![]() |
| Mesjid Baiturrahman, sumber foto: media KITLV. |
Telah disebutkan juga bahwa sejak tahapan awal pra sejarah di Aceh diperkirakan telah berlangsung kegiatan pendidikan. Hal ini didasarkan pada bukti-bukti temuan artefak tradisi Mesolitik, di samping adanya indikasi temuan artefak tradisi bercocok tanam dan megalitik hampir di tiap wilayah budaya etnis di sana (Aceh, Gayo, Alas Aneuk Jamee dan lain-lain). Pewarisan dan perkembangan tradisi-tradisi tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya kegiatan pendidikan, meskipun hanya terbatas dalam bentuk pendidikan informal saja.
Keberlangsungan pendidikan selama masa Mesolitikum terutama ditujukan untuk memudahkan teknologi yang amat bersahaja, seperti keterampilan membuat kapak genggam Sumatera (Sumatralith), alat-alat dari tulang untuk keperluan berburu dan mengumpulkan bahan makanan pada umumnya. Selanjutnya dari eskavasi yang pernah dilakukan pada beberapa situs bukit karang di sepanjang pesisir timur Aceh diperkirakan bahwa mereka bertempat tinggal dalam rumah-rumah bertiang di tepi pantai dengan kegiatan pencaharian bahan makanan dari laut. Kalau sekiranya dugaan ini mengandung kebenaran, dan tidak mustahil kegiatan pembuatan perahu untuk mencari bahan makanan dari laut, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Tampaknya tradisi pembuatan rumah Aceh bertiang dengan bahan dari kayu dan atap rumbia yang hidup sampai sekarang, besar kemungkinan merupakan pewarisan dari masa itu dengan beberapa perubahan pada masa-masa selanjutnya, demikian pula tradisi pembuatan perahu. Selain itu dari penggalian tersebut pada beberapa situs juga ditemukan cat merah. Ini menimbulkan dugaan kemungkinan alam kepercayaan telah tumbuh pada waktu itu yang pewarisannya terus berlanjut sampai pada masa neolitikum dan perunggu. Bahkan anasir kepercayaan animisme dan dinamisme yang berasal dari zaman pra sejarah itu sampai masa sekarang di daerah-daerah terpencil dari wilayah budaya etnis di seluruh Aceh belum hilang sama sekali. Hal ini umpamanya dapat kita lihat pada upacara kenduri tahunan, kendati pun sudah sangat jarang, di bawah pohon-pohon besar yang mungkin dianggap mempunyai kekuatan gaib atau tempat tinggal roh-roh gaib, pemakaian ijuk (bulu pohon enau) pada bubungan rumah Aceh di bagian yang terbuka, yaitu pada bagian timur dan barat (bahasa Aceh tulak angen) untuk menghindari masuknya roh-roh jahat ke dalam rumah, kepercayaan kepada burong tujoh dan masih banyak lagi yang merupakan hasil pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui kegiatan pendidikan.
Sehubungan dengan pengembangan tradisi bercocok tanam dan megalitik, hal-hal yang dipelajari tentu yang berkaitan dengan tradisi tersebut, terutama cara-cara pembuatan alat-alat bercocok tanam, alat-alat berburu dari batu halus dan perunggu, bangunan-bangunan dari batu-batu besar dan sebagainya (kedua tradisi ini berkembang pada masa neolitikum dan perunggu). Sayangnya temuan artefak masa ini sampai sekarang belum ada. Namun tidak mustahil alat-alat pertanian di Aceh, seperti langai, creuh (alat membajak), rencong dan sebagainya (rencong yang dianggap baik selalu terdapat campuran tembaga) merupakan warisan hasil belajar dari masa ini yang pada masa pengaruh Hindu-Budha dan Islam lebih disempurnakan lagi (umpamanya bentuk rencong sekarang yang mungkin berkembang sejak pengaruh Islam sangat mirip dengan tulisan bismillah). Selanjutnya orang-orang pada masa bercocok tanam telah mulai tinggal menetap dan karenanya tidak mustahil pula, apabila awal pembentukan masyarakat gampong dimulai pada periode ini. Namun bagaimanapun hal-hal yang disebutkan di sini diperlukan penelitian arkeologi secara lebih mendalam, sehingga gambaran mengenai pendidikan pada zaman pra sejarah itu akan menjadi lebih jelas adanya.
Selain dari yang telah diuraikan di atas perlu juga dikemukakan, bahwa menurut pendapat para ahli, di antaranya G. Ferrand yang telah meneliti kepustakaan Arab India, Indonesia, Cina, dan Portugis, sekitar abad ke-2 dan ke-10 Masehi telah terjadi perpindahan orang-orang Indonesia ke Madagaskar dan perpindahan yang berlangsung pada waktu itu pada umumnya berasal dari Aceh. Ini berarti bahwa kemungkinan besar pelayaran, kendati pun dalam bentuk sederhana, serta teknologi perkapalan, berupa cara pembuatan perahu-perahu besar untuk mengarungi lautan luas telah dikembangkan di Aceh. Dan tampaknya sejalan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan pada waktu itu pegaruh kebudayaan Hindu-Budha telah mulai berakar dalam masyarakat Aceh (setidak-tidaknya sampai abad ke-10 Masehi perkembangan agama Hindu dan Budha di Aceh, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah mulai menampakkan corak kehidupannya tersendiri).
Kapan sebenarnya pengaruh Hindu dan Budha mulai bertapak di daerah Aceh, tidak diketahui dengan pasti. Tetapi barangkali dapat diperkirakan setidak-tidaknya abad ke-2 sampai abad ke-4 Masehi, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah ada di Aceh. Hal ini mengingat letak geografis Aceh di perairan Selat Malaka, sebagai pintu gerbang masuk ke wilayah Indonesia. Ketidakpastian itu terutama disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber sejarah yang meyakinkan. Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha seperti prasasti, candi, arca, dan sebagainya sampai sekarang belum diketemukan di sana. Memang ada sebuah arca kepala dari BBudhisatwa Avalokitesyvara abad ke-9 yang sekarang disimpan di Museum Pusat Jakarta dan yang menurut Ny. S. Soelaiman diketemukan di daerah Indrapuri (Aceh Besar), namun arca tersebut sama sekali belum dapat memastikan tentang kedatangan dan proses penemuan guci-guci berisi abu jenazah di daerah Lamno Daya (Aceh Barat) serta cerita rakyat mengenai Pahlawan Syah raja Hindu di sana dan juga cerita rakyat tentang raja Hindu yang perkasa di daerah Indrapuri (Aceh Besar). Karena itu tidak mengherankan apabila sampai sekarang pada ahli belum berhasil menetapkan mengenai kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Aceh. Dari beberapa kerajaan yang pernah dipersoalkan, tampaknya hanya Kerajaan Lamuri yang dianggap benar lokasinya di sana, yaitu di Aceh Besar; sedang Kerajaan Poli umpamanya masih tetap dipertanyakan.
Meskipun masalah kedatangan agama Hindu-Budha dan berdirinya kerajaan Indonesia Hindu-Budha di daerah Aceh belum berhasil terpecahkan secara meyakinkan, namun para ahli antara lain Snouck Hurgronje, van Langen, dan Julius Jacobs, pada umumnya sependapat bahwa pengaruh kedua agama tersebut pada berbagai aspek kehidupan rakyat Aceh dianggap cukup besar (setidak-tidaknya sebelum pengaruh kebudayaan Islam berakar pada masyarakat Aceh). Pengaruh itu tidak saja terbatas di Aceh Besar saja, tetapi juga meluas sampai ke pesisir timur dan barat Aceh. Tempat-tempat yang dianggap mempunyai indikasi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Hindu-Budha di sana antara lain Lamno Daya (Aceh Barat), Indrapurwa, Indrapuri (Aceh Besar) dan Pidie. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Mesjid Indrapuri yang diperkirakan dibangun oleh Iskandar Muda (1607-1636) didirikan di atas fondasi sebuah candi.
Kalau demikian halnya, dapat pula diperkirakan, setidak-tidaknya di sekitar daerah-daerah yang disebutkan di atas itu kemungkinan besar terdapat juga berbagai jenis lembaga pendidikan Hindu-Budha pada waktu itu. Kalau sekiranya pernah didirikan, tentu ada lembaga-lembaga pendidikan, seperti biara, peguron pertapaan dan sebagainya, yang memberi pelajaran mengenai berbagai hal yang menyangkut dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Barangkali kebiasaan membakar kemenyan pada malam Jumat dan mandi ke laut pada Rabu akhir bulan Safar yang pada saat ini hampir tidak dilakukan lagi oleh rakyat Aceh di gampong-gampong, termasuk hasil pewarisan pendidikan pada waktu itu kendati pun anasir Islam tampak di dalamnya (malam Jumat dan bulan Safar). Di samping itu tidak mustahil pula apabila ada lembaga-lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan berbagai jenis keterampilan, seperti kerajinan, pandai besi, dan lain-lain, yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Agaknya kerajinan menenun kain sarung Aceh dan pandai besi termasuk hasil belajar pada waktu itu yang diwariskan secara turun temurun. Di mana saja pernah didirikan pusaka kerajaan dan perbengkelannya belum diketahui; mungkin Gampong Pandee yang terletak di pinggiran Kota Banda Aceh sekarang termasuk salah satu pusat perbengkelan pandai besi yang terkenal sejak berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Aceh. Namun apa yang dikemukakan itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, yang tampaknya memerlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama. Dengan demikian diharapkan pada suatu waktu nanti pendidikan masa pengaruh Hindu-Budha di Aceh dapat direkonstruksikan secara lebih sempurna.
Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebuayaan, 1984, halaman 7-11.
Keberlangsungan pendidikan selama masa Mesolitikum terutama ditujukan untuk memudahkan teknologi yang amat bersahaja, seperti keterampilan membuat kapak genggam Sumatera (Sumatralith), alat-alat dari tulang untuk keperluan berburu dan mengumpulkan bahan makanan pada umumnya. Selanjutnya dari eskavasi yang pernah dilakukan pada beberapa situs bukit karang di sepanjang pesisir timur Aceh diperkirakan bahwa mereka bertempat tinggal dalam rumah-rumah bertiang di tepi pantai dengan kegiatan pencaharian bahan makanan dari laut. Kalau sekiranya dugaan ini mengandung kebenaran, dan tidak mustahil kegiatan pembuatan perahu untuk mencari bahan makanan dari laut, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Tampaknya tradisi pembuatan rumah Aceh bertiang dengan bahan dari kayu dan atap rumbia yang hidup sampai sekarang, besar kemungkinan merupakan pewarisan dari masa itu dengan beberapa perubahan pada masa-masa selanjutnya, demikian pula tradisi pembuatan perahu. Selain itu dari penggalian tersebut pada beberapa situs juga ditemukan cat merah. Ini menimbulkan dugaan kemungkinan alam kepercayaan telah tumbuh pada waktu itu yang pewarisannya terus berlanjut sampai pada masa neolitikum dan perunggu. Bahkan anasir kepercayaan animisme dan dinamisme yang berasal dari zaman pra sejarah itu sampai masa sekarang di daerah-daerah terpencil dari wilayah budaya etnis di seluruh Aceh belum hilang sama sekali. Hal ini umpamanya dapat kita lihat pada upacara kenduri tahunan, kendati pun sudah sangat jarang, di bawah pohon-pohon besar yang mungkin dianggap mempunyai kekuatan gaib atau tempat tinggal roh-roh gaib, pemakaian ijuk (bulu pohon enau) pada bubungan rumah Aceh di bagian yang terbuka, yaitu pada bagian timur dan barat (bahasa Aceh tulak angen) untuk menghindari masuknya roh-roh jahat ke dalam rumah, kepercayaan kepada burong tujoh dan masih banyak lagi yang merupakan hasil pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui kegiatan pendidikan.
Sehubungan dengan pengembangan tradisi bercocok tanam dan megalitik, hal-hal yang dipelajari tentu yang berkaitan dengan tradisi tersebut, terutama cara-cara pembuatan alat-alat bercocok tanam, alat-alat berburu dari batu halus dan perunggu, bangunan-bangunan dari batu-batu besar dan sebagainya (kedua tradisi ini berkembang pada masa neolitikum dan perunggu). Sayangnya temuan artefak masa ini sampai sekarang belum ada. Namun tidak mustahil alat-alat pertanian di Aceh, seperti langai, creuh (alat membajak), rencong dan sebagainya (rencong yang dianggap baik selalu terdapat campuran tembaga) merupakan warisan hasil belajar dari masa ini yang pada masa pengaruh Hindu-Budha dan Islam lebih disempurnakan lagi (umpamanya bentuk rencong sekarang yang mungkin berkembang sejak pengaruh Islam sangat mirip dengan tulisan bismillah). Selanjutnya orang-orang pada masa bercocok tanam telah mulai tinggal menetap dan karenanya tidak mustahil pula, apabila awal pembentukan masyarakat gampong dimulai pada periode ini. Namun bagaimanapun hal-hal yang disebutkan di sini diperlukan penelitian arkeologi secara lebih mendalam, sehingga gambaran mengenai pendidikan pada zaman pra sejarah itu akan menjadi lebih jelas adanya.
Selain dari yang telah diuraikan di atas perlu juga dikemukakan, bahwa menurut pendapat para ahli, di antaranya G. Ferrand yang telah meneliti kepustakaan Arab India, Indonesia, Cina, dan Portugis, sekitar abad ke-2 dan ke-10 Masehi telah terjadi perpindahan orang-orang Indonesia ke Madagaskar dan perpindahan yang berlangsung pada waktu itu pada umumnya berasal dari Aceh. Ini berarti bahwa kemungkinan besar pelayaran, kendati pun dalam bentuk sederhana, serta teknologi perkapalan, berupa cara pembuatan perahu-perahu besar untuk mengarungi lautan luas telah dikembangkan di Aceh. Dan tampaknya sejalan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan pada waktu itu pegaruh kebudayaan Hindu-Budha telah mulai berakar dalam masyarakat Aceh (setidak-tidaknya sampai abad ke-10 Masehi perkembangan agama Hindu dan Budha di Aceh, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah mulai menampakkan corak kehidupannya tersendiri).
Kapan sebenarnya pengaruh Hindu dan Budha mulai bertapak di daerah Aceh, tidak diketahui dengan pasti. Tetapi barangkali dapat diperkirakan setidak-tidaknya abad ke-2 sampai abad ke-4 Masehi, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah ada di Aceh. Hal ini mengingat letak geografis Aceh di perairan Selat Malaka, sebagai pintu gerbang masuk ke wilayah Indonesia. Ketidakpastian itu terutama disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber sejarah yang meyakinkan. Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha seperti prasasti, candi, arca, dan sebagainya sampai sekarang belum diketemukan di sana. Memang ada sebuah arca kepala dari BBudhisatwa Avalokitesyvara abad ke-9 yang sekarang disimpan di Museum Pusat Jakarta dan yang menurut Ny. S. Soelaiman diketemukan di daerah Indrapuri (Aceh Besar), namun arca tersebut sama sekali belum dapat memastikan tentang kedatangan dan proses penemuan guci-guci berisi abu jenazah di daerah Lamno Daya (Aceh Barat) serta cerita rakyat mengenai Pahlawan Syah raja Hindu di sana dan juga cerita rakyat tentang raja Hindu yang perkasa di daerah Indrapuri (Aceh Besar). Karena itu tidak mengherankan apabila sampai sekarang pada ahli belum berhasil menetapkan mengenai kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Aceh. Dari beberapa kerajaan yang pernah dipersoalkan, tampaknya hanya Kerajaan Lamuri yang dianggap benar lokasinya di sana, yaitu di Aceh Besar; sedang Kerajaan Poli umpamanya masih tetap dipertanyakan.
Meskipun masalah kedatangan agama Hindu-Budha dan berdirinya kerajaan Indonesia Hindu-Budha di daerah Aceh belum berhasil terpecahkan secara meyakinkan, namun para ahli antara lain Snouck Hurgronje, van Langen, dan Julius Jacobs, pada umumnya sependapat bahwa pengaruh kedua agama tersebut pada berbagai aspek kehidupan rakyat Aceh dianggap cukup besar (setidak-tidaknya sebelum pengaruh kebudayaan Islam berakar pada masyarakat Aceh). Pengaruh itu tidak saja terbatas di Aceh Besar saja, tetapi juga meluas sampai ke pesisir timur dan barat Aceh. Tempat-tempat yang dianggap mempunyai indikasi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Hindu-Budha di sana antara lain Lamno Daya (Aceh Barat), Indrapurwa, Indrapuri (Aceh Besar) dan Pidie. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Mesjid Indrapuri yang diperkirakan dibangun oleh Iskandar Muda (1607-1636) didirikan di atas fondasi sebuah candi.
Kalau demikian halnya, dapat pula diperkirakan, setidak-tidaknya di sekitar daerah-daerah yang disebutkan di atas itu kemungkinan besar terdapat juga berbagai jenis lembaga pendidikan Hindu-Budha pada waktu itu. Kalau sekiranya pernah didirikan, tentu ada lembaga-lembaga pendidikan, seperti biara, peguron pertapaan dan sebagainya, yang memberi pelajaran mengenai berbagai hal yang menyangkut dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Barangkali kebiasaan membakar kemenyan pada malam Jumat dan mandi ke laut pada Rabu akhir bulan Safar yang pada saat ini hampir tidak dilakukan lagi oleh rakyat Aceh di gampong-gampong, termasuk hasil pewarisan pendidikan pada waktu itu kendati pun anasir Islam tampak di dalamnya (malam Jumat dan bulan Safar). Di samping itu tidak mustahil pula apabila ada lembaga-lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan berbagai jenis keterampilan, seperti kerajinan, pandai besi, dan lain-lain, yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Agaknya kerajinan menenun kain sarung Aceh dan pandai besi termasuk hasil belajar pada waktu itu yang diwariskan secara turun temurun. Di mana saja pernah didirikan pusaka kerajaan dan perbengkelannya belum diketahui; mungkin Gampong Pandee yang terletak di pinggiran Kota Banda Aceh sekarang termasuk salah satu pusat perbengkelan pandai besi yang terkenal sejak berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Aceh. Namun apa yang dikemukakan itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, yang tampaknya memerlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama. Dengan demikian diharapkan pada suatu waktu nanti pendidikan masa pengaruh Hindu-Budha di Aceh dapat direkonstruksikan secara lebih sempurna.
Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebuayaan, 1984, halaman 7-11.

Tinggalkan komentar
Berkomentarlah dengan bijak dan baik