31 May 2016

Pendidikan di Aceh Zaman Hindia Belanda


OSVIA di Madiun, sumber foto: NMVW-collectie.
Sebagai dampak dari proses politik, bila dibandingkan dengan daerah lain di Nusantara ini, Aceh termasuk daerah yang terlambat menerima sistem pendidikan dari pemerintah Hindia Belanda. Pendidikan modern baru diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada rakyat Aceh pada permulaan abad 20, yang pada mulanya masih terbatas kepada anak-anak golongan bangsawan saja. Pada saat itu, meskipun usaha-usaha ke arah perdamaian sudah mulai dirintis dengan berhasil mengajak Sultan Aceh untuk berdamai, tetapi peperangan antara Aceh dengan Belanda masih tetap berlangsung. Oleh karena itu pada masa yang belum aman itu, suatu sistem pendidikan yang teratur dan terorganisasi secara baik belum mungkin dapat dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Usaha ke arah pengembangan dan intensifikasi sistem pendidikan ini baru dapat dimulai setelah melemahnya perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda, yaitu tahun 1920-an.

Ada dua faktor utama yang mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk memasukkan sistem pendidikan mereka ke Aceh, yaitu:
  1. Perubahan sistem politik kolonial Belanda yaitu harus sejalan dengan visi politik etika yang mereka jalankan, yang salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan pegawai-pegawai administratif yang terampil menurut ukuran mereka. Pegawai-pegawai yang berasal dari kalangan pribumi ini diusahakan agar dapat dijadikan sebagai aparat-aparat yang efektif dalam melancarkan sistem ekonomi dan struktur birokrasi mereka. Maka sehubungan dengan kepentingan ini, pemerintah kolonial Belanda menginginkan adanya pengembangan sistem pendidikan mereka kepada kalangan penduduk bumiputera, yang pada mulanya diusahakan secara terbatas. 
  2. Munculnya suatau kelompok baru dalam kalangan pemerintah kolonial Belanda yang dipelopori oleh seorang orientalis terkemuka yaitu C. Snouck Hurgronje yang terkenal dengan konsepsinya politik asosiasi. 
Kelompok yang dipelopori oleh Snouck Hurgronje ini beranggapan bahwa perlawanan-perlawanan bersenjata dari bangsa Indonesia salah satu di antaranya adalah perlawanan yang diberikan oleh rakyat Aceh, dalam menentang pemerintah kolonial Belanda, terutama adalah digerakkan oleh sistem nilai agama Islam. Dan perlawanan-perlawanan ini hanya mungkin dapat diselesaikan atau dikurangi, kalau golongan bangsawan atau pemuka-pemuka adat dari daerah setempat dapat ditarik ke dalam orbit kebudayaan dan sistem nilai mereka (sistem nilai Barat atau Belanda). Untuk inim kelompok tersebut menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda agar dapat menciptakan suatu golongan elite baru yang dibina dan dididik dengan kebudayaan dan sistem nilai mereka. Dengan sistem ini diharapkan mereka yang telah dibina dan dididik itu tidak lagi mengikuti seruan para pemimpin agama Islam untuk tetap menentang Belanda, sehingga dengan sendirinya pengaruh dari sistem nilai agama Islam sebagaimana yang dikumandangkan lewat para ulama seperti yang terjadi di Aceh dapat dikurangi.

Seperti di daerah-daerah lain di Indonesia, pemerintah kolonial Belanda dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan golongan bangsawan setempat, yang dalam hal ini di Aceh melalui golongan uleebalang. Oleh karena itu golongan yang pertama kali diperkenalkan sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda di Aceh adalah golongan uleebalang yang merupakan golongan bangsawan di Aceh. Mereka-mereka inilah yang dikehendaki oleh Snouck Hurgronje supaya dipisahkan atau dijauhkan dari kelompok para pemimpin agama.

Sehubungan dengan maksud tersebut, sejak tahun 1900 mulailah diperkenalkan sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda kepada mereka. Pada tahun itu beberapa putera uleebalang Aceh, di antaranya dua orang saudara dari uleebalang Idi Rayeuk telah diikutsertakan untuk mengikuti pendidikan pada sebuah sekolah Belanda di Kutaraja. Pada tahun 1901, tiga orang putera uleebalang lainnya yang berasal dari Aceh Besar, sesudah bersekolah pada sebuah sekolah Belanda di Kutaraja, oleh pemerintah Hindia Belanda di Aceh dikirim ke Fort de Kock (sekarang bernama Bukit Tinggi) untuk memasuki sekolah guru di sana. Selanjutnya pada tahun 1907/1908 hingga tahun 20-an banyak sekali putera uleebalang yang dikirim ke luar Aceh untuk mengikuti berbagai macam pendidikan yang dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda. Misalnya Hoofdenzoons School di Asahan, OSVIA di Bandung dan Serang, Bestuurshool di Batavia, dan MOSVIA di Madiun.
Tetapi berbeda dengan maksud dan harapan kolonial Belanda, karena tidak semua dari mereka yang pernah dididik dengan sistem pendidikan pemerintah itu berhasil dirangkul oleh negara. Ada di antara putera-putera uleebalang Aceh yang telah memperoleh pendidikan ini, mereka tetap berpihak kepada kepentingan masyarakatnya dan menjadi tokoh-tokoh yang mempelopori munculnya kesadaran nasional di Aceh. Dan bahkan juga terdapat di antara mereka yang tetap bekerja sama dengan para pemimpin agama. Misalnya kelompok yang menentang diubahnya bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat (volkschool) di Aceh, dari bahasa Melayu ke bahasa Aceh pada sekitar tahun 1931. Suatu gagasan yang dicetuskan oleh Van Mook, salah seorang tokoh konservatif dalam kalangan pemerintah Hindia Belanda, dalam rangka untuk menghidupkan kembali kerajaan-kerajaan di Indonesia, dan untuk ini bahasa-bahasa daerah harus dikembangkan kembali. Selain itu juga dari dua tokoh uleebalang yang pernah menjadi anggota volkschool yang mewakili Aceh.

Dari kelompok putera-putera uleebalang yang telah mengecap sistem pendidikan dari pemerintah ini, terutama mereka yang dididik di luar Aceh, dalam perkembangannya memang dapat dikatakan telah menjadi suatu kelompok baru dalam masyarakat Aceh. Tetapi seperti telah disebutkan di atas, bahwa ada di antara mereka yang tetap berpihak untuk kepentingan masyarakatnya. Dan sehubungan dengan hal ini, dalam rangka memperkuat intergritas dan solidaritas antar mereka dalam rangka membantu masyarakatnya, maka pada tahun 1916 kelompok ini mendirikan suatu perserikatan yang dinamakan Vereeniging Atjeh (Serikat Aceh). Dalam statuta perserikatan itu mereka jelas menyebutkan bahwa tujuan dari pada organisasi mereka di antaranya adalah untuk memajukan pendidikan (baik pendidikan yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda maupun pendidikan keagamaan yang merupakan lembaga pendidikan tradisional masyarakat Aceh) kepada kalangan pemuda-pemuda Aceh serta berusaha untuk menghilangkan beberapa adat kebiasaan yang mereka anggap mengekang kemajuan bagi masyarakat Aceh.

Simpulan dari keterangan-keterangan di atas dapat kita temukan bahwa tujuan dari konsepsi Snouck Hurgronje yaitu mendidik segolongan masyarakat Aceh dengan maksud untuk menjauhkan atau memisahkan mereka dari golongan lain adalah tidak berhasil. Tetapi kalau dilihat dalam hubungan dengan Politik Etika, maka tujuan dari permulaan sistem pendidikan pemerintah, mungkin agak mencapai sasaran. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh AJ. Pikaar (yang menjabat sebagai sekretaris residen yang terakhir dari masa pemerintah Hindia Belanda di Aceh) bahwa pemerintah Hindia Belanda pada tahun-tahun awal abad ke 20, telah memberikan pendidikan kepada pemuda-pemuda Aceh dengan harapan untuk dapat mengisi jabatan-jabatan administratif pada kantor-kantor pemerintah yang memungkinkan bagi mereka yang mampu memangkunya. []



Sumber tulisan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984,. halaman 36-39

Hubungan Muhibah Mancanegara Kerajaan Aceh

Habib Abdurrahman salah seorang mangkubumi dan diplomat Kerajaan Aceh, sumber foto NMVW-collectie.
Suatu ucapan yang sangat berkesan dan membangkitkan nostalgia ke masa yang silam dilontarkan oleh Prof. Dr. James Warren Gould, Guru Besar di Clearment College, California. Ucapan itu adalah sebagai berikut: "In 1784 Aceh was the greatest political power on the island. It alone among the states bad excluded the European forts, those inevitable precursors of difficulties. European could remember when Acehnese naval power had defeated the Portuguese, but even Aceh's power was declining. It had once hel dominion half of Sumatera (on the west coast as far as Indrapura and on the east as far as the Asahan River), but afterward its boundaries extended only to Batubara on the east and to Baros on the west." Artinya adalah: "Dalam tahun 1874 Aceh merupakan kekuasaan politik terbesar di Pulau Sumatera. Di antara sekian banyak kerajaan, Aceh adalah satu-satunya yang berani menolak keinginan pendatang-pendatang Eropa untuk membangun benteng di dalam daerah kekuasaannya sebagai pemukiman orang-orang Eropa dan sebagai pegudangan bagi komoditi-komoditi yang dibeli mereka dari rakyat. Benteng-benteng ini merupakan regu perintis, yang bila diluluskan, pasti akan diikuti oleh regu-regu lain dan pasti akan menimbulkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang Eropa pasti masih ingat ketika Angkatan Laut Aceh menghancurkan armada Portugis, meskipun kekuatan Aceh pada waktu itu sudah mulai menurun. Aceh pada suatu ketika telah mengembangkan kekuasaannya atas separuh Pulau Sumatera (di sebelah pantai barat sejauh Indrapura Sumatera Barat dan di sebelah timur sejauh Sungai Asahan). Akan tetapi, beberapa waktu kemudian daerah yang dikontrolnya menyurut, yaitu di sebelah barat hanya sampai ke Baros dan di sebelah timur sampai ke Batu Bara)".

Tidak kurang menawan hati ketika mendengar ucapan Dr. Gould, adalah keterangan seorang penulis Belanda terkenal, yaitu Paul van't Veer dalam bukunya yang berjudul De Atjeh Oorlog. Dia berkata bahwa "Aceh bukan Jawa, tetapi juga bukan Siak. Aceh sanggup mempertahankan dirinya sendiri dan kemakmurannya termasuk sedang tanpa pernah dicampuri urusannya oleh Belanda. Aceh mempunyai hubungan ekonomi dan politik internasional, dan pada tahun 1873 sekurang-kurangnya Aceh memiliki seorang pejabat pemerintah yang sangat cakap serta bijaksana sebagai mangkubumi, yaitu Habib Abdurrahman al-Zahir.

Di samping pernyataan-pernyataan tersebut, William Marsden, penulis buku sejarah terkenal The History of Sumatera juga mengakui bahwa Kerajaan Aceh adalah suatu kerajaan yang sangat kuat, dibuktikan oleh ekspedisi-ekspedisinya yang berulang kali di Selat Malaka. Pada tahun 1575, armada Portugis dihancurkan oleh angkatan laut Kerajaan Aceh yang digambarkan sebagai kabut hitam yang menutupi Selat Malaka. Ekspedisi yang gemilang di Selat Malaka adalah berkat kepahlawanan laksamana yang memimpinnya, ialah Raja Meukuta, yang pernah disebut-sebut dalam surat Ratu Elizabeth dari Inggris dan dihantarkan kepada Sultan Aceh oleh Sir James Lancaster pada tahun 1602.

Pada masa jayanya, banyak kerajaan besar dari Eropa yang ingin menjalani hubungan muhibah dan mengikat tali persahabatan dengan Aceh. Bahkan ada di antaranya yang dengan berkedok persahabatan ingin menguasai Aceh.

Pada bulan November 1600, Kerajaan Belanda mengutus Paulus van Caarden menghadap Sultan Aceh. Ia diterima dengan upacara kebesaran. Sebagai balasan atas kunjungan utusan Belanda ini, Sultan Aceh mengutus dua orang duta luar biasa ke Negeri Belanda pada tahun 1601. Salah seorang di antaranya ialah Wazir Abdussamad sebagai ketua perutusan. Beliau meninggal dan dimakamkan di Negeri Belanda.

Pada tahun 1602, Ratu Elizabeth dari Inggris mengutus Sir James Lancaster untuk mengunjungi Sultan Aceh. Ia diterima dengan upacara kehormatan yang megah. Surat Ratu Elizabeth yang dibawa oleh Lancaster diserahkan kepada Sultan dalam suatu upacara seperti biasa dilakukan waktu penyerahan surat kepercayaan seorang duta. Setelah penyerahan surat Ratu, Jenderal Lancaster mempersembahkan kepada Sultan hadiah-hadiah yang berharga dari Ratu Elizabeth. Dalam kata sambutannya, Jenderal Lancaster menyatakan bahwa kedatangannya ke istana Sultan adalah untuk menegakkan perdamaian dan menjalin hubungan persahabatan antara Ratu dan saudaranya yang tercinta, Sultan Aceh.

Setelah upacara penyerahan surat dan hadiah-hadiah selesai, Sultan memperilakan tama agung menuju ruangan andrawina yang penuh dengan kemewahan yang layak dan sesuai dengan kedudukan dan martabat seorang utusan raja. Di dalam ruangan ini makanan dan minuman tersaji dalam piring dan gelas yang terbuat dari emas. Selanjutnya, dara-dara Aceh yang manis berpakaian serba indah dengan perhiasan emas bertatahkan permata yang gemerlapan, menghibur tamu agung dengan tari-tarian yang mempesona. Perlu disebutkan bahwa posisi penting dalam istana waktu dipegang oleh wanita. Misalnya, Protokol dan Komando Pasukan  Pengawal Wanita dipegang oleh Laksamana Mala Hayati dan Kepala Dinas Rahasia dipercayakan kepada Cut Lempah.

Sebelum meninggalkan istana, Sir James Lancaster dalam suatu upacara adat Aceh yang agung, dipersalini oleh Sultan dengan pakaian kebesaran Aceh dan dua bilah rencong Aceh disisipkan di pinggangnya. Untuk Ratu Elizabeth, Sultan menyerahkan seperangkat hadiah yang megah. Antara lain sepasang gelang yang terbuat dari emas yang bertatahkan permata-permata rubi yang sangat bernilai.

Pada tahun 1613, Raja James mengirimkan utusannya, Captain Best berikut sebuah surat dan seperangkat hadiah yang berharga. Captain Best diterima dengan upacara kebesaran yang sesuai dengan martabat utusan seorang raja dan kepada beliau dianugerahkan gelar orang kaya putih.

Perancis yang juga berkeinginan mengambil bagian dalam memanfaatkan kekayaan yang dilimpahkan oleh bumi Aceh, memerintahkan Jenderal Beaulieu bertindak sebagai utusan Kerajaan Perancis. Ia berangkat sambil memimpin sebuah skuadron pada akhir tahun 1620 dan tiba di Aceh pada bulan Januari 1621. Seperti halnya utusan dari kerajaan lain di Eropa, Jenderal Beaulieu jug amembawa seperangkat hadiah yang berharga untuk Sultan. Akan tetapi, misi Beaulieu gagal seluruhnya. Sebab Sultan dari semula sudah tidak senang dengan sikap Beaulieu yang mencerminkan sifat serakah dan tamak yang merupakan ciri-ciri imperialis.

Apa gerangan yang menyebabkan negara-negara besar di Eropa tertarik kepada Aceh? Tidak lain karena kedudukan yang strategis dan adanya potensi-potensi ekonomi yang cukup besar dan penting. Pada masa itu, Aceh terkenal sebagai gudang lada dan pinang di Pulau Sumatera. Jikalau pantai baratnya merupakan daerah lada maka pantai utara dan timurnya merupakan daerah pinang. Daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan merupakan perkebunan lada yang panjangnya tidak kurang dari 75 kilometer, dimulai dari Trumon sampai ke Daya. Kota-kota pelabuhan yang banyak disinggahi oleh kapal-kapal yang datang dari Eropa terutama dari Amerika adalah Kluet, Tapaktuan, Meukek, Labuhan Haji, Susoh, Kuala Batu, Meulaboh, dan Daya. Susoh merupakan pusat perdagangan lada dunia internasional dan merupakan pusat galangan kapal-kapal niaga. Sebaliknya, Meulaboh dan Daya merupakan pusat pertambangan emas yang kaya dengan bijih logam mulia.

Tiap tahun sepanjang pantai Aceh Barat dan Aceh Selatan ramai lalu lalang kapal-kapal asing, terutama yang datang dari Amerika, untuk mengangkut lada ke seluruh dunia. Besarnya volume ekspor lada dari Aceh ke luar negeri, contohnya pada tahun 1818, lebih dari sepuluh milliun pin. Lima milliun di antaranya diangkut oleh kapal-kapal yang datang dari kota-kota pelabuhan Salem, Boston, New York, Marlblehead, Baltimore dan Philadelphia, dengan harga 4,7 sen dolar per pon.

Pada masa itu, ada tiga negara asing yang bersaing sengit untuk memperoleh monopoli, sekurang-kurangnya memperoleh kedudukan sebagai the most favored nation dalam bidang perdagangan lada. Bahkan ada di antaranya yang berkeinginan menguasai Aceh beserta segala kekayaan yang terkandung di dalam buminya. Mereka adalah Inggris, Belanda, dan Amerika. Dari ketiga negara ini, Inggris dan Belanda-lah yang tindak-tanduknya ternyata mempunyai ambisi teritorial, sedangkan Amerika merupakan negara yang mementingkan keuntungan belaka. Artinya, ingin mendapat keuntungan sebesar-besarnya, kalau perlu dengan cara menipu, tanpa menghiraukan nasib produsen atau petani.

Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya, dari bujuk rayu rongrongan negara imperialis, raja-raja Aceh selain mengandalkan angkutan lautnya yang cukup tangguh, juga tidak meremehkan cara-cara diplomasi. Sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dan sebagai salah satu anggota masyarakat bangsa-bangsa. Kerajaan Aceh berkewajiban membina hubungan baik antar negara di dunia. Selain itu sesuai pula dengan haknya, mengutus duta-duta ke luar negeri dan menerima duta-duta dari luar negeri, telah merentang titian muhibah dengan dunia internasional. Kegiatan ini dilakukan, baik dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian persahabatan maupun mengutus duta-duta luar biasa untuk menghadiri sesuatu upacara penobatan, pelantikan, atau peristiwa penting lainnya atau merundingkan sesuatu masalah politik.

Oleh karena Turki merupakan pusat pemerintahan Islam yang jadi pengayom dari kerajaan-kerajaan Islam yang lain, termasuk di dalamnya Kerajaan Aceh, maka pertama-tama Aceh menjalin dan mempererat hubungan dengan Turki. Eratnya hubungan antara kedua negara, oleh Marsden dijelaskan bahwa pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (1567), di dalam angkatan perang Kerajaan Aceh terdapat 400 orang berkebangsaan Turki dan 400 pucuk meriam dari berbagai kaliber yang didatangkan dari Turki.

Menurut H. Zainuddin, pengarang buku Tarich Atjeh dan Nusantara, hubungan antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Turki sudah dimulai sejak masa Sultan Alaiddin Riayat Syah al-Qahhar (1537-1571). Untuk mempererat hubungan antara kedua negara secara tegas, antara keduanya telah diikat suatu perjanjian persahabatan. Sebagai bukti atas terjalinnya persahabatan itu, Sultan Turki telah mengirim 40 orang perwira yang ahli dalam bidang artileri dan kavaleri ke Aceh, untuk membantu meningkatkan mutu barisan meriam dan barisan berkuda dalam ketentaraan Aceh.

Pada masa Sultan Mansur Syah (1579-1586) persahabatan antara kedua negara diperkuat lagi dengan pernyataan saling bantu membantu dan kirim mengirim utusan muhibah.

Kemudian pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah Sayyidil Mukammil, Sultan Mustafa Khan telah mengirim sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan menyampaikan suatu pernyataan bahwa kapal-kapal perang Aceh diberi izin mengibarkan bendera Turki di tiang benderanya.

Selanjutnya oleh Sultan-sultan Aceh berikutnya hubungan persahabatan antara kedua negeri lebih tingkatkan lagi. Pada masa Sultan Iskanadar Muda (1607-1636) telah dikirim ke Turki sebuah perutusan yang dipimpin oleh Panglima Nyak Dum, untuk lebih memperkokoh hubunan antara Aceh Dalam perjalanan pulang turut serta 12 orang perwira Turki yang ahli dalam berbagai bidang. Di samping itu Panglima Nyak Dum membawa pulang sebuah meriam yang diberi nama "Meriam Lada Sicupak", sebagai hadiah dari Sultan Turki kepada Sultan Iskandar Muda.

Kemudian pada tahun 1825, dalam perjalanan menghadiri upacara penobatan Napoleon III di Perancis, duta luar biasa Teungku Said Muhammad Abdul Kadir diperintahkan oleh Sultan untuk mengunjungi Sultan Turki di Istanbul guna meningkatkan hubungan antara kedua negara. Di Turki beliau mendapat sambutan hangat, dan kepada beliau Sultan menganugerahkan bintang Turki dan lambang kebesaran Majidiah, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya mempererat hubungan persahabatan antara kedua negara dan bangsa.

Seterusnya pada tahun 1873, tatkala terlihat gejala bahwa ancaman Belanda terhadap Aceh makin hari makin mendekat, Sultan Aceh mengutus Mangkubumi Sayid Abdurrahman al-Zahir ke Turki untuk meminta bantuan dalam usaha menghadapi ancaman Belanda itu. Kedatangan Sayid Abdurrahman al-Zahir di Istanbul sebenarnya mendapat sambutan yang meriah dari mereka yang tergabung dalam golongan Turki Muda. Akan tetapi, karena Turki pada waktu itu merupakan The Sick Man of Europe atau orang sakit dari Eropa, jangankan memberi bantuan kepada orang lain, mempertahankan keutuhan wilayahnya sendiri hampir tidak berdaya.

Kemudian ~ dengan tujuan untuk memperlunak tekanan Belanda yang terus-menerus tanpa menghiraukan perjanjian Inggris-Aceh tahun 1819 yang pernah dibuat ~ pada tahun 1857, Sultan yang semula bersikap keras terhadap Belanda bersedia mundur selangkah menerima tawaran mengikat perjanjian perdamaian dan persahabatan. Meskipun sebenarnya Sultan mengetahui bahwa perjanjian yang diinginkan itu merupakan langkah politik Belanda agar mendapat tempat berpijak dalam rangka mengembangkan pengaruhnya di Kerajaan Aceh.

Dalam menghadapi perdaturan politik yang dimainkan oleh Inggris dan Belanda, Sultan Aceh merasa perlu untuk menjalin hubungan baik dengan Perancis. Pada tahun 1825, Sultan mengirim suatu perutusan yang dipimpin oleh duta besar luar biasa Teungku Said Muhammad Abdul Kadir ke Perancis untuk menghadiri upacara penobatan Napoleon III sebagai Kaisar Perancis, yang berlangsung pada tanggal 2 Desember 1852. Dalam kesempatan sebelumnya, setelah menyerahkan surat-surat kepercayaannya, duta Abdul Kadir mempersembahkan kepada Kaisar Perancis hadiah-hadiah yang bertatahkan permata ratna mutu manikam dari Sultan Aceh. Sebaliknya, Kaisar Perancis telah menganugerahkan kepada Duta Abdul Kadir sebilah pedang yang bertatahkan permata yang indah, sebagai lambang persahabatan di antara kedua negara.

Berkaitan dengan ancaman Belanda terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Aceh ~ yang dimanifestasikan oleh kesibukan Belanda mempersiapkan pasukan-pasukan untuk menyerang Aceh ~ Kerajaan Aceh sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, yang berhak menjalin hubungan persahabatan dengan negara mana saja di atas bumi ini telah mengadakan hubungan dengan Studer, Konsul Amerika di Singapura. Maksudnya, mengikat suatu perjanjian persahabatan (Treaty of Friendship) dengan Amerika serta meminta bantuan untuk menghadapi serangan Belanda. Untuk itu, disusun sebuah perjanjian persahabatan antara kedua negara. Akan tetapi, karena didahului permakluman perang oleh Belanda terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873, rancangan perjanjian tersebut tidak sempat ditandatangani untuk menjadi sebuah perjanjian. Menurut berita (yang saya dengar) dari James Warren Gould di Hollywood pada tahun 1960, rancangan perjanjian itu kini masih utuh tersimpan di dalam arsip Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, sebagai lampiran dari Laporan No. 107, October 4th, 1873, Singapore Vol. II di Washington D. C.

Selain menjalin hubungan persahabatan dan membina perdamaian dengan mancanegara atau dunia internasional, seperti yang tersimpul dalam rangkaian kata sempena yang melekat (inberent) pada kata Aceh Darussalam, Kerajaan Aceh pun tidak mengabaikan langkah-langkah diplomatik untuk memperkukuh persahabatan dengan sesama kerajaan di Kepulauan Nusantara, baik untuk tujuan perdamaian maupun untuk menggalang persatuan guna menghadapi musuh yang ingin menjajah bangsa-bangsa di kepulauan ini. Antara lain, Kerajaan Aceh mengadakan hubungan persahabatan (bahkan lebih jauh telah membentuk persekutuan) dengan Kerajaan Jepara di Pulau Jawa.

Jepara terletak di Pantai Utara Jawa Tengah. Pada permulaan abad ke-16, Jepara merupakan suatu kota pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu gerbang komunikasi kerajaan Islam pertama di Jawa yang berpusat di Demak. Selain sebagai pusat perdagangan terbesar, juga sebagai pangkalan armada yang kemudian digunakan oleh Adipati Unus, putera Raden Fatah untuk menyerang kekuasaan Portugis di Selat Malaka. Jadi, Jepara merupakan daerah yang paling penting bagi Kerajaan Islam Demak pada waktu itu, apalagi karena merupakan basis angkatan laut Kerajaan Demak yang cukup tangguh.

Jepara pada waktu itu diperintah oleh seorang ratu yang terkenal cantik bernama Ratu Kalinyamat. Suaminya bernama Pangeran Hadiri, seorang ulama yang berasal dari Aceh, yang semula bernama Teungku Thayib. Setelah berada di Jawa, ia mendapat panggilan Raden Thoyib dan setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, beliau dianugerahi gelar Pangeran Hadiri.

Teungku Thayib bertolak dari Aceh untuk mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu pengetahuan. Negeri yang pertama dituju adalah Tiongkok. Pada waktu Teungku Thayib berada di Tiongkok, berkat jasa-jasanya, Kaisar Tiongkok berkenan mengakui beliau sebagai anak angkatnya dan diberi kedudukan yang cukup tinggi. Berhubung bukan hal semacam itu yang dicari, maka TTeungku Thayib meneruskan pengembaraannya itu hingga sampailah beliau ke suatu negeri yang disebut Jepara. Di Jepara beliau menghadap dan menyatakan sekiranya Ratu berkenan memberikan kesempatan, beliau akan mengabdi untuk menegakkan kalimah Allah dan turut serta dalam usaha memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Jepara.

Ratu dengan senang hati menerima permohonan Raden Thoyib, Kemudian, berkeat kelebihan yang terlihat oleh Ratu Kalinyamat, yaitu dari pembawaannya yang lemah lembut penuh kasih sayang, budi pekertinya yang tinggi sebagai cerminan dari sikap seorang ulama yang saleh, dan sikapnya yang bijaksana dalam menghadapi segala lapisan masyarakat sebagai manifestasi dan kepeminpinan yang mengayom, maka wanita agung itu tertarik kepadanya. Beliau berkenan meminta Raden Thoyib menjadi suaminya. Tawaran ini ditolak sehingga dianugerahkanlah kepadanya gelar Raden Hadiri. Akhirnya, Pangeran Hadiri yang berasal dari Aceh menajdi mitra Ratu Kalinyamat dalam mengayuh bahtera Kerajaan Jepara.

Cinta kasih Ratu kepada Hadiri benar-benar tak terpisahkan. Semasa hidup mereka selalu berduaan, bahkan makam mereka pun berdampingan, terletak di belakang Mesjid Mantingan. Makam tersebut dibangun sendiri oleh Pangeran Hadiri, tujuh kilometer dari Kota Jepara. Sekarang, tiap hari Senin dan Kamis Pon banyak pengunjung datang berziarah ke makam kedua tokoh Kerajaan Jepara itu.

Kerajaan Aceh menilai posisi Jepara cukup kuat sebagai sebuah Kerajaan Islam di Jawa, dan mempunyai kedudukan yang strategis serta armada yang cukup tangguh. Untuk itu, Kerajaan Aceh berkeinginan menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan tersebut, bahkan ingin mengajak Jepara membentuk suatu persekutuan militer guna menghadapi musuh bersama, yaitu Portugis di Perairan Selat Malaka.

Pada tahun 1568, sebuah perutusan kerajaan yang terdiri dari beberapa duta besar dikirim oleh Sultan Aceh untuk menemui Ratu Jepara. Akan tetapi, ketika kapal perang Aceh berada di Perairan Selat Malaka telah dicegat oleh armada Portugis yang berjumlah besar. Perutusan Kerajaan Aceh dapat ditawan dan semua yang berada di atas kapal dibunuh, Berarti gagallah misi muhibah Aceh yang pertama ke Jepara.

Akhirnya pada tahun 1573 Aceh dan Jepara berhasil membentuk suatu persekutuan militer untuk menghadapi Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka dan seterusnya berkeinginan besar menguasai Kepulauan Nusantara. Sejak itulah kedua kerajaan Islam, Aceh dan Jepara bahu-membahu melawan Portugis di Selat Malaka.

Demikian gambaran singkat mengenai langkah-langkah diplomatik Kerajaan Aceh pada masa silam dalam percaturan politik mancanegara. Langkah-langkah ini telah menghasilkan dua buah perjanjian persahabatan dengan negara-negara Barat, yaitu dengan Inggris pada tahun 1819 dan dengan Belanda pada tahun 1857. Selain itu, sebuah rancangan perjanjian persahabatan dengan Amerika pada tahun 1873, karena didahului oleh serangan Belanda terhadap Aceh, tidak semapat menjadi suatu perjanjian resmi yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Akhirnya, kita hanya dapat mengenangkan apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang kita pada masa silam untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Aceh, baik dalam perjuangan bersenjata maupun dalam perjuangan diplomasi. []


Keterangan:
Sumber tulisan dapat dilihat di H. M. Nur El Ibrahimy, Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana, 1993, halaman 1-11.

29 May 2016

Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Aceh Hingga Abad 20

Meusigit Raja, sumber foto: media KITLV.
Pada awal abad 16, kerajaan-kerajaan lokal di Aceh berhasil dipersatukan ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Sejak itu status kerajaan-kerajaan tersebut dijadikan Nanggroe (daerah uleebalang) yang diperintah oleh seorang Uleebalang (umumnya berasal dari keturunan raja-raja lokal itu sendiri) dan tunduk kepada pemerintah pusat di Bandar Aceh Darussalam. 

Seperti telah disebutkan dalam bagian pendahuluan di atas, Kerajaan Aceh Darussalam mulai mencapai kemajuan dikendalikan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kemajuan itu tidak saja terlihat dalam bidang pertahanan dan keamanan negara, hubungan dengan luar negeri dan kemakmuran rakyat, tetapi juga yang tidak kurang pentingnya adalah dalam bidang pendidikan.

Kemajuan pendidikan pada waktu itu ditandai oleh banyaknya ulama yang berkumpul terutama di ibukota kerajaan dan usaha pembangunan lembaga-lembaga pendidikan di seluruh wilayah kerajaan. Di samping dilakukan pembinaan lembaga-lembaga pendidikan lama di daerah bekas kerajaan-kerajaan lokal dulu juga didirikan sejumlah besar lembaga pendidikan baru, sedang di ibukota Bandar Aceh Darussalam, untuk lebih memberikan kesan sebagai kota pusat pengembangan ilmu pengetahuan didirikanlah Mesjid Baitul Musyahada dan Baiturrahman dengan Jami'ah Baiturrahman. Jami'ah ini dapat dinamakan dengan sebuah institut pada masa sekarang, sebagai pusat studi berbagai cabang ilmu pengetahuan; dan diperkirakan setidak-tidaknya ada enam belas lembaga di sana, yaitu:
  1. Daarul Ahkam (hukum)
  2. Daarul Kalam (teologi)
  3. Daarun Nahwi (bahasa Arab)
  4. Daarul Madzahib (perbandingan mazhab)
  5. Daarul Falsafah (filsafat)
  6. Daarul Aqli (logika)
  7. Daarul Hisab (ilmu falak)
  8. Daarut Tarikh (sejarah)
  9. Daarul Harb (ilmu peperangan)
  10. Daarut Thib (tabib)
  11. Daarul Kimya (kimia)
  12. Daarus Siyasah (politik))
  13. Daarul Wazarah (pemerintahan)
  14. Daarul Khazanah Baitul Maal (keuangan negara)
  15. Daaruz Zira'ah (pertanian)
  16. Daarul Ardhi (pertambangan)
Mengenai kemajuan pendidikan khusus di ibukota Bandar Aceh Darussalam pada waktu itu, kiranya laporan perjalanan Augustin de Bealieu dapat memberikan sekadar gambaran. Bealieu mengatakan bahwa di sana seni kerajinan yang berhubungan dengan pertukangan sangat dihargai. Di kota tersebut banyak terdapat tukang besi yang pandai membuat bermacam-macam alat dari besi, tukang kayu yang ahli membuat kapal dan perahu dari kayu dan tukang penuang tembaga yang mahir. Kapal-kapal galley orang Aceh amat bagus, penuh dengan ukiran-ukiran, berbadan tinggi dan lebar. Layar-layar pada kapal itu berbentuk segi empat sama dengan layar-layar pada kapal milik Perancis. Papan-papan pada sisi kapal tebalnya enam jari jempol, karenanya sebuah kapal milik Kerajaan Aceh tidak kalah dengan sepuluh kapal galley miliki orang Portugis. Kiranya keahlian semacam ini tidak mungkin ada tanpa melalui lembaga pendidikan dan agaknya lembaga tersebut tidak mustahil juga berpusat di Jami'ah Baiturrahman, mengingat sejumlah lembaga yang telah disebutkan di atas.
Selain itu, pembangunan dayah - yang diperkirakan di setiap gampong memiliki dayah - tidak hanya terjadi pada masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, tetapi juga pada masa-masa kemundurannya (akhir abad ke 18 dan ke 19). Sejumlah dayah yang diperkirakan didirikan dan berkembang selama abad ini antara lain adalah Dayah Teungku Chik Tanoh Abee, Dayah Teungku Chik Kuta Karang (Dayah Ulee Susu), Dayah Lam Birah, Dayah Lam Nyong, Dayah Lam Bhuk, Dayah Krueng Kalee, Dayah Lam Krak, Dayah Lam Pucok, dan Dayah Lam U Aceh Besar. Kemudian Dayah Rumpet di Kuala Daya pantai barat, Dayah Teungku Chik Di Tiro, Dayang Teungku Chik Pante Geulima di Aceh Pidie, Dayah Meunasah Blang (Samalanga) dan beberapa dayah di sekitar kuta pertahanan Batee Iliek yang memegang peranan penting selama perang Belanda di sana, seperti Dayah Cot Meurak, Dayah Pulo Baroh dan lain-lain (Aceh Utara).

Di antara dayah-dayah yang disebutkan di atas, ada sebuah dayah yang terletak di Seulimuem (Aceh Besar) yang memiliki khazanah yang lengkap dengan buku-buku bernilai tinggi, yaitu Dayah Teungku Chik Tanoh Abee. Buku-buku atau kitab-kitab yang dimiliki di sana adalah hasil karangan ulama-ulama terkenal pada masa lampau, ada yang berumur lebih 400 tahun dan dapat dilihat di perpustakaan dayah tersebut. Dayah ini diperkirakan berdiri pada awal abad ke 19 oleh seorang ulama yang datang dari Baghdad, yaitu Syekh Idrus Bayan atas permintaan Sultan Muhammad Syah (1824-1836). Setelah Syekh Idrus Bayan yang dikenal juga dengan Teungku Chik Tanoh Abee memimpin, selanjutnya ada Syekh Abdul Hafidh, Syekh Abdur Rahim, Syekh Muhammad Salih, Syekh Abdul Wahab yang juga digelar Teungku Chik Tanoh Abee pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1870-1874) dan Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903).

Selama perang kolonial Belanda, dayah memegang peranan penting dalam pengerahan tenaga juang ke medan pertempuran maupun dalam menumbuhkan semangat juang rakyat secara massal, terutama melalui pembacaan Hikayat Prang Sabi di dayah-dayah, rangkang, meunasah dan mesjid. Dan bahkan ada dayah seperti dayah di sekitar Batee Iliek yang langsung menjadi kuta pertahanan. Karena itu tidak mengherankan apabila selama akhir abad ke 19 banyak dayah yang terbengkalai atau langsung diserang oleh tentara Belanda karena dianggap sebagai basis konsentrasi kekuatan pejuang rakyat.

Barulah setelah perang rakyat semesta terhenti (lebih kurang tahun 1904; perlawanan secara bergerilya terus berlangsung sampai Belanda meninggalkan Indonesia) para ulama berusaha membangun kembali dayah-dayah dan rangkang yang selama ini ditinggalkan. Dan agaknya sejak waktu itu untuk istilah dayah atau rangkang kadang-kadang dipergunakan juga istilah pesantren. Bahkan di Aceh Barat dan Selatan istilah ini lebih populer dibandingkan dengan dayah dan rangkang.

Pada permulaan pendudukan militer Jepang tahun 1942, di Aceh Selatan didirikakan sebuah pesantren yang sampai sekarang terkenal di seluruh Aceh, yaitu Pesantren Darussalam Labuhan Haji. Berbeda dengan pesantren lain, pesantren ini pada waktu itu menganut dua jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan tradisional seperti dayah dan jalur pendidikan madrasah (sekolah). Sedangkan jenjang pendidikan yang dipergunakan ada tiga tingkatan, yaitu tingkat subiah (pendahuluan selama 3 tahun), ibtidaiyah (dasar selama 7 tahun), dan bustanul muhaqqiqin (tingkat lanjut selama 3 tahun). Tetapi sejak tahun 1968, jenjang tersebut mengalami perubahan, yaitu ibtidaiyah (selama 4 tahun), tsanawiyah (selama 3 tahun), 'aliyah (selama 3 tahun), dan bustanul muhaqqiqin (selama 3 tahun).

Setelah Indonesia merdeka, lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional di Aceh, seperti juga di daerah-daerah lain, tampaknya dapat hidup dan berkembang terus berdampingan dengan lembaga-lembaga pendidikan modern, seperti madrasah, sekolah dan sebagainya yang didirikan oleh pemerintah dan badan swasta lainnya. Kenyataan bahwa dayah atau pesantren dapat hidup dan berkembang di alam kemerdekaan ini, terutama disebabkan oleh kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dengan terus memberi bantuan dalam pengembangan baik pembangunan maupun bantuan lain kepada lembaga-lembaga pendidikan tradisional ini.


Sumber tulisan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 16-23.

28 May 2016

Pengaruh Islam Terhadap Lembaga Pendidikan di Aceh

Meusigit Raja, sumber foto: media KITLV.

Kehadiran pendidikan Islam di Aceh sama tuanya dengan kehadiran Islam itu sendiri. Sebab antara pendidikan Islam dengan proses islamisasi, sebagaimana juga setiap penyiaran agama lainnya merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi kapan agama Islam mulai bertapak di Aceh merupakan suatu masalah yang masih sukar dipecahkan. Sebagian sarjana Barat (Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, 1980) berpendapat bahwa penyiaran agama Islam di sana baru dimulai sekitar abad ke-13 Masehi, namun teori ini tampaknya tidak dapat dipertahankan lebih lama. Pada saat ini umumnya orang cenderung berpendapat bahwa proses islamisasi telah dimulai di Aceh sejak abad pertama Hijriah atau akhir abad ketujuh Masehi, namun hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pada awal penyiaran Islam itu kegiatan pendidikan dilakukan dengan sistem dakwah. Dan tampaknya hikayat Aceh yang sangat digemari oleh masyarakat di sana sejak sebelum Islam datang merupakan media pendidikan yang penting di samping media-media lainnya. Melalui hikayat dimasukkan unsur-unsur ajaran Islam yang digambarkan sebagai lebih unggul bila dibandingkan dengan dasar-dasar kepercayaan Hindu-Budha. Hal ini tampak seperti dalam hikayat Malem Diwa, Hikayat Kancamara, Hikayat Nanggroe Meusee dan masih banyak lagi (UU. Hamidy, 1975/1976:4-14).

Kemudian dalam waktu yang singkat terbentuk pula keluarga-keluarga Islam terutama di gampong-gampong sekitar kota pelabuhan. Orang-orang tua yang telah menganut agama Islam itu tentu tidak mengabaikan pendidikan Islam kepada keluarganya. Mereka mulai mengajarkan dasar-dasar akidah, ibadah, dan muamalah Islam kepada anak-anaknya di rumah mereka masing-masing. Dalam pada itu jumlah keluarga Islam semakin banyak juga, sementara keluarga yang telah lebih dulu Islam, ilmunya di bidang keislaman semakin luas dan mendalam. Karena itu tidak mustahil apabila keluarga yang baru masuk Islam, setidak-tidaknya anak mereka, dan orang-orang yang berminat kepada Islam mulai berdatangan ke rumah-rumah keluarga tersebut untuk belajar agama Islam. Sejak waktu itu muncul pengajian-pengajian formal di rumah-rumah yang dianggap alim oleh penduduk setempat, sehingga dapat disebutkan bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan formal Islam tingkar dasar yang pertama lahir di Aceh. Agaknya istilah Teungku Dirumoh mulai dikenal sejak waktu itu, meskipun demikian pengertiannya dibatasi hanya kepada seorang wanita alim, umumnya isteri Teungku Meunasah atau isteri Khatib Mesjid, yang mengadakan pengajian-pengajian di rumahnya khusus bagi anak-anak wanita.

Selanjutnya, apabila keluarga-keluarga Islam telah tersebar luas di gampong-gampong, terbentuk pula masyarakat gampong Islam yang pada gilirannya menggantikan masyarakat gampong Hindu-Budha. Beriringan dengan lahirnya masyarakat gampong Islam itu didirikan pula lembaga gampong yang dikenal dengan nama meunasah atau mungkin saja lembaga yang seruoa meunasah sudah dikenal oleh masyarakat Aceh jauh sebelumnya, namun nama aslinya sampai sekarang belum diketahui. Meunasah berasal dari kata bahasa Arab yaitu madrasah, kadang-kadang disebut juga meulasah, beunasah, beulasah (di daerah pemukiman kelompok etnis Aceh), manasah atau balai di daerah pemukiman kelompok etnis Gayo, Alas, dan Kluet (M. Isa Sulaiman dan Zakaria Ahmad, 1980). Di samping berfungsi sebagai balai musyawarah gampong dan tempat sembahyang berjamaah, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan, khususnya bagi anak laki-laki dan para pemuda di gampong tersebut (mengenai pengetahuan yang diajarkan dan Teungku Meunasa yang juga berfungsi sebagai guru di meunasah).

Di samping itu, khusus untuk tempat sembahyang berjamaah dan tempat belajar para wanita, terutama yang telah dewasa, dibangun pula lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama dayah, yaitu lembaga pendidikan yang juga memberi pelajaran tingkat dasar ini lebih dikenal di daerah pesisir barat dan selatan Aceh, sedang di pesisir utara dan timur agaknya kurang dijumpai (mungkin masyarakat di daerah yang disebutkan terakhir lebih dikenal dayah sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Islam). Dengan demikian pada awal terbentuknya masyarakat Islam di Aceh sudah dikenal tiga jenis lembaga pendidikan dasar, yaitu rumoh, meunasah, dan dayah.

Selanjutnya gampong-gampong yang telah membentuk masyarakat Islam, jumlahnya semakin bertambah. Maka, tiga atau lebih masyarakat gampong yang berdekatan mulai pula merencanakan untuk mendirikan sebuah mesjid sebagai tempat shalat Jumat, salah satu shalat wajib khusus bagi laki-laki yang menurut ketentuan hukum Islam merupakan shalat (sembahyang yang wajib hukumnya). Mesjid tidak saja sebagai tempat shalat tetapi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam. Di sekeliling mapus mesjid, arah samping dan belakang didirikan bangunan-bangunan kecil yang dikenal dengan nama rangkang tempat tinggal para pemuda yang sedang belajar di mesjid tersebut (pada waktu sekarang keadaan yang serupa ini hampir tidak dijumpai lagi). Kajian mereka di sini umumnya telah meningkat kepada berbagai masalah hukum Islam (fiqh) secara lebih luas dan mendalam, sehingga dapat pula disebutkan bahwa rangkang merupakan lembaga pendidikan Islam tingkat menengah yang pernah lahir di Aceh.

Selain itu perlu juga dikemukakan bahwa kesatuan gampong yang berada dalam lingkungan sebuah mesjid, agaknya merupakan awal dari pembentukan lembaga pemerintahan mukim di Aceh. Kepala pemerintahan mukim disebut Imum Mukim, dan kemudian setelah Islam menggantikan Hindu-Budha sebagai kedudukan politik di Aceh, lembaga pemerintahan mukim itu menjadi bagian dari struktur pemerintah kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bermunculan di sana.

Kapan kerajaan-kerajaan Islam yang bersifat lokal itu didirikan di Aceh, merupakan masalah yang sampai sekarang belum terpexahkan. Namun para ahli umumnya sependapat bahwa sampai akhir abad ke-15 di sana telah berdiri beberapa kerajaan Islam yang besar peranannya, terutama dalam pembentukan kebudayaan Islam di daerah tersebut. Adapun kerajaan-kerajaan itu antara lain adalah Kerajaan Peureulak, Tamiang, Samudera Pasai, Lingga, Kerajaan Pidie, Lamuri, dan Daya (Zakaria Ahmad, 28-39). Sejalan dengan perkembangan kerajaan-kerajaan tersebut berkembang pula lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada dalam wilayahnya. Tampaknya raja-raja yang memerintah di sana turut berperan dalam membangun lembaga-lembaga pendidikan di daerah kekuasaannya. Selain meunasah, mesjid dan rangkang, juga mulai didirikan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikenal dengan nama dayah atau dayah Teungku Chik (dayah yang dipimpin oleh seorang ulama besar). Berapa jumlah lembaga pendidikan dalam wilayah kerajaan itu masing-masing tidak diketemukan data-data yang meyakinkan. Beberapa dayah yang agaknya didirikan pada waktu antara lain ialah Dayah Cot Kala di Kerajaan Peureulak yang pada mula didirikan dipimpin oleh Teungku Chik Muhammad Amin, Dayah Seuruleu dari Kerajaan Lingga di bawah pimpinan Syekh Sirajuddin, Dayah Blang Peuria dari Kerajaan Samudera Pasai di bawah Teungku Chik Blang Peuria (Teungku Yakob), Dayah Batu Karang di Kerajaan Tamiang yang dipimpin oleh Teungku Ampon Tuan dan Dayah Lam Keuneu'eun dari Kerajaan Lamuri di bawah pimpinan Teungku Syekh Abdullah Kan'an (Ali Hasjmy, 1975:8-9).

Dayah Cot Kala dapat dianggap sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang tertua di Aceh, bahkan juga di Asia Tenggara. Menurut kesimpulan, berdasarkan lembaran-lembaran lepas dari naskah tua Izdharul Haq fi Mamlakatil Peureulak karangan Syekh Ishak Makarani al-Pasi dan naskah Tazjirat Thabakat Jam'u Salatin, Kerajaan Islam Peureulak didirikan pada tahun 225 H atau sekitar 840 M dengan rajanya yang pertama Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. Jika mengikuti sumber Izdharul Haq fi Mamlakatil Peureulak, Teungku Chik Muhammad Amin yang telah disebutkan sebagai pemimpin Dayah Cot Kala adalah raja keenam Kerajaan Peureulak (922-946) yang setelah dinobatkan bergelar dengan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah JJohan Berdaulat. Ini berarti kalau sekiranya sumber tersebut benar, Dayah Cot Kala telah didirikan setidak-tidaknya sejak awal abad 10 M (Teungku Chik Muhammad Amin memimpin Dayah Cot Kala sebelum dinobatkan sebagai raja).

Selain itu data-data mengenai perkembangan pendidikan Islam di Samudera Pasai tampaknya lebih meyakinkan bila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lokal lainnya. Rupa-rupanya pada waktu kerajaan ini mencapai puncak kejayaan selama abad ke-14 M, pendidikan juga menduduki tempatnya tersendiri. Hal ini dapat diketahui antara lain dari keterangan Tome Pires (1944:143) yang menyatakan bahwa di Samudera Pasai banyak terdapat kota-kota besar di mana di antara warga kota itu terdapat pula orang-orang yang berpendidikan. Pasai sekitar abad 14 menurut Ibnu Batutah sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara dan di sini banyak berkumpul ulama-ulama dari negeri-negeri Islam. Sebelum Malaka berkembang, Ibnu Batutah mengatakan juga bahwa Sultan Malik Zahir (1297-1326) adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari Jumat, Sultan bersembahyang di mesjid dan menggunakan pakaian ulama dan setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para ahli pengetahuan agama (T. Iskandar, 1972:2). Ulama-ulama terkenal pada waktu itu antara lain adalah Amir Abdullah dari Delhi, Kadhi Amir Said dari Shiraz, Tajuddin dari Isfahan, Teungku Cot Mamplam dan Teungku Cot Geureudong. Dapat disimpulkan bahwa meunasah, mesjid, rangkang, dan dayah sebagai lembaga pendidikan Islam di Samudera Pasai pada waktu itu telah memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat di sana, sama halnya juga di kemudian hari pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.


Catatan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 11-16.

Kohler dan Celaka Tiga Belas

Kohler, sumber foto: media KITLV.
Entah siapa yang memulai, tapi sejak Kapal Citadel van Antwerpen melepaskan tembakan meriam yang paling mengerikan ke garis pertahanan pantai, peperangan pertama sedang berlangsung. Balasan serupa ternyata muncul dari lubang benteng pertahanan Pantai Cermin yang seolah-olah sudah siap menerima tawaran perang dari Kerajaan Belanda. Namun tembakan-tembakan yang dilepaskan oleh musuh itu luput dan hanya menciptakan gelombang kecil saja di laut lepas. Barangkali mereka belum mahir menembakkan peluru meriam, pikirku. Tidak lama berselang, tembakan meriam lain pun dilepaskan dari Kapal Siak dan Bronbeek sehingga muncul asap hitam.

Udara pagi itu cerah. Laut hanya berombak kecil. Angin seakan-akan berhenti. Seekor burung yang aku tidak tahu namanya tampak bersembunyi di balik nyiur sambil sesekali membenamkan kepalanya agar tidak terkena tembakan salah alamat. Kemudian seekor lembu yang tadi asyik mengunyah rumput liar di samping benteng, mendongakkan kepalanya dan segera berlari sambil terus memamah. Sementara peluru-peluru terus berdesing, belasan sekoci dan dua stoombarkas (kapal uap) yang mengangkut para perwira menengah dan prajurit dengan gegeas menuju bibir pantai. Aku berada dalam salah satu stoombarkas itu, mendekap lututku sambil menatap daratan. Di sekoci paling depan, tampak berdiri gagah seorang perwira tinggi berpangkat mayor jenderal yang telah memerintahkan prajuritnya untuk segera merapat.

"Werker! Segera merapat ke Pantai Cermin!" perintahnya.

"Baik, Tuan Kohler."

Sekoci pun segera menuju Pantai Cermin. Diikuti oleh sekoci-sekoci lain. Pantai Cermin hanya berjarak beberapa ratus meter lagi, dan tiba-tiba runtunan peluru muncul dari balik benteng. Aku terkesiap dan hampir saja melompati dinding kapal jika tidak segera disadarkan oleh seorang kopral yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arahku.

"Berpencar!" perintah Kohler pada sekoci lain. "Lepaskan tembakan! Serang!"

Sekoci yang mengangkut alat perang memuntahkan tembakan ke arah benteng. Prajurit-prajurit lain membidik mereka untuk mencari sesosok tubuh yang merayap dan bersembunyi di antara dinding-dinding benteng. Aku hanya membidik saja, tidak melepaskan tembakan karena aku tidak melihat seorang pun di sana. Setetes keringat melewati bibirku yang tertutup rapat, kuseka dengan ujung lidah sehingga aku merasakan sesuatu yang asin.

Melihat serang tiba-tiba dari balik benteng, Kapal Siak dan Broonbeek kembali membombardir Pantai Cermin. Bantuan meriam juga datang dari Kapal Djambi dan Coehoorn. Ledakan-ledakan besar terdengar. Beberapa tubuh terlempar.

"Yaaaaa, bagus! Mampus kau!" teriak Kohler. "Cepat! Serang lagi! Binkes, bawa beberapa pasukan ke arah timur."

"Siap, Tuan!" Kolonel Binkes menunjuk beberapa prajurit untuk ikut bersamanya. Ketika pasukan yang dibawa oleh Binkes mencoba menerobos Pantai Cermin, mereka dihadang oleh puluhan musuh dengan menggunakan kelewang.

"Kurang ajar! Ayo, prajurit! Tumpas mereka semua!" ujar Binkes memberi semangat prajuritnya yang sudah kewalahan.

"Mereka terlalu dekat, Tuan. Dengan apa kita menyerang mereka?" tanya seorang prajuritnya yang tampak gamang. Itu adalah kopral yang berada di sampingku tadi. Aku lupa menanyakan namanya.

"Setan! Apa kau pikir Kerajaan Belanda tidak mempersanjataimu dengan bayonet? Gunakan bayonetmu itu, tolol!" bentak Binkes.

Beberapa prajurit Binkes bersimbah darah. Bayonet tidak mampu menahan tebasan-tebasan kelewang, sehingga Kohler yang kalap melepaskan tembakan beruntun tanpa membidiknya dengan benar. Peperangan ini telah menyebabkannya tertekan. Ia tentu tidak ingin malu dan dianggap gagal di hadapan Gubernur Jenderal. Harga diri dan catatn reputasinya yang gemilang sedang dipertaruhkan. Ia bukan sembarang prajurit, karena kegigihan dan keberaniannya dalam peperangan silam, ia langsung mendapat kenaikan pangkat begitu ditugaskan untuk memimpin ekspedisi ini.

Satu per satu para musuh tewas. Begitu juga para prajurit, salah satunya si kopral yang gamang. Kematiannya sungguh mengerikan. Sisa-sisa sabetan kelewang membuat bagian dalam tubuhnya terburai. Tiba-tiba musuh menyadari jumlah mereka semakin berkurang, lalu memundurkan langkahnya meninggalkan benteng. Pasukan Kohler tidak mengejarnya, dan kami menganggapnya sebagai sebuah kemenangan. Teriakan-teriakan prajurit membahana. Tapi pesta kemenangan tidak berlangsung lama, gerombolan musuh muncul kembali. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.

"Setan! Ternyata mereka belum mau mengalah. Serang lagi!" seru Kohler dengan semangat yang menggebu.

Peperangan pun dilanjutkan kembali. Aku membidik musuh-musuh yang terus maju dengan tebasan kelewang mereka. Seorang musuh berhasil kutembak. Ia tersungkur. Namun, bangkit kembali sambil memegang dadanya dan berteriak, "Allahu akbar!" Peluru kedua benar-benar membenamkannya ke bumi.

Bayonet dan kelewang saling beradu, pertarungan jarak dekat kembali terjadi dan tidak bisa dielakkan. Aku mengundurkan beberapa langkah kakiku untuk mencari tempat perlindungan. Aku ingin menghindari pertempuran jarak dekat, jadi kujauhi pejuang-pejuang nekat itu dan menyembunyikan diriku dari pandangan Kohler atau Binkes yang kapan saja siap untuk memerintahku maju ke garis depan pertempuran. Di antara gundukan pasir, kepalaku menyembul dan aku membidik mengikuti gerakan musuh. Lalu aku menembak. Kali ini luput. Kubidik lagi, luput lagi. Aku tidak tahu penyebabnya. Yang kurasakan adalah getaran bertubi-tubi pada tanganku. Sementara itu musuh kian menggila. Berteriak-teriak dengan kalimat yang sama seolah-olah kalimat itu serupa mantra yang membuat mereka kebal.

Tapi prajurit kami terlalu tangguh bagi musuh-musuh itu. Tangguh karena jumlah kami lima kali lipat bahkan lebih. Dan bisa dipastikan, kemenangan berada di pihak kami. Sementara ini, dapatlah kita katakan perang telah berhenti sejenak.

"Binkes! Berapa jumlah prajurit kita yang tewas?" tanya Kohler pada sang kolonel.

"Lapor, Tuan! Sebanyak sembila prajurit kita tewas dan empat puluh enam lainnya luka-luka."

"Gila! Baru kali ini aku mendapat perlawanan sengit. Padahal jumlah pasukan kita lebih banyak dari mereka. Di Belgia saja aku tidak menjumpai peperangan serupa ini," ujar Kohler. Kemudian ia memerintahkan agar merawat prajurit-prajurit yang terluka. "Binkes, buat laporan kepada Gubernur Jenderal bahwa kita berhasil menguasai Benteng Pantai Cermin. Kau tulis musuh yang tewas sebanyak seratus orang, dan prajurit kita yang tewas hanya dua orang."

"Baik, Tuan!"

Kemudian Kohler dan Binkes memeriksa keadaan benteng yang telah kami taklukkan itu. Benteng ini sudah tampak tua. Tidak seperti perkiraan kami yang menganggap bahwa benteng ini adalah salah satu garis pertahanan terkuat yang dimiliki oleh musuh. Ternyata salah. Kami hanya mendapati tiga meriam tua, sebuah meriam perunggu, meriam tanpa penahan di atas tembok, dan sebuah meriam lagi yang hampir tenggelam oleh pasir. Aku melihat Kohler dengan wajah cemberut dan sesekali mengutuk keadaan benteng tua itu.

"Dasar mata-mata tak berpengalaman!" ujar Kohler.

"Benar, Tuan!" tegas Binkes. "Dan bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?"

"Kumpulkan beberap perwira, kita adakan rapat strategi. Dan perintahkan beberapa prajurit untuk bersiaga."

"Siap, Tuan!"

Kohler kembali memeriksa benteng tua itu. Beberapa prajurit yang berpapasan dengannya langsung mengalihkan langkah mereka menuju ke tempat lain. Dan tiba-tiba Kohler berteriak, "Sial! Celaka tiga belas!"

"Ada apa, Tuan?" tanya Werker terburu-buru yang kebetulan berada di samping Kohler.

Kohler menunjukkan sepatunya yang telah menginjak kotoran lembu setengah lembab. Werker tersenyum geli. Melihat kejadian konyol itu, aku pun ikut tersenyum.

"Apa kau pikir ini lelucon?"

"Tidak, Tuan!"

"Apanya yang tidak! Cepat kau cari lembu yang telah seenaknya membuang kotoran di sini! Dan jangan kembali sebelum kau temukan itu lembu."

"Siap, Tuan!"

Setelah Werker berlalu, Binkes muncul bersama beberapa perwiranya. Rapat darurat pun digelar. Kohler memiliki rancana perang yang sederhana. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang diberi judul Buku Saku Ekspedisi Aceh yang di dalamnya berisi peta dan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun dari mata-mata.

"Benteng ini telah kita kuasai. Setelah pasukan selanjutnya tiba di sini, kita akan menyerang Benteng Meugat. Kerahkan pasukan terbaik kita untuk menguasainya. Dan jika berhasil, kita terus bergerak ke kuala Sungai Aceh dan mendirikan tangsi militer di sini," jelas Kohler sambil menunjuk ke arah peta, "setelah pasukan terkumpul semua, kita akan menyerang keraton sultan. Perbanyak serangan kita di sini, dan kalau keraton ini jatuh ke tangan kita, maka aku yakin mereka akan menghentikan perlawanan. Keraton sultan ini adalah ibukota kerajaan yang menjadi pusat segala kegiatan. Apa kalian paham!"

Tapi seorang perwira tampak bingung membaca peta itu.

"Tuan, apa Anda yakin kalau keraton sultan itu berada di sini. Bukankah gambar ini tampak seperti rumah ibadah orang Islam?" tanya perwira itu ragu.

Kohler melihat kembali peta itu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku yakin di sini letak keraton sultan itu. Tidak mungkin mata-mata kita salah dalam hal ini," tegas Kohler meyakinkan perwiranya meskipun ia setengah ragu.

Setelah rapat singkat itu selesai, Kohler memerintahkan pasukannya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan pasukan lain. Peperangan ini telah membuatnya kelelahan. Baru saja Kohler hendak melepaskan penat, tiba-tiba Werker datang tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Tuan, saya sudah membawa binatang yang Anda maksud tadi"

"Oh ya, aku baru ingat. Padahal aku telah melupakannya tadi. Di mana binatang itu?"

Werker pun mengiring Kohler menuju ke sebuah pohon Ketapang yang berada di sebelah barat benteng. Seekor binatang besar tertambat di sana.

"Ini dia, Tuan," tunjuk Werker dengan bangga.

Melihat binatang itu, Kohler tiba-tiba menjadi jengkel.

"Werker! Apa kau tidak bisa membedakan antara lembu dan kerbau?" ujar Kohler lalu meninggalkan Werker yang tampak bodoh itu. Kami hanya tertawa saja melihat kejadian itu. Sedangkan kerbau yang tertambat itu melenguh panjang seolah-olah ikut menertawakan kebodohan Werker dan mungkin juga kesialan Kohler. []

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia dengan judul yang sama.

27 May 2016

Pendidikan Aceh Sebelum Islam

Mesjid Baiturrahman, sumber foto: media KITLV.
Usaha untuk merekonstruksikan peristiwa-peristiwa kependidikan di Aceh sebelum masuk dan berkembangnya agama Islam, terutama yang terpenting mengingat kegiatan pendidikan diperkirakan telah melembaga secara formal pada zaman pengaruh Hindu dan Budha, tampaknya sangat mengalami kesulitan kalau tidak dikatakan mengalami kegagalan berhubung data-data untuk itu sampai sekarang belum ditemukan. Penelitian-penelitian arkeologi yang baru dilakukan di beberapa situs belum berhasil mengungkapkan sejauh mana peranan agama Hindu dan Budha di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya di daerah Aceh. Dan tampaknya terdapat kecenderungan penelitian-penelitian semacam itu akan memperoleh hasil yang sungguh sedikit, mengingat di sana diperkirakan telah terjadi semacam revolusi kepercayaan akibat berkembangnya agama Islam, sehingga peninggalan-peninggalan yang berbau kepercayaan lama telah dihancurkan. 

Telah disebutkan juga bahwa sejak tahapan awal pra sejarah di Aceh diperkirakan telah berlangsung kegiatan pendidikan. Hal ini didasarkan pada bukti-bukti temuan artefak tradisi Mesolitik, di samping adanya indikasi temuan artefak tradisi bercocok tanam dan megalitik hampir di tiap wilayah budaya etnis di sana (Aceh, Gayo, Alas Aneuk Jamee dan lain-lain). Pewarisan dan perkembangan tradisi-tradisi tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya kegiatan pendidikan, meskipun hanya terbatas dalam bentuk pendidikan informal saja.

Keberlangsungan pendidikan selama masa Mesolitikum terutama ditujukan untuk memudahkan teknologi yang amat bersahaja, seperti keterampilan membuat kapak genggam Sumatera (Sumatralith), alat-alat dari tulang untuk keperluan berburu dan mengumpulkan bahan makanan pada umumnya. Selanjutnya dari eskavasi yang pernah dilakukan pada beberapa situs bukit karang di sepanjang pesisir timur Aceh diperkirakan bahwa mereka bertempat tinggal dalam rumah-rumah bertiang di tepi pantai dengan kegiatan pencaharian bahan makanan dari laut. Kalau sekiranya dugaan ini mengandung kebenaran, dan tidak mustahil kegiatan pembuatan perahu untuk mencari bahan makanan dari laut, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Tampaknya tradisi pembuatan rumah Aceh bertiang dengan bahan dari kayu dan atap rumbia yang hidup sampai sekarang, besar kemungkinan merupakan pewarisan dari masa itu dengan beberapa perubahan pada masa-masa selanjutnya, demikian pula tradisi pembuatan perahu. Selain itu dari penggalian tersebut pada beberapa situs juga ditemukan cat merah. Ini menimbulkan dugaan kemungkinan alam kepercayaan telah tumbuh pada waktu itu yang pewarisannya terus berlanjut sampai pada masa neolitikum dan perunggu. Bahkan anasir kepercayaan animisme dan dinamisme yang berasal dari zaman pra sejarah itu sampai masa sekarang di daerah-daerah terpencil dari wilayah budaya etnis di seluruh Aceh belum hilang sama sekali. Hal ini umpamanya dapat kita lihat pada upacara kenduri tahunan, kendati pun sudah sangat jarang, di bawah pohon-pohon besar yang mungkin dianggap mempunyai kekuatan gaib atau tempat tinggal roh-roh gaib, pemakaian ijuk (bulu pohon enau) pada bubungan rumah Aceh di bagian yang terbuka, yaitu pada bagian timur dan barat (bahasa Aceh tulak angen) untuk menghindari masuknya roh-roh jahat ke dalam rumah, kepercayaan kepada burong tujoh dan masih banyak lagi yang merupakan hasil pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui kegiatan pendidikan.  

Sehubungan dengan pengembangan tradisi bercocok tanam dan megalitik, hal-hal yang dipelajari tentu yang berkaitan dengan tradisi tersebut, terutama cara-cara pembuatan alat-alat bercocok tanam, alat-alat berburu dari batu halus dan perunggu, bangunan-bangunan dari batu-batu besar dan sebagainya (kedua tradisi ini berkembang pada masa neolitikum dan perunggu). Sayangnya temuan artefak masa ini sampai sekarang belum ada. Namun tidak mustahil alat-alat pertanian di Aceh, seperti langai, creuh (alat membajak), rencong dan sebagainya (rencong yang dianggap baik selalu terdapat campuran tembaga) merupakan warisan hasil belajar dari masa ini yang pada masa pengaruh Hindu-Budha dan Islam lebih disempurnakan lagi (umpamanya bentuk rencong sekarang yang mungkin berkembang sejak pengaruh Islam sangat mirip dengan tulisan bismillah). Selanjutnya orang-orang pada masa bercocok tanam telah mulai tinggal menetap dan karenanya tidak mustahil pula, apabila awal pembentukan masyarakat gampong dimulai pada periode ini. Namun bagaimanapun hal-hal yang disebutkan di sini diperlukan penelitian arkeologi secara lebih mendalam, sehingga gambaran mengenai pendidikan pada zaman pra sejarah itu akan menjadi lebih jelas adanya.

Selain dari yang telah diuraikan di atas perlu juga dikemukakan, bahwa menurut pendapat para ahli, di antaranya G. Ferrand yang telah meneliti kepustakaan Arab India, Indonesia, Cina, dan Portugis, sekitar abad ke-2 dan ke-10 Masehi telah terjadi perpindahan orang-orang Indonesia ke Madagaskar dan perpindahan yang berlangsung pada waktu itu pada umumnya berasal dari Aceh. Ini berarti bahwa kemungkinan besar pelayaran, kendati pun dalam bentuk sederhana, serta teknologi perkapalan, berupa cara pembuatan perahu-perahu besar untuk mengarungi lautan luas telah dikembangkan di Aceh. Dan tampaknya sejalan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan pada waktu itu pegaruh kebudayaan Hindu-Budha telah mulai berakar dalam masyarakat Aceh (setidak-tidaknya sampai abad ke-10 Masehi perkembangan agama Hindu dan Budha di Aceh, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah mulai menampakkan corak kehidupannya tersendiri).

Kapan sebenarnya pengaruh Hindu dan Budha mulai bertapak di daerah Aceh, tidak diketahui dengan pasti. Tetapi barangkali dapat diperkirakan setidak-tidaknya abad ke-2 sampai abad ke-4 Masehi, seperti juga di bagian lain Indonesia, telah ada di Aceh. Hal ini mengingat letak geografis Aceh di perairan Selat Malaka, sebagai pintu gerbang masuk ke wilayah Indonesia. Ketidakpastian itu terutama disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber sejarah yang meyakinkan. Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha seperti prasasti, candi, arca, dan sebagainya sampai sekarang belum diketemukan di sana. Memang ada sebuah arca kepala dari BBudhisatwa Avalokitesyvara abad ke-9 yang sekarang disimpan di Museum Pusat Jakarta dan yang menurut Ny. S. Soelaiman diketemukan di daerah Indrapuri (Aceh Besar), namun arca tersebut sama sekali belum dapat memastikan tentang kedatangan dan proses penemuan guci-guci berisi abu jenazah di daerah Lamno Daya (Aceh Barat) serta cerita rakyat mengenai Pahlawan Syah raja Hindu di sana dan juga cerita rakyat tentang raja Hindu yang perkasa di daerah Indrapuri (Aceh Besar). Karena itu tidak mengherankan apabila sampai sekarang pada ahli belum berhasil menetapkan mengenai kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Aceh. Dari beberapa kerajaan yang pernah dipersoalkan, tampaknya hanya Kerajaan Lamuri yang dianggap benar lokasinya di sana, yaitu di Aceh Besar; sedang Kerajaan Poli umpamanya masih tetap dipertanyakan.

Meskipun masalah kedatangan agama Hindu-Budha dan berdirinya kerajaan Indonesia Hindu-Budha di daerah Aceh belum berhasil terpecahkan secara meyakinkan, namun para ahli antara lain Snouck Hurgronje, van Langen, dan Julius Jacobs, pada umumnya sependapat bahwa pengaruh kedua agama tersebut pada berbagai aspek kehidupan rakyat Aceh dianggap cukup besar (setidak-tidaknya sebelum pengaruh kebudayaan Islam berakar pada masyarakat Aceh). Pengaruh itu tidak saja terbatas di Aceh Besar saja, tetapi juga meluas sampai ke pesisir timur dan barat Aceh. Tempat-tempat yang dianggap mempunyai indikasi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Hindu-Budha di sana antara lain Lamno Daya (Aceh Barat), Indrapurwa, Indrapuri (Aceh Besar) dan Pidie. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Mesjid Indrapuri yang diperkirakan dibangun oleh Iskandar Muda (1607-1636) didirikan di atas fondasi sebuah candi.

Kalau demikian halnya, dapat pula diperkirakan, setidak-tidaknya di sekitar daerah-daerah yang disebutkan di atas itu kemungkinan besar terdapat juga berbagai jenis lembaga pendidikan Hindu-Budha pada waktu itu. Kalau sekiranya pernah didirikan, tentu ada lembaga-lembaga pendidikan, seperti biara, peguron pertapaan dan sebagainya, yang memberi pelajaran mengenai berbagai hal yang menyangkut dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Barangkali kebiasaan membakar kemenyan pada malam Jumat dan mandi ke laut pada Rabu akhir bulan Safar yang pada saat ini hampir tidak dilakukan lagi oleh rakyat Aceh di gampong-gampong, termasuk hasil pewarisan pendidikan pada waktu itu kendati pun anasir Islam tampak di dalamnya (malam Jumat dan bulan Safar). Di samping itu tidak mustahil pula apabila ada lembaga-lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan berbagai jenis keterampilan, seperti kerajinan, pandai besi, dan lain-lain, yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Agaknya kerajinan menenun kain sarung Aceh dan pandai besi termasuk hasil belajar pada waktu itu yang diwariskan secara turun temurun. Di mana saja pernah didirikan pusaka kerajaan dan perbengkelannya belum diketahui; mungkin Gampong Pandee yang terletak di pinggiran Kota Banda Aceh sekarang termasuk salah satu pusat perbengkelan pandai besi yang terkenal sejak berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Aceh. Namun apa yang dikemukakan itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, yang tampaknya memerlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama. Dengan demikian diharapkan pada suatu waktu nanti pendidikan masa pengaruh Hindu-Budha di Aceh dapat direkonstruksikan secara lebih sempurna.


Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebuayaan, 1984, halaman 7-11.

26 May 2016

Perkumpulan Perahu dan Tuan Rebana

Rebana, sumber foto: wikipedia.
Nuruddin berdiri takzim di ujung geladak kapal. Tangannya tampak seperti orang yang memberi hormat lantaran silau cahaya matahari senja telah mengaburkan pandangannya.

Bandar Darussalam tinggal beberapa mil laut lagi dari kapal dagang yang ditumpanginya. Nuruddin berusaha melihat seseorang yang sudah menunggu dirinya ketika surat yang dikirimkan dari Gujarat Selatan beberapa bulan lalu mengabarkan kedatangannya. Orang itu tentu sudah menerima suratnya. Tapi bandar itu sungguh padat. Ia tidak bisa melihat orang yang dicarinya. Ia hanya melihat buruh-buruh tak berbaju dan berpasang-pasang keluarga bangsawan yang membawa anak-anak mereka untuk melihat kapal asing berlabuh. Tiba-tiba bunyi kerdam yang berasal dari peraka kapal membuyarkan lamunannya. Seorang kelasi telah menjatuhkan permadani Persia yang dihadiahkan kepada Sultan Tsani oleh nahkoda kapal. Kelasi ini membuat marah sang nahkoda lalu menderanya dengan cemeti yang senantiasa dibawanya. Cemeti itu akan berayun apabila ada kelasi-kelasi yang berbuat salah.

Bunyi terompet kapal sebanyak dua kali akhirnya menghentikan ayunan cemetinya. Perlahan-lahan kapal dagang itu berlabuh mengepil dermaga dengan nyaman. Para kelasi kembali bekerja termasuk si kelasi yang dicambuk tadi. Nuruddin telah turun dari kapal itu dan melihat ada seseorang yang berlari-lari kecil ke arahnya. Nuruddin menyengih. Orang itulah yang dari tadi dicarinya. Setelah mencium tangan Nuruddin dan meminta maaf atas keterlambatannya, orang itu membawa Nuruddin meninggalkan bandar itu.
***

Aku telah menghabiskan segelas lassi dan semangkuk kari ayam di sebuah kedai minum Lassi Laziz di Gujarat. Aku sedang menunggu kapal dagang yang hendak berlayar ke Darussalam. Sudah lima hari aku menunggu seraya menghabiskan bergelas-gelas lassi dan bermangkuk-mangkuk kari ayam. Namun belum ada satu pun kapal para saudagar kaya yang akan mengarungi Samudera Hindia. Kedai Lassi Laziz terletak di pinggir pelabuhan Gujarat. Aku terus memandang jauh ke timur, berharap ada kapal dari Arab yang singgah di Gujarat dan meneruskan pelayaran ke negeriku.
Sejak aku menerima surat dari salah satu sejawatku di Perkumpulan Perahu yang mengabarkan kematian Syekh Kamaluddin – ketua perkumpulan sekaligus guruku – telah membuat hatiku membengis. Dalam surat itu diceritakan bahwa Syekh Kamaluddin ditangkap dan diarak ke laut. Tubuhnya diikat di atas perahu cadik, lalu dibakar hidup-hidup. Mulanya tubuh Syekh Kamaluddin luput dari api. Tapi entah bagaimana, setelah dua jam kemudian tubuhnya menyatu dengan puntung perun. Lalu para pembakar Syekh Kamaluddin dengan penuh amarah memerun bangkai perahu cadik itu. Tidak ada bekas darah kehitaman, tidak ada tubuh yang sangit, yang ada hanyalah debu hitam yang larung bersama laut. Aku sangat yakin dengan makrifat guruku yang tinggi, Syekh Kamaluddin telah mengikuti jejak Tuan Guru Hamzah.
Dalam surat itu juga terdapat amanah Syekh Kamaluddin sebelum ditangkap di mana aku diharuskan kembali ke Darussalam. Berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat pada sidang istimewa Perkumpulan Perahu, maka ditetapkanlah sebuah keputusan yang wajib dipatuhi. Mereka telah menetapkanku sebagai pengganti Syekh Kamaluddin. Tentu saja keputusan ini membuatku terkejut. Memang, sebagai murid kepercayaan Syekh Kamaluddin, aku dianggap layak untuk memimpin mereka. Tapi muncul keraguan dalam batinku disebabkan misi rahasia dengan sandi pingai menyeringai sagai menggerapai belum tuntas kuselesaikan. Misi ini adalah misi yang sangat rahasia sehingga tidak seorang pun yang tahu dan tidak boleh kusampaikan pada siapa pun, termasuk para pembaca sekali pun. Aku minta maaf, karena hanya Syekh Kamaluddin yang boleh mengetahuinya.
Surat itu kubaca berkali-kali. Mungkin aku bisa menemukan sedikit rahasia di balik tulisan tangan sejawatku itu. Inilah keraguan yang nyata-nyata sedang kualami. Tiba-tiba tanpa sengaja jariku menyentuh sekoin emas seberat 17 karat dalam saku kurta yang kupakai sejak aku berada di Gujarat, koin yang sama yang diberikan oleh Syekh Kamaluddin yang tidak kuketahui maksudnya. Kuperhatikan dan kubolak-balikkan koin itu. Dua sisi koin itu persis menggambarkan masalah yang kuhadapi saat ini. Koin dengan sisi Seri Sultan menegaskan bahwa misi pingai menyeringai sagai menggerapai haruslah kutemukan hakikatnya. Sedangkan koin bersisi Johan Berdaulat menandaskan bahwa aku harus mematuhi hasil musyawarah dan mufakat sidang istimewa, karena itu adalah sebuah keputusan yang paling tinggi dalam perkumpulan kami. Pertarungan batinku antara keraguan dan keyakinan telah menjebakku dalam ruang yang penuh labirin. Aku seakan tersesat dalam labirin batinku sendiri. Sementara itu, pemilik kedai minum Lassi Laziz yang telah memahami kegundahanku selama berhari-hari membiarkanku duduk di luar kedai. Sedangkan kedai minumnya ditutup rapat karena malam telah larut.
***

Di Surat, salah satu kota di Gujarat, aku telah bertemu dengan seorang tua yang lusuh dan dekil. Kurta yang dikenakannya tidak lagi putih, tapi sudah menguning akibat seringnya ia menari di jalan yang penuh debu. Kepalanya tak pernah melepaskan serban sehingga aku sulit melihat helaian rambutnya, apakah sudah memutih seperti janggutnya, atau mungkin tidak ada sehelai rambut pun di kepalanya. Aku tidak pernah tahu namanya sampai sekarang. Hanya saja aku memanggilnya dengan Tuan Rebana. Si tua ini memang selalu membawa rebana ke mana pun ia pergi. Suaranya serak dan melengking, tubuhnya ringkih dan kakinya gesit.

Tuan Rebana saban hari bisa kita temui di pasar Surat ketika orang-orang sibuk dengan kegiatan jual beli. Bak seorang penyanyi panggung, Tuan Rebana menyanyikan syair-syair yang tak kupahami maknanya. Tangannya tak henti memukul rebananya sehingga membuat suasana pasar bertambah gaduh. Di lain hari, bak tukang sulap ia membakar kayu-kayu sehingga mengeluarkan api yang besar. Dengan santainya ia menari di atas bara api tanpa luput sedikit pun dimakan api. Hari selanjutnya, ia menusuk-nusukkan belati ke tubuhnya. Ia memotong-motong tangan dan kakinya dengan pedang. Ia juga menyuruh orang-orang untuk melemparnya dengan batu besar. Siapa yang berhasil membuatnya berdarah, maka akan diberikan hadiah uang yang besar. Tapi tidak satu pun yang berhasil membuatnya berdarah, termasuk aku yang berkali-kali mencobanya.

Kadang-kadang ketika aku menemui jalan buntu dalam menunaikan misiku, aku menikmati ocehan dan atraksi Tuan Rebana. Aksinya memang sangat memukau sampai-sampai aku hampir melupakan misiku. Si Tuan Rebana seakan mampu menyihirku untuk bisa terus mendengar syair-syairnya dan menonton aksi berbahayanya. Sedangkan orang lain menganggap si Tuan Rebana adalah orang yang gila.

“Percuma saja kauhabiskan waktumu mendengar ocehannya,” kata seorang penjual gerabah menghalau lamunanku.

“Benar, kulihat matamu tidak berpaling darinya,” sahut si penjual bumbu masakan.

“Pemuda dari Melayu itu berhasil digilai oleh si gila perapal syair,” sambung si tukang tempah sambil terkekeh.

Aku mengabaikan mereka semua. Di suatu hari, usai si Tuan Rebana melakukan aksinya, aku mendekatinya.

“Tuan, bolehkah saya diajarkan bersyair dan kebal?” pintaku.

Si Tuan Rebana tertawa terbahak-bahak. “Bertambah lagi satu orang gila di dunia ini,” serunya sambil meninggalkanku dalam kebingungan.

Esoknya kutunggui si Tuan Rebana di tempat yang sama. Usai dia beraksi, selalu aku memintanya untuk mengajarkanku bersyair dan kebal. Dengan setianya aku merengek padanya sehingga dia tidak sanggup lagi mendengar rengekanku.

“Baiklah, jika kau ingin sepertiku, pergilah kau ke Haramain. Temui orang yang bernama Ba Syayban. Dia akan mengajarimu cara bersyair sampai mabuk sehingga kaubisa merasakan Tuhanmu.”

Seperti yang dikatakannya, aku berangkat ke Haramain menumpangi kapal saudagar Arab.
***

Di Haramaian, tidak kutemui orang yang bernama Ba Syayban ataupun orang yang mengenalnya. Berbulan-bulan aku terdampar antara Makkah dan Madinah mencari orang yang bernama Ba Syayban. Sehingga di suatu hari aku tersasar di Yaman. Betapa terkejutnya aku ketika di sebuah lapangan aku menjumpai si Tuan Rebana yang sedang bersyair dan beraksi. Tidak seperti di Surat, di sini si Tuan Rebana dipadati oleh orang-orang. Aku yakin dia adalah orang yang sama, meskipun dia mengenakan pakaian Arab.

“Tuan Rebana, apakah kau masih ingat denganku?” teriakku sambil berlari ke arahnya membelah kerumunan orang-orang.

“Orang gila, minggir kau dari sana. Jangan kauhalangi guru kami mengajar,” usir salah seorang dari mereka. Kemudian aku dijauhkan dari si Tuan Rebana. Melihat kemarahan orang-orang, kuurungkan niatku untuk mendekati si Tuan Rebana. Aku menyaksikannya bersyair tentang Tuhan. Orang-orang yang mendengarkan syairnya seperti mabuk kepayang. Tidak lama kemudian, pukulan rebana menggema di lapangan itu. Orang-orang yang menonton aksi si Tuan Rebana juga memiliki rebana yang sama. Mereka mengikuti gerakan si Tuan Rebana. Sekejap kemudian mereka menghunuskan pedang dan menebas tubuh siapa saja yang berada di dekatnya. Aku menjauh dari mereka yang sudah kesurupan. Anehnya, tubuh mereka tidak terluka dan terbakar ketika berjalan di atas bara api di tengah lapangan itu. 

Setelah aksi itu selesai, aku lagi-lagi menjumpai si Tuan Rebana. “Apakah Anda si Tuan Rebana yang kerap bersyair di pasar Surat?” tanyaku. “Bukan, aku adalah Ba Syayban,” jawabnya. Aku hampir pingsan dibuatnya dan segera kucium lututnya seraya menghamba diri agar aku diangkat menjadi muridnya. Bertahun-tahun aku belajar dari Ba Syayban hingga di suatu hari kembali aku teringat dengan misi pingai menyeringai sagai menggerapai. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Surat.
***

Kapal yang akan membawaku ke Darussalam akhirnya berlayar juga. Tidak sabar aku ingin segera sampai ke sana. Aku sudah tahu beberapa rahasia bagaimana cara mengalahkan ilmu Nuruddin. Aku juga tidak bisa menyembunyikan kegeramanku pada ulama-ulama tiruan yang telah membantai guruku dan sejawat-sejawatku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri akan membawa pencerahan pada kegelapan pemikiran di Darussalam. Akan kubuktikan pada Nuruddin bahwa Perkumpulan Perahu tidak mengajarkan aliran sesat.

“Pemuda Melayu, kenapa kau begitu gusar?” tanya seorang saudagar Arab yang sejak tadi memperhatikanku.

“Aku sudah tahu cara untuk mengalahkan Nuruddin,” jawabku kukuh.

“Nuruddin sang mufti maksudmu?”

“Ya.”

Seluruh penumpang kapal menertawakanku. Mereka terpingkal-pingkal sambil menggulingkan tubuhnya di atas geladak kapal. Ada juga yang menghantamkan kepalanya pada tiang kapal karena tidak sanggup menahan kelucuan. Aku bertambah bingung dengan sikap mereka.

“Kenapa kalian semua tertawa?” tanyaku.

“Karena kau sudah gila. Ha ha ha.”

“Pemuda Melayu, apa kau tidak tahu kalau Nuruddin telah dikalahkan oleh seorang yang tinggi ilmunya.”

“Tidak,” jawabku.

“Nuruddin sudah meninggalkan Darussalam. Dia menanggalkan jabatan mufti di hadapan Sultanah. Orang-orang tidak tahu ke mana Nuruddin pergi.”

“Oh,” aku tersentak, “Lantas bagaimana dengan semua kekacauan yang terjadi?”

“Tidak ada lagi kekacauan. Semua pengikut tarekat dan aliran agama sudah berdamai.”

“Siapakah orang yang mengalahkan Nuruddin itu?” tanyaku penuh takjub.

“Kalau tidak salah, namanya Saiful Rijal orang Minangkabau.”

Tiba-tiba seluruh tubuhku bergemetar. Kepalaku terasa berat. Mataku seperti melihat kunang-kunang yang menari. Tidak lama kemudian, aku mengambil sepucuk surat yang terselip dalam sebuah kitab Syair Burung Pingai. Kuperhatikan dengan saksama. Surat itu ternyata telah ditulis beberapa tahun lalu dan ditandatangani oleh Saiful Rijal. []


Cerpen saya di atas pernah dimuat di Tabloid Atjeh Times.

Garis Besar Perkembangan Pendidikan di Aceh

Meusigit Raja, sumber foto: media KITLV.
Sejak tahapan awal pra sejarah di Aceh telah berkembang tradisi mesolitik, di samping terdapat indikasi adanya tradisi bercocok tanam dan megalitik. Kalau demikian halnya dapat diduga bahwa pada waktu itu di sana juga telah berlangsung kegiatan pendidikan dalam rangka pewarisan tradisi-tradisi tersebut, meskipun keberlangsungannya mungkin hanya terbatas dalam bentuk pendidikan informal saja.

Kemudian datang pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Selama berabad-abad berakar di Aceh, tidak mustahil apabila di sana juga telah tumbuh lembaga-lembaga pendidikannya baik formal maupun non formal. Tetapi sayangnya mengenai pendidikan Hindu dan Budha di Aceh sampai sekarang belum berhasil direkonstruksikan berhubung peninggalan-peninggalannya, sebagaimana telah disinggung di muka tidak dijumpai. Beberapa anasir tradisi sampai sekarang masih dijumpai di beberapa tempat di Aceh, seperti yang terdapat dalam sistem religi, pandai besi, kerajinan dan teknologi tradisional yang kemungkinan besar merupakan hasil pewarisan pendidikan Hindu dan Budha di masa itu, atau mungkin juga pada masa-masa sebelumnya.

Setelah agama Islam bertapak di Aceh dan seiring dengan proses islamisasi pendidikan Islam juga mulai tumbuh subur. Anak-anak menjelang usia sekolah mulai diajarkan dasar-dasar kepercayaan Islam oleh orang tuanya atau diantar kepada salah seorang Teungku di gampongnya (guru mengaji ini - umumnya wanita - biasa disebut teungku di rumoh). Pendidikan formal untuk tingkat dasar umumnya diberikan di meunasah dan meuseujid yang masing-masing didirikan di tiap-tiap gampong dan mukim. Sedang untuk tingkat menengah, anak-anak dapat belajar di lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama rangkang. Dan apabila seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi lagi terdapat juga lembaga pendidikan tinggi yang disebut dayah dan dayah teungku chiek. Tidak selalu nama-nama lembaga pendidikan tersebut serupa di seluruh Aceh, namun sistem pendidikan Islam itu pada dasarnya sama; perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan dan tampaknya juga sejauh mungkin disesuaikan dengan keadaan budaya masyarakat setempat.

 Lembag pendidikan Islam yang mulai dirintis sejak awal terbentuknya masyarakat Islam itu - setidak-tidaknya sekitar abad ke-12 atau ke-13 - memperoleh kemajuan pesat setelah Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya (abad ke-17). Kemajuannya tidak saja dari segi kuantitas lembaga, tetapi juga dari segi kualitas pendidikan, sehingga daerah Aceh pada waktu merupakan salah satu pusat pengembangan ilmu pengerahuan yang terpenting di Indonesia. Dan tampak sistem pendidikan Islam tradisional tersebut sampai abad ke-20 masih dapat berkembang baik berdampingan dengan sistem pendidikan Islam yang modern.

Setelah Belanda berhasil menguasai daerah Aceh, pemerintah kolonial itu rupanya berkepentingan dengan pendidikan rakyat di sana - tentu tidak terlepas dari tujuan penjajahannya. Maka sejak tahun 1907 diambil inisiatif untuk mendirikan sekolah-sekolah desa (volkscholen), mula-mula hanya sebuah di Aceh Besar dan kemudian dalam tahun-tahun berikutnya sampai Belanda meninggalkan Indonesia (1942) jumlahnya diperbanyak dan tersebar di seluruh daerah. Selain itu didirikan juga beberapa jenis sekolah (tingkat dasar dan menengah), seperti: Vervolgschool, Inlandsche School, Meisjesschool, Hollandsch Inlandsche School, Ambachtschool, Normaalcursus, MULO, dan sebagainya.

Inisiatif pemerintah Belanda untuk mendirikan sekolah-sekolahnya di Aceh merupakan awal dari pembaharuan (modernisasi) pendidikan di daerah tersebut. Pembaharuan ini kemudian menjadi lebih berkembang setelah munculnya lembaga-lembaga pendidikan Islam modern (Madrasah Islam) dan sekolah-sekolah swasta, yang sebelumnya telah didirikan di Pulau Jawa, yakni Muhammadiyah dan Taman Siswa.

Madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah swasta yang didirikan itu pada umumnya mendapat sambutan baik dari masyarakat dan dalam waktu yang singkat telah tersebar luas (meskipun tidak seimbang dengan jumlah sekolah pemerintah). Adanya sambutan masyarakat terutama disebabkan oleh faktor diskriminasi dalam penerimaan murid-murid pada sekolah Belanda di samping memang rakyat kurang menyukai sekolah yang berbau kolonial itu. Dan rupa-rupanya melalui lembaga pendidikan itu pula, para pemimpin pergerakan nasional lebih leluasa menumbuhkan semangat nasionalisme dalam rangka cita-cita Indonesia Merdeka.

Pada waktu pendudukan Jepang semua sejolah swasta dibubarkan dan digabung dengan sekolah pemerintah yang sistem pendidikannya lebih diarahkan kepada pendidikan kemiliteran. Hanya madrasah-madrasah Islam saja yang dibenarkan hidup; itu pun tidak luput dari pengawasan pemerintahan militer Jepang. Dapat disebutkan bahwa selama Jepang berkuasa pendidikan di daerah Aceh mengalami kemunduran.

Demikian juga halnya selama Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) keadaan pendidikan tidak jauh berbeda dengan pada masa Jepang. Pada waktu itu pemerintah bersama rakyat di Aceh lebih mencurahkan tenaganya untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Barulah setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terwujud, usaha pembangunan pendidikan kembali dapat lebih digiatkan. Namun terganggunya keamanan di Aceh sejak tahun 1953, usaha-usaha tersebut banyak mengalami hambatan.

Titik tolak pembangunan pendidikan secara lebih berencana di daerah Aceh sesungguhnya baru dimulai semenjak pemerintah meresmikan pembukaan Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam Banda Aceh pada tanggal 2 September 1959 (kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Daerah Aceh). Sejak waktu itu Pemerintah Daerah bersama rakyat dengan mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat mulai lebih giat mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dialaminya selama ini. Hasil dari gerakan pembangunan pendidikan yang telah berlangsung selama 20 tahun itu tampaknya cukup menggembirakan. Banyak sekolah, terutama tingkat menengah, yang didirikan atas inisiatif masyarakat setempat kemudian diserahkan kepada pemerintah atau tetap dibina sebagai sekolah swasta, di samping beberapa perguruan tinggi baik kepunyaan pemerintah maupun swasta.

Demikianlah gambaran singkat mengenai perkembangan pendidikan di daerah Aceh sejak zaman pra-sejarah sampai dengan dewasa ini.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 4-6.