26 June 2016

Jepang Masuk Ke Aceh, Belanda Keluar

Tentara Jepang tahun 1940-an, sumber foto: Getty Images.

Berbicara tentang sejarah Aceh tidak akan pernah selesai. Aceh adalah sebuah negeri yang unik dan memiliki latar belakang sejarah yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Kita harus mengakui bagaimana rakyat Aceh dengan heroiknya mampu meladeni serangan-serangan Belanda. Perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda tidak terpaku pada ketokohannya saja, tapi rakyat Aceh mampu melawan Belanda kapan saja dan di mana saja, baik perorangan maupun secara berkelompok. Lantas bagaimana dengan perjuangan rakyat Aceh melawan kebengisan penjajah Jepang?

Sejarah mencatat (T. Ibrahim Alfian, dkk, 1982:9-10) bahwa Jepang mendarat di Aceh pada tanggal 12 Maret 1942. Pendaratan Jepang dilakukan pada tiga tempat yang berbeda, yaitu di Krueng Raya, Sabang, dan Peureulak. Jepang mendarat ke Aceh tanpa rintangan apa pun. Baik dari Pemerintah Belanda maupun dari rakyat Aceh sendiri, malah sebaliknya rakyat Aceh pada kala itu menyambut baik kedatangan Jepang dengan perasaan senang dan turut membantu mereka. 

Saya melihat hal ini wajar saja, karena pada masa-masa akhir penjajahan Belanda, rakyat Aceh masih intens melakukan perlawanan terhadap Belanda. Rakyat Aceh menganggap bahwa kedatangan Jepang ke Aceh juga dapat membantu mereka untuk sama-sama mengusir Belanda dari tanah Aceh. Selain itu (T. Ibrahim Alfian, dkk, 1982:10) jauh-jauh hari sebelum Jepang mendarat ke Aceh, Jepang telah melakukan hubungan politik yang menguntungkan mereka dengan mengadakan kontak langsung dengan para pemimpin rakyat, utamanya dari golongan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). PUSA ini menjadi panutan rakyat karena golongan inilah yang menjadi inti dalam melakukan aksi dan perlawanan terhadap Belanda.

Mengenai perjuangan PUSA dalam bentuk politik, menurut Bambang Suwondo (1983:13-14) misalnya dengan mengadakan rapat-rapat rahasia untuk menyusun strategi yang tepat dalam menghadapi Belanda, serta mengadakan hubungan dengan luar negeri guna memperoleh bantuan. Pada sebuah rapat rahasia bulan Desember 1941 yang dihadiri oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Abdul Wahab (PUSA), Teuku Nyak Arief (Panglima Sagi XXVI Mukim), Teuku Muhammad Ali Panglima Polem (Panglima Sagi XXII Mukim), Teuku Ahmad (uleebalang Jeunib-Samalanga) dan lain-lain mengucapkan ikrar setia kepada agama Islam, bangsa, dan tanah air, menyusun pemberontakan bersama melawan pemerintah Belanda dan bersetia kepada Dai Nippan. Terkait hubungan dengan Jepang yang dilakukan oleh PUSA, diutuslah Said Abu Bakar dan Syekh Ibrahim secara khusus guna menjajaki kemungkinan masuknya Jepang ke Aceh dengan tujuan secepat mungkin untuk mengusir Belanda.

Hubungan Jepang dengan utusan-utusan ini direalisasikan dengan mengumpulkan orang-orang Aceh yang ada di Pulau Pinang dan Malaya seraya menganjurkan kepada mereka untuk kembali ke Aceh guna membentuk organisasi rahasia yang bernama "Fujiwara Kikan" atau yang lebih sering disebut dengan Barisan "F", karena mereka memakai inisial "F" sebagai lambangnya. Dan salah seorang pelopornya adalah Said Abu Bakar, utusan yang pernah dikirim oleh PUSA untuk berdiplomasi dengan Jepang. Melalui Barisan "F" ini, Jepang memberikan indoktrinasi serta janjinya untuk mempercepat pengusiran Belanda di Aceh. Barisan "F" ini berperan dalam melakukan kampanye untuk memuluskan jalan bagi pendaratan Jepang. Mereka mempropagandakan tentang rencana pendaratan Jepang serta menyebarluaskan janji-janji Jepang ke seluruh daerah (Bambang Suwondo, 1983:17).

Dari kedua pandangan di atas, maka PUSA memiliki peran penting dalam mendatangkan Jepang ke Aceh. Tapi perlu diingat, bahwa tujuan PUSA semata-mata hanyalah ingin mengusir Belanda dari Aceh dengan bantuan tentara Jepang. Karena pada masa itu tidak memungkinkan bagi Aceh untuk menumpas akar-akar kolonialisme Belanda tanpa dukungan perlengkapan perang yang lengkap. Jadi, mereka masih menganggap bahwa niat Jepang masih tulus dalam membantu perjuangan rakyat Aceh, meskipun kelak Jepang mempunyai misi lain yang lebih parah dari Belanda.

Setelah Jepang mendarat, mereka langsung menyerang pertahanan-pertahanan Belanda yang masih tersisa di Aceh. Takengon menjadi basis pertahanan utama Belanda saat itu. Menurut T. Ibrahim Alfian, dkk (1982:11) di daerah Tanah Alas dan Gayo Lues terdapat dua markas teritorial, yaitu di bawah pimpinan Gosenson dan Overakker. Mulanya Gosenson mempertahankan serbuan Jepang dari jurusan Takengon, sedangkan Overakker mempertahankan serangan yang dilancarkan dari arah Tanah Karo dengan memusatkan pertahanan di Kutacane. Pada tanggal 24 September 1942, tentara Jepang terus melancarkan serangan untuk menemukan dan mendesak kedudukan kedua markas teritorial Belanda itu. Tentara Jepang terus saja memblokade kedudukan Belanda di sana. Tekanan demi tekanan yang dilancarkan Jepang seperti itu telah menyebabkan Overakker dan Gosenson terpaksa menyerah kepada Jepang di Blangkeujren pada tanggal 28 Maret 1942. Dan pada tanggal itulah berakhirnya kekuasaan Belanda secara resmi di tanah Aceh. 

Kisah di atas hampir senada dengan Bambang Suwondo (1983:17-18) sejak Jepang mendarat, mereka bersama dengan rakyat terutama Barisan "F" terus melakukan serangan terhadap tentara Belanda. Dalam situasi tersebut, Gosenson yang telah memindahkan markasnya ke Takengon, namun masih juga terdapat sebagian tentaranya yang tinggal di Kutaraja untuk mempertahankan Lhok Nga. Tentara Belanda ini terpaksa mundur melalui pantai barat dan selatan guna bergabung dengan pertahanan mereka yang ada di sana. 

Selain itu, tentara Belanda yang masih berada di Aceh Besar dan Pidie juga terus diserang sehingga mereka terpaksa lari ke Tangse dan Geumpang yang merupakan pertahanan kedua setelah Takengon. Pada tanggal 19 Maret 1942, pasukan Jepang telah berada di sana dan pertempuran pun tak terelakkan yang menyebabkan Belanda menyerah pada hari itu juga kepada Jepang. Selanjutnya tanggal 24 Maret 1942, Jepang juga menyerang Lembah Alas, Gayo Lues yang telah menjadi kubu pertahanan Overakker dan Gosenson. Rencana kedua pemimpin teritorial Belanda ini untuk bertahan tidak memungkinkan lagi dan terpaksa menyerah kalah kepada pendudukan Jepang pada tanggal 28 Maret 1942 di Blangkeujren (Bambang Suwondo, 1983:18-19). 

Maka sejak tanggal 28 Maret 1942, secara resmi Jepang telah berkuasa sepenuhnya di seluruh daerah Aceh dan akan mengatur langkah selanjutnya dalam usaha penanaman kekuasaan. Pada masa Jepang, sistem pemerintahan di Aceh masih seperti yang telah diatur oleh Pemerintah Belanda terdahulu. Daerah Aceh terdiri atas daerah yang disebut Zelfbestuursgebied (daerah berpemerintahan sendiri) dan Rechsreeks Bestuur Gebied (daerah yang berada langsung di bawah Gubernur atau Pemerintah Belanda).

Pada masa-masa awal masuknya Jepang ke Aceh, rakyat merasakan sebuah euforia. Menurut Amran Zamzami (1990:19) ketika Jepang masuk ke Aceh, rakyat menyambut dengan suka ria, bahkan ada yang bersedia menyediakan makanan kelapa atau buah-buahan serta berteriak: "Banzai Dai Nippon, banzai, banzai." Hal-hal itulah yang membuat pemuda-pemuda Aceh keranjingan heiteisan, gandrung pada jiwa keprajuritan. Mereka memimpikan kegagahperkasaan untuk membela tanah air dengan pangkat-pangkat kasikan (bintara), syukur kalau-kalau bisa menjadi perwira dengan sepatu "pacok" dan samurai bergantung di pinggang. Anak-anak dan para pelajar setiap pagi giat melakukan taiso (senam) di samping baris-berbaris serta apel yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yaitu Kimigayo. Lagu yang menanamkan rasa hormat kepada militer pun digunakan untuk menumbuhkan jiwa keprajuritan pada anak-anak. Setiap anak bahkan hafal nyanyian Heiteisan Yo Arigato (terima kasih kepada tuan serdadu) dan Myoto Okaino, serta fasih meneriakkan pekik selamat kepada Kaisar Jepang: Banzai Tenno Heika, Banzai! 

Namun semua keindahan itu hanyalah bersifat sementara. Pada kenyataan selanjutnya, sebagaimana yang kita tahu, bahwa Jepang yang menjajah kita lebih kejam dalam memperlakukan rakyat kita daripada Belanda. Sehingga ada ungkapan yang mengatakan "lebih baik dijajah Belanda selama 300 tahun daripada dijajah oleh Jepang selama 3 tahun". Semua itu adalah kenangan pahit sejarah bagi kita. 

Daftar Pustaka
  • Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area, Jakarta: Bulan Bintang, 1990
  • Bambang Suwondo (ketua), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983
  • T. Ibrahim Alfian, dkk, Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh (1945-1949), Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982

25 June 2016

Riwayat Kehidupan Lengkap Ali Hasjmy

Prof. Ali Hasjmy

Ali Hasjmy yang lahir tanggal 28 Maret 1914 memiliki nama kecilnya yaitu Muhammad Ali Hasjim. Dalam tahun 30-an dan 40-an sering memakai beberapa nama samaran dalam setiap karangan-karangan berupa puisi dan cerpen, seperti misalnya Al Hariry, Aria Hadiningsun, dan Asmara Hakiki.

Pendidikan yang telah ditempuhnya, yaitu Government Inlandsche School Montasie Banda Aceh, Thawalib School Tingkat Menengah Padang Panjang, Al-Jami'ah Al-Qism Adaabul Lughah wa Tarikh Al-Islamiyyah (Perguruan Tinggi Islam Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam) di Padang dan dalam tahun 50-an mengikuti kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.

Hidup dengan seorang isteri dan mempunyai tujuh orang anak, enam laki-laki dan seorang perempuan, yaitu:

Isteri bernama Zuriah Aziz yang lahir pada bulan Agustus 1926 dan menikah pada tanggal 14 Agustus 1941. Dari hasil perkawinan tersebut, lahirlah sebagai berikut:
  1. Mahdi A. Hasjmy, lahir 15 Desember 1942.
  2. Surya A. Hasjmy, lahir 11 Februari 1945.
  3. Dharma A. Hasjmy, lahir 9 Juni 1947.
  4. Gunawan A. Hasjmy, lahir 5 September 1949 (meninggal 12 September 1949)
  5. Mulya A. Hasjmy, lahir 23 Maret 1951.
  6. Dahlia A. Hasjmy, lahir 14 Mei 1953.
  7. Kamal A. Hasjmy, lahir 21 Juni 1955.


Pengalaman Pergerakan

Sejak muda, Ali Hasjmy telah aktif bergerak dalam berbagai pergerakan, di antaranya tahun 1932 sampai dengan 1935 menjadi anggota Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) dan dari tahun 1933 sampai dengan 1935 menjadi Sekretaris HPII Cabang Padang Panjang. HPII merupakan onderbow dari partai politik Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), suatu partai radikal yang menganut sistem nonkooperasi terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, tahun 1934 dipenjarakan selama empat bulan di Padang Panjang dengan tuduhan melanggar undang-undang larangan rapat.

Pada tahun 1935, bersama-sama beberapa pemuda yang baru kembali dari Padang mendirikan Sepia (Serikat Pemuda Islam Aceh)) dan kemudian terpilih menjadi Sekretaris Umum Pengurus Besar Sepia. Sepia kemudian diubah menjadi Peramiindo (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), menjadi salah seorang anggota pengurus besarnya. Peramiindo merupakan suatu gerakan pemuda radikal yang giat melakukan gerakan politik menentang penjajahan Belanda.

Sejak tahun 1939, menjadi Anggota Pengurus Pemuda PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Aceh Besar serta menjadi Wakil Kwartir Kepanduan KI (Kasysyafatul Islam) Aceh Besar. PUSA meskipun bukan partai politik, tetapi kegiatannya merupakan gerakan politik menetang penjajahan Belanda. Kemudian tahun 1941, bersama beberapa orang teman dari Pemuda PUSA mendirikan suatu gerakan rahasia (gerakan bawah tanah) dengan nama "Gerakan Fajar", dengan tujuan mengorganisir pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan ini dengan cepat menjalar ke seluruh daerah Aceh. Sejak awal tahun 1942, gerakan ini aktif melakukan sabotase di seluruh Aceh sampai meningkat kepada perlawanan fisik, di antaranya minggu ketiga Februari 1942, sejumlah pemuda Kasysyafatul Islam yang terlatih menyerbu Kota Seulimuem dan membunuh Kontroleur Tiggelmen dan terjadi pula pertempuran di Kemireu. Selanjutnya pertempuran menjalar ke seluruh daerah Aceh.

Karena Ali Hasjmy memimpin pemberontakan itu pula maka ayahnya Teungku Hasjim ditangkap Belanda dan baru bebas setelah Belanda lari dari Aceh. Pada awal tahun 1945, bersama-sama sejumlah pemuda yang bekerja pada Kantor Aceh Sinbun dan Domei, mendirikan suatu gerakan rahasia IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang bertujuan mengadakan persiapan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda kalau Belanda kembali setelah kalahnya Jepang yang memang waktu itu telah diperkirakan kekalahannya.

Setelah Jepang menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, IPI bergerak aktif secara terang-terangan terutama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menggerakkan kekuatan rakyat terutama pemuda untuk mempertahankan Proklamasi otu.

IPI kemudian berubah menjadi BPI (Barisan Pemuda Indonesia), berubah lagi menjadi PRI (Pemuda Republik Indonesia), dan akhirnya menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).

Pesindo Aceh memisahkan diri dari DPP Pesindo setelah DPP Pusat dipengaruhi oleh PKI dan berdiri sendiri dengan mengambil Islam menjadi asasnya. Pesindo Aceh yang telah mengambil Islam menjadi dasarnya, mendirikan sebuah divisi lasykar yang bernama Divisi Rencong. Sejak dari IPI sampai kepada Divisi Rencong, terus berada di bawah pimpinan Ali Hasjmy. Divisi Rencong, bersama-sama dengan Divisi Gajah (kemudian menjadi Divisi X), Divisi Teungku Chik Payabakong dan Divisi Teungku Chik Di Tiro berjuang dengan heroik untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Partai politik yang pernah dimasukinya yaitu Permi (Persatuan Muslim Indonesia) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Waktu di Aceh menjadi Ketua Dewan Pinpinan Wilayah. Setelah pindah ke Jakarta, terpilih menjadi Ketua Departemen Sosial Lajnah Tanfiziyah DPP PSII.

Demikianlah secara kontinyu dan terus-menerus aktif dalam setiap kegiatan baik sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Pada awal September 1945, dengan menghadapi ancaman Jepang yang masih berkuasa di Aceh, dalam suatu upacara yang penuh khidmat dinaikkanlah Sang Saka Merah Putih di depan Kantor IPI (bekas Kantor Aceh Sinbun) yang disaksikan oleh ribuan pemuda dan masyarakat umum. Inilah bendera Merah Putih yang pertama dikibarkan di angkasa Banda Aceh yang kemudiannya baru disusul di tempat-tempat yang lain.

Pengalaman Kepegawaian

Setelah Indonesia merdeka, aktif sebagai pegawai negeri dan menduduki berbagai jabatan, di antaranya: pernah menjadi Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh, Kutaraja (1946-1947); menjadi Kepala Jawatan Sosial Keresidenan Aceh dengan pangkat Bupati (1949); Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); menjadi Inspektur Kepala Jawatan Sosial Propinsi Aceh (1950); Kepala Bagian Umum pada Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial Kementerian Sosial di Jakarta (1957); diangkat menjadi Gubernur Propinsi Aceh (1957); dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh (1960-1964); menjadi anggota "kabinet" Menteri Dalam Negeri (1964-1966) di Jakarta, dan dipensiunkan sebagai pegawai negeri sebelum masanya (dalam usia 52 tahun) atas permintaan sendiri (1966); diangkat kembali sebagai tenaga sukarela menjadi Dekan Fakultas Dakwah/Publisistik IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (1968); diangkat dan dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam Ilmu Dakwah (1976) dan kemudiannya diangkat sebagai pegawai bulanan organik menjadi Rektor IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh (1977 sampai November 1982).

Selain aktif sebagai pegawai negeri, juga bergerak dalam berbagai bidang kegiatan kemasyarakatan, di antaranya menjadi Anggota Badan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (1946-1947); Anggota Staf Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947); Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (1949); Pimpinan Kursus Karang Mengarang di Kutaraja dan menjadi staf pengajar (1947-1948 dan 1950-1951); menjadi Ketua II Panitia Persiapan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan (1957); Wakil Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Ekonomi Negeri Kutaraja (1958); Ketua Umum Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Agama Islam Negeri Kutaraja (1959); Anggota Pengurus Besar Front Nasional (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) (1960); Ketua DPR-GR Daerah Istimewa Aceh (1961); Ketua Dewan Kurator Universitas Negeri Syiah Kuala (1962-1964)' Rektor IAIN Ar-Raniry (1963); Pimpinan Umum Harian Nusa Putra dan Staf Redaksi Harian Karya Bhakti di Jakarta (1964-1965); Anggota MPRS Golongan B (Wakil Daerah Istimewa Aceh) tahun 1967; dan sejak itu pula menjadi dosen dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam, Ilmu Dakwah, dan Publisistik, pada beberapa fakultas di Kopelma Darussalam. Kemudian dipilih menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sampai 1994), dan sejak berdirinya terus menjadi anggota Dewan Petimbangan Majelis Ulama Indonesia Pusat di Jakarta; Ketua Umum LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh); Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia Daerah Istimewa Aceh.

Khususnya dengan Daerah Istimewa Aceh dan Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam, Ali Hasjmy mempunyai andil yang cukup besar.

Pengangkatan beliau sebagai Gubernur Aceh tidak terlepas dari usaha pemulihan keamanan Daerah Aceh yang sedang diamuk perang saudara sehingga Daerah Aceh bisa berubah dari darul harb menjadi darussalam.

Demikian pula dalam rangka mengejar ketinggalan Daerah Aceh dari daerah-daerah lainnya akibat perang yang terus-menerus, sejak diangkat menjadi Gubernur Aceh, Ali Hasjmy bersama beberapa orang kawan seperjuangan lainnya mulai memikirkan dan memusatkan pikirannya untuk membangun pusat-pusat pendidikan di seluruh daerah Aceh.
Sebagai hasilnya, kini telah dapat kita saksikan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam dan dua perguruan tinggi di dalamnya, IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

Kopelma Darussalam merupakan pusat pendidikan untuk tingkat propinsi. Di samping itu telah berdiri pula beberapa perkampungan pelajar di beberapa kabupaten dan beberapa Taman Pelajar pada beberapa kecamatan di seluruh daerah Aceh. Dan kini telah meningkat menjadi Pusat Pendidikan Tinggi Darussalam Mini.

Telah puluhan kali Ali Hasjmy menghadiri dan menyampaikan makalah dalam berbagai seminar, lokakarya, simposium, konferensi, dan muktamar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Akhirnya dapat dijelaskan bahwa Ali Hasjmy telah tiga kali menunaikan ibadah haji, beberapa kali melaksanakan ibadah umrah dan telah beberapa kali melakukan perlawatan ke Timur Tengah (Mesir, Saudi Arabia, Kuwait, dan Bahrain), Pakistan, Muangthai, Singapura, Malaysia, Philipina, Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.

Perlawatan ke luar negeri yang pernah dilakukan antara lain:
  1. Tahun 1949 menjalankan tugas negara Republik Indonesia sebagai Anggota Misi Haji Republik Indonesia II ke Saudi Arabia dan Mesir selama tiga bulan.
  2. Dalam tahun 60-an beberapa kali ke Malaysia dan Singapura untuk menyertai berbagai seminar dan pertemuan sastra.
  3. Dalam tahun 1979 berkunjung ke Sabah, memenuhi undangan Kerajaan Negara Bahagian dan Yayasan Sabah untuk memberi serangkaian dakwah Islamiyah dan menghadiri beberapa diskusi tentang Islam.
  4. Dalam tahun 1979 juga berkunjung ke Ipoh dan Kuala Lumpur untuk Hari Sastra Malaysia, dan memberi sebuah prasaran yang berjudul "Bahasa dan Sastra Melayu di Aceh". 
  5. Bersama dengan istri, dalam tahun 1978 menunaikan ibadah haji.
  6. Dalam tahun 1979, bersama Menteri Agama RI mengunjungi Bahrain, Saudi Arabia, dan Kuwait.
  7. Dalam tahun 1980 berkunjung ke Korea Selatan memenuhi undangan untuk meninjau pembangunan masyarakat desa dan pembangunan pendidikan. Dalam perjalanan pulang, singgah di Tokyo, Taiwan, Hingkong, dan Singapura.
  8. Selain dari itu, juga pernah berkunjung ke Thailand, India, dan Pakistan.
  9. Dalam tahun 1981, berkunjung ke Jepang (Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima, dan lain-lain) memenuhi undangan untuk mempelajari adat-istiadat dan kebudayaan Jepang.
  10. Dalam tahun 1981 berkunjung lagi ke Philipina memenuhi undangan Imam Besar Masid Jami' Maharlika Manila, untuk mempelajari pendidikan dan kebudayaan Islan di sana.
  11. Dalam tahun 1981 juga mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Trengganu, dan Kelantan, memenuhi undangan untuk menghadiri Hari Sastra dan seminar.
  12. Akhir tahun 1982 berkunjung ke Thailand atas undangan organisasi di sana dan menyampaikan makalah dalam simposium internasional tentang Kesusasteraan Melayu Tradisional di Kuala Lumpur.
  13. Dalam tahun 1985, 1986, dan 1987 mengunjungi Penang, Kuala Lumpur, Ipoh, Kelantan, Johor Baru, Perlis, Alor Star, dan lain-lain untuk menyampaikan makalah dalam berbagai seminar.
  14. Juli 1988 menunaikan ibadah haji sebagai Naib Amirul hajj; Amirul Hajj-nya Menteri Kehakiman Ismail Saleh, SH.
  15. November-Desember 1989 bersama isteri menunaikan ibadah umrah dan selanjutnya melakukan safari budaya ke Mesir, Turki, Spanyol, Belanda dan Singapura.
  16. November 1990 berkunjung ke Kuala Lumpur untuk menyampaikan makalah dalam Seminar Islam dan Kesenian. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke Singapura dan Brunei Darussalam.
  17. 9-24 Agustus 1991 melakukan safari budaya ke Uni Sovyet (Tasykent, Samarkanda, Bukhara, Urgent, Chiva, Leningrad, Moskow) dan ke Denmark.
  18. Tahun 1991 puluhan kali menghadiri seminar/simposium di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Buku-buku yang Telah Dikarang

Sejak umur 20 sampai kekinian sudah lebih lima puluh buah buku yang telah diakrang dalam berbagai disiplin ilmu, sejarah kebudayaan, agama, pendidikan moral, politik, dan sebagainya dan telah diterbitkan oleh berbagai penerbit baik di dalam maupun di luar negeri, yaitu:
  1. Kisah Seorang Pengembara (sajak), Medan: Pustaka Islam, 1936
  2. Sayap Terkulai (roman perjuangan), 1983, tidak terbit, naskahnya hilang di Balai Pustaka waktu pendudukan Jepang
  3. Dewan Sajak (puisi), Medan: Centrale Courant, 1938
  4. Bermandi Cahaya Bulan (roman pergerakan), Medan: Indische Drukkrij, 1939 dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  5. Melalui Jalan Raya Dunia (roman masyarakat), Medan: Indische Drukkrij, 1939, dam Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  6. Suara Azan dan Lonceng Gereja (roman antar agama), Medan: Syarikat Tapanuli, 1940, dan Jakarta: Bulan Bintang, 1978, dan Singapura: Pustaka Nasional, 1982
  7. Cinta Mendaki (roman filsafat/perjuangan), naskahnya hilang di Balai Pustaka, Jakarta, waktu pendudukan Jepang
  8. Dewi Fajar (roman politik), Banda Aceh: Aceh Sinbun, 1943
  9. Kerajaan Saudi Arabia (riwayat perjalanan), Jakarta: Bulan Bintang, 1957
  10. Pahlawan-pahlawan Islam yang Gugur (saduran dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1981 (cetakan ke-4), dan Singapura: Psutaka Nasional, 1971 (cetakan ke-2, 1982)
  11. Rindu Bahagia (kumpulan sajak dan cerpen), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
  12. Jalan Kembali (sajak bernafaskan Islam), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Hafiz Arif (Harry Aveling)
  13. Semangat Kemerdekaan dalam Sajak Indonesia Baru (analisa sastra)), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963
  14. Di Mana Letaknya Negara Islam (karya ilmiah tentang ketatanegaraan Islam), Singapura: Pustaka Nasional, 1970, dan Surabaya: Bina Ilmu
  15. Sejarah Kebudayaan dan Tamaddun Islam, Banda Aceh: Lembaga Penerbit IAIN Jami'ah Ar-Raniry, 1969
  16. Yahudi Bangsa Terkutuk, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1970
  17. Sejarah Hukum Islam, Banda Aceh:: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh, 1970
  18. Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1971
  19. Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern (terjemahan dari bahasa Arab), Singapura: Pustaka Nasional, 1972
  20. Pemimpin dan Akhlaknya, Banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, 1973
  21. Rubai Hamzah Fansury, Karya Sastra Sufi Abad XVII, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1974
  22. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, 1974 (cetakan ke-3, 1994)
  23. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975 (cetakan ke-5, 1993)
  24. Cahaya Kebenaran, Terjemahan Al-Quran, Juz Amma, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, dan Singapura: Pustaka Nasional
  25. Sumbangan Kesusasteraan Aceh dalam Pembinaan Kesusasteraan Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  26. Iskandar Muda Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh Terbesar, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  27. Tanah Merah (roman perjuangan), Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  28. Meurah Johan (roman sejarah Islam di Aceh), Jakarta: Bulan Bintang, 1950
  29. Risalah Akhlak, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  30. Surat-surat dari Penjara (catatan waktu dalam penjara berupa surat-surat kepada anak tahun 1953-1954), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  31. Peranan Islam dalam Perang Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  32. 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  33. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda (berasal dari buku Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda, setelah ditambah dan disempurnakan), Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  34. Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, Jakarta: Bulan Bintang, 1980
  35. Langit dan Para Penghuninta (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  36. Apa Sebab Al-Quran Tidak Bertentangan dengan Akal (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  37. Mengapa Ibadah Puasa Diwajibkan (terjemahan dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1978
  38. Mengapa Umat Islam Mempertahankan Pendidikan Agama dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  39. Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang, Jakarta: Mutiara, 1978
  40. Dakwah Islamiyah dan Kaitannya dengan Pembangunan Manusia, Jakarta: Mutiara, 1978
  41. Sastra dan Agama, Banda Aceh: BHA Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
  42. Perang Gerilya dan Pergerakan Politik di Aceh untuk Merebut Kemerdekaan Kembali, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980
  43. Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1981
  44. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
  45. Mengenang Kembali Perjuangan Missi Hardi, Bandung: Al-Ma'arif, 1981
  46. Syiah dan Ahlussunnah Saling Rebut Pengaruh di Nusantara, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
  47. Benarkah Dakwah Islamiyah Bertugas Membangun Manusia, Bandung: Al-Ma'arif, 1983
  48. Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah, Surabaya: Bina Ilmu, 1984
  49. Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  50. Hikayat Pocut Muhammad dalam Analisa, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  51. Kesusasteraan Indonesia dari Zaman ke Zaman, Jakarta: Penerbit Beuna, 1983
  52. Sejarah Kesusasteraan Islam Arab, masih berupa naskah
  53. Publisistik dalam Islam, Jakarta:: Penerbit Beuna, 1983
  54. Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1990
  55. Mengarang dalam berbagai majalah dan harian yang terbit di Banda Aceh, Medan, Padang Panjang, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Singapura, dan Malaysia. Sebelum Perang Dunia II karangannya tampil di: Pujangga Baru (Jakarta), Angkatan Baru (Surabaya), Pahlawan Muda (Padang), Kewajiban (Padang Panjang), Raya (Padang), Panji Islam (Medan), Pedoman Masyarakat (Medan), Gubahan Maya (Medan), Suluh Islam (Medan), Fajar Islam (Singapura), Miami (Medan), Matahari Islam sebagai Pemimpin Redaksi (Padang). Setelah Perang Dunia II pada media-media seperti: Dharma, Pahlawan, Widjaya, Bebas, Sinar Darussalam (Pemimpin Umum) yang semua media tersebut berada di Banda Aceh, Nusa Putera, Karya Bakti, Majalah Amanah, Panji Masyarakat, Harmonis, Mimbar Ulama, semua media tersebut berada di Jakarta, Majalah Puwan (Banda Aceh), Gema Ar-Raniry (Banda Aceh), Harian Waspada (Medan), Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh).
Dalam awal tahun 1989, Ali Hasjmy telah mendirikan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Dalam tahun 1990, telah mewakafkan kepada yayasan tersebut tanah miliknya seluas hampir 3.000 meter persegi rumahnya, kitab-kitab/buku-buku dengan lebih 15.000 jilij, naskah-naskah tua, album-album foto bernilai sejarah dan budaya serta banyak sekali benda budaya untuk dijadikan sebagai koleksi Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hajsmy.
 
Tanggal 15 Januari 1991, Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy telah diresmikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 
 
Pada tanggal 18 Januari 1988, beliau meninggal dunia dalam usia 83 tahun. 
 
Demikian riwayat kehidupan Prof. Ali Hasjmy yang disadur dari buku Delapan Puluh Tahun Melalui Jalan Raya Dunia, Ali Hasjmy, Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. []

24 June 2016

Syair Ma'rifat - Hamzah Fansuri

Ilustrasi syair ma'rifat

Aho segala kita ummat Nabi!
Akan ma'rifat Allah yogya diketahui
Karena ma'rifat itu pada sekalian wali
Mulianya sangat terlalu qawi

Ma'rifat itu yang terlalu qabul
Dengan Mahbubmu da'im beroleh wusul
Pakaian Mahbub yang bernama RRasul
Terlalu jauh daripada zuluman jahul

Marajal bahrayni yaltaqiyan
Bayna huma barzakhun la yabghiyan

Bahrayn itu terlalu 'ajib
Barzakh di antaranya bi Nuril Habib
Olehnya zahir terlalu qarib
Kelihatan jauh pada sekalian gharib

Bahrayn itulah ma'nanya dalam
Menyatakan pertemuan Tuhan dan 'alam
Inilah rahasia Nabi yang Khatam
Menyalakan 'Asyik tiada ia padam

Bahrayn itu tiada bertating
Airnya suci terlalu hening
Bukan di mata hidung dan kening
Jangan dipandang di sana pening!

Erti qaba qawsyny aw adna
Pertemuan hamba dan Tuhan yang A'la
Pada ma kadhabal fu adu ma ra-a
Tiada lagi lain 'ala ma yura

Qaba qawsayni itu suatu tamsil
Ma'nanya 'ali timbangnya tsaqil
Babrayn di dalamnya sempurna jamil
Orang mengetahui dia terlaly qalil

Orang qaba qawsayni itu seperti kandang
Tali di antaranya bukannya benang
Bazrakh namanya di sana terbentang
Ketiganya wahid yogya kau pandang

Tuhan kita itu tiada bermakan
Zahir-Nya nyata dengan rupa insan
Man 'arafa nafsahu suatu burhan 
Fa qad 'arafa rabbahu terlalu bayan

[[-----------------]]

Syair ma'rifat di atas adalah salah satu karya Hamzah Fansuri yang kaya maknanya. Bagi yang awam seperti saya, sangat sulit untuk memaknai setiap kalimat-kalimatnya. Syair yang saya postingkan ini tidak bermaksud atau saya bukanlah penganut sesuatu aliran yang kelak dapat mengaburkan pemahaman banyak orang. Syair ini, secara kesusasteraan layak mendapatkan apresiasi. Kita dapat melihat bagaimana kekayaan bahasa yang dimiliki oleh Hamzah Fansuri yang mampu merangkai kata per kata dari beberapa bahasa asing (Arab). Inilah salah satu syair bagi Anda penyuka karya-karya Hamzah Fansuri. Syair di atas saya ketik ulang seutuhnya dari buku hasil suntingan Abdul Hadi WM dan LK Ara yang berjudul Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga karya-karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

Syair Ruh - Hamzah Fansuri

ilustrasi

(a)

Unggas itu yang amat burhana
Diamnya nentiasa di dalam astana
Tempatnya bermain di bukit Tur Sina
Majnun dan Si Layla adalah di sana

Unggas itu bukannya nuri
Berbunyi ia sedekala hari
Bermain tamasya pada sekalian negeri
Demikianlah murad al-insanu sirri

Unggas itu bukannya balam
Nentiasa berbunyi siang dan malam
Tempatnya bermain pada sekalian 'alam
Di sanalah tamasya melihat ragam

Unggas itu tahu berkata-kata
Sarangnya di padang rata
Tempatnya bermain pada sekelian anggauta
Ada yang bersalahan, ada yang sekata

Unggas itu terlalu indah
Olehnya banyak ragam dan ulah
Tempatnya bermain (di dalam) Ka'bah
Pada bukit 'Arafat kesudahan musyahadah

Unggas itu bukannya merak
Nentiasa bermain di dalam surga
Kenyataan mu'jizat tidur dan jaga
Itulah wujud meliputi rongga

Unggas itu terlalu pingai
Nentiasa main dalam mahligai
Rupanya elok sempurna bisai
Menyamarkan diri pada sekalian sakai

Unggas itu bukannya gagak
Bunyinya terlalu sangat galak
Tempatnya tamasya pada sekalian awak
Itulah wujud menyatakan kehendak

Unggas itu bukannya bayan
Nentiasa berbunyi pada sekalian a'yan
Tempatnya tamasya pada sekalian kawan
Itulah wujud menyatakan kelakuan

Unggas itu bukannya burung
Nentiasa berbunyi di dalam tanglung
Tempatnya tamasya pada sekalian lurung
Itulah wujud menyatakan tulung

Unggas itu bukannya Baghdadi
Nentiasa berbunyi di dalam jasadi
Tempatnya tamasya pada sekalian fu'adi
Itulah wujud menyatakan 'ahdi

Unggas itu yang weruh angasmu
Nentiasa 'ashiq tiada kala jemu
Menjadi dagang lagi ia jamu
Itulah wujud menyatakan 'ilmu

(b)

Tayrul 'uryani unggas sultani
Bangsanya Nurul Rahmani
Tasbihnya Allah Subhani
Gila dan mabuk akan Rabbani

Unggas itu terlalu pingai 
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Dukuknya da'im di balik tirai

Putihnya terlalu suci
Olehnya itu bernama ruhi
Milatnya terlalu sufi
Mashafnya bersurat Kufi

'Arsh Allah akan pangkalnya
Habib Allah akan taulannya
Bayt Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufitnya bukannya kain
Fil Makkah da'im bermain
'Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu rajin

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan dipandangnya
'Alam Lahut akan kandangnya
Pada da'irah Huwa tempat pandangnya

Zikir Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tawhid akan minumnya
Da'im bertemu dengan Tuhannya

Suluhnya terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalannya terlalu hening
Barang mendapat dia terlalu menang

Cahayanya tiada berha'il
Baynallah dan baynal 'amil
Syari'atnya terlalu kamil
Barang yang mungkin menjadi jahil

Jika kau dapat asal 'ilmunya
Engkaulah yang tertahunya
'Alam nin engkau yang punya
Di sana sini engkau sukunya 

'Ilmunya tiada berbagai bagai
Fardunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan kau lalai

'Ilmunya 'ilmu yang pertama
Mazhabnya mazhab bernama 
Cahayanyan cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama sama

(c)

Tayrul 'uryani unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat rahmani
Warnanya pingai rupanya safi
Tempatnya Kursi yang maha 'ali

Sungguh pun 'uryan bukannya gila
Mengaji Quran dengan tartila
Tempatnya mandi sungai Salsabila
Di dalam firdaus ra'su Zanjabila

(d)

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da'im di Kursi Raja
Daripada nurinya faqir dan kaya
Menjadi insan, Tuhan dan saya

Kuntu hanzan asal sarangnya
'Alam Lahut nama padangnya
Terlalu Luas dengan lapangnya
Itulah hanzam dengan lawangnya

'Aqlul Kulli nama bulunya
Qalam al-a'la nama kukunya
Allah Ta'ala akan gurunya 
Oleh itulah tiada jodohnya

Jalal dan jamal nama kakinya
Nurul Awwal nama jarinya
Lawhul Mahfuz nama hatinya
Menjadi jawhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal Nabinya
Nur Allah dengan sucinya
Sekalian 'alam pancar daripada nurinya 
Menjadi langit serta buminya

(e)

Unggas Pingai terlalu 'asyiq
Da'im bermain di Kursi Khaliq
Bangsanya Rahman yang fa'iq
Menjadi sultan terlalu la'iq

Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal diri terlalu nyata

Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Sayapnya bernama Furqan
Tubuhnya bersurat Quran
Kakinya Hannan dan Mannan
Da'im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan angganya
Nur Allah nama matanya 
Nur Muhammad da'im sertanya

Liqa Allah nama 'isyqinya
Shaut Allah akan bunyinya
Rahman Rahim nama hatinya
Menyembah Tuhan dengan safinya

Bumi langit akan sangkarannya
Makkah Madinah akan pangkalannya
Bayt Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da'im sekalian luruh

Rupanya akan mahbubnya
Lakunya akan marghubnya
Bangsanya akan matlubnya
Buraq al-Mi'raj akan markubnya

'Ilmul yaqin nama 'ilmunya
'Aynul yaqin hasil tahunya
Haqqul yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari'at akan ripinya
Tariqat akan budinya
Haqiqat akan tirainya
Ma'rifat yang wasil akan isinya

'Alam nasut nama hambanya
Perisai malakut akan katanya
Duldul jabarut nama kudanya
Menyerang lahut akan kerjanya

Dengarkan hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu!

(f)

Ikan Tunggal bernama fadil
Dengan air da'im ia wasil
'Isyiqnya terlalu kamil
Di dalam laut tiada bersahil

Ikan itu terlalu 'ali
Bangsanya Nur al-Rahmani
Anggapnya rupa insani
Da'im bermain di laut baqi

Bismillah akan namanya
Ruh Allang akan nyawanya
Wajh Allah akan mukanya
Zahir dan batin sertanya

Nur Allah nama bapainya
Khalaqat Allah akan sakainya
Raja Sulayman akan pawainya
Da'im berbunyi dalam balainya

Empat bangsa akan ibunya
Summun bukmun akan tipunya
Kerja Allah yang ditirunya
Mengenal Allah dengan bisunya

Fana fillah akan sucinya
Inni anallah akan bunyinya
Memakai dunya akan ruginya
Radikan mati da'im pujinya

Tarkudud dunya akan labanya
Menuntut dunya akan maranya
'Abdul Wahid asal namanya
Da'im "Anal haqq" akan katanya

Kerjanya mabuk dan 'asyiq
'Ilmunya sempurna fa'iq
Mencari air terlalu sadiq
Di dalam laut bernama Khaliq

Ikan itu terlalu zahir
Olehnya da'im di dalam air
Sungguh pun ia terlalu hanyir
Wasilnya da'im di laut halir

[[--------------------]]



Syair di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung dengan penyunting Abdul Hadi WM dan LK Ara.

Baca juga karya Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

23 June 2016

Syair Iba Hati - Hamzah Fansuri

ilustrasi

Tuhan kita yang bernama Qadim
pada sekalian makhluq terlalu karim
tanda-Nya qadir lagi dan hakim
menjadikan 'alam daripada al-Rahman al-Rahim

Rahman itulah yang bernama sifat
tiada bercerai dengan kunhi Dhat
Dhat di sana perhimpunan sekalian 'ibarat
itulah haqiqat yang bernama ma'lumat

Rahman itulah yang bernama wujud
keadaan Tuhan yang sedia ma'bud
kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
dari Rahman itulah sekalian mawjud

ma'bud itulah terlalu bayan
pada kedua 'alam kulla yaumin huwa fi shakn
ayat ubu daripada Surat al-Rahman
sekalian 'alam di sana hayran

ma'bud itulah yang bernama haqiq
sekalian 'alam di dalamnya ghariq
olehnya itulah sekalian fariq
pada kunhinya itu tiada beroleh tariq

haqiqat itulah terlalu 'ayan
pada rupa kita sekalian insan
aynama tuwallu suatu burhan
fa thamma wajhu Llah pada sekalian makan

insan itu terlalu 'ali
haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
ahsani taqwimin itu rabbani
akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani

Subhani itu terlalu 'ajib
daripada hablil warid pun ia qarib
indah sekali qadi dan khatib
demikian hampir tiada beroleh nasib

aho segala kita yang 'ashiqi
ingatkan ma'na insani
jika sungguh engkau bangsa ruhani
jadikan dirimu akan rupa Sultani

kenal dirimu hai anak 'alim!
supaya engkau nentiasa salim
dengan dirimu itu yogya kau qa'im
itulah haqiqat salam dan sa'im

dirimu itu bernama khalil
tiada bercerai dengan Rabbal Jalil
jika ma'na dirimu dapat akan dalil
tiada bergunan mazhab dan sabil

kullu man 'alayha fan ayat min Rabbihi
menyatakan ma'na irji'i ila aslihi
akan insan yang diperoleh tawfiqi
supaya karam di dalam sirru sirrihi

situlah wujud sekalian funun
tinggallah engkau daripada mal wal banun
Engkaulah 'ashiq terlalu junun
inna lillahi wa inna ilayhi raji'un

[[-----------------]]
Syair Iba Hati di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung, penyunting Abdul Hadi WM dan LK Ara.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya berikut ini:

22 June 2016

Syair Ruh Idafi - Hamzah Fansuri

ilustrasi

ta'ayyun awwal wujud yang jami'i
pertama di sana nyata Ruh Idafi
semesta 'alam sana lagi ijmali
itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi

ta'ayyun thani wujud yang tamyizi
di sana terperi sekalian ruhi
semesta 'alam sana tafsil yang mujmali
itulah bernama haqiqat insani

ta'ayyun thalith wujud yang mufassali
ia itulah anugerah daripada karunia Ilahi
semesta 'alam sana tafsil fi'li
itulah bernama a'yan khariji

rahasia ini yogya diketahui
pada kita sekalian yang menuntuti
demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
dari sanalah kita sekalian menjadi

pada kunhinya itu belum berketahuan
demikianlah martabat asal permulaan
bernama wahdat tatkala zaman
itulah 'Ashiq sifat menyatakan

wahdat itulah bernama Kamal Dhati
menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
tatkala itu bernama Ruh Idafi
itulah mahkota Qurayshi dan 'Arabi

wahdat itulah sifat yang Keesaan
memberikan wujud pada sekalian insan
muhit-Nya lengkap pada sekalian zaman
olehnya itulah tiada Ia bermakan

wahdat itulah yang pertama nyata
di dalam-Nya mawjud sekalian rata
muhit-Nya lengkap pada sekalian anggota
demikianlah umpama cahaya dan permata

wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
tiada bercerai dengan itlaq Ahadiyyat
tanzih dan tashbih di sana ma'iyyat
demikianlah sekarang zahir pada ta'ayyunat

wahdat itulah bernama bayang bayang
di sana nyata Wayang dan Dalang
muhit-Nya lengkap pada sekalian padang
mushahadat di sana jangan kepalang

wahdat itulah yang pertama awwal
ijmal dan tafsil sana mujmal
muhit-Nya lengkap pada sekalian af'al
itulah martabat usul dan asal

wahdat itulah yang pertama tanazzul
ijmal dan tafsil sana maqbul
muhit-Nya lengkap pada sekalian maf'ul
itulah Haqiqat Junjungan Rasul

wahdat itulah yang pertama tajalli
tiada bercerai dengan Wujud Mutlaqi
ijmal dan tafsil di dalam 'ilmi
itulah martabat kejadian Ruh Idafi

wahdat itulah yang pertama taqayyid
di sana idafat lam yulad dan lam yalid
pada sekalian ta'ayyun jangan kau taqlid
mangkanya sampai bernama tajrid

wahdat itulah sifat yang talahuq
tanzih dan tashbih sana eluk
muhit-Nya nyata tatkala masuk
itulah pertemuan Khaliq dan Makhluq

wahdat itulah sifat yang talazum
tanzih dan tashbih sana malzum
muhit-Nya lengkap pada sekalian ma'lum
itulah pertemuan Qasim dan Maqsiim

wahdat itulah sifat yang taqarun
tanzih dan tashbih sana maqrun
muhit-Nya lengkap pada sekalian mudabbirun
itulah murad: wa fi anfusikum a fa la tubsirun

[]

Syair di atas juga termasuk karya fenomenal Hamzah Fansuri yang bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya:

21 June 2016

Syair A'yan Thabitah - Hamzah Fansuri

ilustrasi
 
aho segala kamu yang bernama taulan!
tuntut ma'rifat pada mengenal a'yan
kerana di sana sekalian 'arifan
barang katanya setengah dengan firman

a'yan thabitah bukankah shu'un dhatiyyah?
mengapa pulang dikata wujud 'ilmiyyah!
tatkala awwal baharu muqabalah
olehnya janggal sebab lagi mentah

a'yan thabitah bukankah suwari?
mengapa pulang dikata sifat wahyi!
tatkala awwal baharu tafsil 'ilmi
olehnya janggal tiada mengetahui

a'yan thabitah bukankah mahiyyat al-mukminat?
mengapa pulang dikata mustahilat!
tatkala awwal telah bernama ma'lumat
olehnya janggal tiada mendapat

a'yan thabitah bukankah makhluq?
mengapa pulang dikata ma'shuq!
tatkala awwal baharu masbuq
olehnya janggal lalu tafaruq

a'yan thabitah bukankah mir'at?
mengapa pulang dikata 'adamiyyat!
tatkala awwal bernama furuf 'aliyat
olehnya janggal menjadi dalalat

a'yan thabitah bukankah 'alam?
mengapa pulang dikata 'adam!
tatkala awwal telah sudah mutalazam
olehnya janggal penglihatnya kelam

a'yan thabitah bukankah 'ashiq?
mengapa pulang dikata Khaliq!
tatkala awwal baharu mutalahiq
olehnya janggal lalu mufariq

a'yan thabitah bukankah ma'lum?
mengapa pulang dikata ma'dum!
tatkala awwal telah sudah termaqsum
olehnya janggal tiada mafhum

a'yan thabitah bukankah faqir?
mengapa pulang dikata amir!
tatkala awwal baharu hadir
olehnya janggal menjadi khasir

a'yan thabitah bukankah ja'izul wujud?
mengapa pulang dikata mumtani'ul wujud!
tatkala awwal telah sudah mawjud
olehnya janggal menjadi juhud

a'yan thabitah bukankah shu'un thubuti?
mengapa pulang dikata 'adam mahdi!
tatkala awwal sudah mujmali
olehnya janggal menjadi Mu'tazili

Catatan:
Syair A'yan Thabitah juga termasuk karangan Hamzah Fansuri. Tidak banyak literatur yang membahas syair di atas. Saya sendiri tidak begitu banyak paham apa maksud dari syair di atas. Tapi syair di atas dapat menunjukkan seni bahasa yang tinggi. Syair di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya: