![]() |
| Kohler, sumber foto: media KITLV. |
Udara pagi itu cerah. Laut hanya berombak kecil. Angin seakan-akan berhenti. Seekor burung yang aku tidak tahu namanya tampak bersembunyi di balik nyiur sambil sesekali membenamkan kepalanya agar tidak terkena tembakan salah alamat. Kemudian seekor lembu yang tadi asyik mengunyah rumput liar di samping benteng, mendongakkan kepalanya dan segera berlari sambil terus memamah. Sementara peluru-peluru terus berdesing, belasan sekoci dan dua stoombarkas (kapal uap) yang mengangkut para perwira menengah dan prajurit dengan gegeas menuju bibir pantai. Aku berada dalam salah satu stoombarkas itu, mendekap lututku sambil menatap daratan. Di sekoci paling depan, tampak berdiri gagah seorang perwira tinggi berpangkat mayor jenderal yang telah memerintahkan prajuritnya untuk segera merapat.
"Werker! Segera merapat ke Pantai Cermin!" perintahnya.
"Baik, Tuan Kohler."
Sekoci pun segera menuju Pantai Cermin. Diikuti oleh sekoci-sekoci lain. Pantai Cermin hanya berjarak beberapa ratus meter lagi, dan tiba-tiba runtunan peluru muncul dari balik benteng. Aku terkesiap dan hampir saja melompati dinding kapal jika tidak segera disadarkan oleh seorang kopral yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arahku.
"Berpencar!" perintah Kohler pada sekoci lain. "Lepaskan tembakan! Serang!"
Sekoci yang mengangkut alat perang memuntahkan tembakan ke arah benteng. Prajurit-prajurit lain membidik mereka untuk mencari sesosok tubuh yang merayap dan bersembunyi di antara dinding-dinding benteng. Aku hanya membidik saja, tidak melepaskan tembakan karena aku tidak melihat seorang pun di sana. Setetes keringat melewati bibirku yang tertutup rapat, kuseka dengan ujung lidah sehingga aku merasakan sesuatu yang asin.
Melihat serang tiba-tiba dari balik benteng, Kapal Siak dan Broonbeek kembali membombardir Pantai Cermin. Bantuan meriam juga datang dari Kapal Djambi dan Coehoorn. Ledakan-ledakan besar terdengar. Beberapa tubuh terlempar.
"Yaaaaa, bagus! Mampus kau!" teriak Kohler. "Cepat! Serang lagi! Binkes, bawa beberapa pasukan ke arah timur."
"Siap, Tuan!" Kolonel Binkes menunjuk beberapa prajurit untuk ikut bersamanya. Ketika pasukan yang dibawa oleh Binkes mencoba menerobos Pantai Cermin, mereka dihadang oleh puluhan musuh dengan menggunakan kelewang.
"Kurang ajar! Ayo, prajurit! Tumpas mereka semua!" ujar Binkes memberi semangat prajuritnya yang sudah kewalahan.
"Mereka terlalu dekat, Tuan. Dengan apa kita menyerang mereka?" tanya seorang prajuritnya yang tampak gamang. Itu adalah kopral yang berada di sampingku tadi. Aku lupa menanyakan namanya.
"Setan! Apa kau pikir Kerajaan Belanda tidak mempersanjataimu dengan bayonet? Gunakan bayonetmu itu, tolol!" bentak Binkes.
Beberapa prajurit Binkes bersimbah darah. Bayonet tidak mampu menahan tebasan-tebasan kelewang, sehingga Kohler yang kalap melepaskan tembakan beruntun tanpa membidiknya dengan benar. Peperangan ini telah menyebabkannya tertekan. Ia tentu tidak ingin malu dan dianggap gagal di hadapan Gubernur Jenderal. Harga diri dan catatn reputasinya yang gemilang sedang dipertaruhkan. Ia bukan sembarang prajurit, karena kegigihan dan keberaniannya dalam peperangan silam, ia langsung mendapat kenaikan pangkat begitu ditugaskan untuk memimpin ekspedisi ini.
Satu per satu para musuh tewas. Begitu juga para prajurit, salah satunya si kopral yang gamang. Kematiannya sungguh mengerikan. Sisa-sisa sabetan kelewang membuat bagian dalam tubuhnya terburai. Tiba-tiba musuh menyadari jumlah mereka semakin berkurang, lalu memundurkan langkahnya meninggalkan benteng. Pasukan Kohler tidak mengejarnya, dan kami menganggapnya sebagai sebuah kemenangan. Teriakan-teriakan prajurit membahana. Tapi pesta kemenangan tidak berlangsung lama, gerombolan musuh muncul kembali. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.
"Setan! Ternyata mereka belum mau mengalah. Serang lagi!" seru Kohler dengan semangat yang menggebu.
Peperangan pun dilanjutkan kembali. Aku membidik musuh-musuh yang terus maju dengan tebasan kelewang mereka. Seorang musuh berhasil kutembak. Ia tersungkur. Namun, bangkit kembali sambil memegang dadanya dan berteriak, "Allahu akbar!" Peluru kedua benar-benar membenamkannya ke bumi.
Bayonet dan kelewang saling beradu, pertarungan jarak dekat kembali terjadi dan tidak bisa dielakkan. Aku mengundurkan beberapa langkah kakiku untuk mencari tempat perlindungan. Aku ingin menghindari pertempuran jarak dekat, jadi kujauhi pejuang-pejuang nekat itu dan menyembunyikan diriku dari pandangan Kohler atau Binkes yang kapan saja siap untuk memerintahku maju ke garis depan pertempuran. Di antara gundukan pasir, kepalaku menyembul dan aku membidik mengikuti gerakan musuh. Lalu aku menembak. Kali ini luput. Kubidik lagi, luput lagi. Aku tidak tahu penyebabnya. Yang kurasakan adalah getaran bertubi-tubi pada tanganku. Sementara itu musuh kian menggila. Berteriak-teriak dengan kalimat yang sama seolah-olah kalimat itu serupa mantra yang membuat mereka kebal.
Tapi prajurit kami terlalu tangguh bagi musuh-musuh itu. Tangguh karena jumlah kami lima kali lipat bahkan lebih. Dan bisa dipastikan, kemenangan berada di pihak kami. Sementara ini, dapatlah kita katakan perang telah berhenti sejenak.
"Binkes! Berapa jumlah prajurit kita yang tewas?" tanya Kohler pada sang kolonel.
"Lapor, Tuan! Sebanyak sembila prajurit kita tewas dan empat puluh enam lainnya luka-luka."
"Gila! Baru kali ini aku mendapat perlawanan sengit. Padahal jumlah pasukan kita lebih banyak dari mereka. Di Belgia saja aku tidak menjumpai peperangan serupa ini," ujar Kohler. Kemudian ia memerintahkan agar merawat prajurit-prajurit yang terluka. "Binkes, buat laporan kepada Gubernur Jenderal bahwa kita berhasil menguasai Benteng Pantai Cermin. Kau tulis musuh yang tewas sebanyak seratus orang, dan prajurit kita yang tewas hanya dua orang."
"Baik, Tuan!"
Kemudian Kohler dan Binkes memeriksa keadaan benteng yang telah kami taklukkan itu. Benteng ini sudah tampak tua. Tidak seperti perkiraan kami yang menganggap bahwa benteng ini adalah salah satu garis pertahanan terkuat yang dimiliki oleh musuh. Ternyata salah. Kami hanya mendapati tiga meriam tua, sebuah meriam perunggu, meriam tanpa penahan di atas tembok, dan sebuah meriam lagi yang hampir tenggelam oleh pasir. Aku melihat Kohler dengan wajah cemberut dan sesekali mengutuk keadaan benteng tua itu.
"Dasar mata-mata tak berpengalaman!" ujar Kohler.
"Benar, Tuan!" tegas Binkes. "Dan bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?"
"Kumpulkan beberap perwira, kita adakan rapat strategi. Dan perintahkan beberapa prajurit untuk bersiaga."
"Siap, Tuan!"
Kohler kembali memeriksa benteng tua itu. Beberapa prajurit yang berpapasan dengannya langsung mengalihkan langkah mereka menuju ke tempat lain. Dan tiba-tiba Kohler berteriak, "Sial! Celaka tiga belas!"
"Ada apa, Tuan?" tanya Werker terburu-buru yang kebetulan berada di samping Kohler.
Kohler menunjukkan sepatunya yang telah menginjak kotoran lembu setengah lembab. Werker tersenyum geli. Melihat kejadian konyol itu, aku pun ikut tersenyum.
"Apa kau pikir ini lelucon?"
"Tidak, Tuan!"
"Apanya yang tidak! Cepat kau cari lembu yang telah seenaknya membuang kotoran di sini! Dan jangan kembali sebelum kau temukan itu lembu."
"Siap, Tuan!"
Setelah Werker berlalu, Binkes muncul bersama beberapa perwiranya. Rapat darurat pun digelar. Kohler memiliki rancana perang yang sederhana. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang diberi judul Buku Saku Ekspedisi Aceh yang di dalamnya berisi peta dan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun dari mata-mata.
"Benteng ini telah kita kuasai. Setelah pasukan selanjutnya tiba di sini, kita akan menyerang Benteng Meugat. Kerahkan pasukan terbaik kita untuk menguasainya. Dan jika berhasil, kita terus bergerak ke kuala Sungai Aceh dan mendirikan tangsi militer di sini," jelas Kohler sambil menunjuk ke arah peta, "setelah pasukan terkumpul semua, kita akan menyerang keraton sultan. Perbanyak serangan kita di sini, dan kalau keraton ini jatuh ke tangan kita, maka aku yakin mereka akan menghentikan perlawanan. Keraton sultan ini adalah ibukota kerajaan yang menjadi pusat segala kegiatan. Apa kalian paham!"
Tapi seorang perwira tampak bingung membaca peta itu.
"Tuan, apa Anda yakin kalau keraton sultan itu berada di sini. Bukankah gambar ini tampak seperti rumah ibadah orang Islam?" tanya perwira itu ragu.
Kohler melihat kembali peta itu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku yakin di sini letak keraton sultan itu. Tidak mungkin mata-mata kita salah dalam hal ini," tegas Kohler meyakinkan perwiranya meskipun ia setengah ragu.
Setelah rapat singkat itu selesai, Kohler memerintahkan pasukannya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan pasukan lain. Peperangan ini telah membuatnya kelelahan. Baru saja Kohler hendak melepaskan penat, tiba-tiba Werker datang tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Tuan, saya sudah membawa binatang yang Anda maksud tadi"
"Oh ya, aku baru ingat. Padahal aku telah melupakannya tadi. Di mana binatang itu?"
Werker pun mengiring Kohler menuju ke sebuah pohon Ketapang yang berada di sebelah barat benteng. Seekor binatang besar tertambat di sana.
"Ini dia, Tuan," tunjuk Werker dengan bangga.
Melihat binatang itu, Kohler tiba-tiba menjadi jengkel.
"Werker! Apa kau tidak bisa membedakan antara lembu dan kerbau?" ujar Kohler lalu meninggalkan Werker yang tampak bodoh itu. Kami hanya tertawa saja melihat kejadian itu. Sedangkan kerbau yang tertambat itu melenguh panjang seolah-olah ikut menertawakan kebodohan Werker dan mungkin juga kesialan Kohler. []
"Werker! Segera merapat ke Pantai Cermin!" perintahnya.
"Baik, Tuan Kohler."
Sekoci pun segera menuju Pantai Cermin. Diikuti oleh sekoci-sekoci lain. Pantai Cermin hanya berjarak beberapa ratus meter lagi, dan tiba-tiba runtunan peluru muncul dari balik benteng. Aku terkesiap dan hampir saja melompati dinding kapal jika tidak segera disadarkan oleh seorang kopral yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arahku.
"Berpencar!" perintah Kohler pada sekoci lain. "Lepaskan tembakan! Serang!"
Sekoci yang mengangkut alat perang memuntahkan tembakan ke arah benteng. Prajurit-prajurit lain membidik mereka untuk mencari sesosok tubuh yang merayap dan bersembunyi di antara dinding-dinding benteng. Aku hanya membidik saja, tidak melepaskan tembakan karena aku tidak melihat seorang pun di sana. Setetes keringat melewati bibirku yang tertutup rapat, kuseka dengan ujung lidah sehingga aku merasakan sesuatu yang asin.
Melihat serang tiba-tiba dari balik benteng, Kapal Siak dan Broonbeek kembali membombardir Pantai Cermin. Bantuan meriam juga datang dari Kapal Djambi dan Coehoorn. Ledakan-ledakan besar terdengar. Beberapa tubuh terlempar.
"Yaaaaa, bagus! Mampus kau!" teriak Kohler. "Cepat! Serang lagi! Binkes, bawa beberapa pasukan ke arah timur."
"Siap, Tuan!" Kolonel Binkes menunjuk beberapa prajurit untuk ikut bersamanya. Ketika pasukan yang dibawa oleh Binkes mencoba menerobos Pantai Cermin, mereka dihadang oleh puluhan musuh dengan menggunakan kelewang.
"Kurang ajar! Ayo, prajurit! Tumpas mereka semua!" ujar Binkes memberi semangat prajuritnya yang sudah kewalahan.
"Mereka terlalu dekat, Tuan. Dengan apa kita menyerang mereka?" tanya seorang prajuritnya yang tampak gamang. Itu adalah kopral yang berada di sampingku tadi. Aku lupa menanyakan namanya.
"Setan! Apa kau pikir Kerajaan Belanda tidak mempersanjataimu dengan bayonet? Gunakan bayonetmu itu, tolol!" bentak Binkes.
Beberapa prajurit Binkes bersimbah darah. Bayonet tidak mampu menahan tebasan-tebasan kelewang, sehingga Kohler yang kalap melepaskan tembakan beruntun tanpa membidiknya dengan benar. Peperangan ini telah menyebabkannya tertekan. Ia tentu tidak ingin malu dan dianggap gagal di hadapan Gubernur Jenderal. Harga diri dan catatn reputasinya yang gemilang sedang dipertaruhkan. Ia bukan sembarang prajurit, karena kegigihan dan keberaniannya dalam peperangan silam, ia langsung mendapat kenaikan pangkat begitu ditugaskan untuk memimpin ekspedisi ini.
Satu per satu para musuh tewas. Begitu juga para prajurit, salah satunya si kopral yang gamang. Kematiannya sungguh mengerikan. Sisa-sisa sabetan kelewang membuat bagian dalam tubuhnya terburai. Tiba-tiba musuh menyadari jumlah mereka semakin berkurang, lalu memundurkan langkahnya meninggalkan benteng. Pasukan Kohler tidak mengejarnya, dan kami menganggapnya sebagai sebuah kemenangan. Teriakan-teriakan prajurit membahana. Tapi pesta kemenangan tidak berlangsung lama, gerombolan musuh muncul kembali. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.
"Setan! Ternyata mereka belum mau mengalah. Serang lagi!" seru Kohler dengan semangat yang menggebu.
Peperangan pun dilanjutkan kembali. Aku membidik musuh-musuh yang terus maju dengan tebasan kelewang mereka. Seorang musuh berhasil kutembak. Ia tersungkur. Namun, bangkit kembali sambil memegang dadanya dan berteriak, "Allahu akbar!" Peluru kedua benar-benar membenamkannya ke bumi.
Bayonet dan kelewang saling beradu, pertarungan jarak dekat kembali terjadi dan tidak bisa dielakkan. Aku mengundurkan beberapa langkah kakiku untuk mencari tempat perlindungan. Aku ingin menghindari pertempuran jarak dekat, jadi kujauhi pejuang-pejuang nekat itu dan menyembunyikan diriku dari pandangan Kohler atau Binkes yang kapan saja siap untuk memerintahku maju ke garis depan pertempuran. Di antara gundukan pasir, kepalaku menyembul dan aku membidik mengikuti gerakan musuh. Lalu aku menembak. Kali ini luput. Kubidik lagi, luput lagi. Aku tidak tahu penyebabnya. Yang kurasakan adalah getaran bertubi-tubi pada tanganku. Sementara itu musuh kian menggila. Berteriak-teriak dengan kalimat yang sama seolah-olah kalimat itu serupa mantra yang membuat mereka kebal.
Tapi prajurit kami terlalu tangguh bagi musuh-musuh itu. Tangguh karena jumlah kami lima kali lipat bahkan lebih. Dan bisa dipastikan, kemenangan berada di pihak kami. Sementara ini, dapatlah kita katakan perang telah berhenti sejenak.
"Binkes! Berapa jumlah prajurit kita yang tewas?" tanya Kohler pada sang kolonel.
"Lapor, Tuan! Sebanyak sembila prajurit kita tewas dan empat puluh enam lainnya luka-luka."
"Gila! Baru kali ini aku mendapat perlawanan sengit. Padahal jumlah pasukan kita lebih banyak dari mereka. Di Belgia saja aku tidak menjumpai peperangan serupa ini," ujar Kohler. Kemudian ia memerintahkan agar merawat prajurit-prajurit yang terluka. "Binkes, buat laporan kepada Gubernur Jenderal bahwa kita berhasil menguasai Benteng Pantai Cermin. Kau tulis musuh yang tewas sebanyak seratus orang, dan prajurit kita yang tewas hanya dua orang."
"Baik, Tuan!"
Kemudian Kohler dan Binkes memeriksa keadaan benteng yang telah kami taklukkan itu. Benteng ini sudah tampak tua. Tidak seperti perkiraan kami yang menganggap bahwa benteng ini adalah salah satu garis pertahanan terkuat yang dimiliki oleh musuh. Ternyata salah. Kami hanya mendapati tiga meriam tua, sebuah meriam perunggu, meriam tanpa penahan di atas tembok, dan sebuah meriam lagi yang hampir tenggelam oleh pasir. Aku melihat Kohler dengan wajah cemberut dan sesekali mengutuk keadaan benteng tua itu.
"Dasar mata-mata tak berpengalaman!" ujar Kohler.
"Benar, Tuan!" tegas Binkes. "Dan bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?"
"Kumpulkan beberap perwira, kita adakan rapat strategi. Dan perintahkan beberapa prajurit untuk bersiaga."
"Siap, Tuan!"
Kohler kembali memeriksa benteng tua itu. Beberapa prajurit yang berpapasan dengannya langsung mengalihkan langkah mereka menuju ke tempat lain. Dan tiba-tiba Kohler berteriak, "Sial! Celaka tiga belas!"
"Ada apa, Tuan?" tanya Werker terburu-buru yang kebetulan berada di samping Kohler.
Kohler menunjukkan sepatunya yang telah menginjak kotoran lembu setengah lembab. Werker tersenyum geli. Melihat kejadian konyol itu, aku pun ikut tersenyum.
"Apa kau pikir ini lelucon?"
"Tidak, Tuan!"
"Apanya yang tidak! Cepat kau cari lembu yang telah seenaknya membuang kotoran di sini! Dan jangan kembali sebelum kau temukan itu lembu."
"Siap, Tuan!"
Setelah Werker berlalu, Binkes muncul bersama beberapa perwiranya. Rapat darurat pun digelar. Kohler memiliki rancana perang yang sederhana. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang diberi judul Buku Saku Ekspedisi Aceh yang di dalamnya berisi peta dan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun dari mata-mata.
"Benteng ini telah kita kuasai. Setelah pasukan selanjutnya tiba di sini, kita akan menyerang Benteng Meugat. Kerahkan pasukan terbaik kita untuk menguasainya. Dan jika berhasil, kita terus bergerak ke kuala Sungai Aceh dan mendirikan tangsi militer di sini," jelas Kohler sambil menunjuk ke arah peta, "setelah pasukan terkumpul semua, kita akan menyerang keraton sultan. Perbanyak serangan kita di sini, dan kalau keraton ini jatuh ke tangan kita, maka aku yakin mereka akan menghentikan perlawanan. Keraton sultan ini adalah ibukota kerajaan yang menjadi pusat segala kegiatan. Apa kalian paham!"
Tapi seorang perwira tampak bingung membaca peta itu.
"Tuan, apa Anda yakin kalau keraton sultan itu berada di sini. Bukankah gambar ini tampak seperti rumah ibadah orang Islam?" tanya perwira itu ragu.
Kohler melihat kembali peta itu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku yakin di sini letak keraton sultan itu. Tidak mungkin mata-mata kita salah dalam hal ini," tegas Kohler meyakinkan perwiranya meskipun ia setengah ragu.
Setelah rapat singkat itu selesai, Kohler memerintahkan pasukannya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan pasukan lain. Peperangan ini telah membuatnya kelelahan. Baru saja Kohler hendak melepaskan penat, tiba-tiba Werker datang tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Tuan, saya sudah membawa binatang yang Anda maksud tadi"
"Oh ya, aku baru ingat. Padahal aku telah melupakannya tadi. Di mana binatang itu?"
Werker pun mengiring Kohler menuju ke sebuah pohon Ketapang yang berada di sebelah barat benteng. Seekor binatang besar tertambat di sana.
"Ini dia, Tuan," tunjuk Werker dengan bangga.
Melihat binatang itu, Kohler tiba-tiba menjadi jengkel.
"Werker! Apa kau tidak bisa membedakan antara lembu dan kerbau?" ujar Kohler lalu meninggalkan Werker yang tampak bodoh itu. Kami hanya tertawa saja melihat kejadian itu. Sedangkan kerbau yang tertambat itu melenguh panjang seolah-olah ikut menertawakan kebodohan Werker dan mungkin juga kesialan Kohler. []
Cerpen ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia dengan judul yang sama.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik