17 August 2016

Guru

Saya adalah seorang guru. Tidak pernah terniatkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru. Dulu saya beranggapan bahwa menjadi seorang guru akan mengekang kebebasan saya. Ya, saya dulu adalah seorang yang bebas. Tidak ingin terikat dalam suatu aturan baku. Atau diperintahkan oleh sebuah sistem yang kaku. Menjebak saya dalam sebuah perilaku yang rancu. Cita-cita saya bukanlah menjadi guru. Karena saya bukan orang yang pantas digugu.

Tugas guru adalah mendidik dan membimbing. Sumber foto Matra Pendidikan.

Tapi, semuanya termentahkan. Beberapa tahun saya menjadi seorang guru, perlahan saya mulai memahami betapa pentingnya sosok seorang guru. Ayah saya (almarhum) adalah seorang guru. Pagi-pagi sekali beliau sudah bangun. Menyiapkan dirinya untuk mengabdi. Menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Saya ingat, setiap pukul tujuh pagi beliau sudah berangkat ke sebuah sekolah dasar. Kadang-kadang beliau mengantarkan kami ke bangku sekolah. Rutinitas harian yang selalu dilakukannya. Dari situlah saya mulai mengerti tentang sebuah kedisiplinan.

Guru adalah pribadi yang kompleks. Sebuah pribadi yang datang dari jiwa. Seorang guru bukan sekadar mentransferkan ilmu kepada murid-muridnya, melainkan lebih dari itu. Guru harus menunjukkan sikap yang pantas ditiru, baik itu sikap, perilaku, tutur, dan kehidupan sosialnya. Bukan main-main tugas seorang guru.

Saya mulai merasakan keindahan menjadi seorang guru. Dalam kehidupan sosial, saya mulai menunjukkan jati diri saya sebagai seorang guru. Saya tak malu lagi menjadi seorang guru atau orang-orang yang memanggil saya dengan sebutan cek gu, tak lagi merasa risih. Bukankah menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang besar? Pekerjaan yang mendidik, membimbing, dan mendoktrin arah masa depan anak-anak bangsa.

Sudah semestinya seorang guru mendapatkan tempat yang layak di mata masyarakat. Para orang tua seharusnya juga harus mengikhlaskan anak-anak mereka yang telah dititip di sekolah kepada para guru. Kita masih ingat dengan kasus Pak Guru Dasrul di Makassar yang telah menjadi korban kekerasan orang tua murid. Kasus yang sangat sederhana ini namun telah mencoreng wajah pendidikan kita. Pak Guru Dasrul mendapatkan kekerasan fisik karena orang tua salah seorang murid tidak bisa menerima hukuman yang diberikan kepada anaknya.

Hukuman adalah sebuah hal yang lazim ditemui dalam dunia sekolah. Hukuman itu dapat bermacam-macam tergantung tingkat kesalahan yang dilakukan oleh seorang murid. Kita jangan membandingkan hukuman yang diterima murid-murid era 90-an atau 2000-an ke bawah, di mana guru tak segan-segan melayangkan tangannya untuk mencubit, menampar, atau bahkan memukul murid-murid yang bersalah. Di era sekarang, hukuman serupa itu dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

Saya yakin, hukuman berupa fisik yang diterima oleh murid-murid tak sampai membuat mereka harus diopname di rumah sakit. Hukuman itu hanya bersifat sementara, tidak akan menjadi permanen. Mengenai tingkat hukuman yang harus diterima oleh murid-murid yang bersalah memang berbeda-beda, atau menjadi perdebatan yang membingungkan. Menghadapi murid-murid yang keras kepala atau bandel susahnya minta ampun. Beda guru, beda pula cara penyelesaian masalahnya. Beda murid, beda juga cara pendekatannya. Beda orang tua, bedalah cara mereka mendidik anak-anaknya di rumah. Segala perbedaan itu, segala penyelesaian masalah yang ada, mau tidak mau harus diterima dengan pikiran yang jernih.

Dalam hal ini, saya tak sepenuhnya membela seorang guru. Guru adalah seorang pribadi, seorang manusia juga, yang memiliki sikap emosional yang berbeda-beda. Saya melihat rekan-rekan seprofesi saya sebagai mitra yang harus siap dengan tugasnya dalam mendidik dan membimbing. Saya tak membantah jika ada guru-guru yang masih belum menjiwainya dirinya sebagai seorang pendidik. Guru yang seperti ini masih banyak ditemukan di negara kita. Guru yang bermental lemah, yang menganggap tugasnya hanya sebatas masuk ke dalam kelas saja, menghabiskan waktu mengajar dengan hal-hal yang tak berguna. Bahkan ada guru yang tak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya karena urusan-urusan yang beragam.

Guru semisal ini "belumlah layak" menjadi seorang guru. Mereka hanya menghitung hak-hak yang mesti mereka peroleh semata. Tapi lupa bagaimana kewajiban mereka harus dipenuhi.

Dunia pendidikan kita selalu menarik untuk dikupas habis. Segala persoalan yang negatif dapat dengan mudah dijumpai dalam ranah ini. Semua saling menyalahkan. Agar dunia pendidikan kita dapat berbenah, marilah kita mengaca pada diri kita sendiri dan jangan segan-segan untuk mengaku salah.

1 August 2016

Cumbok. Kisah Awal

Cumbok telah menoreh luka dalam sejarah. Luka yang menyayat, luka yang menimbulkan benci, dendam kesumat, dan hilangnya nyawa orang-orang yang tak terlibat langsung dalam konflik itu. Hanya karena prinsip, kerakusan, kecemasan hilangnya kekuasaan, dan sikap keras kepala satu orang (saja), maka telah pecahlah perang yang melibatkan ratusan atau ribuan orang. Tujuannya, demi harga diri! Benarkah demikian?

Peta penyerangan terhadap Cumbok.

Ada beberapa sebab yang memicu pecahnya tragedi Cumbok. Sebelumnya, saya telah menuliskan Kisah Ringkas Perang Cumbok pada postingan lalu. Kali ini, saya hendak mengurai tragedi Cumbok dari beberapa buku referensi. Dulu, saya tak paham kenapa tragedi Cumbok terjadi? Orang-orang pernah mengatakan kepada saya bahwa keturunan uleebalang adalah pengkhianat bangsa. Atau para pewaris uleebalang itu adalah pembunuh para ulama. Atau uleebalang itu hanyalah kaum feodal yang anti republik. Atau uleebalang itu adalah pemeras rakyat. Semua penilaian negatif itu membuat saya turut penasaran. Selanjutnya, saya mencari informasi tentang uleebalang-uleebalang yang bermuara pada kisah perang Cumbok.

Apa kesimpulan yang saya temukan? Ternyata orang-orang yang memberikan penilaian negatif terhadap kaum uleebalang merunut pada perang Cumbok ini. Simpulan sementara saya, tragedi Cumbok lahir karena ada seorang uleebalang yang tidak bisa menerima kenyataan terhadap proses sejarah yang berlangsung kala itu. Tragedi ini dicetuskan oleh Teuku Muhammad Daud Cumbok. Hingga saat ini, saya belum menemukan jawaban apakah peristiwa Cumbok ini terjadi di wilayah lainnya di Aceh atau tidak. Tapi yang jelas, peristiwa Cumbok ini memberikan dampak terhadap renggangnya hubungan antara uleebalang dengan ulama dan rakyat.

Apa Cumbok Itu?

Cumbok adalah nama sebuah kecamatan (landschap) yang termasuk ke dalam Kewedanaan (onderafdeeling) Lam Meulo yang tergabung dalam Kabupaten (afdeeling) Aceh Utara (Noordkust van Aceh). Kecamatan Cumbok ini pada zaman Hindia Belanda disebut Landschap van Cumbok. Sedang kepala daerahnya disebut uleebalang Cumbok. Ia memakai gelar Teuku Seri Muda Pahlawan Bintara Cumbok. Sebelum proklamasi kemerdekaan, uleebalang Cumbok adalah Teuku Muhammad Daud yang terkenal dengan Teuku Cumbok. Dan yang menjadi Controleur Lam Meulo pawa waktu itu adalah Scholten.

Sebelum kemerdekaan, Aceh Pidie meliputi tiga kewedanaan, yaitu Sigli, Lam Meulo, dan Meureudu. Kewedanaan-kewedanaan tersebut masuk ke dalam Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari tujuh kewedanaan, termasuk tiga kewedanaan Aceh Pidie. Ketujuh kewedanaan Aceh Utara, yaitu Sigli, Lam Meulo, Meureudu, Bireun, Lhokseumawe, Lhoksukon, dan Takengon. 

Pada zaman Republik, Aceh Utara dipecah lagi menjadi tiga kabupaten, yaitu 1) Kabupaten Aceh Pidie yang terdiri dari Kewedanaan Sigli, Kewedanaan Lam Meulo, dab Kewedanaan Meureudu, 2) Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari Kewedanaan Lhokseumawe, Kewedanaan Lhoksukon, dan Kewedanaan Bireun, 3)Kabupaten Aceh Tengah, terdiri dari Kewedanaan Takengon ditambah dengan Kewedanaan Kuta Cane dan Kewedanaan Blang Kejeren yang mulanya termasuk ke dalam Kabupaten Aceh Timur. Status kewedanaan kemudian dihapuskan di seluruh Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Kuta Cane dan Blang Kejeren diangkat menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Aceh Tenggara.

Rapat Para Uleebalang di Beureunun

Kisah Cumbok mulai menarik ketika pada tanggal 22 Oktober 1945, para uleebalang mengadakan rapat di kediaman uleebalang Keumangan, Teuku Keumangan Umar di Beurunun. Dalam rapat ini, golongan uleebalang yang merasa terancam dengan eksistensi PUSA, pemuda PUSA, dan PRI khususnya di wilayah Lam Meulo, membicarakan masalah krusial mereka terhadap ancaman-ancaman tersebut. Dari rapat besar tersebut, maka dihasilkan dua keputusan penting, yaitu:
  1. Membentuk organisasi yang tugasnya mempertahankan kedudukan uleebalang, bernama Markas Besar Uleebalang yang berpusat di Lam Meulo
  2. Untuk dapat bertindak secara efektif, dibentuk pula suatu barisan dengan persenjataan lengkap yang dinamakan dengan Barisan Penjaga Keamanan (BPK)
Mengenai Barisan Penjaga Keamanan (BPK), golongan uleebalang ini telah membentuk tiga barisan yang memiliki tugasnya masing-masing, yaitu:
  1. Barisan Cap Bintang. Tugasnya berperang melawan rakyat yang tidak mau tunduk kepada mereka.
  2. Barisan Cap Sauh. Tugasnya merampok segala harta benda rakyat untuk kepentingan tentara BPK dan membakar rumah orang-orang yang melawan.
  3. Barisan Cap Tombak. Tugasnya menangkap orang-orang alim dan pintar untuk dibunuh atau disembelih dan menculik para perempuan.
Di sini saya melihat bahwa para uleebalang sangat serius dalam menghadapi kenyataan pahit akan hilangnya pengaruh mereka terhadap masyarakat.
 
Ada sebuah kisah, sebuah insiden, yang memantik api peperangan. Tanggal 4 Desember 1945, di Sigli telah terjadi sebuah peristiwa besar. Pada tanggal itu, ada kesepakatan antara Jepang dengan pengikut uleebalang dan pengikut rakyat untuk menyerahkan senjata mereka kepada masing-masing pihak. Jepang disebut-sebut sengaja mengulur waktu penyerahan senjata ini agar kedua pihak bertikai ini dapat saling berperang. Nah, sebelum tanggal kesepakatan itu, pengikut uleebalang secara diam-diam memasuki Sigli. Mereka berkubu di rumah Teuku Tjut Hasan, Gunco Sigli dan rumah Teuku Pakeh Sulaiman, uleebalang Pidie. Mereka menduduki beberapa tempat strategis. Malah, mereka melakukan razia kepada setiap orang yang memasuki Sigli. Tujuannya adalah untuk mencari anggota PRI atau orang-orang yang terlibat dalam komplotan ini.

Tidak seimbangnya kekuatan dan jumlah PRI dengan pengikut uleebalang ini menyebabkan PRI menyingkir ke luar Sigli. Keadaan ini dimanfaatkan oleh pengikut uleebalang untuk menguasai Sigli. Siasat Jepang yang sengaja mengulur waktu ini memang berhasil. Apalagi Jepang juga berjanji akan menyerahkan perlengkapan perang kepada NRI (tentara resmi pemerintah) di hadapan khalayak umum. 

Pada tanggal yang telah ditetapkan Jepang, rakyat umum berduyun-duyun menuju lokasi penyerahan senjata untuk menyaksikan seremonial tersebut. Namun pengikut uleebalang curiga terhadap pergerakan massa tersebut. Mereka menuduh ada PRI di balik pergerakan massa tersebut.

Sekitar pukul setengah empat petang, terdengar bunyi letusan senjata api. Letusan pertama sebanyak tiga kali berturut-turut. Diyakini berasal dari rumah Teuku Pakeh Sulaiman, yang menjadi salah satu kubu pengikut uleebalang. Selanjutnya, terdengar pula letusan senjata dari tengah-tengah kota. Keadaan demikian membuat massa menjadi panik. Mereka berpikir perang besar akan terjadi. Dan mereka akan terkepung dan akhirnya mati. Karena dalam pergerakan massa itu, hanya ada beberapa massa yang memang membawa senjata, namun jumlahnya sangat sedikit. Tak layak untuk ikut bertempur di medan terbuka. 
 
Perang terbuka sedang berlangsung. Pengikut uleebalang menembak pergerakan massa yang membubarkan diri untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Sementara itu, anggota PRI yang berada di antara pergerakan massa itu membalas serangan. Kepungan dari pihak uleebalang yang menyerang dari berbagai sisi telah menyudutkan anggota PRI. Tidak pelak lagi, banyak korban di pihak PRI. Disebutkan, lebih kurang dari 50 orang telah tewas, kebanyakan dari pihak PRI dan selebihnya adalah rakyat yang tidak berdosa. Dari pihak PRI, ada nama Teuku Rizal, Teuku Banta Syam, dan sialnya lagi bagi Sjamaun Gaharu, utusan pemerintah yang berusaha mendamaikan kedua kubu yang bertikai karena ajudannya ikut tewas. Perang awal ini berlangsung selama dua hari dua malam.

Situasi yang menyulut api kemarahan rakyat ini, karena provokasi pihak uleebalang, telah menyebabkan pihak Jepang, para pemuda (netral), tentara pemerintah resmi yang berasal dari Kutaraja, bahu-membahu untuk melerai pertikaian antar saudara tersebut agar tidak banyak korban yang akan jatuh. Perlahan-lahan, mereka memang berhasil meredakan konflik tersebut untuk sementara waktu ini.

Begitulah kisah awal yang memicu pecahnya perang Cumbok. Dari kejadian di atas, masing-masing pihak bersikeras ingin memiliki senjata yang dimiliki oleh Jepang sebelum Jepang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

Tulisan di atas saya ambil dari sumber berikut ini:
  • Abdullah Arif, Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjoembok, Koetaradja: Semangat Merdeka, 1946
  • M. Nur El Ibrahimy, Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, Cetakan Kedua, Jakarta: PT. Gunung Agung, 1988

23 July 2016

Sekelumit Kisah Pecahnya Perang Cumbok

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah menyerah kepada tentara sekutu. Dengung kemerdekaan Indonesia mulai bergema di setiap daerah, mulai dari kota hingga menjalar ke kampung-kampung. Kekalahan Jepang ini berhubungan langsung dengan kekalahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya yang juga baru usai kala itu.

Rumah Teuku Muhammad Daud Cumbok di Lam Meulo, sumber foto Media KITLV.
Tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai diumumkan oleh Soekarno dan Hatta ke seluruh dunia. Kabar ini menjadi sebuah berita hangat dan ramai diperbincangkan oleh orang-orang. Merah putih berkibar di mana-mana. Termasuk juga di Aceh. 

Di Lam Meulo, seorang uleebalang bernama Teuku Daud Cumbok pesimis dengan kemerdekaan ini. Ia ragu dan memandang sinis terhadap gerakan-gerakan rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air Indonesia. Menurut pandangannya, Indonesia belum sanggup untuk merdeka karena belum matang dan Belanda kapan saja siap untuk merenggut kemerdekaan itu dari tangan bangsa kita. 

Anjuran dari Residen NRI untuk mengibarkan bendera merah putih di setiap wilayah malah ditertawakan oleh Teuku Daud Cumbok. Ketika surat kawat perihal itu tiba di tangannya, ia meremas-remas surat itu. Malah, ketika di setiap sudut Kota Lam Meulo ditempelkan maklumat-maklumat dan berita-berita tentang kemerdekaan Indonesia, semua pengumuman itu dirobek-robek oleh kaki tangan Teuku Daud Cumbok.

Parahnya lagi, ketika dilangsungkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Lam Meulo dan rapat-rapat umum yang diadakan, tak sekali pun Teuku Daud Cumbok menghadirinya. Bahkan, ketika ada rapat umum yang diadakan di wilayah kekuasaannya, ia menghalang-halanginya agar rapat umum itu mengalami kegagalan. Jika ada orang-orang yang memakai lencana merah putih dihina dan dilecehkan.

Pernah di suatu ketika, pada tanggal 12 Oktober 1945, bendera merah putih berkibar di Kantor Gunco (Wedana) Lam Meulo yang dinaikkan oleh barisan rakyat, bendera itu langsung diturunkan oleh Teuku Daud Cumbok. Ia sebagai seorang Gunco memiliki hak dan tanggung jawab di kantor itu. Tidak boleh ada bendera yang berkibar di sana kecuali atas izinnya.

Serangkaian sikap-sikap Teuku Daud Cumbok di atas, diyakini menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Cumbok yang sangat memalukan itu, karena terjadinya pertikaian antara saudara sebangsa dan seiman. 

Selain sikap-sikapnya yang licik itu, diam-diam Teuku Daud Cumbok menjalin hubungan rahasia dengan agen-agen NICA yang waktu itu masih berkeliaran bebas. Menurut kabar, ia pernah mengirimkan uang sebesar 5.000 gulden kepada bekas Kontroleur Belanda Lam Meulo melalui kaki tangannya.

Ia telah banyak mengumpulkan bekas-bekas serdadu Belanda untuk mengajarkan seni peperangan kepada pengikut-pengikutnya. Melalui juru propagandanya, Teuku Daud Cumbok juga berusaha menarik simpati rakyat. Ia mengklaim dirinya telah menerima surat-surat dari Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Jawa. Dalam surat itu, ia diperintahkan untuk mendirikan tentara-tentaranya sendiri di kawasan Lam Meulo. Akibat propaganda ini, banyak rakyat yang bodoh ikut bergabung dengannya.

Akibat perbuatannya ini, kedudukan TKR di wilayah Lam Meulo sedikit terancam. Hal ini akan semakin memperuncing keadaan yang bertambah panas, dan kapan saja pertikaian senjata dapat meletus. 

Dari rentetan peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh uleebalang pada saat itu berjiwa nasionalis. Salah seorang uleebalang yang jiwa nasionalisnya dapat diandalkan adalah Teuku Nyak Arief yang dengan berani menentang setiap penjajahan. Sedangkan uleebalang-uleebalang yang anti nasionalis merasa khawatir akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi ketika mengetahui Jepang sudah kalah. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya yang didapatkan secara turun-temurun, seperti Teuku Muhammad Daud Cumbok ini. Sang uleebalang Cumbok, yang menguasai wilayah (kecamatan) Lam Meulo. Sekarang menjadi Kota Bakti di Kabupaten Pidie. Demikianlah.

Catatan:
Tulisan singkat di atas diolah dari buku Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjumbok karangan Abdullah Arif yang diterbitkan di Koetaradja oleh Semangat Merdeka tahun 1946.

18 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (2)

Saya akan melanjutkan kisah Muhammad Daud berdasarkan imajinasi saya dan bersumber dari buku. Sebelumnya, di Kisah Muhammad Daud Bagian Pertama, saya telah menceritakan Muhammad Daud yang keras kepala dan berprinsip teguh sampai ia ditangkap oleh Jepang karena terlalu reaksioner.

Pada awal-awal proklamasi kemerdekaan, Muhammad Daud dan rekan-rekannya bersikukuh untuk mempertahankan jiwa proklamasi dari perkosaan NICA. Mereka berjuang dalam mempertahankan front Aceh dengan tenaga dan alat sekadarnya sehingga melambungkan namanya ke seluruh Sumatera bahkan namanya terdengar hingga ke Jawa. Presiden Soekarno pun bergetar dan terusik. Bukan karena dapat mengancam posisinya, tapi karena ketakjuban beliau terhadap sosok Muhammad Daud. Karenanya, Presiden Soekarno mengangkat Muhammad Daud menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia, meskipun berkedudukan di Aceh. 

Foto Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diambil dari Wikipedia.
Namun, saya sempat mendengar sebuah prahara ketika negara hendak membentuk TNI di Aceh. Pembentukan TNI merupakan lanjutan dari TRI dengan laskar-laskar rakyat. Di Aceh, banyak sekali laskar rakyat yang bertebaran. Salah satu yang sangat ditakuti oleh musuh adalah Laskar Mujahidin yang dipimpin langsung oleh Muhammad Daud. Laskar ini ternyata tidak ingin bergabung dengan TRI yang resmi. Jika pun dipaksa, maka mereka akan melawan. Alasan laskar ini adalah mereka juga memiliki jasa dalam revolusi yang masih belum selesai itu. Mereka punya cara sendiri dalam melakukan pergerakan dan berjuang dengan senjata.

Kami khawatir, jika ketegangan ini tak mampu diredam, maka akan pecah perang sesama anak bangsa. Namun, Muhammad Daud dengan bijak dan adil berhasil mendamaikan laskarnya dengan pihak TRI. Ia berhasil juga membujuk laskar-laskarnya untuk rela bergabung di bawah TRI. 

Ketika Muhammad Daud diangkat menjadi Gubernur Militer untuk wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, banyak kalangan yang terkejut, termasuk saya. Bukankah Muhammad Daud tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi yang formal? Ia hanyalah seorang anak lulusan pesantren (dayah). Namun, pemerintah memiliki alasan lain. Muhammad Daud adalah seorang pemimpin laskar rakyat yang sangat berpengaruh. Laskar ini memiliki jumlah tentara yang banyak. Dan tidak boleh diremehkan oleh siapa pun. Laskar-laskar ini tidak hanya murid-murid Muhammad Daud saja, tapi juga terdiri dari rakyat-rakyat yang telah dilatih dalam bertempur. Pemerintah tak menyoalkan jabatan ini, bahkan Muhammad Daud kala itu diberi pangkat Jenderal Mayor Tituler.

Saat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, Aceh dijadikan propinsi. Muhammad Daud menjadi Gubernur Sipil yang sebelumnya adalah Gubernur Militer. Namun, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, Aceh berada di bawah Propinsi Sumatera Utara. Di sinilah muncul kegaduhan baru. Bagaimana mungkin, kita sebagai orang Aceh yang telah berjuang mati-matian mengusir penjajah dan memiliki garis sejarah tersendiri digabungkan dengan daerah lain.

Kisah selanjutnya akan begitu panjang. Kita hanya bisa membacanya saja dari berbagai sumber. Dan kisah yang saya ceritakan ini hanyalah berasal dari satu sumber saja. Bisa saja sumber ini tak akurat, atau sebaliknya. Sejak saat itu, saya belum mendengar kabar tentang Muhammad Daud.

15 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (1)

Namanya Muhammad Daud. Sungguh nama yang luar biasa. Betapa tidak! Bukankah dua nama itu termasuk dalam 25 nabi yang mesti kita hafal. Saya ingat dulu, ketika di sekolah, guru mewajibkan kami untuk menghfal 25 nabi itu. Muhammad adalah nabi kita yang terakhir. Dan kalian jangan percaya jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa dialah nabi, seorang utusan Tuhan. Orang bebal sekali pun (mungkin) tidak akan percaya. Kitalah umat Muhammad, umat nabi yang terakhir, umat yang paling mulia ~ umat sebelumnya juga umat yang mulia ~ di mana Nabi kita akan memperjuangkan nasib kita kelak di akhirat di hadapan Allah. Semoga kita semua masuk ke surga. Sedangkan Daud, juga seorang nabi Allah yang mulia. Pendahulu Muhammad, yang mengajarkan Zabur untuk umatnya. Semoga umat Zabur juga akan berkumpul bersama kita kelak.

Teungku Daud Beureueh, sumber foto saya ambil di Wikipedia
Lantas, kenapa orang tua Muhammad Daud tidak membubuhkan nama Daud terlebih dahulu sebelum Muhammad? Padahal Daud adalah sang pendahulunya. Itulah mulianya seorang Muhammad di mata umatnya. Kita kerap mendahulukan Muhammad atau menabalkan nama Muhammad terlebih dahulu, sebelum diikuti dengan nama yang lain. Sudah semestinya kita menjaga nama baik Muhammad apabila nama kita serupa dengan namanya. 

Saya mengenal Muhammad Daud kecil sebagai seorang yang tak pernah mengecap bangku sekolah. Tapi ajaibnya, Muhammad Daud tidak buta dengan huruf latin. Berbeda dengan sebayanya yang juga tak ke sekolah. Tapi dalam perihal agama, Muhammad Daud mampu mengulik isi kitab yang dipelajarinya di pesantren. Mulanya Muhammad Daud berguru dengan Teungku Muhammad Hamid di Titeu. Tak lama memang. Hanya satu setengah tahun saja. Dulu dia sempat mengajak saya untuk ikut bersamanya. Namun, saya menolaknya. Kemudian Muhammad Daud berguru ke Teungku Ahmad Harun yang dikenal dengan Teungku di Tanoh Mirah. Empat tahun setengah Muhammad Daud bertekun di sana. Benih-benih kealimannya mulai muncul. Kami kerap bertanya masalah hukum kepadanya yang dijawab dengan lugas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kisah percintaan Muhammad Daud berakhir di Kampung Usi Meunasah Dayah. Meskipun Muhammad Daud sangat tertutup tentang masalah ini kepada kami, tapi Muhammad Daud sungguh beruntung menikahi Teungku Halimah. Di sana ia mendirikan sebuah pesantren yang santrinya berasal dari seluruh Aceh. Tahun 1930, Muhammad Daud membentuk Jami'ah Diniyyah. Setelah itu, Muhammad Daud juga mendirikan Madrasah Sa'adah Abadiah di Blang Paseh, Sigli. Di sini, Muhammad Daud berhasil meyakinkan penganut-penganut ajaran Al-Hallaj. Penganut ini yakin bahwa Allah, Muhammad, dan Adam hakikatnya adalah satu. Serupa kain, benang, dan kapas.

Muhammad Daud adalah pemuda yang keras kepala dan tahan uji terhadap segala persoalan pelik yang membelitnya. Ia tak segan-segan menentang pemerintah mengenai persoalan yang tak cocok dengan prinsipnya. Dikisahkan oleh seseorang, Muhammad Daud muda sangat menentang feodalisme. Utamanya kekuasaan para uleebalang yang culas. Adalah Teuku Keumangan Umar yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Muhammad Daud. Ia sangat membenci Muhammad Daud sampai-sampai ia melarang Muhammad Daud untuk mengajar di daerah kekuasaan uleebalang itu. Banyak yang tak suka terhadap Teuku Keumangan Umar karena sikapnya yang terlalu feodal, kolot, brutal, dan gemar memeras rakyat. Pernah di suatu masa, Teuku Keumangan dihalau oleh Belanda ke Ulee Lheue, Kutaraja akibat laporan keuangan yang dikirimkan ke Belanda tidak beres. Kampung yang berada di wilayahnya seakan "terbebaskan". Perkara-perkara sengketa yang terjadi di kampung tak pernah sampai ke pengadilan uleebalang di Beureunun. Pajak tak pernah juga disetor ke Beureunun, tapi disetor ke kantor asisten residen di Sigli. Sungguh perbuatan yang sangat licik.

Muhammad Daud bahkan pernah ditahan selama tiga hari oleh Teuku Keumangan Umar karena dianggap sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Belanda di wilayah kekuasaannya. Namun dia dibebaskan oleh Belanda karena tak terbukti. Sungguh kesal Teuku Muhammad Keumangan. Akibat desakan Teuku Muhammad Keumangan kepada Belanda dan semakin meruncingnya konflik di antara dua tokoh ini, maka Belanda mendesak Muhammad Daud untuk hijrah ke Tapak Tuan, Aceh Selatan. Ia menerimanya. Tapi saya belum tahu alasannya.

Kisah lain yang saya dengar tentang Muhammad Daud adalah ketika dalam khutbah Jum'at di Mesjid Raya Kutaraja, Muhammad Daud mengupas ringkas tentang Islam dan Komunis. Tegas dan terang ia menyebutkan bahwa komunis adalah musuh Islam. Ia menasehatkan agar umat Islam harus menjauhkan diri dari PKI yang pada masa itu mulai berkembang. 

Lidah Muhammad Daud tak segan-segan menyebut kafir kepada orang yang tidak disenanginya. Dalam artian bahwa orang itu berkelakuan tak sesuai dengan agama. Vonis bagi si kafir bisa saja ia katakan di mana pun ia bersuara. Apakah itu di masjid, di dalam rapat, atau tempat-tempat yang menurut pemahamannya layak "dikafirkan". Muhammad Daud memang seorang tokoh yang unik. Perpaduan antara Bung Tomo dan Bung Karno. Pidatonya lancar, bahannya tak pernah habis, ia sanggup berdiri di atas podium berlama-lama.

Kisah Muhammad Daud terus berbinar. Tahun 1939, ia mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). PUSA dan Muhammad Daud tak terpisahkan. Orang-orang yang mendengar Muhammad Daud atau pada masa itu orang sudah lebih mengenalnya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh tentu akan terbayang PUSA. 

Saya terhenyak ketika melihat kemajuan pesat yang dialami oleh Muhammad Daud. Dan saya semakin takzim saat mengetahui bahwa Muhammad Daud dan PUSA dengan semangat berapi-api mengusir Hindia Belanda dari tanah Aceh. Sudah sepantasnya kita berhutang terima kasih kepadanya dan rekan-rekan seperjuanganya. Mereka telah mengubah sejarah Aceh.

Lantas, bagaimana kiprah Muhammad Daud setelah Hindia Belanda pergi? Ketika Jepang berkuasa, Muhammad Daud pernah ditahan oleh Jepang karena terlalu reaksioner. Padahal kita tahu bahwa PUSA pernah membantu Jepang untuk mendarat di Aceh (Baca juga: Saat Jepang Masuk ke Aceh). Tapi, Muhammad Daud dibebaskan kembali.

Ah, sudah terlalu malam. Kisah sahabat saya itu akan saya lanjutkan di waktu mendatang. Ini hanyalah sebuah kisah imajiner saya. Anda boleh percaya atau tidak. Tapi kisah ini saya olah dari buku karangan M. Nur El Ibrahimy yang berjudul Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh.

13 July 2016

Pelatah

Pelatah adalah orang yang latah. Sedangkan latah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian, yaitu 1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2) berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi); dan 3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Kita sering melihat orang latah, dan kadang-kadang orang yang tak latah pun sering melatah-latahkan diri.

Orang latah, sumber foto: detik.

Berkembangnya media sosial merupakan surga bagi pelatah. Ketika kita bergelut dalam keasyikan media sosial, kita sering menemukan "sampah-sampah kalimat" yang bertaburan atau foto-foto yang kadang tidak sesuai dengan caption. Katakanlah ada isu-isu yang belum jelas benar salahnya yang sudah dikonsumsi oleh orang-orang. Ini tentu akan sangat berbahaya dalam membentuk pola pikir. Bagaimana nasib orang yang menjadi korban isu-isu tak sedap itu? Bagi yang mudah termakan isu, sampai kebenaran terwujud pun tidak akan mampu mengubah prinsip orang itu. Dia sudah terlanjur mengambil sikap terhadap isu-isu yang tak benar itu. Dan malah mempertahankan ketidakjelasan tersebut di kedai-kedai kopi atau tempat-tempat yang ramai. Akhirnya, dengan bangga juga membagi-bagikan "sampah-sampah kalimat" itu di media sosial dengan menambahkan sedikit bumbu-bumbu kalimat yang hambar dengan majas-majas yang tak jelas.

Sama halnya dengan foto. Memakai aplikasi ubah foto, dengan semena-mena oknum tak dikenal mengubah foto-foto dengan satir-satir yang menyakitkan. Satir yang menghasut, satir yang mengundang kebencian, dan satir yang tak punya selera humor. Pelatah yang demikian ini tak ubahnya dengan burung beo yang suka meniru meski tak sempurna. Apa yang ditiru tak pernah dicerna dan dikaji sebab akibatnya. Jika kita mengajarkan beo kata-kata makian, si beo pun akan meniru ucapan kita. Nah, bagaimana kalau kata-kata makian si beo itu berkicau pada saat yang tidak tepat? Ya, kita akan merasa malu. Jika tidak punya rasa malu, kata orang Aceh (bentuk sindiran), orang itu benar-benar sudah putus urat malunya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat orang yang mengganggu si pelatah. Keusilan mereka hanyalah untuk menciptakan kelucuan saja. Padahal, si pelatah sudah sangat menderita untuk mengulang-ulang apa yang dialaminya. Tapi kita sudah terlanjur tertawa girang. Namun dapatkah kita membayangkan jika si pelatah ini dengan tak sengaja melukai orang di dekatnya secara fisik? Lebih parah lagi jika si pelatah sedang memegang sesuatu yang tajam sehingga dapat membahayakan nyawa orang yang berada di sampingnya.

Di facebook, atau twitter, pelatah-pelatah gadungan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling benar. Banyak berita tak jelas dikonsumsi dengan mentah. Anehnya, berita yang dikonsumsi itu tidak membuat si pelatah muntah. Dalam agama, kita dianjurkan untuk meneliti dulu sesuatu yang disampaikan kepada kita, agar apa yang disampaikan tersebut tidak menimbulkan fitnah atau membahayakan sesuatu golongan.
Wahai, orang-orang yang beriman, jika ada seorang yang fasiq mendatangi kalian dengan membawa suatu berita penting, maka telitilah dulu (tabayyun), agar kalian jangan sampai menimpakan suatu bahaya kepada sesuatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian kalian menyesal atas perbuatan kalian. (QS. Al-Hujurat:6)
Tapi kenyataannya sebaliknya. Kita sering terpancing dengan judul suatu berita yang sangat bombastis atau vulgar, tapi isi berita tak sesuai dengan judul berita. Di media online, pernah juga saya jumpai hal tersebut. Menjamurnya media online ternyata tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Inilah salah satu sebab yang membuat saya enggan membaca media online yang tidak jelas. Sumber-sumber berita yang diambil pun tidak jelas. Kejadian-kejadian yang tak penting pun kini sudah menjadi berita. Isi berita ditulis dengan sedikit aroma drama.

Pelatah gadungan adalah orang yang menderita penyakit kejiwaan. Apakah kita termasuk pelatah yang demikian? Yang kedudukannya seimbang dengan orang-orang yang tak waras.

8 July 2016

Messi dan Argentina

Saya terperanjat ketika mendengar Lionel Messi memutuskan hubungannya dengan Tim Nasional Argentina. Kemarahan dan ketidaksetujuan menggores hati saya. Beberapa kali saya menghubungi Messi, tapi teleponnya selalu saja tidak aktif. Saya tahu kekecewaannya. Tapi fans Messi tentu tidak mau tahu apa yang sedang dialami oleh Messi. Kami beranggapan bahwa sikap Messi terlalu kanak-kanak. Keputusan yang diambil dengan tergesa-gesa menunjukkan lemahnya mental seorang Messi. Padahal dia adalah seorang kapten tim.

Lionel Messi gagal mempersembahkan Copa America Centenario 2016. Foto: Getty Images.
Umurnya masih 29 tahun. Sejatinya umur ini merupakan masa puncak bagi seorang pesebakbola. Tapi Messi telah duluan bersinar. Pada masa-masa mudanya, dia telah menjadi seorang penyandang gelar pemain terbaik dunia. Bahkan sudah lima kali. Jumlah yang lumayan banyak. Kita dapat memahami kekecewaannya. Kegagalan kali ini adalah kegagalan ke-empat baginya untuk mempersembahkan piala bagi Argentina. Sudah empat final kejuaraan yang dilaluinya, dan kegagalan demi kegagalan menjadi kutukan baginya. Argentina bukanlah tempat baginya untuk berpesta pora.


Tapi kegagalan kali ini sangat menyakitkan dan akan terus dikenang sepanjang masa hidupnya. Dia menganggap dialah yang menjadi penyebab kekalahan Argentina. Di layar televisi, saya melihat bagaimana ekspresi wajahnya sebelum menendang bola penalti. Tidak seperti biasanya, Messi yang begitu tenang menghadapi bola-bola mati, kali ini dia tampak gugup. Begitulah saya melihatnya. Dan benar saja, dia menendang dengan kekuatan ~ tanpa perasaan ~ bola di titik putih itu. Bolanya melenceng deras. Bukannya ke dalam gawang.

Tanggal 26/06/2016, Minggu, final Copa Amerika, Argentina melawan Chili, skor 0-0, dilanjutkan dengan adu pinalti, dan sahabat saya itu gagal mengeksekusinya. Dia akan mencatat hari itu dalam lembaran kelam bagi karirnya.

Saya melihat beban di pundaknya yang begitu berat. Maradona, sang maestro sejati Argentina, berkali-kali mengumbar di media bahwa Messi-lah yang terbaik untuk saat ini di dunia. Messi akan menjadi penerusnya, bukan saja di Argentina, tapi juga di dunia. Namun orang-orang menganggap bahwa Messi akan selevel Maradona jika Messi berhasil mengangkat piala bersama Argentina. Inilah yang menjadi hantu bagi Messi. Padahal segala upaya telah dikerahkan, tapi bayangan itu tidak bisa ditepis yang membuat kecut hatinya. 
Ini berat, bukan waktunya untuk menganalisa. Di ruang ganti saya berpikir bahwa ini adalah akhir bagi saya dengan tim nasional, ini bukan untuk saya.
Maaf, Messi. Kami tidak berniat menganalisa keputusan Anda. Bagi kami, sepakbola adalah seni dan hiburan. Pemain bola adalah seniman. Bola yang diolah di panggung hijau oleh para seniman itulah yang menjadi hiburan bagi kami. Anda bermain bola untuk menghibur penonton. Di mana saja, kapan saja, dan di tim atau klub apa pun Anda bermain, posisi Anda tetap sebagai penghibur. Menang kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah permainan. 

Banyak yang belum bisa menerima keputusan Messi untuk gantung sepatu. Maradona misalnya, dia meminta (dengan harapan) agar Messi untuk membatalkan niatnya itu. Messi harus ke Rusia (Piala Dunia 2018) untuk membawa piala itu ke Argentina. Presiden Argentina, Mauricio Macri juga tak bisa menerima keputusan Messi itu. Macri berkata bahwa ia akan selalu bangga dengan Argentina. Ia berharap pemain-pemain terbaik akan terus bermain di sini untuk tahun-tahun selanjutnya. Messi harus menutup telinga terhadap setiap kritikan dan tekanan yang dibebankan padanya.

Jika saja Borges masih hidup ~ walaupun dia sangat membenci sepakbola ~ saya yakin, dia akan menertawai keputusan Lionel Messi itu. Itu adalah humor yang paling menggelitik bagi saya.