Saya memasuki sebuah taman yang ditumbuhi oleh beberapa pohon rindang. Sudah lama saya tak singgah di taman itu. Rasa sejuk pun mulai membasuh saya walau siang begitu teriknya. Di sudut taman itu, ada sebuah warung kopi yang secara tak sadar langkah saya telah berayun ke sana. Hingar-bingarnya deru kendaraan yang berada di depan taman itu tidak mengurangi kesejukan yang saya rasakan. Setibanya di warung kopi taman tersebut, saya menilik ke sekeliling. Warung telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik berdiskusi. Tak ada tempat kosong. Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang laki-laki tua sederhana yang sedang menyendiri menatap ke arah lalu-lalangnya kendaraan di bawah sebuah pohon rindang.
Saya menyapa laki-laki itu seraya meminta izin untuk dapat duduk bersamanya dengan dalih tak ada tempat lain yang bisa ditempati. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan kami duduk saling berhadapan. Kemudian saya memesan secangkir kopi. Tak butuh waktu lama untuk menghirup nikmatnya aroma kopi tersebut karena dengan segera kopi telah terhidang di hadapan saya.
Saya tatap laki-laki tua itu yang tak bergeming sedikit pun sejak saya duduk bersamanya. Ia terus menatap hampa seakan tak menggubris keberadaan saya. Saya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sedang Anda pikirkan, Teungku?" tanya saya sesantun mungkin. Laki-laki itu menatap tajam ke arah saya dan menjawab singkat, "Tuhan!" Saya kaget mendengar jawaban tersebut. Sungguh seorang laki-laki yang agak misterius bagi saya.
"Bisakah Anda menjelaskannya lebih lanjut kepada saya mengenai Tuhan?" pinta saya. Laki-laki tua itu lama menatap saya seakan menyangsikan pertanyaan yang saya ajukan. "Tuhan, ketika segala sesuatu itu belum ada (berwujud), maka ketahui olehmu yang pertama sekali ada itu hanyalah Allah sebagai zat semata, tanpa sifat dan nama. Allah sebagai zat adalah Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas. Allah adalah yang awwal dan yang akhir, dan yang tiada teribaratkan dan tiada termisalkan. Nama zat semata tersebut adalah Huwa."
Saya tersentak dalam kegamangan dan bertanya lagi, "Apakah yang Anda maksudkan Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas tersebut?" Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas serupa laut yang dalam, karena hakikat zat tidak dapat diketahui dan tak seorang pun dapat mengenalinya. Allah yang dalam sisi-Nya tanpa aktivitas adalah zat semata dan bernama Huwa. Maka ketika Allah dalam kondisi beraktivitas adalah wujud Allah. Akhirnya zat Allah dan wujud Allah adalah Esa.
Maka dapat dipahami bahwa wujud Allah dan wujud alam adalah Esa. Karena alam ada pada dirinya sendiri dan tidak memiliki wujud. Karena alam itu bukanlah wujud. Wujud alam itu adalah bayang-bayang (wahmi) yang maksudnya adalah bayang-bayang seperti pada cermin, di mana ia tampak memiliki wujud tapi pada hakikatnya tidak. Maka dapat disimpulkan bahwa alam ini tidak memiliki wujud sendiri melainkan diberikan wujudnya oleh Allah.
Simbol bayangan pada cermin ini merupakan hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan antara Allah dan alam seperti tampak dalam ajarannya mengenai penciptaan. Proses penciptaan ini tidak lain karena manifestasi Allah terhadap diri-Nya sendiri (tajalli). Proses manifestasi diri ini dilakukan dengan beberapa fase (ta'ayyunat). berupa kenyataan pertama atau disebut juga martabat wahdat, atau pemanifestasian zat kepada diri-Nya sendiri. Allah melihat kesempurnaan diri-Nya sendiri dan sungguh Allah Maha Sempurna atas segalanya.
Saya terkesan dengan uraian tersebut walau agak sulit dipahami. Lalu saya menyeruput kopi untuk memecah kebuntuan pikiran. "Kemudian bagaimana dengan manusia? Apakah manusia dapat mencapai Tuhan atau zat-Nya? Bisakah Anda memberikan gambaran bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan?"
Beliau memberikan tamsilan secara tasawuf, bahwa manusia ibarat seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Luas dan dalamnya laut tidak mampu dilukiskan dengan akal pikiran sepertti halnya kedalaman dan keluasan ilmu dan zat-Nya.
Namun seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat samapi, bertemu, dan pada akhirnya bersatu dengan Allah (wahdatul wujud). Seorang hamba yang dapat bersatu dengan Allah adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fana fillah, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan inni ana-llah yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.
Saya terhenyak dan hampir saja melompat mendengar penjelasan yang terakhir ini. Bukankah ini hampir serupa dengan pernyataan Al-Hallaj dengan perkataannya ana al-haq yang akhirnya digantung karena dianggap menyesatkan. Tapi saya belum berani bersimpul dan mendengar penjelasan beliau selanjutnya. Dalam mencari Tuhan, manusia juga ibarat seekor burung dan Tuhan ibarat ruang angkasa. Sama seperti ikan dan lautan yang luas. Burung dan ikan tidak akan mungkin mencari Tuhan di angkasa maupun di lautan karena keduanya sangat luas, tak berujung, dan tak bertepi. Ini adalah gambaran sebuah pengembaraan jiwa atau ruh seseorang dalam mencari kesempurnaan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa kesempurnaan diri seseorang terpusat pada hatinya. Semakin jernih hati seseorang semakin jelas dan terang ia dapat mengetahui dan melihat Tuhan.
"Apakah kamu memahaminya, wahai anak muda?" Saya menggeleng. "Maka renungkanlah apa yang sudah saya katakan tadi. Saya menduga kamu pasti telah berkesimpulan bahwa apa yang saya katakan tadi telah menyeleweng dari akidah. Ketahui olehmu bahwa ini bukanlah konsep panteisme yang sering diperdebatkan itu. Wujudiyah yang saya maksudkan di sini memiliki makna lebih tinggi, yakni aspek rohaniah yang sangat tinggi (as-sirr fissirr). Pahamilah tasawuf secara sempurna karena manusia biasa amat sulit menemukan labirin rantai-rantai rohaniah dengan Tuhan. Banyak yang mulhidah (menyimpang) dari wujudiyah murni, dan saya tetap pada wujudiyah muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan). Untuk itu, dalam melakukan usaha-usaha ini dibutuhkan seorang mursyid (guru) yang akan membimbing proses ini. Karena manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dan dapat menyatu dengan Tuhan (wahdatul wujud) adalah manusia yang telah memperoleh ilmu ladunni ataupun ma'rifatullah secara sempurna dan telah berhasil mencapai taraf ketiadaan diri.
Saya akhirnya tersenyum pertanda mulai memahami penjelasan laki-laki tua itu. Kopi terakhir yang saya cicipi pun semakin nikmat. Diskusi ini sangat berarti bagi saya dan saya terdorong untuk lebih mengenal laki-laki tua tersebut.
"Maaf, Teungku! Bolehkah saya tahu siapa Anda dan dari mana Anda berasal?"
Laki-laki tua itu bangkit dari duduknya dan hanya berkata, "Saya harus pergi karena Tuhan telah memanggil."
Saya terpaku dan tampak sedih karena mungkin saya tidak akan berjumpa lagi dengannya untuk sebuah diskusi baru. Namun sebelum beliau pergi, beliau berujar, "Segala muda dan sopan, segala tuan berhuban, 'uzlatnya berbulan-bulan, mencari Tuhan ke dalam hutan."






