Showing posts with label Yang Lain. Show all posts
Showing posts with label Yang Lain. Show all posts

4 September 2016

Perempuan Penenun

Credit: Pixabay.
Ini adalah cerita dari masa lampau. Masa dewa-dewa. Di salah satu sudut dunia ketika peta belum tertata rapi. Di Maionia, daerah Asia Minor (Anatolia), ada seorang perempuan yang sangat cantik. Kecantikannya akan membuat liur para pemuda meleleh. Di kota itu, belum ada perempuan yang kecantikannya sebanding Arachne, nama sang perempuan itu.

Selain menyimpan kecantikan misterius, Arachne adalah penenun ulung. Tenunannya sangat halus, rapi, indah, cantik, dan banyak padanan kata-kata yang dapat melukiskan ketakjuban terhadap karyanya. Arachne menenun dengan penuh cinta. Jemarinya lihai mengikuti irama pola-pola yang ada dalam imajinasinya. Arachne dapat mengatur belitan, jahitan, dan pola-pola tenunannya dengan tenang. 

Tapi perempuan ini berlagak angkuh. Ia menafikan dewa-dewi. Baginya, bakat yang ada dalam dirinya adalah bakat yang diperolehnya sendiri. Bukan berasal dari dewa-dewi. Atau ia menolak tegas jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa Dewi Athena-lah yang mengajarinya langsung. Dewi dari segala dewi. 

Pikirannya terganggu dengan sikap penduduk Maionia itu. Suatu hari ia mulai jenuh dan cepat marah ketika bertemu penduduk Maionia.

"Tenunanku lebih indah dari Athena!" serunya pada segerombolan perempuan-perempuan pegosip.

"Lihatlah tenunanku. Apa kalian meragukan keindahannya?" katanya pada pemuda-pemuda yang lewat di depan rumahnya.

"Akan kutantang Athena untuk menenun!" ujarnya pada orang-orang.

Seorang perempuan tua memberi saran pada Arachne yang kelewat batas itu pada suatu hari.

"Janganlah kau menantang seorang dewi. Kau akan dikutuk. Tak pantas tantanganmu itu dialamatkan ke dewi. Tantanglah sesama manusia. Jangan dewi."

Tapi nasehat perempuan tua itu malah ditanggapi dengan kemarahan.

"Aku tidak takut dengan dewimu. Kalau kau mau, hai nenek tua. Bawalah dewi yang kau puja itu di hadapanku! Kalau dia berani menerima tantanganku, aku siap kapan saja. Sekarang pun tak masalah," jawab Arachne sombong.

Orang-orang Maionia yang melihat kejadian itu berkumpul. Menyaksikan perdebatan sengit perempuan tua misterius dengan Arachne. Kejadian ajaib tiba-tiba terjadi. Perempuan tua bijak itu berubah wujud. Ternyata perempuan tua itu adalah Dewi Athena. Orang-orang yang berada di sana pun bersujud. Tuhan mereka telah turun ke bumi.

Melihat Athena di hadapannya, Arachne gugup. Tapi dia sudah terlanjur melontarkan kata-kata tantangan. Tak mungkin dia batalkan.

Maka, pertandingan menenun antara Athena dan Arachne pun tidak terelakkan. Tanpa banyak bicara. keduanya pun mulai menenun. Tidak ada hakim. Tidak ada pembantu hakim. Semua penduduk Kota Maionia berkumpul untuk menyaksikan pertandingan menenun. Pertandingan yang begitu langka karena manusia menantang dewi.

Sementara itu, Athena dan Arachne tampak sibuk menenun. Benang-benang beraneka warna melayang-layang di udara. Tentu yang bisa melakukan itu adalah Athena. Sedangkan Arachne, dengan lihainya menjalin benang-benang dengan kecepatan dan irama yang beraturan. Penduduk kota merasa was-was. Siapa saja yang menang akan berdampak buruk bagi mereka. Jika Athena menang, Arachne akan mendapat kutukan. Namun, jika Arachne menang, maka akan datang bencana besar. Mereka pun mendukung Athena. Tapi tak sedikit pula yang secara diam-diam mendukung Arachne. Terutama pemuda-pemuda lajang. Mereka menelan ludah melihat kecantikan Arachne. Ketika ia menenun, kecantikannya malah berlipat ganda.

Pertandingan pun usai.

Athena memperlihatkan hasilnya kepada penduduk kota. Bagian tengah karya Athena terdapat gambar dua belas Dewa Olimpus sedang duduk di atas tahtanya masing-masing. Di keempat sudut tenunan itu tergambarkan dewa-dewa yang sedang marah terhadap manusia-manusia yang membangkang. Pesan moral yang ingin disampaikan Athena adalah agar manusia segera menyerah sebelum semuanya terlambat.

Arachne juga memperlihatkan hasilnya yang begitu indah. Dilukiskan pada kain tenun itu para dewa yang sedang berzina, berselingkuh, dan memperkosa perempuan-perempuan cantik. Sungguh imajinasi yang liar. Di antara lukisan dewa-dewa bejat itu, Zeus dan Poseidon mendominasi wajah-wajah para dewa. Pesan moral yang disampaikan adalah dewa-dewa juga punya dosa yang tak termaafkan.

Athena takjub dengan karya Arachne. Tapi begitu murka ketika melihat Zeud dan Poseidon di sana. Zeus adalah ayahnya. Dan Athena tidak bisa menerima ada manusia yang menjelekkan ayahnya. Dengan kekuatan dewi, Athena menghancurkan karya Arachne sampai tak tersisa sedikit pun. Penduduk kota mulai ketakutan melihat murka Athena. Mereka tak henti bersujud.

Melihat kemurkaan Athena, Arachne mekarikan diri. Ia sadar akan banyak tekanan yang menimpa dirinya. Antara malu, marah, dan kesal, Arachne mengakhiri hidupnya. Ia gantung diri. Dan mati seketika. Kematian yang begitu indah. Athena merasa iba. Ia pun menghidupkan kembali Arachne. Tapi dengan kutukan.

Arachne hidup kembali. Namun tubuhnya perlahan-lahan berubah. Mengecil dan menjadi seekor hewan. Arachne dan keturunannya akan mendapat kutukan yang tak termaafkan. Ia harus rela hidup bergelantungan di mana saja. Ia akan terus merajut, menenun, untuk bisa bertahan hidup. Konon, orang-orang meyakini bahwa laba-laba yang dikenal sekarang adalah wujud Arachne.