31 May 2016

Hubungan Muhibah Mancanegara Kerajaan Aceh

Habib Abdurrahman salah seorang mangkubumi dan diplomat Kerajaan Aceh, sumber foto NMVW-collectie.
Suatu ucapan yang sangat berkesan dan membangkitkan nostalgia ke masa yang silam dilontarkan oleh Prof. Dr. James Warren Gould, Guru Besar di Clearment College, California. Ucapan itu adalah sebagai berikut: "In 1784 Aceh was the greatest political power on the island. It alone among the states bad excluded the European forts, those inevitable precursors of difficulties. European could remember when Acehnese naval power had defeated the Portuguese, but even Aceh's power was declining. It had once hel dominion half of Sumatera (on the west coast as far as Indrapura and on the east as far as the Asahan River), but afterward its boundaries extended only to Batubara on the east and to Baros on the west." Artinya adalah: "Dalam tahun 1874 Aceh merupakan kekuasaan politik terbesar di Pulau Sumatera. Di antara sekian banyak kerajaan, Aceh adalah satu-satunya yang berani menolak keinginan pendatang-pendatang Eropa untuk membangun benteng di dalam daerah kekuasaannya sebagai pemukiman orang-orang Eropa dan sebagai pegudangan bagi komoditi-komoditi yang dibeli mereka dari rakyat. Benteng-benteng ini merupakan regu perintis, yang bila diluluskan, pasti akan diikuti oleh regu-regu lain dan pasti akan menimbulkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang Eropa pasti masih ingat ketika Angkatan Laut Aceh menghancurkan armada Portugis, meskipun kekuatan Aceh pada waktu itu sudah mulai menurun. Aceh pada suatu ketika telah mengembangkan kekuasaannya atas separuh Pulau Sumatera (di sebelah pantai barat sejauh Indrapura Sumatera Barat dan di sebelah timur sejauh Sungai Asahan). Akan tetapi, beberapa waktu kemudian daerah yang dikontrolnya menyurut, yaitu di sebelah barat hanya sampai ke Baros dan di sebelah timur sampai ke Batu Bara)".

Tidak kurang menawan hati ketika mendengar ucapan Dr. Gould, adalah keterangan seorang penulis Belanda terkenal, yaitu Paul van't Veer dalam bukunya yang berjudul De Atjeh Oorlog. Dia berkata bahwa "Aceh bukan Jawa, tetapi juga bukan Siak. Aceh sanggup mempertahankan dirinya sendiri dan kemakmurannya termasuk sedang tanpa pernah dicampuri urusannya oleh Belanda. Aceh mempunyai hubungan ekonomi dan politik internasional, dan pada tahun 1873 sekurang-kurangnya Aceh memiliki seorang pejabat pemerintah yang sangat cakap serta bijaksana sebagai mangkubumi, yaitu Habib Abdurrahman al-Zahir.

Di samping pernyataan-pernyataan tersebut, William Marsden, penulis buku sejarah terkenal The History of Sumatera juga mengakui bahwa Kerajaan Aceh adalah suatu kerajaan yang sangat kuat, dibuktikan oleh ekspedisi-ekspedisinya yang berulang kali di Selat Malaka. Pada tahun 1575, armada Portugis dihancurkan oleh angkatan laut Kerajaan Aceh yang digambarkan sebagai kabut hitam yang menutupi Selat Malaka. Ekspedisi yang gemilang di Selat Malaka adalah berkat kepahlawanan laksamana yang memimpinnya, ialah Raja Meukuta, yang pernah disebut-sebut dalam surat Ratu Elizabeth dari Inggris dan dihantarkan kepada Sultan Aceh oleh Sir James Lancaster pada tahun 1602.

Pada masa jayanya, banyak kerajaan besar dari Eropa yang ingin menjalani hubungan muhibah dan mengikat tali persahabatan dengan Aceh. Bahkan ada di antaranya yang dengan berkedok persahabatan ingin menguasai Aceh.

Pada bulan November 1600, Kerajaan Belanda mengutus Paulus van Caarden menghadap Sultan Aceh. Ia diterima dengan upacara kebesaran. Sebagai balasan atas kunjungan utusan Belanda ini, Sultan Aceh mengutus dua orang duta luar biasa ke Negeri Belanda pada tahun 1601. Salah seorang di antaranya ialah Wazir Abdussamad sebagai ketua perutusan. Beliau meninggal dan dimakamkan di Negeri Belanda.

Pada tahun 1602, Ratu Elizabeth dari Inggris mengutus Sir James Lancaster untuk mengunjungi Sultan Aceh. Ia diterima dengan upacara kehormatan yang megah. Surat Ratu Elizabeth yang dibawa oleh Lancaster diserahkan kepada Sultan dalam suatu upacara seperti biasa dilakukan waktu penyerahan surat kepercayaan seorang duta. Setelah penyerahan surat Ratu, Jenderal Lancaster mempersembahkan kepada Sultan hadiah-hadiah yang berharga dari Ratu Elizabeth. Dalam kata sambutannya, Jenderal Lancaster menyatakan bahwa kedatangannya ke istana Sultan adalah untuk menegakkan perdamaian dan menjalin hubungan persahabatan antara Ratu dan saudaranya yang tercinta, Sultan Aceh.

Setelah upacara penyerahan surat dan hadiah-hadiah selesai, Sultan memperilakan tama agung menuju ruangan andrawina yang penuh dengan kemewahan yang layak dan sesuai dengan kedudukan dan martabat seorang utusan raja. Di dalam ruangan ini makanan dan minuman tersaji dalam piring dan gelas yang terbuat dari emas. Selanjutnya, dara-dara Aceh yang manis berpakaian serba indah dengan perhiasan emas bertatahkan permata yang gemerlapan, menghibur tamu agung dengan tari-tarian yang mempesona. Perlu disebutkan bahwa posisi penting dalam istana waktu dipegang oleh wanita. Misalnya, Protokol dan Komando Pasukan  Pengawal Wanita dipegang oleh Laksamana Mala Hayati dan Kepala Dinas Rahasia dipercayakan kepada Cut Lempah.

Sebelum meninggalkan istana, Sir James Lancaster dalam suatu upacara adat Aceh yang agung, dipersalini oleh Sultan dengan pakaian kebesaran Aceh dan dua bilah rencong Aceh disisipkan di pinggangnya. Untuk Ratu Elizabeth, Sultan menyerahkan seperangkat hadiah yang megah. Antara lain sepasang gelang yang terbuat dari emas yang bertatahkan permata-permata rubi yang sangat bernilai.

Pada tahun 1613, Raja James mengirimkan utusannya, Captain Best berikut sebuah surat dan seperangkat hadiah yang berharga. Captain Best diterima dengan upacara kebesaran yang sesuai dengan martabat utusan seorang raja dan kepada beliau dianugerahkan gelar orang kaya putih.

Perancis yang juga berkeinginan mengambil bagian dalam memanfaatkan kekayaan yang dilimpahkan oleh bumi Aceh, memerintahkan Jenderal Beaulieu bertindak sebagai utusan Kerajaan Perancis. Ia berangkat sambil memimpin sebuah skuadron pada akhir tahun 1620 dan tiba di Aceh pada bulan Januari 1621. Seperti halnya utusan dari kerajaan lain di Eropa, Jenderal Beaulieu jug amembawa seperangkat hadiah yang berharga untuk Sultan. Akan tetapi, misi Beaulieu gagal seluruhnya. Sebab Sultan dari semula sudah tidak senang dengan sikap Beaulieu yang mencerminkan sifat serakah dan tamak yang merupakan ciri-ciri imperialis.

Apa gerangan yang menyebabkan negara-negara besar di Eropa tertarik kepada Aceh? Tidak lain karena kedudukan yang strategis dan adanya potensi-potensi ekonomi yang cukup besar dan penting. Pada masa itu, Aceh terkenal sebagai gudang lada dan pinang di Pulau Sumatera. Jikalau pantai baratnya merupakan daerah lada maka pantai utara dan timurnya merupakan daerah pinang. Daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan merupakan perkebunan lada yang panjangnya tidak kurang dari 75 kilometer, dimulai dari Trumon sampai ke Daya. Kota-kota pelabuhan yang banyak disinggahi oleh kapal-kapal yang datang dari Eropa terutama dari Amerika adalah Kluet, Tapaktuan, Meukek, Labuhan Haji, Susoh, Kuala Batu, Meulaboh, dan Daya. Susoh merupakan pusat perdagangan lada dunia internasional dan merupakan pusat galangan kapal-kapal niaga. Sebaliknya, Meulaboh dan Daya merupakan pusat pertambangan emas yang kaya dengan bijih logam mulia.

Tiap tahun sepanjang pantai Aceh Barat dan Aceh Selatan ramai lalu lalang kapal-kapal asing, terutama yang datang dari Amerika, untuk mengangkut lada ke seluruh dunia. Besarnya volume ekspor lada dari Aceh ke luar negeri, contohnya pada tahun 1818, lebih dari sepuluh milliun pin. Lima milliun di antaranya diangkut oleh kapal-kapal yang datang dari kota-kota pelabuhan Salem, Boston, New York, Marlblehead, Baltimore dan Philadelphia, dengan harga 4,7 sen dolar per pon.

Pada masa itu, ada tiga negara asing yang bersaing sengit untuk memperoleh monopoli, sekurang-kurangnya memperoleh kedudukan sebagai the most favored nation dalam bidang perdagangan lada. Bahkan ada di antaranya yang berkeinginan menguasai Aceh beserta segala kekayaan yang terkandung di dalam buminya. Mereka adalah Inggris, Belanda, dan Amerika. Dari ketiga negara ini, Inggris dan Belanda-lah yang tindak-tanduknya ternyata mempunyai ambisi teritorial, sedangkan Amerika merupakan negara yang mementingkan keuntungan belaka. Artinya, ingin mendapat keuntungan sebesar-besarnya, kalau perlu dengan cara menipu, tanpa menghiraukan nasib produsen atau petani.

Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, dari bujuk rayu rongrongan negara imperialis, raja-raja Aceh selain mengandalkan angkutan lautnya yang cukup tangguh, juga tidak meremehkan cara-cara diplomasi. Sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dan sebagai salah satu anggota masyarakat bangsa-bangsa. Kerajaan Aceh berkewajiban membina hubungan baik antar negara di dunia. Selain itu sesuai pula dengan haknya, mengutus duta-duta ke luar negeri dan menerima duta-duta dari luar negeri, telah merentang titian muhibah dengan dunia internasional. Kegiatan ini dilakukan, baik dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan maupun mengutus duta-duta luar biasa untuk menghadiri sesuatu upacara penobatan, pelantikan, atau peristiwa penting lainnya atau merundingkan sesuatu masalah politik.

Oleh karena Turki merupakan pusat pemerintahan Islam yang jadi pengayom dari kerajaan-kerajaan Islam yang lain, termasuk di dalamnya Kerajaan Aceh, maka pertama-tama Aceh menjalin dan mempererat hubungan dengan Turki. Eratnya hubungan antara kedua negara, oleh Marsden dijelaskan bahwa pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (1567), di dalam angkatan perang Kerajaan Aceh terdapat 400 orang berkebangsaan Turki dan 400 pucuk meriam dari berbagai kaliber yang didatangkan dari Turki.

Menurut H. Zainuddin, pengarang buku Tarich Atjeh dan Nusantara, hubungan antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Turki sudah dimulai sejak masa Sultan Alaiddin Riayat Syah al-Qahhar (1537-1571). Untuk mempererat hubungan antara kedua negara secara tegas, antara keduanya telah diikat suatu perjanjian persahabatan. Sebagai bukti atas terjalinnya persahabatan itu, Sultan Turki telah mengirim 40 orang perwira yang ahli dalam bidang artileri dan kavaleri ke Aceh, untuk membantu meningkatkan mutu barisan meriam dan barisan berkuda dalam ketentaraan Aceh.

Pada masa Sultan Mansur Syah (1579-1586) persahabatan antara kedua negara diperkuat lagi dengan pernyataan saling bantu membantu dan kirim mengirim utusan muhibah.

Kemudian pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah Sayyidil Mukammil, Sultan Mustafa Khan telah mengirim sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan menyampaikan suatu pernyataan bahwa kapal-kapal perang Aceh diberi izin mengibarkan bendera Turki di tiang benderanya.

Selanjutnya oleh Sultan-sultan Aceh berikutnya hubungan persahabatan antara kedua negeri lebih tingkatkan lagi. Pada masa Sultan Iskanadar Muda (1607-1636) telah dikirim ke Turki sebuah perutusan yang dipimpin oleh Panglima Nyak Dum, untuk lebih memperkokoh hubunan antara Aceh Dalam perjalanan pulang turut serta 12 orang perwira Turki yang ahli dalam berbagai bidang. Di samping itu Panglima Nyak Dum membawa pulang sebuah meriam yang diberi nama "Meriam Lada Sicupak", sebagai hadiah dari Sultan Turki kepada Sultan Iskandar Muda.

Kemudian pada tahun 1825, dalam perjalanan menghadiri upacara penobatan Napoleon III di Perancis, duta luar biasa Teungku Said Muhammad Abdul Kadir diperintahkan oleh Sultan untuk mengunjungi Sultan Turki di Istanbul guna meningkatkan hubungan antara kedua negara. Di Turki beliau mendapat sambutan hangat, dan kepada beliau Sultan menganugerahkan bintang Turki dan lambang kebesaran Majidiah, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya mempererat hubungan persahabatan antara kedua negara dan bangsa.

Seterusnya pada tahun 1873, tatkala terlihat gejala bahwa ancaman Belanda terhadap Aceh makin hari makin mendekat, Sultan Aceh mengutus Mangkubumi Sayid Abdurrahman al-Zahir ke Turki untuk meminta bantuan dalam usaha menghadapi ancaman Belanda itu. Kedatangan Sayid Abdurrahman al-Zahir di Istanbul sebenarnya mendapat sambutan yang meriah dari mereka yang tergabung dalam golongan Turki Muda. Akan tetapi, karena Turki pada waktu itu merupakan The Sick Man of Europe atau orang sakit dari Eropa, jangankan memberi bantuan kepada orang lain, mempertahankan keutuhan wilayahnya sendiri hampir tidak berdaya.

Kemudian ~ dengan tujuan untuk memperlunak tekanan Belanda yang terus-menerus tanpa menghiraukan perjanjian Inggris-Aceh tahun 1819 yang pernah dibuat ~ pada tahun 1857, Sultan yang semula bersikap keras terhadap Belanda bersedia mundur selangkah menerima tawaran mengikat perjanjian perdamaian dan persahabatan. Meskipun sebenarnya Sultan mengetahui bahwa perjanjian yang diinginkan itu merupakan langkah politik Belanda agar mendapat tempat berpijak dalam rangka mengembangkan pengaruhnya di Kerajaan Aceh.

Dalam menghadapi perdaturan politik yang dimainkan oleh Inggris dan Belanda, Sultan Aceh merasa perlu untuk menjalin hubungan baik dengan Perancis. Pada tahun 1825, Sultan mengirim suatu perutusan yang dipimpin oleh duta besar luar biasa Teungku Said Muhammad Abdul Kadir ke Perancis untuk menghadiri upacara penobatan Napoleon III sebagai Kaisar Perancis, yang berlangsung pada tanggal 2 Desember 1852. Dalam kesempatan sebelumnya, setelah menyerahkan surat-surat kepercayaannya, duta Abdul Kadir mempersembahkan kepada Kaisar Perancis hadiah-hadiah yang bertatahkan permata ratna mutu manikam dari Sultan Aceh. Sebaliknya, Kaisar Perancis telah menganugerahkan kepada Duta Abdul Kadir sebilah pedang yang bertatahkan permata yang indah, sebagai lambang persahabatan di antara kedua negara.

Berkaitan dengan ancaman Belanda terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Aceh ~ yang dimanifestasikan oleh kesibukan Belanda mempersiapkan pasukan-pasukan untuk menyerang Aceh ~ Kerajaan Aceh sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, yang berhak menjalin hubungan persahabatan dengan negara mana saja di atas bumi ini telah mengadakan hubungan dengan Studer, Konsul Amerika di Singapura. Maksudnya, mengikat suatu perjanjian persahabatan (Treaty of Friendship) dengan Amerika serta meminta bantuan untuk menghadapi serangan Belanda. Untuk itu, disusun sebuah perjanjian persahabatan antara kedua negara. Akan tetapi, karena didahului permakluman perang oleh Belanda terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873, rancangan perjanjian tersebut tidak sempat ditandatangani untuk menjadi sebuah perjanjian. Menurut berita (yang saya dengar) dari James Warren Gould di Hollywood pada tahun 1960, rancangan perjanjian itu kini masih utuh tersimpan di dalam arsip Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, sebagai lampiran dari Laporan No. 107, October 4th, 1873, Singapore Vol. II di Washington D. C.

Selain menjalin hubungan persahabatan dan membina perdamaian dengan mancanegara atau dunia internasional, seperti yang tersimpul dalam rangkaian kata sempena yang melekat (inberent) pada kata Aceh Darussalam, Kerajaan Aceh pun tidak mengabaikan langkah-langkah diplomatik untuk memperkukuh persahabatan dengan sesama kerajaan di Kepulauan Nusantara, baik untuk tujuan perdamaian maupun untuk menggalang persatuan guna menghadapi musuh yang ingin menjajah bangsa-bangsa di kepulauan ini. Antara lain, Kerajaan Aceh mengadakan hubungan persahabatan (bahkan lebih jauh telah membentuk persekutuan) dengan Kerajaan Jepara di Pulau Jawa.

Jepara terletak di Pantai Utara Jawa Tengah. Pada permulaan abad ke-16, Jepara merupakan suatu kota pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu gerbang komunikasi kerajaan Islam pertama di Jawa yang berpusat di Demak. Selain sebagai pusat perdagangan terbesar, juga sebagai pangkalan armada yang kemudian digunakan oleh Adipati Unus, putera Raden Fatah untuk menyerang kekuasaan Portugis di Selat Malaka. Jadi, Jepara merupakan daerah yang paling penting bagi Kerajaan Islam Demak pada waktu itu, apalagi karena merupakan basis angkatan laut Kerajaan Demak yang cukup tangguh.

Jepara pada waktu itu diperintah oleh seorang ratu yang terkenal cantik bernama Ratu Kalinyamat. Suaminya bernama Pangeran Hadiri, seorang ulama yang berasal dari Aceh, yang semula bernama Teungku Thayib. Setelah berada di Jawa, ia mendapat panggilan Raden Thoyib dan setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, beliau dianugerahi gelar Pangeran Hadiri.

Teungku Thayib bertolak dari Aceh untuk mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu pengetahuan. Negeri yang pertama dituju adalah Tiongkok. Pada waktu Teungku Thayib berada di Tiongkok, berkat jasa-jasanya, Kaisar Tiongkok berkenan mengakui beliau sebagai anak angkatnya dan diberi kedudukan yang cukup tinggi. Berhubung bukan hal semacam itu yang dicari, maka TTeungku Thayib meneruskan pengembaraannya itu hingga sampailah beliau ke suatu negeri yang disebut Jepara. Di Jepara beliau menghadap dan menyatakan sekiranya Ratu berkenan memberikan kesempatan, beliau akan mengabdi untuk menegakkan kalimah Allah dan turut serta dalam usaha memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Jepara.

Ratu dengan senang hati menerima permohonan Raden Thoyib, Kemudian, berkeat kelebihan yang terlihat oleh Ratu Kalinyamat, yaitu dari pembawaannya yang lemah lembut penuh kasih sayang, budi pekertinya yang tinggi sebagai cerminan dari sikap seorang ulama yang saleh, dan sikapnya yang bijaksana dalam menghadapi segala lapisan masyarakat sebagai manifestasi dan kepeminpinan yang mengayom, maka wanita agung itu tertarik kepadanya. Beliau berkenan meminta Raden Thoyib menjadi suaminya. Tawaran ini ditolak sehingga dianugerahkanlah kepadanya gelar Raden Hadiri. Akhirnya, Pangeran Hadiri yang berasal dari Aceh menajdi mitra Ratu Kalinyamat dalam mengayuh bahtera Kerajaan Jepara.

Cinta kasih Ratu kepada Hadiri benar-benar tak terpisahkan. Semasa hidup mereka selalu berduaan, bahkan makam mereka pun berdampingan, terletak di belakang Mesjid Mantingan. Makam tersebut dibangun sendiri oleh Pangeran Hadiri, tujuh kilometer dari Kota Jepara. Sekarang, tiap hari Senin dan Kamis Pon banyak pengunjung datang berziarah ke makam kedua tokoh Kerajaan Jepara itu.

Kerajaan Aceh menilai posisi Jepara cukup kuat sebagai sebuah Kerajaan Islam di Jawa, dan mempunyai kedudukan yang strategis serta armada yang cukup tangguh. Untuk itu, Kerajaan Aceh berkeinginan menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan tersebut, bahkan ingin mengajak Jepara membentuk suatu persekutuan militer guna menghadapi musuh bersama, yaitu Portugis di Perairan Selat Malaka.

Pada tahun 1568, sebuah perutusan kerajaan yang terdiri dari beberapa duta besar dikirim oleh Sultan Aceh untuk menemui Ratu Jepara. Akan tetapi, ketika kapal perang Aceh berada di Perairan Selat Malaka telah dicegat oleh armada Portugis yang berjumlah besar. Perutusan Kerajaan Aceh dapat ditawan dan semua yang berada di atas kapal dibunuh, Berarti gagallah misi muhibah Aceh yang pertama ke Jepara.

Akhirnya pada tahun 1573 Aceh dan Jepara berhasil membentuk suatu persekutuan militer untuk menghadapi Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka dan seterusnya berkeinginan besar menguasai Kepulauan Nusantara. Sejak itulah kedua kerajaan Islam, Aceh dan Jepara bahu-membahu melawan Portugis di Selat Malaka.

Demikian gambaran singkat mengenai langkah-langkah diplomatik Kerajaan Aceh pada masa silam dalam percaturan politik mancanegara. Langkah-langkah ini telah menghasilkan dua buah perjanjian persahabatan dengan negara-negara Barat, yaitu dengan Inggris pada tahun 1819 dan dengan Belanda pada tahun 1857. Selain itu, sebuah rancangan perjanjian persahabatan dengan Amerika pada tahun 1873, karena didahului oleh serangan Belanda terhadap Aceh, tidak semapat menjadi suatu perjanjian resmi yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Akhirnya, kita hanya dapat mengenangkan apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang kita pada masa silam untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Aceh, baik dalam perjuangan bersenjata maupun dalam perjuangan diplomasi. []


Keterangan:
Sumber tulisan dapat dilihat di H. M. Nur El Ibrahimy, Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana, 1993, halaman 1-11.

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan baik