![]() |
| Salah satu organisasi pergerakan nasional yang tumbuh di Aceh, Syarikat Islam. Sumber foto: wikipedia. |
Pendidikan pemerintah Hindia Belanda mulai diperkenalkan kepada masyarakat Aceh sejak permulaan abad ke-20. Sebagai salah satu akibat dari padanya ialah muncul suatu kelompok baru dalam masyarakat Aceh, yaitu mereka yang telah dididik dan dibina dengan kebudayaan dan sistem nilai Belanda. Mereka ini diharapkan oleh Belanda akan terpisah dan jauh dari masyarakatnya, sehingga tidak lagi mengikuti seruan para pemimpin agama dan pejuang-pejuang Aceh lainnya untuk tetap melawan Belanda. Dan juga diharapkan agar mereka dapat diperalat untuk kelangsungan kekuasaan Belanda. Tetapi berbeda dengan maksud dan harapan Belanda, karena tidak semua dari mereka yang telah dididik untuk pendidikan tersebut, berhasil dipengaruhi dan dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan Belanda di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya. Oleh karena sebagian dari mereka pernah mengikuti sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda itu, muncul sebagai cendekiawan-cendekiawan yang tetap berpihak kepada kepentingan masyarakatnya dan bahkan di antaranya ada yang menjadi sebagai pembangkit kesadaran nasional dan pembangkit perjuangan kemerdekaan, khususnya di Aceh.
Berdirinya berbagai organisasi sosial-ekonomis dan politis, baik yang bersifat lokal maupun nasional, sebagai refleksi dari pada pergerakan nasional di Aceh, seperti:
- Perserikatan George Hindia Belanda (1914)
- Syarikat Islam (Juli 1916)
- Syarikat Atjeh Moeda Setia (Juli 1916)
- Syarikat Oesaha (November 1916)
- Syarikat Atjeh - Vereenoging Atjeh (Desember 1916)
- Wargo Dhono Moeljo (Februari 1917)
- Syarikat Matoer (Mei 1917)
- Boedi Oetomo (Januari 1918)
- Volksonderwijzersbond Atjeh (Desember 1918)
- Islam Menjadi Satoe (1919)
- Insulinde (Februari 1919)
- Tjinta Bangsa atau Inl. Bureu-personeel (Mei 1919)
- Syarikat Cooperatie Toeloeng Menoeloeng (Desember 1919)
- Bajoer Oesaha (Maret 1920)
- Kongsi Atjeh Sumatra (Juli 1920)
- Muhammadiyah (1927)
- Taman Siswa (1923), dan
- Poesa (1939)
Organisasi-organisasi di atas umumnya dikoordinasi dan dipimpin oleh para cendekiawan hasil dari didikan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini membuktikan masih adanya kesadaran nasional di antara mereka yang umumnya bertujuan untuk memperjuangkan nasib bangsanya lewat organisasi-organisasi tersebut.
Selanjutnya dalam rangka untuk mendidik kader-kader dari pada organisasi-organisasi tersebut, terutama organisasi yang bersifat politik (organisasi-organisasi pergerakan nasional), para cendekiawan tersebut memelopori dan membantu pula berdirinya lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang non formal, yang masing-masing bernaung di bawah induk organisasi-organisasi tersebut. Pendidikan inilah yang merupakan pendidikan pergerakan nasional.
Sebagaimana diketahui bahwa golongan yang pertama kali diperkenalkan sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda di Aceh adalah golongan uleebalang yang merupakan golongan bangsawan di Aceh. Umumnya anak-anak mereka yang diberi prioritas atau kesempatan pertama dalam pendidikan, terutama yang dapat memasuki sekolah-sekolah berbahasa Belanda dan yang dapat meyambung ke sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Bagi anak-anak biasa yang meskipun orang tua mereka mampu untuk membiayai sekolah anak-anaknya pada sekolah yang dimaksud, tetapi tidak diperkenankan oleh pemerintah Hindia Belanda. Jadi ada diskriminasi dalam penerimaan murid-murid untuk sekolah-sekolah tersebut. Maka oleh karena adanya ketidakadilan dalam sistem pendidikan yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda ini, telag mendorong lain dalam masyarakat Aceh untuk membuka sekolah-sekolah sendiri atau pun berusaha memodernisasi sistem pendidikan yang telah ada.
Terkait dengan hal di atas, juga dapat dilihat bahwa dengan dimasukkannya sistem pendidikan Belanda ke Aceh, sedikit banyak telah melahirkan pula pendukung-pendukung utama dari sistem tersebut. Dan pendukung-pendukung ini dalam perkembangannya telah menjadi suatu kelompok baru dalam masyarakat Aceh. Kehadiran kelompok ini dengan sendirinya telah mengundang kecemasan dan kecurigaan kelompok-kelompok lain yang sudah ada, apalagi kalau kelompok baru atau si pendatang itu menunjukkan kelebihan-kelebihan tertentu, yang diperkirakan akan dapat mendesak posisi yang dimiliki oleh kelompok-kelompok lain. Oleh karenanya kehadiran kelompok baru tersebut dianggap sebagi suatu ancaman dan merupakan tantangan bagi kelompok-kelompok lain dalam masyarakat Aceh, khususnya kelompok yang dihasilkan dari lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang tradisional. Maka untuk mengimbangi kelompok baru itu, kelompok yang tersebut terakhir berusaha untuk meng-upgrade diri, terutama dengan memodernisasi lembaga-lembaga pendidikan mereka.
Faktor penting lain yang erat kaitannya dengan munculnya pendidikan pergerakan nasional di Aceh, dapat pula dilihat dalam hubungan akibat dari modernisme Islam. Muncul dan berkembangnya organisasi-organisasi modernis Islam pada tingkat nasional di antaranya adalah Serikat Islam, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad, yang cabang-cabangnya juga berdiri di Aceh, telah membawa angin baru pula terhadap sistem pendidikan keagamaan di Aceh. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sebelum berkenalan dengan sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda, masyarakat Aceh telah memiliki lembaga-lembaga pendidikan tradisional pengaruh dari agama Islam, yang pada umumnya dikelola oleh para pemimpin agama. Peperangan yang lama dan memayahkan dalam melawan Belanda, sangat dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat Aceh, terutama oleh para ulama. Oleh karena itu, selama kesibukan menghadapi peperangan tersebut, para ulama sedikit sekali berkesempatan untuk memimpin dan membina lembaga-lembaga pendidikan mereka dengan baik. Dan hal ini berakibat dengan melemahnya sistem pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan tradisional itu.
Selanjutnya bersamaan dengan meredanya perang melawan Belanda tersebut, pada sekitar perempatan pertama abad ke-20, berbagai macam pengaruh modernisme Islam baik yang melalui Minangkabau di mana banyak putra-putra Aceh pernah belajar pada sekolah-sekolah agama di sana (pada tahun 1938, jumlah pelajar Aceh yang ada di Minangkabau diperkirakan mencapai 1.000 orang dan kebanyakan bersekolah di Thawalib), maupun melalui Timur Tengah. Dan ada pula yang melalui Pulau Pinang serta tempat-tempat lain, mulai masuk ke Aceh. Maka mulai saat itu kelihatan adanya inisiatif dan usaha baru kaum ulama Aceh untuk membina sistem pendidikan agama pada lembaga-lembaga pendidikan mereka kembali, yaitu dengan pembaharuan dari sistem meunasah, rangkang, dan dayah yang tradisional kepada sistem pendidikan madrasah yang modern. Di sini mulai diperkenalkan cara belajar baru yang berbeda dengan sistem pada lembaga-lembaga tradisional. Materi pelajaran diperluas, antara lain dengan memasukkan beberapa pelajaran baru dengan ide-ide yang realistis yang berhubungan dengan kepentingan dan hubungan sosial di dalam masyarakat.
Dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan yang baru itu, selanjutnya memungkinkan bagi kaum ulama di Aceh untuk tetap berperan dominan dalam masyarakatnya serta sebagai tanda adanya perluasan horizon pemikiran mereka dalam bidang pendidikan. Dan hal ini semua juga tidak terlepas dari keinginan mereka untuk dapat mengimbangi sistem pendidikan penjajah atau pemerintah Hindia Belanda di Aceh, yang oleh karenanya dapat dianggap pula sebagai pendidikan pergerakan nasional yang ada di Aceh. []
Tulisan di atas bersumber dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984, halaman 54-57.






