![]() |
| Lonceng cakradonya, sumber foto: Banda Aceh Tourism. |
Perang telah berakhir dengan kekalahan kami. Aku menyaksikan betapa dahsyatnya serangan musuh. Beberapa mayat dari pihak kami nyaris hancur dengan isi tubuh yang terburai. Yang masih hidup dan terluka ditawan dan dikumpulkan dalam sebuah kapal. Kami didudukkan dengan tangan terikat di belakang. Beberapa prajurit Sultan bertampang Arab, Abesinia, dan Turki selalu awas mengawal kami.
Di atas kapal, aku bertemu dengan Renato Santos. Ia adalah salah satu prajurit senior dan kaki tangan panglima kami, Sebastian de Sausa yang telah meninggalkan kami di pesisir Pasai. Sebastian de Sausa layak mendapatkan kutukan dari Tuhan karena tidak bertanggung jawab terhadap pasukannya. Ia memilih untuk melarikan diri ke selatan ketimbang melontarkan peluru-peluru yang tersisa ke arah pasukan Sultan.
"Apa yang terjadi denganmu, Renato? Bukankah kau seharusnya bersama Sebastian?" bisikku pelan. Aku mengabaikan sikap hormat berlebihan yang kerap kami tunjukkan kepadanya.
"Sebastian terkutuk!" geramnya.
Ia menceritakan bagaimana piciknya Sebastian yang telah tega meninggalkan dirinya. Padahal ia hanya butuh beberapa langkah lagi untuk mencapai kapal Sebastian sebelum sauh diangkat. Tapi Sebastian pura-pura tidak melihatnya. Ia juga mengutuk diarenya yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari sehingga menyebabkan dirinya menjadi lamban. Memang, semalam aku sempat melihatnya keluar masuk jamban darurat dan betah berlama-lama di dalamnya. Sungguh penderitaan lain yang harus dialaminya di masa perang.
Kapal kami telah berangkat. Lonceng dari kapal utama berbunyi sangat nyaring seakan-akan langit bergemuruh. Bunyi lonceng itu mengingatkanku pada sebuah gereja yang ada di kotaku. Namun lonceng ini bukan untuk mengingatkan kami untuk berdoa kepada Tuhan, melainkan semacam bunyi yang telah membuat jiwa kami menjadi begitu kerdil. Dengan begitu, kami memang hanya bisa berdoa agar kami tidak dipancung.
Seiring bunyi lonceng yang membahana, prajurit Sultan berteriak penuh kemenangan. Aku mencoba untuk mengintip keberadaan Sultan yang berada di atas kapal utama. Sungguh, bertahun-tahun lamanya aku dibuat penasaran oleh cerita-cerita pedagang Goa tentang kehebatan sang Sultan. Seorang prajurit Sultan bertampang Arab membentakku. Entah apa yang dikatakannya, namun dari raut wajahnya bisa kulihat bahwa dia melarangku untuk berdiri apalagi mendongakkan kepala melewati dinding geladak kapal.
Kapal utama Sultan mulai berlayar membelah lautan. Dua kapal perang besar mengiringinya. Sedangkan kapal kami berada di belakang kapal pengangkut hasil rampasan perang. Kini sangat sulit bagiku untuk melihat wajah Sultan yang paling ditakuti oleh dunia.
Kapal kami telah berangkat. Lonceng dari kapal utama berbunyi sangat nyaring seakan-akan langit bergemuruh. Bunyi lonceng itu mengingatkanku pada sebuah gereja yang ada di kotaku. Namun lonceng ini bukan untuk mengingatkan kami untuk berdoa kepada Tuhan, melainkan semacam bunyi yang telah membuat jiwa kami menjadi begitu kerdil. Dengan begitu, kami memang hanya bisa berdoa agar kami tidak dipancung.
Seiring bunyi lonceng yang membahana, prajurit Sultan berteriak penuh kemenangan. Aku mencoba untuk mengintip keberadaan Sultan yang berada di atas kapal utama. Sungguh, bertahun-tahun lamanya aku dibuat penasaran oleh cerita-cerita pedagang Goa tentang kehebatan sang Sultan. Seorang prajurit Sultan bertampang Arab membentakku. Entah apa yang dikatakannya, namun dari raut wajahnya bisa kulihat bahwa dia melarangku untuk berdiri apalagi mendongakkan kepala melewati dinding geladak kapal.
Kapal utama Sultan mulai berlayar membelah lautan. Dua kapal perang besar mengiringinya. Sedangkan kapal kami berada di belakang kapal pengangkut hasil rampasan perang. Kini sangat sulit bagiku untuk melihat wajah Sultan yang paling ditakuti oleh dunia.
###
Aku terbangun karena seseorang mengusikku. Di sampingku, Renato Santos terkulai lemah dalam keadaan yang sungguh menyedihkan. Beberapa kali dia berusaha mengerutkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya.
"Renato, kau tak apa-apa?" tanyaku.
"Sungguh hari yang paling sial bagiku, Hugo Amado. Rasa sakit di perutku belum hilang."
Lalu aku berusaha memanggil seorang prajurit Sultan dan menjelaskan keadaan Renato Santos dengan isyarat tubuh, Kupikir ia bisa memahaminya ketika berlalu dari hadapan kami. Tapi tak lama kemudian, ia kembali bersama seseorang yang berjubah putih.
"Ada apa?" tanya si jubah putih dalam bahasa kami dengan fasih.
Aku merasa tersanjung dan takjub melihat sosok si jubah putih yang tampan itu. "Kawanku ini mengalami sakit di bagian perutnya," jawabku masih menyimpan kekaguman kepadanya.
"Oh, baiklah! Aku akan memanggil tabib untuk memeriksa kondisinya."
Kemudian si jubah putih kembali bersama seorang tabib yang sudah tua. Aku tidak begitu yakin dengan kehadiran si tabib yang lamban itu. Setelah memeriksa Renato, si tabib memberikan ramuan-ramuan untuk diminumnya. Meskipun begitu pahit dan getir di lidah, si jubah putih berusaha meyakinkan Renato untuk menenggak habis obat itu.
Obat itu terlalu manjur seketika. Renato merasa lebih baik. Untuk menghilangkan perjalanan yang membosankan itu, Renato tidak henti-hentinya mengoceh. Bahkan beberapa kali si prajurit Arab membentak Renato. Aku tercengang dengan perubahan sikap Renato. Padahal ia dikenal sebagai prajurit yang angkuh dan tidak pernah berbicara dengan prajurit yang lebih rendah kedudukannya. Ia kerap abai dengan kesulitan-kesulitan kami. Tapi hari ini, ia begitu lain. Sifat angkuhnya lenyap. Mungkin ia tidak pernah mengalami kejadian yang paling menyedihkan selama hidupnya seperti yang sedang dialaminya sekarang.
"Hugo Amado, kau tahu kapal apa yang berada di depan kita?"
"Kapal besar itu?" tanyaku kembali.
"Ya, kapal besar yang di dalamnya dihuni oleh Sultan."
"Apa Anda yakin Sultan ada di dalamnya?"
"Tentu saja aku yakin, tolol!" jawabnya kesal. "Kau tahu bagaimana asal mula kapal itu dibuat?" katanya mulai melunak. Tampaknya ia merasa jenuh sebagai tawanan.
"Ceritakanlah!" aku menjawab seadanya, Mataku tak lepas dari kapal besar itu. Penasaran dengan sosok Sultan yang telah menangkap kami.
"Konon kapal itu dibawa oleh jin putih dalam keadaan yang belum selesai," kata Renato Santos. "Berlabuh denga tiba-tiba tanpa topan dan badai di kuala Aceh. Seluruh warga kerajaan takjub dengan kehadiran kerangka kapal itu. Namun, Sultan tidak langsung percaya. Bahkan beliau menerima laporan mencurigakan mengenai kapal itu. Bisa saja kerangka kapal itu sebuah siasat musuh. Lalu Sultan memerintahkan prajurit khusus penjinak ranjau untuk meneliti lebih jauh keadaan di dalam kerangka kapal itu. Jika pun kapal itu hancur, setidak tidak akan membunuh banyak warga kerajaan yang berada di dekat kapal itu. Maka berangkatlah tiga orang prajurit penjinak ranjau untuk melihat sampai ke detil yang paling rumit dari kapal itu. Berjam-jam kemudian, mereka kembali dalam keadaan utuh. Sebelum memberikan laporan, terlebih dahulu mereka bertiga diperiksa kejiwaannya oleh tabib istana agar tidak memberikan laporan palsu, atau bisa saja mereka bertiga kerasukan jin jahat."
"Laporan dari penyelidikan awal terhadap kapal itu sangat menakjubkan," kata Renato Santos begitu yakin. Aku masih mendengarnya tanpa menunjukkan sikap kekaguman. Aku sudah sering mendengar dongeng-dongeng heroik dari para pembual. Renato Santos melanjutkan ceritanya, "mereka tidak sengaja melihat dengan nyata sesosok jin putih yang besar serupa kabut yang wajahnya sangat sulit mereka uraikan, meskipun ahli nujum berusaha mendesak mereka karena sang ahli nujum sangat ingin mendapatkan gambaran tentang sosok jin putih yang telah bertahun-tahun dicarinya ke seluruh pelosok bumi, namun tak pernah mereka jumpai. Akibat terlalu memaksakan kehendak, tabib istana berkali-kali menegah sang ahli nujum karena dapat mengguncang kejiwaan penjinak ranjau yang masih labil selepas mendapatkan tugas kenegaraan yang maha penting itu."
Aku masih bergeming dengan jalan cerita yang dirangkai oleh Renato Santos. "Setelah seluruh hasil penyelidikan telah dilaporkan, seorang prajurit Sultan membacakan kesimpulan dari laporan itu. Begini laporannya kira-kira: "Hasil penyelidikan kami disimpulkan bahwa kapal itu murni dibawa oleh jin putih dari perairan Goa yang sedang tahap penyelesaian oleh Portugis. Kerangka kapal ini dinyatakan aman dari ranjau-ranjau. Pihak kerajaan akan menyelesaikan kapal ini dengan menggunakan peralatan yang didatangkan dari negeri-negeri jauh dan maju. Kapal ini juga akan dilengkapi dengan ratusan meriam yang dapat menghacurkan musuh seketika."
"Nah, begitulah cerita misterius dari kapal itu," Renato mengakhiri ceritanya.
Sampai detik ini, aku belum bisa memercatai omongan kosong Renato. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa kapal itu dibuat dengan bantuan para jin. Ditambah lagi aku belum pernah melihat kehebatan langsung dari kapal itu.
"Kau lihat ada tiga buah lonceng di kapal itu?" tunjuk Renato dengan ujung dagunya.
"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi ketika kita berangkat tadi, kudengar ada suara lonceng yang sangat nyaring," jawabku. Aku mulai penasaran.
"Itulah lonceng kematian. Lonceng raksasa dari Kaisar Tiongkok. Ketika kau mendengar lonceng itu berbunyi, maka siap-siaplah kau menghadapi kematian. Tahukah kau, ketika Sebastian kita mendengar lonceng itu berdentang, kemaluan Sebastian menyusut hingga ke ukuran yang paling kecil, hahaha ....." Renato tidak mampu menahan tawanya. Aku pun ikut tertawa.
"Uskut! Uskut! Uskut!" bentak seorang prajurit Sultan. Ternyata bukan kami saja yang tertawa mendengar lelucon Renato. Para tawanan lin ikut tertawa berderai.
Si jubah putih yang tampan diam-diam ikut tertawa. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada di belakang kami. Mungkin dia ikut menyimak cerita Renato tadi.
Setelah suasana menjadi tenang, si jubah putih bertanya dengan nada angkuh kepada kami. "Tahukah kalian sebutan apa yang pantas kita sematkan kepada armada itu?"
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
"Ketahuilah oleh kalian semuanya, armada itu adalah teror bagi dunia, momok bagi musuh. Kalian bisa lihat sendiri dari jauh, betapa mulianya, betapa kuatnya! Betapa indahnya, betapa kayanya! Kalian bisa memanggil armada itu dengan Espanto del Mundo. []
Cerpen saya di atas pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia dengan judul Espanto del Mundo, Serambi

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik