Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

12 September 2016

Pasukan Cap Sauh


Pernahkah kau mendengar tentang Pasukan Cap Sauh? Tidak banyak lembaran sejarah yang mengisahkan kiprah pasukan ini yang hanya berusia pendek. Wajar, jika kau tak mendapati di catatan sejarah mana pun perihal pasukan ini. Mungkin yang kau baca hanyalah serpihannya saja yang memberi terang tugas Pasukan Cap Sauh secara singkat, padat, tapi tak jelas. Ya, Pasukan Cap Sauh adalah pasukan yang dibentuk bersama tiga pasukan lainnya untuk mendukung Cumbok. Kelak, pasukan ini akan menjadi salah satu ingatan kelam bagi kita. Ingatan bernoda hitam yang sangat memalukan. Baiklah, akan kuceritakan sejenak petualanganku selama bergabung dengan Pasukan Cap Sauh itu. Kalian bisa membacanya sambil menikmati secangkir kopi, atau teh, mungkin juga cappucino, atau barangkali minuman dari Barat yang tak kukenal sebelumnya.

Sebagai salah satu anggota Pasukan Cap Sauh, aku wajib bergerak secara gesit dan lincah. Ingat! Siapa saja yang tergabung dalam pasukan ini memang dituntut untuk lebih cekatan. Karena nanti kami akan berurusan dengan perihal rampok-merampok harta benda. Untuk menjadi perampok, kau harus punya nyali. Utamanya nyali untuk mati. Siapa tahu korban perampokan akan mempertahankan harta bendanya sampai mati.

Aku ikut bergabung ke dalam Pasukan Cap Sauh karena patah hati. Seorang perempuan Lam Meulo yang sangat kucintai telah dinikahkan oleh orangtuanya dengan seorang alim nan kaya. Lelaki yang lebih alim dan kaya tentunya dapat menjamin masa depan anaknya. Barangkali tak ada yang bisa diharapkan dari lelaki sepertiku ini, memang. Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki harta berlimpah, juga tanah warisan.

Ketika Lam Meulo bergemuruh akibat sikap keras kepala Cumbok, banyak orang mati sia-sia. Mulanya aku tidak tertarik dengan konflik ini. Konflik yang menyebabkan orang alim diburu. Tapi rasa sakit di hatiku tak pernah terobati. Siapa tahu dengan bergabung dengan gerakan Cumbok aku dapat membalaskan dendamku pada Teungku Pakeh, laki-laki yang telah menikahi Siti. Siti adalah gadis kampung polos yang tidak tahu menahu soal percintaan. Baginya menjadi isteri hanyalah melayani. Tak penting cinta itu seperti apa. Karena cinta itu tidak bisa dimakan.

"Bodoh sekali kau, Siti," kataku ketika Siti baru pulang mengaji. Seekor merpati terbang secara acak ketika langkah gesaku mencegat Siti. Sang merpati sepertinya mengutuk diriku karena sedang berusaha menebar pesona pada seekor betina yang tak jauh dari tempat kami.

"Kalau aku bodoh, kenapa kau ingin menjadi suamiku?" jawabnya enteng.

"Kelak kau akan menyesal, Siti."

"Kalau begitu, nikahkan aku segera. Aku akan menjadi pelayanmu seumur hidupku."

"Ayahmu tidak akan setuju. Bagaimana kalau kawin lari?"

"Sekarang kau yang bodoh, Amir! Bukankah kawin lari itu berdosa?"

"Ayahmu itu yang berdosa. Sampai mati tidak akan pernah merestuiku. Apa dia tidak tahu agama?"

Siti marah karena ayahnya dihujat. Panggilanku berkali-kali tak dihiraukan.

Sejak itu Siti tidak ingin bertemu lagi denganku. Sejak itu Siti selalu menjadi hantu. Sejak itu Siti telah meracuni jiwaku. Sejak itu aku menjadi gila. Sejak itu pula aku tidak lagi takut akan mati.

Lalu datang tawaran dari T. Leman, anak seorang bangsawan Lam Meulo untuk mengajakku bergabung bersama gerakan mereka. T. Leman lihai membujuk. Buktinya dia berhasil memasukkan namaku sebagai anggota Pasukan Cap Sauh tanpa meminta persetujuan atau anggukan kepala.

"Nanti malam datanglah ke rumahku. Kita akan merencanakan tugas pertama kita."

Sikap diamku bukan dianggapnya sebagai sebuah penolakan. Kala itu aku berada di ambang keraguan. Banyak pertimbangan yang mesti kupikirkan. Tapi tidak pernah ada jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar bagiku adalah mengayunkan langkah kakiku ke rumah T. Leman nanti malam.

Di rumah T. Leman telah berkumpul pemuda-pemuda tanggung yang tak kukenal satu sama lainnya. Orang yang kukenal hanya T. Leman. Dia malah memperkenalkan kami satu per satu, namun nama-nama mereka cepat sekali terabaikan dalam ingatanku. Bukan karena aku tidak mampu menghafal nama-nama, tapi keraguan masih mengepung hatiku. Barulah ketika aku mendengar nama Teungku Pakeh disebut-sebutkan akan menjadi salah satu target kami, keraguan pada diriku sirna seketika bersama kembalinya kesadaranku. Teungku Pakeh menjadi alasan paling besar yang akhirnya membuatku tidak lagi ragu bergabung bersama Pasukan Cap Sauh. Di penghujung malam, T. Leman membagi-bagikan sehelai kain hitam kepada kami untuk diikatkan di lengan kiri kami.

"Kain ini akan menjadi tanda agar kalian tahu mana lawan dan mana kawan!"

Target pertama kami sebagai anggota Pasukan Cap Sauh adalah kantor Pesindo. Misi kami merampas surat-surat berharga dan merampok segala harta benda yang ada di sana. Kau tahu, ternyata tugas itu tidaklah semudah yang kubayangkan semula dan tanpa perlawanan. Seperti mengetahui maksud kami, beberapa anggota Pesindo siaga di sana. Beruntung jumlah pasukan kami melebihi pemuda-pemuda Pesindo yang berusaha bertahan.  Akhirnya kami berhasil melumpuhkan pertahanan pemuda-pemuda Pesindo. Beberapa pemuda Pesindo harus mati karena kesombingan mereka. Mereka salah menafsirkan arti kesetiaan.

Pasukan Cap Sauh bagai kerasukan setan. Setiap melihat orang-orang yang bukan bagian dari kami, dianiaya seperti binatang. Kemarahan mendarah daging dalam tubuh kami. Tahukah kau apa sebab kemarahan kami begitu memuncak? Bukan karena ambisi Cumbok yang keras kepala, bukan karena kaum bangsawan telah dipermalukan oleh kaum alim, bukan pula karena senjata-senjata Jepang urung kami peroleh. Semua kemarahan yang merasuk pasukan itu karena kami merindukan perang. Kendati musuh abadi kita, Belanda dan Jepang masih berada di tanah leluhur ini, jiwa perang tidak akan pernah lekang dalam tabiat kita.

Setelah berhasil melumpuhkan Pesindo, kami terus memburu simpatisan Pesindo. Yang tak kalah pentingnya dalam petualanganku adalah ketika kami berhasil menjarah rumah Zainal Abidin dan Hasan Moehammad. Mereka ini pengurus-pengurus Pesindo yang dibenci oleh kaum bangsawan. Tak puas menguras harta benda, kami juga membakar rumah-rumah mereka.

Kemenangan demi kemenangan berada di pihak kami. Harta benda pengurus Pesindo, kaum alim, dan para rakyat yang kami anggap mendukung mereka telah banyak kami rampok. Setiap kemenangan mesti dirayakan. Begitulah janji T. Leman. Pesta ie jok masam selalu mengiringi perayaan kemenangan. Kami menenggaknya sampai puas.

Perlu kau tahu juga, Pasukan Cap Sauh bukan saja merampok. Tapi siap membantai dan membunuh orang-orang yang menghalanginya. Padahal tugas bunuh-membunuh adalah tugasnya Pasukan Cap Tombak. Dengan keberhasilan-keberhasilan ini, Cumbok telah mengirimkan sinyal ancaman untuk kaum alim. Kami siap berperang melawan kaum alim yang mendapat dukungan dari rakyat.

Waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Pada pertengahan bulan Desember 1945 - aku melupakan hari dan tanggal yang mengubah kehidupanku itu - Pasukan Cap Sauh mengepung rumah Teungku Pakeh. Sebelumnya, beberapa kaum alim ada yang telah meninggalkan kampungnya dengan membawa harta benda sekadarnya. Tapi Teungku Pakeh bukan tipe orang yang ingin mengalah dengan keadaan. Dia memilih bertahan. Baginya, berperang melawan pengkhianat sama besar pahalanya dengan mati syahid. Kami menganggap pendapatnya itu sebagai sebuah lelucon.

Teungku Pakeh berdiri di depan pintu rumahnya dengan rencong di tangan kanannya dan perisai kecil di tangan kirinya. Melihat penampilannya pada malam itu, aku membayangkan dia tak ubahnya seperti prajurit yang terlambat bangun ketika musuh sudah berada di depan mata. Tapi aku tidak punya waktu untuk melihat kematian Teungku Pakeh. Yang kuinginkan adalah memastikan keadaan Siti agar aman dari kebengisan Pasukan Cap Sauh. Anggap saja Teungku Pakeh sudah mati dan angan-anganku mulai menembus batas mimpiku. Aku membayangkan kelak dengan kematian Teungku Pakeh, aku bisa menjadi suami Siti dan ayah dari satu anak laki-lakinya yang masih menetek. Cintaku pada Siti masih belum pudar.

Suara binatang malam mengiringi malam maut itu di antara suara-suara kegaduhan. Aku belum melihat Siti. Dengan cekat aku berusaha menerobos beberapa pasukan yang sedang membantai Teungku Pakeh. Siti tidak berada di dalam rumah. Pintu belakang rumahnya terbuka lebar. Pastilah dia sudah lari lewat pintu belakang itu. Di belakang rumah itu ada sebuah kebun yang banyak ditanami pinang dan beberapa pohon durian. Di bawah sinar bulan aku bisa melihat Siti. Tapi dia tidak sendiri. Ada dua kelebat bayangan yang bersenjata bersama Siti. Siti tampak menggendong bayinya yang tak bergeming sedikit pun. Mungkin sedang terbuai dalam pelukan ibunya.  

Dua pemuda yang berbadan kekar itu menangkap Siti. Bayinya terlepas dari gendongannya. Bayi itu menangis. Lalu ada kekuatan gaib yang mendorongku berlari ke arah mereka untuk menyelamatkan Siti. Tapi terlambat. Siti yang sedang dicabuli dari tadi dan berusaha melawan maut harus menerima tusukan benda tajam ke tubuhnya. Sebabnya adalah Siti telah menusuk seorang pemuda itu dengan pisau dapur tepat di lambungnya.

Seumur hidup aku akan menyesali keterlambatan diriku itu. Ketika tiba di sana, tanpa berkata apa pun aku menebas leher dua pemuda itu. Dalam sekejap saja mereka mati. Suara bayi yang menangis memancing beberapa pasukan yang telah berada di dalam rumah. Dan mereka melihatku secara langsung telah membunuh dua pasukan cabul itu. Aku gemetar. Ketika pasukan yang mengacungkan pedang ke udara itu menuju ke arah kami, dalam hitungan detik aku melarikan diri. Airmata terburai dan hilang bersama angin. Siti telah mati. Tapi bayinya masih dalam pangkuanku.

Sampai sekarang aku belum mengetahui kekuatan apa yang kumiliki karena aku terus berlari mengikuti timur tanpa henti-henti selama enam jam lebih. Ketika matahari mulai terbit dan mengeringkan sisa-sisa embun, barulah aku berhenti. Aku istirhat sejenak di sebuah sungai yang batunya besar-besar. Kuyakin, inilah Sungai Batee Iliek. Tujuanku ke timur kemudian berakhir di Lhokseumawe.

***

Jika kau melewati Jalan Kamboja di suatu kampung, kau akan melihat sebuah nisan dengan nama Amir di antara berpuluh-puluh nisan bernama sama, atau mungkin juga ratusan. Setiap hari raya, nisan-nisan itu akan diziarahi. Doa dan harapan dikirimkan kepada Tuhan agar arwah mendapat surga di alam yang lain. 

Para pengunjung nisan Amir pun silih berganti didatangi oleh beberapa orang yang sudah ubanan, pria tampan dan gadis-gadis cantik, kanak-kanak yang berbedak tebal, dan bayi-bayi yang masih berpopok. Mereka masih menganggap Amir sebagai buyut, kakek, dan ayah tanpa mereka tahu siapa nenek atau ibu mereka. Tahukah kau, Amir yang terkubur di sana sebenarnya masih perjaka. []


Cerpen di atas dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Minggu, 11 September 2016.

15 June 2016

Perhitungan dengan Ampon Lah

Ilustrasi Taurisman

Terkutuklah Ampon Lah! Seorang uleebalang yang telah meminang pujaanku, bungong jeumpa yang kelak akan menghias taman hatiku.

Persekongkolan ini tak lepas dari andil Leubee Hasan. Ia berhasil meyakinkan ayah Ainal Mardhiah berkat kelihaiannya menjilat. Dulu aku pernah memakai jasanya. Bukan rahasia kalau ia adalah seorang seulangkee yang masyhur di Kutaraja. Ada banyak seulangkee yang bisa ditemukan selain Leubee Hasan, semisal Mak Ramulah, Mak Hadijah, atau Leubee Beurahim. Namun di antara mereka jarang sekali yang punya kelicikan dalam perkara menjilat. Semestinya tugas seorang seulangkee adalah memperhubungkan dua manusia hingga terikat tali perkawinan tanpa tipu daya. Tapi bagi Leubee Hasan, asal ada uang segala urusan menjadi gampang.

Ampon Lah atau Teuku Abdullah adalah sosok uleebalang yang culas, boros, malas, dan tak bisa berpaling mata jika melihat gadis berparas. Semua ihwal tentang Ampon Lah aku peroleh dari seorang rekan, Pawang Seuman yang memiliki mantera perabun mata dalam komplotan kami. Katanya Ampon Lah sudah tiga bulan berada di Kutaraja. Ia anak sulung Uleebalang Lhokseumawe yang sengaja dikirim ke Kutaraja untuk bekerja di kantor pemerintahan. Ayahnya sangat muak melihat tingkahnya. Kelakuannya itu telah membuat malu bangsawan lain. Dengan mengirimnya ke tanah rantau, barangkali perilakunya akan berubah. 

"Dalam waktu dekat ini Ainal Mardhiah akan dilamar oleh Ampon Lah. Kemarin aku dan Teungku Syamaun dipanggil ke rumah Ainal Mardhiah. Apa yang telah mereka lakukan? Mereka mengembalikan hadiah ranub kong haba yang kita bawa tempo bulan lalu. Ini sebuah penghinaan bagi adat kita," kata Pawang Seuman.

"Benar itu, Pang Karia. Kita harus adukan masalah ini kepada hakim!" tegas Teungku Syamaun.

Aku tidak memberikan jawaban. Kegundahan jiwaku sedang mencapai puncaknya kala itu. Belum pernah dalam hidupku terjadi keadaan yang sedemikian rupa peliknya. Padahal sebagai kepala komplotan Rincong Apui, aku tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Semua keputusanku bersifat mutlak. Wajib dilaksanakan oleh 29 bawahanku tanpa terkecuali. Seharusnya kau tidak boleh cengeng hanya gara-gara cinta. Namun meninggalkan Ainal Mardhiah atau membiarkan tubuh sucinya digumuli oleh Ampon Lah, tentu aku tak sudi.

Situasi ini tidak boleh berlanjut. Seharusnya aku malu pada anggotaku. Mereka semua patuh terhadap titahku. Bahkan orang-orang di Kutaraja sangat menyegani kompotan kami, terutama orang-orang kaya yang punya hubungan dengan Belanda. Tidak ada orang kaya yang maun berurusan dengan kami, meksipun mereka tidak pernah mengetahui wajah kami yang selalu ditutup dengan setangan setiap kami beraksi di kegelapan malam.

Malah para orang kaya Belanda sampai kehabisan akal untuk membasmi komplotan kami yang kerap menjadi sasaran empuk. Ke mana mereka akan memburu kalau mereka sendiri tidak mengetahui wajah kami? Pernah seorang tuan besar Belanda yang ada di Neusu memancing kami untuk merampok rumahnya. Puluhan polisi disiagakan. Aku terpancing dengan tantangannya itu, Beberapa hari kemudian, saat malam terlalu pekat dan desau angin membuat lirih, aku dan enam orang dari komplotan kami merampok rumahnya. Berkat mantera perabun mata Pawang Seuman, dengan mudah kami memasuki rumahnya. Tad ada seorang polisi pun yang melihat kami. Aksi kami berjalan mulus. Lalu ketika pagi masih berembun, barulah si tuan besar itu menyadari bahwa uang dan emas yang disimpannya telah raib. 

Ke mana segala hasil rampokan kami megalir? Sebelum subuh benar-benar sempurnam sebagian uang tentunya telah kami bagi-bagikan ke setiap fakir miskin. Sedangkan beberapa emas lain tetap kami kumpulkan untuk membeli alat-alat tempur. Kami punya rencana besar. Ingin menghancurkan jembatan di atas Krueng Peut Ploh Peut yang kerap dilalui oleh kereta api. Jika jembatan itu hancur, Belanda akan kewalahan mengirimkan alat-alat perang ke tangsi militer yang ada di Kutaraja. Nantinya setelah kekuatan kami telah cukup, maka akan kami tumpas seluruh bangsa Belanda. Impian ini memang gila. Namun harus terwujud karena leluhur kami, para pejuang sejati telah banyak mati di tangan kompeni. 

Seandainya cinta ini sulit aku bendung dan akan menghancurkan impian kami, maka aku adalah orang yang paling berdosa. Bukankah aku sendiri yang mendirikan Rencong Apui pada musim penindasan? Kala itu komplotan kami hanya berjumlah lima orang: Pawang Seuman, Pang Ma'e si kebal, Teungku Syamaun si penghafal kirab Arab, Amat Bheng si mulut besar, dan aku sendiri, Pang Karia yang tak pernah luput dalam membidik.

Pawang Seuman dan Teungku Syamaun rupanya sejak tadi telah meninggalkan diriku. Mereka paham terhadap kegundahan hatiku. Keadaan ini membuatku semakin merindukan Ainal Amrdhiah. Sejak pertunangan kami, belum sekalipun aku menjumpainya. Hanya berkirim kabar dan rindu lewat surat. Di sela-sela gundah ini, kembali kusibak kenangan. Aku bertemu dengan di pasar malam Neusu. Saat itu suasana remang. Tapi di antara keremangan hanya dialah yang tampak bersinar terang. Mata bertemu mata ketika kami saling berhadapan. Luluh hatiku seketika. Sejak itulah aku terus memikirkannya. 

Bukan sekali dua aku bertemu dengannya secara kebetulan. Di mana ada pusat keramaian di situ aku kerap melihatnya. Lalu pada satu hari ketika aku melalui Pasar Aceh, aku kembali melihatnya. Kali ini aku menyapanya. Berkenalan secara sopan. Ia tampak malu-malu. Mukanya sudah pasti bersemu merah. Dan mulailah saat itu aku rajin menulis surat kepadanya setelah aku mengetahui nama dan alamatnya. Tentu dengan bantuan Teungku Syamaun, karena dalam komplotan kami hanya beliau yang mampu baca tulis huruf latin.

Akhirnya aku mengutus Leubee Hasan sebagai seulangkee. Setelah tiga kali ia bertemu dengan orangtua Ainal Mardhiah, maka sepakatlah kami mengadakan pertunangan. Aku menghadiahkan sebuah cincin emas dengan berat tiga mayam agar kedua orangtuanya yakin terhadap calon menantunya itu. Tapi gara-gara kumbang bangsat itu yang telah menabur racun dalam madu, orangtuanya yang gila harta telah mengembalikan ranub kong haba kepadaku. Sungguh sebuah perbuatan yang tidak terpuji.

Tiba-tiba kemarahanku sampai ke ubun-ubun. Aku harus membuat perhitungan dengan Ampon Lah. Ia harus dilenyapkan saja dari tanah ini. Begitu juga dengan Leubee Hasan. Ia juga harus diberi pelajaran agar tidak ada lagi korban ketamakannya. Rencana ini akan kususun rapi nantinya. Tapi rencana ini juga tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Akan kuhadapi semuanya sendiri. Itulah keputusanku.

***

Beberapa hari kemudian. Saat gerimis malam Jumat, aku mengetuk pintu rumah Ampon Lah. Seorang laki-laki berbadan kekar muncul dari balik pintu. Kupandangi orang yang ada di hadapanku itu. Sempat kecut hati sesaat, Tubuhnya barangkali lebih kuat dariku. Tapi aku tak gentar karena cintaku lebih kuat dari segalanya. 

"Apakah kau yang bernama Ampon Lah?" tanyaku seketika.

"Benar. Ada urusan apa malam-malam begini? Mau minta uang?" jawabnya angkuh.

"Aku Pang Karia. Kekasih dan tunangan Ainal Mardhiah," kataku dengan tegas. Aku tak boleh kalah mental dengan sosok yang berbadan kekar itu.

"Pang Karia pemuda nganggur itu? Bekas kuli Atjeh Tram?" ejeknya. "Mau kasih apa kamu untuknya? Apa kerjamu sekarang? Tidak jelas! Sawah kebun tak punya. Kerbau sapi tak ada. Sekolah jangan tanya. Baca tulis tak bisa. Bikin malu kaum laki sahaja."

"Jangan kau rentang panjang lagi cakapmu! Aku tantang kau berduel. Laki sama laki. Kita lihat, siapa yang benar-benar laki-laki sejati."

Kali ini Ampon Lah yang memerhatikan diriku. Memang badannya lebih besar dan kekar. Ia berpikir dapat meraih untung. Kalau saja ia tahu aku adalah pimpinan Rincong Apui, tentu kemaluannya akan ciut. Tapi malam ini lupakan semuanya tentang Rincong Apui. 

"Baiklah. Aku terima tantanganmu. Duel pakai tangan atau rencong?" oloknya.

"Terserah kau saja!" amarahku tak terbendung lagi.

Duel tangan kosong pun terjadi. Aku mengayunkan tinju ke mukanya. Ia begitu tangkas dan berhasil menghindar. Tak lama kemudian, ia melayangkan pukulan balasan yang mengenai ulu hatiku. Belum selesai eranganku, ia telah melayangkan pukulan bertubi-tubi. Aku terpojok. Tanpa sadar aku meraih rencong dari selipan pinggang. Dengan sekali tebas, rencong itu berhasil melukai lengannya. Kini posisiku agak menguntungkan.

Ketika aku maju beberapa depa, Ampon Lah memasuki rumahnya. Aku mengejarnya tapi ia sudah berhasil meraih kelewang begitu cepatnya. Nyaliku menciut sesaat. Dengan kelewang di tangannya, mungkin ia lebih unggul sedikit. Ia mengayunkan kelewang itu. Nyaris mengenai leherku. Tapi tebasan balik kelewang itu berhasil menyayat perutku. Tebasan selanjutnya mengenai dadaku. Pertahananku sungguh lemah. Lalu darah pun bercucuran.

Dengan sisa-sisa tenaga aku melarikan diri. Dua orang jongos keluar dari rumah Ampon Lah. Seseorang hendak mengejarku, tapi Ampon Lah melarangnya. Ia hanya mengeluarkan sumpah serapah. Ia telah menang. Aku harus mengakuinya. Darah semakin banyak keluar hingga menyebabkan tubuhku menjadi lemah. Setelah merasa agak jauh dari rumah Ampon Lah, langkahku semakin berat. Aku sempat berpikir akan mati karena gigil di tubuhku tak tertahankan.

"Maafkan aku, Ainal Mardhiah. Aku tak berhasil menumpasnya," lirihku.

Tiba-tiba nafasku semakin sesak. Sayup-sayup di keremangan malam, aku melihat sebuah kahar melintas pelan. Sebelum sempat menghentikan kahar itu, aku terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. []


Cerpen tersebut pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia 

9 June 2016

Espanto del Mundo

Lonceng cakradonya, sumber foto: Banda Aceh Tourism.
Beberapa orang Abesinia telah mengepungku. Tidak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Mataku menatap tajam ke arah mereka yang memamerkan seringai senyum kemenangan. Salah seorang dari mereka memberi isyarat kepadaku untuk menyerah. Dalam posisi yang tidak menguntungkan, terlintas di benakku untuk mati terhormat dengan menyerang mereka secara membabi buta. Namun, di saat yang bersamaan juga terlintas bayangan wajah istriku yang cantik. Sebelum berangkat ke medan perang, aku pernah berjanji untuk kembali ke Lisboa. Kerinduan terhadap istriku yang telah menumpuk mampu mengalahkan pikiran konyolku untuk mati di tangan musuh. Aku menyerah. 

Perang telah berakhir dengan kekalahan kami. Aku menyaksikan betapa dahsyatnya serangan musuh. Beberapa mayat dari pihak kami nyaris hancur dengan isi tubuh yang terburai. Yang masih hidup dan terluka ditawan dan dikumpulkan dalam sebuah kapal. Kami didudukkan dengan tangan terikat di belakang. Beberapa prajurit Sultan bertampang Arab, Abesinia, dan Turki selalu awas mengawal kami.

Di atas kapal, aku bertemu dengan Renato Santos. Ia adalah salah satu prajurit senior dan kaki tangan panglima kami, Sebastian de Sausa yang telah meninggalkan kami di pesisir Pasai. Sebastian de Sausa layak mendapatkan kutukan dari Tuhan karena tidak bertanggung jawab terhadap pasukannya. Ia memilih untuk melarikan diri ke selatan ketimbang melontarkan peluru-peluru yang tersisa ke arah pasukan Sultan.

"Apa yang terjadi denganmu, Renato? Bukankah kau seharusnya bersama Sebastian?" bisikku pelan. Aku mengabaikan sikap hormat berlebihan yang kerap kami tunjukkan kepadanya.

"Sebastian terkutuk!" geramnya.

Ia menceritakan bagaimana piciknya Sebastian yang telah tega meninggalkan dirinya. Padahal ia hanya butuh beberapa langkah lagi untuk mencapai kapal Sebastian sebelum sauh diangkat. Tapi Sebastian pura-pura tidak melihatnya. Ia juga mengutuk diarenya yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari sehingga menyebabkan dirinya menjadi lamban. Memang, semalam aku sempat melihatnya keluar masuk jamban darurat dan betah berlama-lama di dalamnya. Sungguh penderitaan lain yang harus dialaminya di masa perang.

Kapal kami telah berangkat. Lonceng dari kapal utama berbunyi sangat nyaring seakan-akan langit bergemuruh. Bunyi lonceng itu mengingatkanku pada sebuah gereja yang ada di kotaku. Namun lonceng ini bukan untuk mengingatkan kami untuk berdoa kepada Tuhan, melainkan semacam bunyi yang telah membuat jiwa kami menjadi begitu kerdil. Dengan begitu, kami memang hanya bisa berdoa agar kami tidak dipancung.

Seiring bunyi lonceng yang membahana, prajurit Sultan berteriak penuh kemenangan. Aku mencoba untuk mengintip keberadaan Sultan yang berada di atas kapal utama. Sungguh, bertahun-tahun lamanya aku dibuat penasaran oleh cerita-cerita pedagang Goa tentang kehebatan sang Sultan. Seorang prajurit Sultan bertampang Arab membentakku. Entah apa yang dikatakannya, namun dari raut wajahnya bisa kulihat bahwa dia melarangku untuk berdiri apalagi mendongakkan kepala melewati dinding geladak kapal.

Kapal utama Sultan mulai berlayar membelah lautan. Dua kapal perang besar mengiringinya. Sedangkan kapal kami berada di belakang kapal pengangkut hasil rampasan perang. Kini sangat sulit bagiku untuk melihat wajah Sultan yang paling ditakuti oleh dunia.

###

Aku terbangun karena seseorang mengusikku. Di sampingku, Renato Santos terkulai lemah dalam keadaan yang sungguh menyedihkan. Beberapa kali dia berusaha mengerutkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya.

"Renato, kau tak apa-apa?" tanyaku.

"Sungguh hari yang paling sial bagiku, Hugo Amado. Rasa sakit di perutku belum hilang."

Lalu aku berusaha memanggil seorang prajurit Sultan dan menjelaskan keadaan Renato Santos dengan isyarat tubuh, Kupikir ia bisa memahaminya ketika berlalu dari hadapan kami. Tapi tak lama kemudian, ia kembali bersama seseorang yang berjubah putih.

"Ada apa?" tanya si jubah putih dalam bahasa kami dengan fasih.

Aku merasa tersanjung dan takjub melihat sosok si jubah putih yang tampan itu. "Kawanku ini mengalami sakit di bagian perutnya," jawabku masih menyimpan kekaguman kepadanya.

"Oh, baiklah! Aku akan memanggil tabib untuk memeriksa kondisinya."

Kemudian si jubah putih kembali bersama seorang tabib yang sudah tua. Aku tidak begitu yakin dengan kehadiran si tabib yang lamban itu. Setelah memeriksa Renato, si tabib memberikan ramuan-ramuan untuk diminumnya. Meskipun begitu pahit dan getir di lidah, si jubah putih berusaha meyakinkan Renato untuk menenggak habis obat itu.

Obat itu terlalu manjur seketika. Renato merasa lebih baik. Untuk menghilangkan perjalanan yang membosankan itu, Renato tidak henti-hentinya mengoceh. Bahkan beberapa kali si prajurit Arab membentak Renato. Aku tercengang dengan perubahan sikap Renato. Padahal ia dikenal sebagai prajurit yang angkuh dan tidak pernah berbicara dengan prajurit yang lebih rendah kedudukannya. Ia kerap abai dengan kesulitan-kesulitan kami. Tapi hari ini, ia begitu lain. Sifat angkuhnya lenyap. Mungkin ia tidak pernah mengalami kejadian yang paling menyedihkan selama hidupnya seperti yang sedang dialaminya sekarang.

"Hugo Amado, kau tahu kapal apa yang berada di depan kita?"

"Kapal besar itu?" tanyaku kembali.

"Ya, kapal besar yang di dalamnya dihuni oleh Sultan."

"Apa Anda yakin Sultan ada di dalamnya?"

"Tentu saja aku yakin, tolol!" jawabnya kesal. "Kau tahu bagaimana asal mula kapal itu dibuat?" katanya mulai melunak. Tampaknya ia merasa jenuh sebagai tawanan.

"Ceritakanlah!" aku menjawab seadanya, Mataku tak lepas dari kapal besar itu. Penasaran dengan sosok Sultan yang telah menangkap kami.

"Konon kapal itu dibawa oleh jin putih dalam keadaan yang belum selesai," kata Renato Santos. "Berlabuh denga tiba-tiba tanpa topan dan badai di kuala Aceh. Seluruh warga kerajaan takjub dengan kehadiran kerangka kapal itu. Namun, Sultan tidak langsung percaya. Bahkan beliau menerima laporan mencurigakan mengenai kapal itu. Bisa saja kerangka kapal itu sebuah siasat musuh. Lalu Sultan memerintahkan prajurit khusus penjinak ranjau untuk meneliti lebih jauh keadaan di dalam kerangka kapal itu. Jika pun kapal itu hancur, setidak tidak akan membunuh banyak warga kerajaan yang berada di dekat kapal itu. Maka berangkatlah tiga orang prajurit penjinak ranjau untuk melihat sampai ke detil yang paling rumit dari kapal itu. Berjam-jam kemudian, mereka kembali dalam keadaan utuh. Sebelum memberikan laporan, terlebih dahulu mereka bertiga diperiksa kejiwaannya oleh tabib istana agar tidak memberikan laporan palsu, atau bisa saja mereka bertiga kerasukan jin jahat."

"Laporan dari penyelidikan awal terhadap kapal itu sangat menakjubkan," kata Renato Santos begitu yakin. Aku masih mendengarnya tanpa menunjukkan sikap kekaguman. Aku sudah sering mendengar dongeng-dongeng heroik dari para pembual. Renato Santos melanjutkan ceritanya, "mereka tidak sengaja melihat dengan nyata sesosok jin putih yang besar serupa kabut yang wajahnya sangat sulit mereka uraikan, meskipun ahli nujum berusaha mendesak mereka karena sang ahli nujum sangat ingin mendapatkan gambaran tentang sosok jin putih yang telah bertahun-tahun dicarinya ke seluruh pelosok bumi, namun tak pernah mereka jumpai. Akibat terlalu memaksakan kehendak, tabib istana berkali-kali menegah sang ahli nujum karena dapat mengguncang kejiwaan penjinak ranjau yang masih labil selepas mendapatkan tugas kenegaraan yang maha penting itu."

Aku masih bergeming dengan jalan cerita yang dirangkai oleh Renato Santos. "Setelah seluruh hasil penyelidikan telah dilaporkan, seorang prajurit Sultan membacakan kesimpulan dari laporan itu. Begini laporannya kira-kira: "Hasil penyelidikan kami disimpulkan bahwa kapal itu murni dibawa oleh jin putih dari perairan Goa yang sedang tahap penyelesaian oleh Portugis. Kerangka kapal ini dinyatakan aman dari ranjau-ranjau. Pihak kerajaan akan menyelesaikan kapal ini dengan menggunakan peralatan yang didatangkan dari negeri-negeri jauh dan maju. Kapal ini juga akan dilengkapi dengan ratusan meriam yang dapat menghacurkan musuh seketika."

"Nah, begitulah cerita misterius dari kapal itu," Renato mengakhiri ceritanya.

Sampai detik ini, aku belum bisa memercatai omongan kosong Renato. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa kapal itu dibuat dengan bantuan para jin. Ditambah lagi aku belum pernah melihat kehebatan langsung dari kapal itu.

"Kau lihat ada tiga buah lonceng di kapal itu?" tunjuk Renato dengan ujung dagunya.

"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi ketika kita berangkat tadi, kudengar ada suara lonceng yang sangat nyaring," jawabku. Aku mulai penasaran.

"Itulah lonceng kematian. Lonceng raksasa dari Kaisar Tiongkok. Ketika kau mendengar lonceng itu berbunyi, maka siap-siaplah kau menghadapi kematian. Tahukah kau, ketika Sebastian kita mendengar lonceng itu berdentang, kemaluan Sebastian menyusut hingga ke ukuran yang paling kecil, hahaha ....." Renato tidak mampu menahan tawanya. Aku pun ikut tertawa.

"Uskut! Uskut! Uskut!" bentak seorang prajurit Sultan. Ternyata bukan kami saja yang tertawa mendengar lelucon Renato. Para tawanan lin ikut tertawa berderai.  

Si jubah putih yang tampan diam-diam ikut tertawa. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada di belakang kami. Mungkin dia ikut menyimak cerita Renato tadi.

Setelah suasana menjadi tenang, si jubah putih bertanya dengan nada angkuh kepada kami. "Tahukah kalian sebutan apa yang pantas kita sematkan kepada armada itu?"

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

"Ketahuilah oleh kalian semuanya, armada itu adalah teror bagi dunia, momok bagi musuh. Kalian bisa lihat sendiri dari jauh, betapa mulianya, betapa kuatnya! Betapa indahnya, betapa kayanya! Kalian bisa memanggil armada itu dengan Espanto del Mundo.  []


Cerpen saya di atas pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia dengan judul Espanto del Mundo, Serambi

28 May 2016

Kohler dan Celaka Tiga Belas

Kohler, sumber foto: media KITLV.
Entah siapa yang memulai, tapi sejak Kapal Citadel van Antwerpen melepaskan tembakan meriam yang paling mengerikan ke garis pertahanan pantai, peperangan pertama sedang berlangsung. Balasan serupa ternyata muncul dari lubang benteng pertahanan Pantai Cermin yang seolah-olah sudah siap menerima tawaran perang dari Kerajaan Belanda. Namun tembakan-tembakan yang dilepaskan oleh musuh itu luput dan hanya menciptakan gelombang kecil saja di laut lepas. Barangkali mereka belum mahir menembakkan peluru meriam, pikirku. Tidak lama berselang, tembakan meriam lain pun dilepaskan dari Kapal Siak dan Bronbeek sehingga muncul asap hitam.

Udara pagi itu cerah. Laut hanya berombak kecil. Angin seakan-akan berhenti. Seekor burung yang aku tidak tahu namanya tampak bersembunyi di balik nyiur sambil sesekali membenamkan kepalanya agar tidak terkena tembakan salah alamat. Kemudian seekor lembu yang tadi asyik mengunyah rumput liar di samping benteng, mendongakkan kepalanya dan segera berlari sambil terus memamah. Sementara peluru-peluru terus berdesing, belasan sekoci dan dua stoombarkas (kapal uap) yang mengangkut para perwira menengah dan prajurit dengan gegeas menuju bibir pantai. Aku berada dalam salah satu stoombarkas itu, mendekap lututku sambil menatap daratan. Di sekoci paling depan, tampak berdiri gagah seorang perwira tinggi berpangkat mayor jenderal yang telah memerintahkan prajuritnya untuk segera merapat.

"Werker! Segera merapat ke Pantai Cermin!" perintahnya.

"Baik, Tuan Kohler."

Sekoci pun segera menuju Pantai Cermin. Diikuti oleh sekoci-sekoci lain. Pantai Cermin hanya berjarak beberapa ratus meter lagi, dan tiba-tiba runtunan peluru muncul dari balik benteng. Aku terkesiap dan hampir saja melompati dinding kapal jika tidak segera disadarkan oleh seorang kopral yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arahku.

"Berpencar!" perintah Kohler pada sekoci lain. "Lepaskan tembakan! Serang!"

Sekoci yang mengangkut alat perang memuntahkan tembakan ke arah benteng. Prajurit-prajurit lain membidik mereka untuk mencari sesosok tubuh yang merayap dan bersembunyi di antara dinding-dinding benteng. Aku hanya membidik saja, tidak melepaskan tembakan karena aku tidak melihat seorang pun di sana. Setetes keringat melewati bibirku yang tertutup rapat, kuseka dengan ujung lidah sehingga aku merasakan sesuatu yang asin.

Melihat serang tiba-tiba dari balik benteng, Kapal Siak dan Broonbeek kembali membombardir Pantai Cermin. Bantuan meriam juga datang dari Kapal Djambi dan Coehoorn. Ledakan-ledakan besar terdengar. Beberapa tubuh terlempar.

"Yaaaaa, bagus! Mampus kau!" teriak Kohler. "Cepat! Serang lagi! Binkes, bawa beberapa pasukan ke arah timur."

"Siap, Tuan!" Kolonel Binkes menunjuk beberapa prajurit untuk ikut bersamanya. Ketika pasukan yang dibawa oleh Binkes mencoba menerobos Pantai Cermin, mereka dihadang oleh puluhan musuh dengan menggunakan kelewang.

"Kurang ajar! Ayo, prajurit! Tumpas mereka semua!" ujar Binkes memberi semangat prajuritnya yang sudah kewalahan.

"Mereka terlalu dekat, Tuan. Dengan apa kita menyerang mereka?" tanya seorang prajuritnya yang tampak gamang. Itu adalah kopral yang berada di sampingku tadi. Aku lupa menanyakan namanya.

"Setan! Apa kau pikir Kerajaan Belanda tidak mempersanjataimu dengan bayonet? Gunakan bayonetmu itu, tolol!" bentak Binkes.

Beberapa prajurit Binkes bersimbah darah. Bayonet tidak mampu menahan tebasan-tebasan kelewang, sehingga Kohler yang kalap melepaskan tembakan beruntun tanpa membidiknya dengan benar. Peperangan ini telah menyebabkannya tertekan. Ia tentu tidak ingin malu dan dianggap gagal di hadapan Gubernur Jenderal. Harga diri dan catatn reputasinya yang gemilang sedang dipertaruhkan. Ia bukan sembarang prajurit, karena kegigihan dan keberaniannya dalam peperangan silam, ia langsung mendapat kenaikan pangkat begitu ditugaskan untuk memimpin ekspedisi ini.

Satu per satu para musuh tewas. Begitu juga para prajurit, salah satunya si kopral yang gamang. Kematiannya sungguh mengerikan. Sisa-sisa sabetan kelewang membuat bagian dalam tubuhnya terburai. Tiba-tiba musuh menyadari jumlah mereka semakin berkurang, lalu memundurkan langkahnya meninggalkan benteng. Pasukan Kohler tidak mengejarnya, dan kami menganggapnya sebagai sebuah kemenangan. Teriakan-teriakan prajurit membahana. Tapi pesta kemenangan tidak berlangsung lama, gerombolan musuh muncul kembali. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.

"Setan! Ternyata mereka belum mau mengalah. Serang lagi!" seru Kohler dengan semangat yang menggebu.

Peperangan pun dilanjutkan kembali. Aku membidik musuh-musuh yang terus maju dengan tebasan kelewang mereka. Seorang musuh berhasil kutembak. Ia tersungkur. Namun, bangkit kembali sambil memegang dadanya dan berteriak, "Allahu akbar!" Peluru kedua benar-benar membenamkannya ke bumi.

Bayonet dan kelewang saling beradu, pertarungan jarak dekat kembali terjadi dan tidak bisa dielakkan. Aku mengundurkan beberapa langkah kakiku untuk mencari tempat perlindungan. Aku ingin menghindari pertempuran jarak dekat, jadi kujauhi pejuang-pejuang nekat itu dan menyembunyikan diriku dari pandangan Kohler atau Binkes yang kapan saja siap untuk memerintahku maju ke garis depan pertempuran. Di antara gundukan pasir, kepalaku menyembul dan aku membidik mengikuti gerakan musuh. Lalu aku menembak. Kali ini luput. Kubidik lagi, luput lagi. Aku tidak tahu penyebabnya. Yang kurasakan adalah getaran bertubi-tubi pada tanganku. Sementara itu musuh kian menggila. Berteriak-teriak dengan kalimat yang sama seolah-olah kalimat itu serupa mantra yang membuat mereka kebal.

Tapi prajurit kami terlalu tangguh bagi musuh-musuh itu. Tangguh karena jumlah kami lima kali lipat bahkan lebih. Dan bisa dipastikan, kemenangan berada di pihak kami. Sementara ini, dapatlah kita katakan perang telah berhenti sejenak.

"Binkes! Berapa jumlah prajurit kita yang tewas?" tanya Kohler pada sang kolonel.

"Lapor, Tuan! Sebanyak sembila prajurit kita tewas dan empat puluh enam lainnya luka-luka."

"Gila! Baru kali ini aku mendapat perlawanan sengit. Padahal jumlah pasukan kita lebih banyak dari mereka. Di Belgia saja aku tidak menjumpai peperangan serupa ini," ujar Kohler. Kemudian ia memerintahkan agar merawat prajurit-prajurit yang terluka. "Binkes, buat laporan kepada Gubernur Jenderal bahwa kita berhasil menguasai Benteng Pantai Cermin. Kau tulis musuh yang tewas sebanyak seratus orang, dan prajurit kita yang tewas hanya dua orang."

"Baik, Tuan!"

Kemudian Kohler dan Binkes memeriksa keadaan benteng yang telah kami taklukkan itu. Benteng ini sudah tampak tua. Tidak seperti perkiraan kami yang menganggap bahwa benteng ini adalah salah satu garis pertahanan terkuat yang dimiliki oleh musuh. Ternyata salah. Kami hanya mendapati tiga meriam tua, sebuah meriam perunggu, meriam tanpa penahan di atas tembok, dan sebuah meriam lagi yang hampir tenggelam oleh pasir. Aku melihat Kohler dengan wajah cemberut dan sesekali mengutuk keadaan benteng tua itu.

"Dasar mata-mata tak berpengalaman!" ujar Kohler.

"Benar, Tuan!" tegas Binkes. "Dan bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?"

"Kumpulkan beberap perwira, kita adakan rapat strategi. Dan perintahkan beberapa prajurit untuk bersiaga."

"Siap, Tuan!"

Kohler kembali memeriksa benteng tua itu. Beberapa prajurit yang berpapasan dengannya langsung mengalihkan langkah mereka menuju ke tempat lain. Dan tiba-tiba Kohler berteriak, "Sial! Celaka tiga belas!"

"Ada apa, Tuan?" tanya Werker terburu-buru yang kebetulan berada di samping Kohler.

Kohler menunjukkan sepatunya yang telah menginjak kotoran lembu setengah lembab. Werker tersenyum geli. Melihat kejadian konyol itu, aku pun ikut tersenyum.

"Apa kau pikir ini lelucon?"

"Tidak, Tuan!"

"Apanya yang tidak! Cepat kau cari lembu yang telah seenaknya membuang kotoran di sini! Dan jangan kembali sebelum kau temukan itu lembu."

"Siap, Tuan!"

Setelah Werker berlalu, Binkes muncul bersama beberapa perwiranya. Rapat darurat pun digelar. Kohler memiliki rancana perang yang sederhana. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang diberi judul Buku Saku Ekspedisi Aceh yang di dalamnya berisi peta dan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun dari mata-mata.

"Benteng ini telah kita kuasai. Setelah pasukan selanjutnya tiba di sini, kita akan menyerang Benteng Meugat. Kerahkan pasukan terbaik kita untuk menguasainya. Dan jika berhasil, kita terus bergerak ke kuala Sungai Aceh dan mendirikan tangsi militer di sini," jelas Kohler sambil menunjuk ke arah peta, "setelah pasukan terkumpul semua, kita akan menyerang keraton sultan. Perbanyak serangan kita di sini, dan kalau keraton ini jatuh ke tangan kita, maka aku yakin mereka akan menghentikan perlawanan. Keraton sultan ini adalah ibukota kerajaan yang menjadi pusat segala kegiatan. Apa kalian paham!"

Tapi seorang perwira tampak bingung membaca peta itu.

"Tuan, apa Anda yakin kalau keraton sultan itu berada di sini. Bukankah gambar ini tampak seperti rumah ibadah orang Islam?" tanya perwira itu ragu.

Kohler melihat kembali peta itu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku yakin di sini letak keraton sultan itu. Tidak mungkin mata-mata kita salah dalam hal ini," tegas Kohler meyakinkan perwiranya meskipun ia setengah ragu.

Setelah rapat singkat itu selesai, Kohler memerintahkan pasukannya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan pasukan lain. Peperangan ini telah membuatnya kelelahan. Baru saja Kohler hendak melepaskan penat, tiba-tiba Werker datang tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Tuan, saya sudah membawa binatang yang Anda maksud tadi"

"Oh ya, aku baru ingat. Padahal aku telah melupakannya tadi. Di mana binatang itu?"

Werker pun mengiring Kohler menuju ke sebuah pohon Ketapang yang berada di sebelah barat benteng. Seekor binatang besar tertambat di sana.

"Ini dia, Tuan," tunjuk Werker dengan bangga.

Melihat binatang itu, Kohler tiba-tiba menjadi jengkel.

"Werker! Apa kau tidak bisa membedakan antara lembu dan kerbau?" ujar Kohler lalu meninggalkan Werker yang tampak bodoh itu. Kami hanya tertawa saja melihat kejadian itu. Sedangkan kerbau yang tertambat itu melenguh panjang seolah-olah ikut menertawakan kebodohan Werker dan mungkin juga kesialan Kohler. []

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia dengan judul yang sama.

26 May 2016

Perkumpulan Perahu dan Tuan Rebana

Rebana, sumber foto: wikipedia.
Nuruddin berdiri takzim di ujung geladak kapal. Tangannya tampak seperti orang yang memberi hormat lantaran silau cahaya matahari senja telah mengaburkan pandangannya.

Bandar Darussalam tinggal beberapa mil laut lagi dari kapal dagang yang ditumpanginya. Nuruddin berusaha melihat seseorang yang sudah menunggu dirinya ketika surat yang dikirimkan dari Gujarat Selatan beberapa bulan lalu mengabarkan kedatangannya. Orang itu tentu sudah menerima suratnya. Tapi bandar itu sungguh padat. Ia tidak bisa melihat orang yang dicarinya. Ia hanya melihat buruh-buruh tak berbaju dan berpasang-pasang keluarga bangsawan yang membawa anak-anak mereka untuk melihat kapal asing berlabuh. Tiba-tiba bunyi kerdam yang berasal dari peraka kapal membuyarkan lamunannya. Seorang kelasi telah menjatuhkan permadani Persia yang dihadiahkan kepada Sultan Tsani oleh nahkoda kapal. Kelasi ini membuat marah sang nahkoda lalu menderanya dengan cemeti yang senantiasa dibawanya. Cemeti itu akan berayun apabila ada kelasi-kelasi yang berbuat salah.

Bunyi terompet kapal sebanyak dua kali akhirnya menghentikan ayunan cemetinya. Perlahan-lahan kapal dagang itu berlabuh mengepil dermaga dengan nyaman. Para kelasi kembali bekerja termasuk si kelasi yang dicambuk tadi. Nuruddin telah turun dari kapal itu dan melihat ada seseorang yang berlari-lari kecil ke arahnya. Nuruddin menyengih. Orang itulah yang dari tadi dicarinya. Setelah mencium tangan Nuruddin dan meminta maaf atas keterlambatannya, orang itu membawa Nuruddin meninggalkan bandar itu.
***

Aku telah menghabiskan segelas lassi dan semangkuk kari ayam di sebuah kedai minum Lassi Laziz di Gujarat. Aku sedang menunggu kapal dagang yang hendak berlayar ke Darussalam. Sudah lima hari aku menunggu seraya menghabiskan bergelas-gelas lassi dan bermangkuk-mangkuk kari ayam. Namun belum ada satu pun kapal para saudagar kaya yang akan mengarungi Samudera Hindia. Kedai Lassi Laziz terletak di pinggir pelabuhan Gujarat. Aku terus memandang jauh ke timur, berharap ada kapal dari Arab yang singgah di Gujarat dan meneruskan pelayaran ke negeriku.
Sejak aku menerima surat dari salah satu sejawatku di Perkumpulan Perahu yang mengabarkan kematian Syekh Kamaluddin – ketua perkumpulan sekaligus guruku – telah membuat hatiku membengis. Dalam surat itu diceritakan bahwa Syekh Kamaluddin ditangkap dan diarak ke laut. Tubuhnya diikat di atas perahu cadik, lalu dibakar hidup-hidup. Mulanya tubuh Syekh Kamaluddin luput dari api. Tapi entah bagaimana, setelah dua jam kemudian tubuhnya menyatu dengan puntung perun. Lalu para pembakar Syekh Kamaluddin dengan penuh amarah memerun bangkai perahu cadik itu. Tidak ada bekas darah kehitaman, tidak ada tubuh yang sangit, yang ada hanyalah debu hitam yang larung bersama laut. Aku sangat yakin dengan makrifat guruku yang tinggi, Syekh Kamaluddin telah mengikuti jejak Tuan Guru Hamzah.
Dalam surat itu juga terdapat amanah Syekh Kamaluddin sebelum ditangkap di mana aku diharuskan kembali ke Darussalam. Berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat pada sidang istimewa Perkumpulan Perahu, maka ditetapkanlah sebuah keputusan yang wajib dipatuhi. Mereka telah menetapkanku sebagai pengganti Syekh Kamaluddin. Tentu saja keputusan ini membuatku terkejut. Memang, sebagai murid kepercayaan Syekh Kamaluddin, aku dianggap layak untuk memimpin mereka. Tapi muncul keraguan dalam batinku disebabkan misi rahasia dengan sandi pingai menyeringai sagai menggerapai belum tuntas kuselesaikan. Misi ini adalah misi yang sangat rahasia sehingga tidak seorang pun yang tahu dan tidak boleh kusampaikan pada siapa pun, termasuk para pembaca sekali pun. Aku minta maaf, karena hanya Syekh Kamaluddin yang boleh mengetahuinya.
Surat itu kubaca berkali-kali. Mungkin aku bisa menemukan sedikit rahasia di balik tulisan tangan sejawatku itu. Inilah keraguan yang nyata-nyata sedang kualami. Tiba-tiba tanpa sengaja jariku menyentuh sekoin emas seberat 17 karat dalam saku kurta yang kupakai sejak aku berada di Gujarat, koin yang sama yang diberikan oleh Syekh Kamaluddin yang tidak kuketahui maksudnya. Kuperhatikan dan kubolak-balikkan koin itu. Dua sisi koin itu persis menggambarkan masalah yang kuhadapi saat ini. Koin dengan sisi Seri Sultan menegaskan bahwa misi pingai menyeringai sagai menggerapai haruslah kutemukan hakikatnya. Sedangkan koin bersisi Johan Berdaulat menandaskan bahwa aku harus mematuhi hasil musyawarah dan mufakat sidang istimewa, karena itu adalah sebuah keputusan yang paling tinggi dalam perkumpulan kami. Pertarungan batinku antara keraguan dan keyakinan telah menjebakku dalam ruang yang penuh labirin. Aku seakan tersesat dalam labirin batinku sendiri. Sementara itu, pemilik kedai minum Lassi Laziz yang telah memahami kegundahanku selama berhari-hari membiarkanku duduk di luar kedai. Sedangkan kedai minumnya ditutup rapat karena malam telah larut.
***

Di Surat, salah satu kota di Gujarat, aku telah bertemu dengan seorang tua yang lusuh dan dekil. Kurta yang dikenakannya tidak lagi putih, tapi sudah menguning akibat seringnya ia menari di jalan yang penuh debu. Kepalanya tak pernah melepaskan serban sehingga aku sulit melihat helaian rambutnya, apakah sudah memutih seperti janggutnya, atau mungkin tidak ada sehelai rambut pun di kepalanya. Aku tidak pernah tahu namanya sampai sekarang. Hanya saja aku memanggilnya dengan Tuan Rebana. Si tua ini memang selalu membawa rebana ke mana pun ia pergi. Suaranya serak dan melengking, tubuhnya ringkih dan kakinya gesit.

Tuan Rebana saban hari bisa kita temui di pasar Surat ketika orang-orang sibuk dengan kegiatan jual beli. Bak seorang penyanyi panggung, Tuan Rebana menyanyikan syair-syair yang tak kupahami maknanya. Tangannya tak henti memukul rebananya sehingga membuat suasana pasar bertambah gaduh. Di lain hari, bak tukang sulap ia membakar kayu-kayu sehingga mengeluarkan api yang besar. Dengan santainya ia menari di atas bara api tanpa luput sedikit pun dimakan api. Hari selanjutnya, ia menusuk-nusukkan belati ke tubuhnya. Ia memotong-motong tangan dan kakinya dengan pedang. Ia juga menyuruh orang-orang untuk melemparnya dengan batu besar. Siapa yang berhasil membuatnya berdarah, maka akan diberikan hadiah uang yang besar. Tapi tidak satu pun yang berhasil membuatnya berdarah, termasuk aku yang berkali-kali mencobanya.

Kadang-kadang ketika aku menemui jalan buntu dalam menunaikan misiku, aku menikmati ocehan dan atraksi Tuan Rebana. Aksinya memang sangat memukau sampai-sampai aku hampir melupakan misiku. Si Tuan Rebana seakan mampu menyihirku untuk bisa terus mendengar syair-syairnya dan menonton aksi berbahayanya. Sedangkan orang lain menganggap si Tuan Rebana adalah orang yang gila.

“Percuma saja kauhabiskan waktumu mendengar ocehannya,” kata seorang penjual gerabah menghalau lamunanku.

“Benar, kulihat matamu tidak berpaling darinya,” sahut si penjual bumbu masakan.

“Pemuda dari Melayu itu berhasil digilai oleh si gila perapal syair,” sambung si tukang tempah sambil terkekeh.

Aku mengabaikan mereka semua. Di suatu hari, usai si Tuan Rebana melakukan aksinya, aku mendekatinya.

“Tuan, bolehkah saya diajarkan bersyair dan kebal?” pintaku.

Si Tuan Rebana tertawa terbahak-bahak. “Bertambah lagi satu orang gila di dunia ini,” serunya sambil meninggalkanku dalam kebingungan.

Esoknya kutunggui si Tuan Rebana di tempat yang sama. Usai dia beraksi, selalu aku memintanya untuk mengajarkanku bersyair dan kebal. Dengan setianya aku merengek padanya sehingga dia tidak sanggup lagi mendengar rengekanku.

“Baiklah, jika kau ingin sepertiku, pergilah kau ke Haramain. Temui orang yang bernama Ba Syayban. Dia akan mengajarimu cara bersyair sampai mabuk sehingga kaubisa merasakan Tuhanmu.”

Seperti yang dikatakannya, aku berangkat ke Haramain menumpangi kapal saudagar Arab.
***

Di Haramaian, tidak kutemui orang yang bernama Ba Syayban ataupun orang yang mengenalnya. Berbulan-bulan aku terdampar antara Makkah dan Madinah mencari orang yang bernama Ba Syayban. Sehingga di suatu hari aku tersasar di Yaman. Betapa terkejutnya aku ketika di sebuah lapangan aku menjumpai si Tuan Rebana yang sedang bersyair dan beraksi. Tidak seperti di Surat, di sini si Tuan Rebana dipadati oleh orang-orang. Aku yakin dia adalah orang yang sama, meskipun dia mengenakan pakaian Arab.

“Tuan Rebana, apakah kau masih ingat denganku?” teriakku sambil berlari ke arahnya membelah kerumunan orang-orang.

“Orang gila, minggir kau dari sana. Jangan kauhalangi guru kami mengajar,” usir salah seorang dari mereka. Kemudian aku dijauhkan dari si Tuan Rebana. Melihat kemarahan orang-orang, kuurungkan niatku untuk mendekati si Tuan Rebana. Aku menyaksikannya bersyair tentang Tuhan. Orang-orang yang mendengarkan syairnya seperti mabuk kepayang. Tidak lama kemudian, pukulan rebana menggema di lapangan itu. Orang-orang yang menonton aksi si Tuan Rebana juga memiliki rebana yang sama. Mereka mengikuti gerakan si Tuan Rebana. Sekejap kemudian mereka menghunuskan pedang dan menebas tubuh siapa saja yang berada di dekatnya. Aku menjauh dari mereka yang sudah kesurupan. Anehnya, tubuh mereka tidak terluka dan terbakar ketika berjalan di atas bara api di tengah lapangan itu. 

Setelah aksi itu selesai, aku lagi-lagi menjumpai si Tuan Rebana. “Apakah Anda si Tuan Rebana yang kerap bersyair di pasar Surat?” tanyaku. “Bukan, aku adalah Ba Syayban,” jawabnya. Aku hampir pingsan dibuatnya dan segera kucium lututnya seraya menghamba diri agar aku diangkat menjadi muridnya. Bertahun-tahun aku belajar dari Ba Syayban hingga di suatu hari kembali aku teringat dengan misi pingai menyeringai sagai menggerapai. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Surat.
***

Kapal yang akan membawaku ke Darussalam akhirnya berlayar juga. Tidak sabar aku ingin segera sampai ke sana. Aku sudah tahu beberapa rahasia bagaimana cara mengalahkan ilmu Nuruddin. Aku juga tidak bisa menyembunyikan kegeramanku pada ulama-ulama tiruan yang telah membantai guruku dan sejawat-sejawatku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri akan membawa pencerahan pada kegelapan pemikiran di Darussalam. Akan kubuktikan pada Nuruddin bahwa Perkumpulan Perahu tidak mengajarkan aliran sesat.

“Pemuda Melayu, kenapa kau begitu gusar?” tanya seorang saudagar Arab yang sejak tadi memperhatikanku.

“Aku sudah tahu cara untuk mengalahkan Nuruddin,” jawabku kukuh.

“Nuruddin sang mufti maksudmu?”

“Ya.”

Seluruh penumpang kapal menertawakanku. Mereka terpingkal-pingkal sambil menggulingkan tubuhnya di atas geladak kapal. Ada juga yang menghantamkan kepalanya pada tiang kapal karena tidak sanggup menahan kelucuan. Aku bertambah bingung dengan sikap mereka.

“Kenapa kalian semua tertawa?” tanyaku.

“Karena kau sudah gila. Ha ha ha.”

“Pemuda Melayu, apa kau tidak tahu kalau Nuruddin telah dikalahkan oleh seorang yang tinggi ilmunya.”

“Tidak,” jawabku.

“Nuruddin sudah meninggalkan Darussalam. Dia menanggalkan jabatan mufti di hadapan Sultanah. Orang-orang tidak tahu ke mana Nuruddin pergi.”

“Oh,” aku tersentak, “Lantas bagaimana dengan semua kekacauan yang terjadi?”

“Tidak ada lagi kekacauan. Semua pengikut tarekat dan aliran agama sudah berdamai.”

“Siapakah orang yang mengalahkan Nuruddin itu?” tanyaku penuh takjub.

“Kalau tidak salah, namanya Saiful Rijal orang Minangkabau.”

Tiba-tiba seluruh tubuhku bergemetar. Kepalaku terasa berat. Mataku seperti melihat kunang-kunang yang menari. Tidak lama kemudian, aku mengambil sepucuk surat yang terselip dalam sebuah kitab Syair Burung Pingai. Kuperhatikan dengan saksama. Surat itu ternyata telah ditulis beberapa tahun lalu dan ditandatangani oleh Saiful Rijal. []


Cerpen saya di atas pernah dimuat di Tabloid Atjeh Times.