperangan kepada pengikut-pengikutnya. Melalui juru propagandanya, Teuku Daud Cumbok juga berusaha menarik simpati rakyat. Ia mengklaim dirinya telah menerima surat-surat dari Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Jawa. Dalam surat itu, ia diperintahkan untuk mendirikan tentara-tentaranya sendiri di kawasan Lam Meulo. Akibat propaganda ini, banyak rakyat yang bodoh ikut bergabung dengannya.
Akibat perbuatannya ini, kedudukan TKR di wilayah Lam Meulo sedikit terancam. Hal ini akan semakin memperuncing keadaan yang bertambah panas, dan kapan saja pertikaian senjata dapat meletus.
Dari rentetan peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh uleebalang pada saat itu berjiwa nasionalis. Salah seorang uleebalang yang jiwa nasionalisnya dapat diandalkan adalah Teuku Nyak Arief yang dengan berani menentang setiap penjajahan. Sedangkan uleebalang-uleebalang yang anti nasionalis merasa khawatir akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi ketika mengetahui Jepang sudah kalah. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya yang didapatkan secara turun-temurun, seperti Teuku Muhammad Daud Cumbok ini. Sang uleebalang Cumbok, yang menguasai wilayah (kecamatan) Lam Meulo. Sekarang menjadi Kota Bakti di Kabupaten Pidie. Demikianlah.
Catatan:
Tulisan singkat di atas diolah dari buku Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjumbok karangan Abdullah Arif yang diterbitkan di Koetaradja oleh Semangat Merdeka tahun 1946.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik