13 July 2016

Pelatah

Pelatah adalah orang yang latah. Sedangkan latah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian, yaitu 1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2) berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi); dan 3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Kita sering melihat orang latah, dan kadang-kadang orang yang tak latah pun sering melatah-latahkan diri.

Orang latah, sumber foto: detik.

Berkembangnya media sosial merupakan surga bagi pelatah. Ketika kita bergelut dalam keasyikan media sosial, kita sering menemukan "sampah-sampah kalimat" yang bertaburan atau foto-foto yang kadang tidak sesuai dengan caption. Katakanlah ada isu-isu yang belum jelas benar salahnya yang sudah dikonsumsi oleh orang-orang. Ini tentu akan sangat berbahaya dalam membentuk pola pikir. Bagaimana nasib orang yang menjadi korban isu-isu tak sedap itu? Bagi yang mudah termakan isu, sampai kebenaran terwujud pun tidak akan mampu mengubah prinsip orang itu. Dia sudah terlanjur mengambil sikap terhadap isu-isu yang tak benar itu. Dan malah mempertahankan ketidakjelasan tersebut di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat yang ramai. Akhirnya, dengan bangga juga membagi-bagikan "sampah-sampah kalimat" itu di media sosial dengan menambahkan sedikit bumbu-bumbu kalimat yang hambar dengan majas-majas yang tak jelas.

Sama halnya dengan foto. Memakai aplikasi ubah foto, dengan semena-mena oknum tak dikenal mengubah foto-foto dengan satir-satir yang menyakitkan. Satir yang menghasut, satir yang mengundang kebencian, dan satir yang tak punya selera humor. Pelatah yang demikian ini tak ubahnya dengan burung beo yang suka meniru meski tak sempurna. Apa yang ditiru tak pernah dicerna dan dikaji sebab akibatnya. Jika kita mengajarkan beo kata-kata makian, si beo pun akan meniru ucapan kita. Nah, bagaimana kalau kata-kata makian si beo itu berkicau pada saat yang tidak tepat? Ya, kita akan merasa malu. Jika tidak punya rasa malu, kata orang Aceh (bentuk sindiran), orang itu benar-benar sudah putus urat malunya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat orang yang mengganggu si pelatah. Keusilan mereka hanyalah untuk menciptakan kelucuan saja. Padahal, si pelatah sudah sangat menderita untuk mengulang-ulang apa yang dialaminya. Tapi kita sudah terlanjur tertawa girang. Namun dapatkah kita membayangkan jika si pelatah ini dengan tak sengaja melukai orang di dekatnya secara fisik? Lebih parah lagi jika si pelatah sedang memegang sesuatu yang tajam sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang berada di sampingnya.

Di facebook, atau twitter, pelatah-pelatah gadungan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling benar. Banyak berita tak jelas dikonsumsi dengan mentah. Anehnya, berita yang dikonsumsi itu tidak membuat si pelatah muntah. Dalam agama, kita dianjurkan untuk meneliti dulu sesuatu yang disampaikan kepada kita, agar apa yang disampaikan tersebut tidak menimbulkan fitnah atau membahayakan sesuatu golongan.
Wahai, orang-orang yang beriman, jika ada seorang yang fasiq mendatangi kalian dengan membawa suatu berita penting, maka telitilah dulu (tabayyun), agar kalian jangan sampai menimpakan suatu bahaya kepada sesuatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian kalian menyesal atas perbuatan kalian. (QS. Al-Hujurat:6)
Tapi kenyataannya sebaliknya. Kita sering terpancing dengan judul suatu berita yang sangat bombastis atau vulgar, tapi isi berita tak sesuai dengan judul berita. Di media online, pernah juga saya jumpai hal tersebut. Menjamurnya media online ternyata tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Inilah salah satu sebab yang membuat saya enggan membaca media online yang tidak jelas. Sumber-sumber berita yang diambil pun tidak jelas. Kejadian-kejadian yang tak penting pun kini sudah menjadi berita. Isi berita ditulis dengan sedikit aroma drama.

Pelatah gadungan adalah orang yang menderita penyakit kejiwaan. Apakah kita termasuk pelatah yang demikian? Yang kedudukannya seimbang dengan orang-orang yang tak waras.

8 July 2016

Messi dan Argentina

Saya terperanjat ketika mendengar Lionel Messi memutuskan hubungannya dengan Tim Nasional Argentina. Kemarahan dan ketidaksetujuan menggores hati saya. Beberapa kali saya menghubungi Messi, tapi teleponnya selalu saja tidak aktif. Saya tahu kekecewaannya. Tapi fans Messi tentu tidak mau tahu apa yang sedang dialami oleh Messi. Kami beranggapan bahwa sikap Messi terlalu kanak-kanak. Keputusan yang diambil dengan tergesa-gesa menunjukkan lemahnya mental seorang Messi. Padahal dia adalah seorang kapten tim.

Lionel Messi gagal mempersembahkan Copa America Centenario 2016. Foto: Getty Images.
Umurnya masih 29 tahun. Sejatinya umur ini merupakan masa puncak bagi seorang pesebakbola. Tapi Messi telah duluan bersinar. Pada masa-masa mudanya, dia telah menjadi seorang penyandang gelar pemain terbaik dunia. Bahkan sudah lima kali. Jumlah yang lumayan banyak. Kita dapat memahami kekecewaannya. Kegagalan kali ini adalah kegagalan ke-empat baginya untuk mempersembahkan piala bagi Argentina. Sudah empat final kejuaraan yang dilaluinya, dan kegagalan demi kegagalan menjadi kutukan baginya. Argentina bukanlah tempat baginya untuk berpesta pora.


Tapi kegagalan kali ini sangat menyakitkan dan akan terus dikenang sepanjang masa hidupnya. Dia menganggap dialah yang menjadi penyebab kekalahan Argentina. Di layar televisi, saya melihat bagaimana ekspresi wajahnya sebelum menendang bola penalti. Tidak seperti biasanya, Messi yang begitu tenang menghadapi bola-bola mati, kali ini dia tampak gugup. Begitulah saya melihatnya. Dan benar saja, dia menendang dengan kekuatan ~ tanpa perasaan ~ bola di titik putih itu. Bolanya melenceng deras. Bukannya ke dalam gawang.

Tanggal 26/06/2016, Minggu, final Copa Amerika, Argentina melawan Chili, skor 0-0, dilanjutkan dengan adu pinalti, dan sahabat saya itu gagal mengeksekusinya. Dia akan mencatat hari itu dalam lembaran kelam bagi karirnya.

Saya melihat beban di pundaknya yang begitu berat. Maradona, sang maestro sejati Argentina, berkali-kali mengumbar di media bahwa Messi-lah yang terbaik untuk saat ini di dunia. Messi akan menjadi penerusnya, bukan saja di Argentina, tapi juga di dunia. Namun orang-orang menganggap bahwa Messi akan selevel Maradona jika Messi berhasil mengangkat piala bersama Argentina. Inilah yang menjadi hantu bagi Messi. Padahal segala upaya telah dikerahkan, tapi bayangan itu tidak bisa ditepis yang membuat kecut hatinya. 
Ini berat, bukan waktunya untuk menganalisa. Di ruang ganti saya berpikir bahwa ini adalah akhir bagi saya dengan tim nasional, ini bukan untuk saya.
Maaf, Messi. Kami tidak berniat menganalisa keputusan Anda. Bagi kami, sepakbola adalah seni dan hiburan. Pemain bola adalah seniman. Bola yang diolah di panggung hijau oleh para seniman itulah yang menjadi hiburan bagi kami. Anda bermain bola untuk menghibur penonton. Di mana saja, kapan saja, dan di tim atau klub apa pun Anda bermain, posisi Anda tetap sebagai penghibur. Menang kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan. 

Banyak yang belum bisa menerima keputusan Messi untuk gantung sepatu. Maradona misalnya, dia meminta (dengan harapan) agar Messi untuk membatalkan niatnya itu. Messi harus ke Rusia (Piala Dunia 2018) untuk membawa piala itu ke Argentina. Presiden Argentina, Mauricio Macri juga tak bisa menerima keputusan Messi itu. Macri berkata bahwa ia akan selalu bangga dengan Argentina. Ia berharap pemain-pemain terbaik akan terus bermain di sini untuk tahun-tahun selanjutnya. Messi harus menutup telinga terhadap setiap kritikan dan tekanan yang dibebankan padanya.

Jika saja Borges masih hidup ~ walaupun dia sangat membenci sepakbola ~ saya yakin, dia akan menertawai keputusan Lionel Messi itu. Itu adalah humor yang paling menggelitik bagi saya.

3 July 2016

Thayr al-'Uryan - Hamzah Fansuri

Syair Thayr al-'Uryan karya Hamzah Fansuri merupakan karya puisi dan bisa dianggap menjadi salah satu karya-karya terbaik dari Syekh Hamzah Fansuri. Thayr al-'Uryan memakai burung sebagai tamsilannya untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh untuk mencari kesempurnaan dirinya. Berikut ini saya ketik ulang teks Thayr al-'Uryan yang disarikan dari beberapa sumber.


I

Thayr al-'Uryan unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnainya pingai terlalu sufi
Tempatnya kursi yang maha 'ali

Sungguh pun 'uryan bukannya gila
Mengaji al-Quran dengan tartila 
Tempatnya mandi sungai salsabila
Di dalam firdaus ra'su Zanjabila

Sungai ini terlalu 'ali
Akan minuman Thayr al-'Uryan
Setelah minum jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi

Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau sayang
Inilah harga arak yang garang

Thayr al-'Uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk harus kau hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim

Minuman itu tiada terbagi
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal Thayyibun pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai

Minuman itu terlalu sufi
Yogya akan syurbaty maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kira radhi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi

Minuman itu yogya kaum permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain 
Inilah 'Uryan pada ahl-batin

Jika Engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah 'Uryan jangankan katamu
Orang yang 'Uryan bukan rupamu

Riya dan khayal tiada qabil
Pada orang arif yang sudah kamil
Lain daripada mabuk dan ilmu wasit
Pada ahl-haqiqah sekalian batil

Tiya dan khayal ilmu nafsani
Di manakan sampai pada ilmu yang 'ali
Seperti Bayazid dan Mansur Bagdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan Qawl Subhani

Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl-ma'rifat terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang

Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu

II

Unggas pingai terlalu 'asyiq
Da'im bermain di kursi khaliq
Bangsanya Rahman yang fa'iq
Menjadi sultan terlalu la'iq
Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal Allah terlalu nyata
Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Sayapnya bernama Furqan
Tubuhnya bersurat Quran
Kakinya Hannan dan Mannan
Da'im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan anggannya
Nur Allah akan matanya
Nur Muhammad da'im tenggernya

Liqa Allah nama 'ishq-nya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman dan Rahim akan hatinya
Menyembah Tuhan dengan sucinya

Bumi langit akan sangkarnya
Mekkah dan Madinah akan pangkalannya
Bait Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da'im sekalian luruh

Rupanya akan Mahbubnya
Lakunya akan Marghubnya
Bangsanya akan Matlubnya
Buraq al mi'raj akan markubnya

'Ilm al-yaqin nama ilmunya
'Ain al-yaqin hasil tahunya 
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari'at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya
Ma'rifat yang wasil akan isainya

'Alam nasut akan hambanya
Perisai malakut akan kutanya
Duldul jabrul nama kudanya
Menyerang laut akan kerjanya

Dengarkan hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kamu ramu
Supaya jadi mulya adamu

III

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da'im di kursi raya
Daripada nurnya faqir dan kaya
Menjadi insa, tuan dan saya

Kuntu kanzan asalnya sarang
'Alam lahut nama kandangnya
Terlalu luas dengan lapangnya
Itulah kanzan dengan larangnya

Aql al-kulli nama bulunya
Qalam al-'ala nama kukunya
Allah ta'ala nama gurunya
Oleh karena itulah tiada judunya

Jalal dan Jamal nama kakinya
Nur al-awwal nama jarinya
Lawh al-mahfudzh nama hatinya
Menjadi jauhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal nabinya
Dari nur Allah dengan sucinya
Sekalian alam pancar nurinya
Menjadi langit serta buminya

Alam ini asal warnanya
Di sana-sini pancar sertanya
Sidang ghafil(un) dengan karmanya
Lupakan nuri dengan warnanya

Setelah zahir sekalian alam
Ia pun datang serupa Adam
Menjadi Rasul Nabi yang khatam
Supaya umatnya jangan karam

Ia datang dengan burhannya
Lengkap lagi dengan ayat Qurannya
Yogya kau turur kata firqannya
Supaya jadi engkau qurbannya

Ahmad datng dengan satarnya
Mengatakan Allah dengan jabbarnya
Sungguh pun Tuhan dengan gaffarnya
Yogya kau turut akan qahharnya

Nabi dan wali sekalian takut
Akan jabbarnya seperti laut
Manakan dapat engkau menyahut
Di laut qahhar ke hilir hanyut 

Ilmu jauhar sungguh pun qabil
Akan kuat badan hanya hasil
Pada ilmu Allah kerjanya ha'il
Antara Allah dan orang kamil

Ilmu Allah terlalu 'ali
Dengan jawhar tiadakan kafi
Ilmu Allah yogya kau cabut
Supaya dapat hidupmu baqi

Jauhar itu terlalu mulia
Akan orang yang muda belia
Bukannya ilmu Allah yang sedia
Dengan ghayr Allah jang bersetia

Pada dzat Allah tiadakan lulus
Akan orang yang berlumpai putus
Ahl al-jawhar makanan kurus
Seperti Ahmad dan 'Isa lukus

Hamzah gila berkawan-kawan
Mencari jauhar akan cahaya badan
Oleh makhluk pergi tertawan
Makanan jadi engkau bangsawan

IV

Thayr al-'Uryan unggas sultani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah subhani
Gila dan mabuk akan rabbani

Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da'im di balik tirai
Awwalnya itu bernama ruhi
Millatnya terlalu sifui
Mashafnya besar suratnya kufi
Tubuhnya terlalu suci
'Arasy Allah akan pangkalannya
Habib Allah akan taulannya
Bait Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufinya bukannya kain
Fil-Mekkah da'im bermain
Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu raji

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan tandangnya
'Alam lahur akan kandangnya
Pada da'irah Hu tempat pandangnya

Dzikir Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tauhid akan minumannya
Da'im bertemu dengan Tuhannya

Suluh terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalanna terlalu henang
Barang mendapat dia terlalu menang
Cahayanya itu tiada berha'il
Bayna ilahi dan bayna-amil
Syari'atnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil

Jika engkau dapat asal ilmunya
Engkaulah yang amat tertahunya
'Amal ini engkau empunya
Di sana sini engkaulah sukunya

Ilmunya tiada berbagai
Fadunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan engkau lali

Ilmunya ilmu yang pertama
Mazhabnya mazhab ternama
Cahayanya cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama-sama

Ingat-ingat hai anak dagang
Nafsumu itu lawan berperang
Angkamu jadikan sarang
Cintamu satu jangan bercawang

Siang hari hendak kau sa'im
Malamnya yogya kau qa'im
Kurangkan makan lagi dan na'im
Nafi dan itsbat kerjakan da'im

Tuhan kita itu yang punya 'alam
Menimbulkan Hamzah yang sudah karam
'Isyqnya jangan kau padam
Supaya wasil dengan laut dalam

[[--------------------]]

Ada beberapa bait syair Thayr al-'Uryani di atas yang saya lihat hampir sama dengan Syair Ruh. Saya belum menemukan jawaban. Barangkali ada di antara pembaca yang dapat memberikan jawaban. Namun, dugaan (hanya dugaan saja), ada kemungkinan syair di atas dan syair ruh memang menggunakan komposisi kalimat yang sama untuk menjelaskan maksud yang dikehendaki oleh Hamzah Fansuri. Sebagaimana pengantar di atas, syair ini merupakan sebuah gambaran tentang tamsilan unggas yang melakukan pengembaraan untuk mencari kesempurnaan dirinya (jiwa). Nah, begitu juga (mungkin) dalam "Syair Ruh".

Baca juga karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

2 July 2016

Beberapa Pendapat Penulis Sejarah Tentang Perang Belanda di Aceh

Dalam sebuah buku yang berjudul Perang di Jalan Allah karya Ibrahim Alfian, di bagian lampiran, saya menemukan beberapa pendapat singkat dari para penulis buku sejarah Aceh berkebangsaan asing. Pendapat-pendapat ini sebenarnya dikumpulkan oleh Ibrahim Alfian agar kita tahu bagaimana dahsyatnya perang kolonial Belanda di Aceh. Berikut beberapa pendapat tersebut.

Gijsbert Brand Hooijer
Gijsbert Brand Hooijer, sumber: De Nederlandse Krijgsmacht

Agak susah menemukan siapa sebenarnya G. B. Hooijer. Namun dalam situs berbahasa Belanda "De Nederlandse Krijgsmacht", saya menemukan sebuah tulisan tentang G. B. Hooijer yang ditulis oleh Menke de Groot. Dan setelah menerjemahkan ala kadar dengan bantuan Google Translate, maka G. B. Hooijer atau Gijsbert Brand Hooijer adalah seorang perwira berpangkat letnan kolonel. Ia lahir pada 9 Mei 1848 dan wafat 16 Februari 1934. Dalam bukunya yang berjudul De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch-Indie van 1811 tot 1894, Jilid III, 1897, halaman 5, ia menulis:
Oleh karenanya perang Belanda di Aceh selalu akan menjadi sumber pelajaran bagi tentara kita dan oleh sebab itu pulalah saya menganggap tepat sekali, jilid ketiga dan terakhir mengenai sejarah peperangan (di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan buat menjelaskan peperangan di Aceh.

Henri Carel Zentgraaff
Zentgraaff, sumber: Biografisch Woordenboek van Nederland:1880-2000
 
Masih dalam situs berbahasa asing "Biografisch Woordenboek van Nederland:1880-2000" atau "Biographical Dictionary of the Netherlands::1880-2000" disebutkan bahwa H. C. Zentgraaff atau Henri Carel Zentgraaff adalah seorang jurnalis di Hindia Belanda yang lahir di Hontenisse pada 1 Oktober 1874 dan wafat di Bandung pada 22 Maret 1940. Ia adalah anak Pieter Hendrik Carel Zentgraaff yang merupakan direktur telegraf dan Pauline Wilhelmine Caroline Gesthuisen. Dalam bukunya yang berjudul Atjeh, 1938, pada halaman 1, ia menulis:
Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita.
Selanjutnya H. C. Zentgraaff dalam buku yang sama pada halaman 63 menulis:
Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain.
Dan pada halaman 100, ia menulis:
Demikianlah berakhir kehidupan Teungku di Barat dan ulama-ulama termasyhur lainnya di daerah itu yang lebih menyukai "mati syahid" daripada "melaporkan diri" (menyerah kalah kepada lawan) ... dan adakah satu bangsa di permukaan bumi ini yang tidak akan menulis di dalam buku-buku sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroik dengan penghargaan yang setinggi-tingginya?

A. Doup
Saya tidak menemukan keterangan dari A. Doup. Namun dalam bukunya Gedenkboek van het Korps Marechaussee 1890-1940, terbitan tahun 1940? pada halaman 248, ia telah menulis:
Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsose serta kekagumannya akan keberanian, kerelaan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris secara teratur.

Paul van't Veer
Paul van't Veer, sumber: De Atjeh-oorlog
 
Di bagian cover belakang buku De Atjeh-oorlog, disebutkan bahwa Paul van't Veer (1922-1979) sejak tahun 1945 telah menjadi wartawan di Indonesia, New York, dan Amsterdam. Dikenal sebagai wartawan politik yang memiliki minat sejarah dan sastra. Ia juga tergolong wartawan Belanda yang paling ahli mengenai Indonesia. Hal ini terlihat dalam artikel politik, reportase perjalanan, dan karangan dalam majalah. Sebagian besar membicarakan Indonesia atau tentang soal-soal yang bertalian dengan Indonesia. Salah satu jasa Paul van't Veer, menurut Joop van de Broek adalah pelukisan yang luas tentang latar belakang perang Aceh dan terutama tentang orang-orang yang memainkan peran utama di dalamnya. Dalam buku De Atjeh-oorlog, 1969, halaman 293, ia menulis:
Perang Belanda di Aceh tidak berakhir pada tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914 terentang seutas benang merah ke tahun 1942, sebuah jejak pembunuhan dan pemukulan sampai mati, dari perlawanan di bawah sampai ke atas tanah yang menyebar luas sedemikian rupa dari tahun-tahun 1925 sampai tahun 1927 dan kemudian lagi dalam tahun 1933 sehingga kemudian terjelmalah pemberontakan-pemberontakan setempat. Puluhan "pembunuhan Aceh" yang terjadi di antara tahun-tahun itu cukup diketahui di seluruh Hindia Belanda. Pada masa-masa belakangan ini disadari bahwa benang merah itu menjurus dari tahun 1914 ke tahun 1942 sehingga sejarahnya sejak tahun 1873 sampai dengan tahun 1942, yakni saat orang-orang Belanda meninggalkan daerah Aceh untuk selama-lamanya, harus dianggap sebagai sebuah perang Belanda yang besar di Aceh atau boleh juga disebut sebagai sebuah deret, terdiri dari empat atau lima buah peperangan Belanda di Aceh yang berbagai-bagai sifatnya.
Selanjutnya pada halaman 301 dalam buku yang sama, Paul van't Veer menegaskan:
Aceh adalah daerah terakhir yang ditaklukkan oleh Belanda dan merupakan daerah pertama yang terlepas dari kekuasaannya. Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup.

Anthony Reid
Anthony Reid, sumber: Australian National University

Dalam wikipedia disebutkan bahwa Prof. Anthony Reid, Ph. D lahir di Selandia Baru tahun 1939. Ia adalah seorang sejarawan asal Selandia Baru. Karya-karyanya banyak berkaitan dengan sejarah Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia Belanda pada abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara. Dalam bukunya The Contest for North Sumatra, 1969, pada halaman 288-289, ia menulis:
Selama berabad-abad, orang-orang Aceh telah membuktikan kesanggupan mereka baik dalam bidang perdagangan dan pertanian maupun dalam bidang peperangan. Selama tahun-tahun pertama perjuangan mereka melawan Belanda di Aceh, mereka telah membuktikan bahwa mereka layak memperoleh perhatian yang besar dari orang-orang Eropa dan kaum muslimin di dunia. Dalam hubungan ini, orang-orang Aceh juga telah memberikan sumbangan kepada perkembangan kesetiaan yang lebih besar di daerah-daerah lain kepada Indonesia.

Pierre Heijboer
Pierre Heijboer, sumber: Motie van Aanwijzing

Dalam wikipedia Belanda  disebutkan bahwa Pierr Heijboer adalah seorang wartawan Belanda yang lahir di Hoensbroek pada tanggal 7 Mei 1937 dan meninggal di Amsterdam pada tanggal 23 Maret 2014. Dalam bukunya yang berjudul Klamboes, Klewangs, Klapperbomen, 1977, halaman 137, ia menulis:
Orang-orang Aceh ternyata bukan saja pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun kubu-kubu pertahanan yang ulung sekali.
Begitulah beberapa pendapat para penulis buku sejarah tentang betapa mengerikan perang Belanda di Aceh.

30 June 2016

Keputusan Alim Ulama Aceh tentang G 30 S PKI

Rakyat berdemonstrasi menuntut pembubaran PKI pasca kejadian G 30 S, sumber foto frewaremini.com.

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN MUSYAWARAH ALIM-ULAMA
SEDAERAH ISTIMEWA ACEH
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Musyawarah Alim-Ulama se-Daerah Istimewa Aceh yang berlangsung dari tanggal 17 sampai dengan 18 Desember 1965 di Banda Aceh, setelah::
MENDENGAR
  1. Prasaran-prasaran (Panglima Pertahanan Daerah Istimewa Aceh, Gubernur / Kepala Daerah Istimewa Aceh, Teungku Haji Abdullah Ujung Rimba, Teungku Haji Hasan, dan Drs. Haji Ismail Muhammad Sjah)
  2. Bahasan-bahasan dari para alim-ulama peserta musyawarah yang datang dari seluruh Daerah Istimewa Aceh
MENIMBANG
  1. Bahwa dasar dan falsafah Negara RI adalah Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang ampuh
  3. Bahwa alim-ulama selaku waratsatul-ambia adalah salah satu potensi yang penting dalam masyarakat, terutama di Daerah Istimewa Aceh, untuk selalu tetap aktif dalam mengamankan dan mengamalkan Pancasila
MEMPERHATIKAN
  1. Pasal 29 UUD 1945
  2. Ketetapan MPRS No. I dan II Tahun 1960
  3. Pernyataan DPR-GR Daerah Istimewa Aceh tanggal 15 Agustus 1962, No. B-7/1/DPRGR/1962 tentang Pelaksanaan Unsur-unsur Syari'at Islam untuk Pemeluknya di Daerah Istimewa Aceh
Mengambil Kesimpulan Sebagai Berikut:

A. Mengenai PKI/G-30S:
  1. Ajaran komunisme dalam lapangan falsafah bersifat ateisme, anti Tuhan dan anti agama
  2. Ajaran komunisme dalam lapangan politik adalah anti demokrasi / kedaulatan rakyat dan kebangsaan
  3. Ajaran komunisme dalam lapangan sosial tidak menghiraukan peri kemanusiaan
  4. Negara Republik Indonesia adalah Negara yang ber-Tuhan, berkebangsaan, berperikemanusiaan, berkedaulatan rakyat dan berkeadilan sosial (Pancasila)
  5. G-30-S adalah pemberontakan PKI yang ke-II dan merupakan suatu bencana (mafsadah)
B. Mengenai Nekolim:
  1. Neokolonialis dalam Islam termasuk zalim, golongan penganiaya terhadap sesama manusia
  2. Yang dimaksud Nekolim atau penjajahan gaya baru ada 2 macam, yang kedua-duanya dihukum zalim:
  • Nekolim di bidang fisik-materiil atau lazim disebut imperialisme dengan ciri-cirinya yaitu: 1) melakukan penghisapan manusia atau bangsa terhadap bangsa lainnya (exploitation de l'homme par l'homme) dengan jalan menghisap kekayaan bangsa yang terjajah untuk kepentingan bangsa yang dipertuan, dan 2) melakukan akumulasi/penumpukan modal yang dipergunakan untuk menindas manusia/bangsa lain.
  • Nekolim di bidang ideologi mental yaitu infiltrasi ideologi yang bertentangan dengan falsafah Pancasila dan kepribadian Bangsa Indonesia termasuk agama Islam yang dianut oleh bahagian terbesar Bangsa Indonesia. Adapun ciri-cirinya, yaitu 1) ajarannya bertentangan dengan salah satu sila atau seluruh sila dari falsafah Negara Pancasila, 2) tindakannya anti Tuhan, anti agam, biadab, dan di luar perikemanusiaan, dan 3) terhadap masyarakat selalu melakukan pembujukan, penghasutan, pemecah-belahan, dan penyebaran kemungkaran/kebathilan serta fitnah.
Dengan ciri-ciri tersebut terang Komunisme PKI merupakan salah satu Nekolim di bidang ideologi mental.  

MEMUTUSKAN
  1. Ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram dianut oleh umat Islam
  2. Pengaruh ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran adalah kafir dan haram jenazahnya diselenggarakan secara Islam
  3. Orang Islam yang memasuki organisasi atau partai yang menganut ajaran komunisme seperti PKI dan antek-anteknya yang bukan dengan keyakinan dan kesadaran adalah sesat dan wajib diperingatkan supaya mereka meninggalkan organisasi atau partai tersebut
  4. Pelaku/dalang G-30-S adalah kafir harbi yang wajib ditumpas habis
  5. Pembubaran PKI dan larangan menyebarkan ateisme dalam bentuk apa pun adalah wajib
  6. Hukum menumpas G-30-S dan memberantas Nekolim adalah wajib bagi umat Islam
  7. Orang yang berjuang menghapuskan Nekolim dan menumpas kezaliman tersebut atas nama Allah, ia termasuk mujahid fisabilillah
  8. Barang siapa gugur dalam perjuangan memberantas Nekolim kezaliman tersebut atas nama Allah dan Negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah syahid
C. Mengenai Fungsi Ulama:
Bidang Kenegaraan:
  1. Ulama adalah penggali dan pengolah hukum, mufti, dan qadli
  2. Ulama adalah penasehat bagi penguasa dan alat-alat pemerintah
  3. Menentukan sikap dalam hukum syara' terhadap hadits dan perkembangan masyarakat dan tanah air
  4. Aktif mempertahankan dasar dan falsafah negara Pancasila dan Negara Kesatuan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia menuju masyarakat sosialis Indonesia yang diridhai oleh Allah
  5. Menyatukan potensi-potensi Islam dalam mensukseskan Revolusi Indonesia
Bidang Kemasyarakat:
  1. Ulama adalah bendaharawan ilmu pengetahuan dan penyuluh umat
  2. Mengimarahkan mesjid, meunasah, dan tempat-tempat ibadah lainnya
  3. Penuntun dan pembimbing umat dalam merealisasikan Piaga Jakarta dan berlakunya Syari'at Islam di Daerah Istimewa Aceh
  4. Menegakkan dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar
D. Mengenai Persatuan Umat: 

Perlu membentuk suatu badan:
Nama
Majelis Permusyawaratn Ulama Daerah Istimewa Aceh

Dasar
Islam

Tujuan
Mempersatukan potensi ulama dan umat Islam

Segala sesuatu mengenai pembentukannya akan diatur kemudian dan untuk ini diserahkan kepada Presidium Musyawarah yang bertempat tinggal di Banda Aceh dengan ketentuan dapat menambah anggota-anggota lain seberapa yang diperlukan.

E. Mengenai Dana Perjuangan Umat:

Semua harta-harta agama perlu segera ditertibkan. Pelaksanaannya diserahkan kepada Majelis Permusyawaratan Ulama Daerah Istimewa Aceh.

Medan Musyawarah, 25 Sya'ban 1385 H
Krueng Daroy Banda Aceh, 18 Desember 1965 M

Presidium Musyawarah:
  1. Tgk. H. Abdullah Ujung Rimba
  2. Tgk. Hasan
  3. Drs. H. Isma'il Muhammad Sjah
  4. Ibrahim Hussein M.A
  5. M. Jasin
  6. Tgk. Zamzami Yahya
  7. Tgk. Abdul Djalil Takengon
LAMPIRAN

Nash-nash Al-Quran yang berhubungan dengan keputusan di atas:
  1. Surat Yunus ayat 90-92
  2. Surat Al-Maidah ayat 33-34
  3. Surat Al-Anfal ayat 39
  4. Surat Al-Haj ayat 39-40
  5. Surat Al-Baqarah ayat 217
  6. Surat An-Nahlu ayat 126-127
  7. Surat Al-Mujadalah ayat 20-22

Keterangan:
Sumber Keputusan Alim Ulama tentang G 30 S PKI di Aceh dari buku Berjuang Untuk Daerah Otonomi Hak Azazi, sebuah otobiografi Said Abubakar yang terbit tahun 1995 
Baca juga:

29 June 2016

Cerita Said Abubakar Saat G 30 S PKI Di Aceh

Ilustrasi demonstrasi pembubaran PKI, sumber foto dari bbc.com.

Pada tanggal 23 Mei 1965 di suatu warung Jalan Perdagangan Banda Aceh, kami sedang duduk-duduk, Aku saat itu aktif di SOKSI, dan M. Nur Bentara yang bekerja di Biro Keuangan Kantor Gubernur aktif di SBII. Sambil minum, Saudara Nur Bentara nyelutuk, "Bagaimana pendapat Bung Said melihat pawai HUT 45 yang baru saja melintas di depan kami. Mereka nampaknya telah berani memperlihatkan kekuatannya, dan telah banyak pemuda-pemudi WNI Cina yang ikut pawai." Memang, jawabku. Ini adalah akibat Bung Karno telah merangkul, memberi angin, membina Nasakom. Dan tidak mustahil barisan pawai tadi disiapkan untuk angkatan kelima. Benar, kata Nur Bentara. Dan ini akan menjadi cemeti untuk mereka mengadakan aksi. Sampai di situ pembicaraan dan kami pun berpisah.

Dalam pikiran aku timbul pertanyaan, para petinggi Pemerintah Pusat, mempunyai kebijaksanaan yang kontradiksi atau paradoks. Waktu aku menerima indoktrinasi dari Panitia Retoling Aparatur Negara (Tim Manipol Pusat) tahun 1960 di Prapat. Baik Ruslan A. Gani dan maupun Kolonel Payakun (mewakili A.H. Nasution), dijelaskan atas pertanyaan peserta, bahwa Nasakom ini di bidang politik saja, tidak dalam eksekutif. Dari S.K Bonar Staf Departemen Penerangan dalam ceramahnya di Salemba 14 Jakarta, kepada aku dan kawan-kawan peserta, bahwa Nasakom telah mara ke eksekutif (kabinet) dan hal ini semua partai-partai setuju kecuali secara pribadi yang tidak setuju adalah K.H Idham Khalid.

CD PKI Aceh menurut evaluasi aku sedang melakukan konsolidasi dengan overbouw-nya, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, GCMI, Lekra, SBKA, dan PGRI Non Vak Sentral serta merangkul juga Baperki.

Wakil Sekretaris CD PKI Aceh Thaib Adamy aktif pergi ke daerah-daerah dan desa-desa, melakukan kampanye pidato-pidato yang menhasut rakyat akibat tidak beresnya aparatur dan pejabat pemerintah dengan Pidato Bung karno setiap tanggal 17 Agustus, ia menggembleng massa, untuk suatu ketika dapat digerakkan untuk mengadakan aksi.

Di eksekutif, selaku BPH tingkat Propinsi duduk Anas AC (Pemuda Rakyat), M. Samikidin duduk selaku BPH Kotamadya Banda Aceh, duduk di Front Nasional. Sementara itu oleh CC PKI tenaga muda Hery Sucipto, ia bertindak sebagai kurir (caraka) samarannya sebagai Wartawan Harian Rakyat.

Dalam bidang dana, pihak Consul RRC Medan memberikan rekomendasi kepada Bank of China Medan melalui jaringan atau jalur CHCH (Yun Hin cs dan Khu Bun Cang cs) diinvestasikan kepada Min Fa (Anyi) Baperki dengan membuka sebuah toko (Toko Cendrawasih) di Banda Aceh. Ching Chin Sum (Baperki) duduk dalam Front Nasional, Lim Ka Kee (Baperki) duduk dalam Pengurus Partindo Banda Aceh. Yang sering mampir di Toko Cendrawasih (penghubung) adalah Cut Husin, dia anggota CD PKI Aceh.

Menjelang shalat Jumat tanggal 1 Oktober 1965, aku dibisikkan oleh seorang kawan dari SOKSI bahwa ia mendengar berita di RRI, di Jakarta telah terjadi coup de tat yang menamakan diri G 30 S dibawah komando Letkol Untung Cakrabirawa. Sesudah shalat aku melapor pada Bupati Ibrahim Saidy dan Kapten M. Syah Asyik di Kodim 0101.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, Front Nasional mengadakan rapat untuk menyatakan sikap mengutuk gerakan yang mengambil alih kekuasaan negara. Rapat dipimpin oleh Nyak Adam Kamil (Gubernur Aceh). Hadir pula Ishak Djuarsa (Pangdam I/Iskandar Muda), Syamsuri Martoyoso (Kepala Kepolisian), Said Mukhtar (PSII), Syaifuddin (NU), T. Ibrahim (Perti), Thaib Adamy dan Abubakar Sidik (PKI), H. Syamaun (PNI). Pangdam I/Iskandar Muda dengan tegas mengatakan: "Serahkan saja kepada rakyat, apakah ia mau mempertahankan Pancasila atau memihak PKI. Rakyat harus bertindak?"

Sejak tanggal 5 Oktober 1965 di Banda Aceh dan kota lain di Aceh telah terjadi demonstrasi dari PNI (Haji Syamaun), para mahasiswa, dan organisasi massa. Dengan mengelukan Allahu Akbar, menuntut agar PKI dibubarkan. Kantor PKI diobrak-abrik. Malamnya terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap anggota dan overbouw PKI serta Baperki.

Waktu terjadi demonstrasi itu, kebetulan aku berdiri di samping Osman Adamy. Para demonstran meneriakkan yel-yel: Bubarkan PKI! Bunuh orang PKI! Osman Adamy mengacungkan tangannya tanda setuju (meskipun Thaib Adamy adalah adik kandungnya sendiri).

Pada 16 Desember 1965, diadakanlah Musyawarah Ulama Aceh yang melahirkan fatwa "Komunisme hukumnya kufur dan haram". Oleh Pangdam I / Iskandar Muda selaku Ketua Pepelrada, untuk Kodim 0101 (Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar) selaku Kosekhan, maka diperintahkan untuk membentuk Tim Screening guna meneliti dan memproses para anggota PKI dan ormasnya. Tim Screening ini dapat menentukan apakah mereka terlibat atau tidak dalam G 30 S PKI.

Dengan adanya tim ini, telah dapat dihindarkan tindakan liar dari para pemuda atau ormas untuk mengambil keputusan terhadap orang yang dituduhkan sebagai anggota PKI atau ormasnya.

Ketua Tim Screening Kosekhan 0101 dipegang langsung oleh Dandim, Wakil Kapten Drs. M. Syah Asyik. Anggota-anggota: Letnan T. M. Jalil, Letnan M. Daud Musa (CPM), Peltu Syamsuddin (CPM), Suherman, A. Mukti, Syamsuddin (dari Kepolisian), Sudarman (dari Kejaksaan Negeri), dan aku sendiri (Said Abubakar) mewakili dari Biro Politik dan Keamanan.

Kantornya di gedung Baperki, sekarang SMP 7 Peunayong Banda aceh, kemudian dipindahkan ke kantor Kodim 0101 di Jalan. Sultan Mahmudsyah.

Selain dari itu, anggota PKI dan ormasnya dari Kotamadya Sabang, juga dibawa ke Banda Aceh untuk diseleksi terlibat atau tidak.

Sekretaris dan Wakil Sekretaris CD PKI Aceh, Muhammad Samikidin dan Thaub Adamy telah terbunuh. Thaib Adamy waktu akan dipancung, dia minta disampaikan salam kepada Bung Karno, dan meneriakkan "Hidup Bung Karno!". Ketua Gerwani, Ketua Pemuda Rakyat, anggota CGMI, Ketua Baperki, dan lain-lainnya telah dieksekusi oleh pemuda. Biro Khusus Nyak Amat diajukan ke pengadilan. Keluarga (isteri dan anak-anak M. Samikidin) oleh Kosekhan (Tim Screening) dikawal melalui kereta api diantar dengan selamat ke kampungnya di Tanjungpura. Kalau ada 1 orang yang dibunuh massa anak-anak 14 tahun adalah Husni (anak Thaub Adamy). Kasan Siregar, mantan Ketua PKI, pada waktu akan dieksekusi, sesudah ia shalat, lalu berbisik kepadaku di kantor Screening. Pak Said, katanya: "Saya sudah tua, kalau mati tidak jadi soal. Tapi anak saya masih ada yang kecil." Aku hanya menjawab: "Pak Kasan, ini air bah, akan merusak tebing-tebing dan menumbangkan pohon di pinggirnya".

Selain daripada itu, khusus di luar Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, penertiban gerakan aksi massa seperti menangkap aktivis PKI, disarankan kepadaku oleh A. Wahab Ibrahim dan M. Daud Mansur. Aktivis PKI yang lari keluar Aceh, yaitu Cut Husin, K. Ampio, dan Lim Ka Kee. Isu diluaran ada sekitar 10.000 aktivis PKI di seluruh daerah Aceh. Tetapi menurut perkiraanku dan kawan-kawan, hanya sekitar 3.000 orang temasuk 1 orang (Kifli) dan Hery S yang pernah dilatih di Lubang Buaya. Seorang dokter pribadi presiden yang ikut dalam rombongan Presiden Soekarno ke Aceh, pernah bertanya kepadaku apakah benar orang Aceh telah banyak membunuh wanita dan anak-anak? Aku jawab tidak benar, seperti diiuskan, kalau perempuan tidak lebih dari 15 orang (Gerwani dan CGMI) dan anak-anak hanya 1 orang (Anak Thaib Adamy).

Pada saat aksi massa bergulir, diisukan para pemuda yang memperkosa dan mengambil harta Cina. Menurut analisaku, tidak semuanya benar. Hanya 1 orang dari Pertindo dan telah dieksekusi oleh Tim Screening. Tetapi oknum-oknum lain mempunyai berbagiai silang sengketa sesama penduduk, memang ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, memfitnah lawannya dengan PKI. Namun, Tim Scereening cukup arif, Dan salah satu kasus, aku dan Wakil Kapolres Aceh Besar (A. Jalil Ibrahim) dapat menyelesaikan dengan cara perdamaian di sutu meunasah Montasik.


Cerita di atas bersumber dari buku otobiografi yang berudul Berjuang Untuk Daerah Otonomi Hak Azazi Insani karya Said Abubakar, halaman 96-100.

Baca juga:  

28 June 2016

Kisah PKI di Aceh

Partai Komunis Indonesia, sumber foto: Wikipedia.

Saya penasaran bagaimana kiprah PKI (Partai Komunis Indonesia) dulu di Aceh. Tidak banyak yang saya ketahui tentang PKI di Aceh. Saya pernah menanyakan perihal PKI pada nenek saya yang masih hidup. Nenek saya hanya menjawab datar, seperti ada sesuatu yang tidak ingin beliau ungkit lagi. Namun nenek saya hanya mengatakan bahwa pada masa PKI dulu di Aceh banyak terjadi pemukulan dan pengejaran terhadap orang-orang yang terlibat dalam PKI di Aceh. Suasana saat itu sangat mencekam, kata nenek saya. Orang-orang diselimuti perasaan curiga yang tak menentu. Bahkan ada orang-orang yang tak terlibat PKI menjadi sasaran amukan massa. 

Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Pakwa saya. Beliau melukiskan bagaimana orang-orang yang tak bersalah menjadi korban. Misalnya, dulu ada sebuah organisasi bernama HTI (Himpunan Tani Indonesia). Saya tidak mengetahui lebih jauh mengenai organisasi ini. HTI ini sering memberikan bantuan-bantuan pertanian kepada rakyat desa. Ketika meletusnya gerakan PKI, anggota-anggota HTI ini malah dihubung-hubungkan dengan kegiatan PKI. Pakwa saya juga tidak mengetahui banyak bagaimana bisa atau apakah ada hubungan antara PKI ini dengan organisasi HTI tersebut. Semuanya masih membutuhkan realitas jawaban yang benar. 

Kemudian saya coba menelusuri di internet, namun tidak banyak juga cerita tentang PKI di Aceh. Hanya saja terdapat satu tokoh yang dikait-kaitkan dengan PKI di Aceh, yaitu Thaib Adamy. Di sinilah saya mulai menelusuri kisah PKI di Aceh. Akhirnya, saya sampai kepada sebuah buku yang di dalamnya mengungkit sekilas tentang PKI di Aceh. Dalam postingan blog berikut ini, saya akan menyajikan tulisan mengenai PKI di bawah ini yang bersumber dari Said Abubakar, Berjuang untuk Daerah Otonomi Hak Azazi Insani, Banda Aceh: Yayasan Nagasakti, 1995.

Aceh Menghukum PKI

Komunis adalah ideologi dari dasar historis materialisme yang bertentangan dengan agama. Ideologi ini masuk ke Indonesia tahun 1913 yang dibawa oleh H.J.F.M Sneevliet, seorang tokoh Partai Revolusioner Sosialis di Belanda. Ia bermukim di Surabaya. 

Dalam program CC PKI dijelaskan bahwa:  
Kader komunis sebagian harus mempelajari setiap agama sedalam-dalamnya dan dengan pengetahuan yang tinggi ini, jadikanlah masyarakat Indonesia pembenci agama. Sebab, selama kaum agama masih ada, selama rakyat percaya pada Tuhan, kaum komunis tidak dapat berkuasa mutlak.
Kalau dahulu agama Islam tidak sampai ke Indonesia, niscaya PKI telah memperoleh kemenangan di Indonesia.

Dalam Das Kapital Karl Marx menulis:
Die religiom ist der Seufzer der Bedrangten Kresterm das gemut eir herlosen welts, wie sie der geisr zustande ist sie ist das opium des volks.
Terjemahan:
Agama adalah keluhan dari makhluk yang tertindas, agama adalah jiwa dari dunia yang tidak mengenal belas kasihan. Agama adalah jiwa dari keadaan yang tidak bersemangat. Agama adalah candu bagi rakyat. 
Aceh penduduknya semuanya beragama Islam dan menganut secara fanatik sampai ke tulang sumsumnya, oleh PKI dijadikan suatu area yang istimewa dengan mengirim kader-kadernya yang mengerti agama Islam. Mereka bersumber dari pecahan Serikat Islam menjadi Sarekat Islam Merak dan terakhir PKI dan dicari kader-kader yang memasuki Madrasah Islamiyah. Pada tahun 1919, kader komunis Nathar Zainuddin (1880-1950) dari Padang datang ke Lhokseumawe. Ia menjadi Pengurus Sarekat Islam, pada tahun 1922 setelah kembali dari Jawa ia aktif dalam Vereeniging Staats Sporr en Tram Personel (Sarekat Buruh Kereta Api)). Dalam tahun 1923, Nathar Zainuddin menggerakkan pemogokan buruh kereta api.

Menurut seorang pengamat bangsa Belanda (Gonggrips), Haji Datuk Batuah dan Nathar Zainuddin adalah para penganjur pertama faham Komunisme-Islam. Dalam tahun itu, Nathar Zainuddin bersama Haji Datuk Batuah menerbitkan majalah di Padang Panjang bernama JAGO-JAGO (bahasa Minang) yang artinya Bangun-Bangun! dan juga majalah yang bernama Pemandangan Islam. Pada tahun 1924, Nathar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap Belanda dan dibuang ke Timor Kupang, kemudian pada tahun 1928 Zainuddin dibuang di Boven Digul. Pada tahun 1939, Nathar Zainuddin dibebaskan dan kembali di Medan bergabung dengan Abdul Xarim MS (lahir di Idi). Bersama Nathar Zainuddin (adik ipar Abdul Xarim MS) dibagilah tugas, di mana Abdul Xarim MS tetap di Medan dan Nathar Zainuddin menyamar dalih menggalas sampai ke Aceh Barat. Ia berhasil dapat menggalang pemuda di Aceh. Dan ia pun sering hilir mudik ke timur dan barat Aceh.

Selama Jepang berkuasa, Nathar Zainuddin berhasil merangkul beberapa orang anggota Kempetay (Polisi Militer Jepang) di Medan dan Aceh. Dengan cara ini, ia dapat menyelamatkan teman-teman seperjuangannya dari pembunuh Kempetay Jepang. Pada saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945-1947, Nathar Zainuddin menjadi aktor intelektual yang mempunyai pengaruh pada laskar-laskar rakyat dan ia senantiasa berada di belakang layar gerakan itu. Di Sumatera Timur, kawannya yang bernama Zainal Baharuddin  dan di Aceh Suwarno Sutarjo dan Amir Husin Al-Mujahid, di mana yang menjadi otak aksi-aksi politik masa itu adalah Nathar Zainuddin. 

Pada masa agresi Belanda kedua, ia kembali ke Minangkabau dan bergabung dengan PDRI dan ikut bergerilya. Pada tanggal 24 Mei 1950, ia meninggal di Padang.

Setelah keluarnya Maklumat No. 3 pada bulan November 1945 tentang berdirinya Partai-partai Politik, di Aceh CD PKI dipimpin oleh R. Soleh, Abdul Manaf, dan Kasan Siregar. Ketiganya adalah pegawai pada ASS (Aceh Tram) dan ketiganya taat pula dalam menjalankan shalat. Malah Abdul Manaf sempat mengeluarkan brosur tentang "Islam dan Komunisme" pada awal-awal revolusi. Dari Soleh dan Abdul Manaf, pimpinan PKI Aceh pernah dijabat sebentar oleh Teungku Djakfar Walad, dan kemudian dipimpin kembali oleh Kasan Siregar.

Setelah penyerahan kedaulatan atau sesudah keluarnya "Jalan Baru" dari DN Aidit (1953) yang berkiblat ke Peking atau Mao Tsu Tung, ketua PKI Aceh ditunjuklah Mohd. Samikidin dengan dibantu oleh Thaib Adamy, Cut Husin, dan K. Ampio. Penunjukan Mohd. Samikidin meskipun ia bukan putera Aceh, tetapi ia lulusan Sekolah Agama Islam di tanjung Pura. Dengan berpedoman kepada Manipol Usdek dari Bung Karno dengan poros NASAKOM serta pidato Presiden 17 Agustus 1962 yang berjudul "Djarek (Jalannya Revolusi Kemerdekaan_ dan lain-lain, di mana Presiden Soekarno mengomandokan untuk mengganyang kaum salah urus kapitalis birokrat serta pencoleng harta-harta kekayaan negara. Konsep pidato Presiden Soekarno dan Nyoto PKI, maka Thai Adamy sebagai Wakil Ketua (Wakil Sekretaris CD PKI) telah mengadakan pidato agitasi ke daerah-daerah. Pada tanggal 3 Maret 1963, PKI mengadakan Rapat Umum di Sigli. Thaib Adamy berpidato dalam rapat tersebut di mana telah melontarkan fitnah kepada alat/pejabat negara dalam bahasa Aceh:

Tajak bak Geuchik lagee boh piek hana sagoe
Tajak bak Mukim lagee bieng hana rampagoe
Tajak bak Aswed lagee langet hana uroe
Tajak bak Wedana lagee tima hana taloe
Tajak bak Bupati legee jeungki hana sujoe
Tajak bak Polisi lagee keudidi keunong gandoe
Tajak bak Teuntra lagee nuga kayee jatoe
Tajak bak Gubernur lagee cinu hana garoe
Tajak bak Meuntri lagee gusi hana gigoe

Artinya:

Kita pergi ke Kepala Kampung seperti gambas tiada gigi
Kita pergi ke Kepala Mukim seperti kepiting tidak menjepit
Kita pergi ke Camat seperti langit tak bermatahari
Kita pergi ke Wedana seperti timba tidak bertali
Kita pergi ke Bupati seperti lesung tak berbaji (paku)
Kita pergi ke Polisi seperti puyuh kena ketapel
Kita pergi ke Tentara seperti pentung kayu jati
Kita pergi ke Gubernur seperti gayung tak bergagang
Kita pergi ke Menteri Negara seperti gusi tidak bergigi

Berdasarkan pidato Thaib Adamy itulah Jaksa Penuntut, Mohd. Hasan Basri, SH telah menuduh Thaib Adamy menyebarkan cerita bohong dan penghasut rakyat. Maka sesuai dengan Pasal 14, 15 UU No, 1 tahun 1946 dan Pasal 134, 160 KUHP, dituntut hukuman penjara selama 2 tahun. Kemudian dalam sidang tanggal 16 September 1963, Pengadilan Negeri Sigli telah memutuskan bahwa Thaib Admy, Wakil Sekretaris Pertama Komite PKI Aceh sesuai dengan pasal-pasal di atas, maka dihukum selama 2 tahun penjara potong selama masa tahanan. Thaib Adamy lewat pembelanya Sofyan, SH dan Syahriar Sandan, SH melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan. Dukungan juga datang dari CC PKI Jakarta pada tanggal 26 September 1964 dan selama banding diminta tahanan luar. Sementara itu CD PKI (Thaib Adamy) telah menerbitkan buku yang berjudul "PKI Mendakwa" yang isinya berupa pembelaan Thaib Adamy. []

Baca juga: