12 September 2016

Pasukan Cap Sauh


Pernahkah kau mendengar tentang Pasukan Cap Sauh? Tidak banyak lembaran sejarah yang mengisahkan kiprah pasukan ini yang hanya berusia pendek. Wajar, jika kau tak mendapati di catatan sejarah mana pun perihal pasukan ini. Mungkin yang kau baca hanyalah serpihannya saja yang memberi terang tugas Pasukan Cap Sauh secara singkat, padat, tapi tak jelas. Ya, Pasukan Cap Sauh adalah pasukan yang dibentuk bersama tiga pasukan lainnya untuk mendukung Cumbok. Kelak, pasukan ini akan menjadi salah satu ingatan kelam bagi kita. Ingatan bernoda hitam yang sangat memalukan. Baiklah, akan kuceritakan sejenak petualanganku selama bergabung dengan Pasukan Cap Sauh itu. Kalian bisa membacanya sambil menikmati secangkir kopi, atau teh, mungkin juga cappucino, atau barangkali minuman dari Barat yang tak kukenal sebelumnya.

Sebagai salah satu anggota Pasukan Cap Sauh, aku wajib bergerak secara gesit dan lincah. Ingat! Siapa saja yang tergabung dalam pasukan ini memang dituntut untuk lebih cekatan. Karena nanti kami akan berurusan dengan perihal rampok-merampok harta benda. Untuk menjadi perampok, kau harus punya nyali. Utamanya nyali untuk mati. Siapa tahu korban perampokan akan mempertahankan harta bendanya sampai mati.

Aku ikut bergabung ke dalam Pasukan Cap Sauh karena patah hati. Seorang perempuan Lam Meulo yang sangat kucintai telah dinikahkan oleh orangtuanya dengan seorang alim nan kaya. Lelaki yang lebih alim dan kaya tentunya dapat menjamin masa depan anaknya. Barangkali tak ada yang bisa diharapkan dari lelaki sepertiku ini, memang. Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki harta berlimpah, juga tanah warisan.

Ketika Lam Meulo bergemuruh akibat sikap keras kepala Cumbok, banyak orang mati sia-sia. Mulanya aku tidak tertarik dengan konflik ini. Konflik yang menyebabkan orang alim diburu. Tapi rasa sakit di hatiku tak pernah terobati. Siapa tahu dengan bergabung dengan gerakan Cumbok aku dapat membalaskan dendamku pada Teungku Pakeh, laki-laki yang telah menikahi Siti. Siti adalah gadis kampung polos yang tidak tahu menahu soal percintaan. Baginya menjadi isteri hanyalah melayani. Tak penting cinta itu seperti apa. Karena cinta itu tidak bisa dimakan.

"Bodoh sekali kau, Siti," kataku ketika Siti baru pulang mengaji. Seekor merpati terbang secara acak ketika langkah gesaku mencegat Siti. Sang merpati sepertinya mengutuk diriku karena sedang berusaha menebar pesona pada seekor betina yang tak jauh dari tempat kami.

"Kalau aku bodoh, kenapa kau ingin menjadi suamiku?" jawabnya enteng.

"Kelak kau akan menyesal, Siti."

"Kalau begitu, nikahkan aku segera. Aku akan menjadi pelayanmu seumur hidupku."

"Ayahmu tidak akan setuju. Bagaimana kalau kawin lari?"

"Sekarang kau yang bodoh, Amir! Bukankah kawin lari itu berdosa?"

"Ayahmu itu yang berdosa. Sampai mati tidak akan pernah merestuiku. Apa dia tidak tahu agama?"

Siti marah karena ayahnya dihujat. Panggilanku berkali-kali tak dihiraukan.

Sejak itu Siti tidak ingin bertemu lagi denganku. Sejak itu Siti selalu menjadi hantu. Sejak itu Siti telah meracuni jiwaku. Sejak itu aku menjadi gila. Sejak itu pula aku tidak lagi takut akan mati.

Lalu datang tawaran dari T. Leman, anak seorang bangsawan Lam Meulo untuk mengajakku bergabung bersama gerakan mereka. T. Leman lihai membujuk. Buktinya dia berhasil memasukkan namaku sebagai anggota Pasukan Cap Sauh tanpa meminta persetujuan atau anggukan kepala.

"Nanti malam datanglah ke rumahku. Kita akan merencanakan tugas pertama kita."

Sikap diamku bukan dianggapnya sebagai sebuah penolakan. Kala itu aku berada di ambang keraguan. Banyak pertimbangan yang mesti kupikirkan. Tapi tidak pernah ada jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar bagiku adalah mengayunkan langkah kakiku ke rumah T. Leman nanti malam.

Di rumah T. Leman telah berkumpul pemuda-pemuda tanggung yang tak kukenal satu sama lainnya. Orang yang kukenal hanya T. Leman. Dia malah memperkenalkan kami satu per satu, namun nama-nama mereka cepat sekali terabaikan dalam ingatanku. Bukan karena aku tidak mampu menghafal nama-nama, tapi keraguan masih mengepung hatiku. Barulah ketika aku mendengar nama Teungku Pakeh disebut-sebutkan akan menjadi salah satu target kami, keraguan pada diriku sirna seketika bersama kembalinya kesadaranku. Teungku Pakeh menjadi alasan paling besar yang akhirnya membuatku tidak lagi ragu bergabung bersama Pasukan Cap Sauh. Di penghujung malam, T. Leman membagi-bagikan sehelai kain hitam kepada kami untuk diikatkan di lengan kiri kami.

"Kain ini akan menjadi tanda agar kalian tahu mana lawan dan mana kawan!"

Target pertama kami sebagai anggota Pasukan Cap Sauh adalah kantor Pesindo. Misi kami merampas surat-surat berharga dan merampok segala harta benda yang ada di sana. Kau tahu, ternyata tugas itu tidaklah semudah yang kubayangkan semula dan tanpa perlawanan. Seperti mengetahui maksud kami, beberapa anggota Pesindo siaga di sana. Beruntung jumlah pasukan kami melebihi pemuda-pemuda Pesindo yang berusaha bertahan.  Akhirnya kami berhasil melumpuhkan pertahanan pemuda-pemuda Pesindo. Beberapa pemuda Pesindo harus mati karena kesombingan mereka. Mereka salah menafsirkan arti kesetiaan.

Pasukan Cap Sauh bagai kerasukan setan. Setiap melihat orang-orang yang bukan bagian dari kami, dianiaya seperti binatang. Kemarahan mendarah daging dalam tubuh kami. Tahukah kau apa sebab kemarahan kami begitu memuncak? Bukan karena ambisi Cumbok yang keras kepala, bukan karena kaum bangsawan telah dipermalukan oleh kaum alim, bukan pula karena senjata-senjata Jepang urung kami peroleh. Semua kemarahan yang merasuk pasukan itu karena kami merindukan perang. Kendati musuh abadi kita, Belanda dan Jepang masih berada di tanah leluhur ini, jiwa perang tidak akan pernah lekang dalam tabiat kita.

Setelah berhasil melumpuhkan Pesindo, kami terus memburu simpatisan Pesindo. Yang tak kalah pentingnya dalam petualanganku adalah ketika kami berhasil menjarah rumah Zainal Abidin dan Hasan Moehammad. Mereka ini pengurus-pengurus Pesindo yang dibenci oleh kaum bangsawan. Tak puas menguras harta benda, kami juga membakar rumah-rumah mereka.

Kemenangan demi kemenangan berada di pihak kami. Harta benda pengurus Pesindo, kaum alim, dan para rakyat yang kami anggap mendukung mereka telah banyak kami rampok. Setiap kemenangan mesti dirayakan. Begitulah janji T. Leman. Pesta ie jok masam selalu mengiringi perayaan kemenangan. Kami menenggaknya sampai puas.

Perlu kau tahu juga, Pasukan Cap Sauh bukan saja merampok. Tapi siap membantai dan membunuh orang-orang yang menghalanginya. Padahal tugas bunuh-membunuh adalah tugasnya Pasukan Cap Tombak. Dengan keberhasilan-keberhasilan ini, Cumbok telah mengirimkan sinyal ancaman untuk kaum alim. Kami siap berperang melawan kaum alim yang mendapat dukungan dari rakyat.

Waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Pada pertengahan bulan Desember 1945 - aku melupakan hari dan tanggal yang mengubah kehidupanku itu - Pasukan Cap Sauh mengepung rumah Teungku Pakeh. Sebelumnya, beberapa kaum alim ada yang telah meninggalkan kampungnya dengan membawa harta benda sekadarnya. Tapi Teungku Pakeh bukan tipe orang yang ingin mengalah dengan keadaan. Dia memilih bertahan. Baginya, berperang melawan pengkhianat sama besar pahalanya dengan mati syahid. Kami menganggap pendapatnya itu sebagai sebuah lelucon.

Teungku Pakeh berdiri di depan pintu rumahnya dengan rencong di tangan kanannya dan perisai kecil di tangan kirinya. Melihat penampilannya pada malam itu, aku membayangkan dia tak ubahnya seperti prajurit yang terlambat bangun ketika musuh sudah berada di depan mata. Tapi aku tidak punya waktu untuk melihat kematian Teungku Pakeh. Yang kuinginkan adalah memastikan keadaan Siti agar aman dari kebengisan Pasukan Cap Sauh. Anggap saja Teungku Pakeh sudah mati dan angan-anganku mulai menembus batas mimpiku. Aku membayangkan kelak dengan kematian Teungku Pakeh, aku bisa menjadi suami Siti dan ayah dari satu anak laki-lakinya yang masih menetek. Cintaku pada Siti masih belum pudar.

Suara binatang malam mengiringi malam maut itu di antara suara-suara kegaduhan. Aku belum melihat Siti. Dengan cekat aku berusaha menerobos beberapa pasukan yang sedang membantai Teungku Pakeh. Siti tidak berada di dalam rumah. Pintu belakang rumahnya terbuka lebar. Pastilah dia sudah lari lewat pintu belakang itu. Di belakang rumah itu ada sebuah kebun yang banyak ditanami pinang dan beberapa pohon durian. Di bawah sinar bulan aku bisa melihat Siti. Tapi dia tidak sendiri. Ada dua kelebat bayangan yang bersenjata bersama Siti. Siti tampak menggendong bayinya yang tak bergeming sedikit pun. Mungkin sedang terbuai dalam pelukan ibunya.  

Dua pemuda yang berbadan kekar itu menangkap Siti. Bayinya terlepas dari gendongannya. Bayi itu menangis. Lalu ada kekuatan gaib yang mendorongku berlari ke arah mereka untuk menyelamatkan Siti. Tapi terlambat. Siti yang sedang dicabuli dari tadi dan berusaha melawan maut harus menerima tusukan benda tajam ke tubuhnya. Sebabnya adalah Siti telah menusuk seorang pemuda itu dengan pisau dapur tepat di lambungnya.

Seumur hidup aku akan menyesali keterlambatan diriku itu. Ketika tiba di sana, tanpa berkata apa pun aku menebas leher dua pemuda itu. Dalam sekejap saja mereka mati. Suara bayi yang menangis memancing beberapa pasukan yang telah berada di dalam rumah. Dan mereka melihatku secara langsung telah membunuh dua pasukan cabul itu. Aku gemetar. Ketika pasukan yang mengacungkan pedang ke udara itu menuju ke arah kami, dalam hitungan detik aku melarikan diri. Airmata terburai dan hilang bersama angin. Siti telah mati. Tapi bayinya masih dalam pangkuanku.

Sampai sekarang aku belum mengetahui kekuatan apa yang kumiliki karena aku terus berlari mengikuti timur tanpa henti-henti selama enam jam lebih. Ketika matahari mulai terbit dan mengeringkan sisa-sisa embun, barulah aku berhenti. Aku istirhat sejenak di sebuah sungai yang batunya besar-besar. Kuyakin, inilah Sungai Batee Iliek. Tujuanku ke timur kemudian berakhir di Lhokseumawe.

***

Jika kau melewati Jalan Kamboja di suatu kampung, kau akan melihat sebuah nisan dengan nama Amir di antara berpuluh-puluh nisan bernama sama, atau mungkin juga ratusan. Setiap hari raya, nisan-nisan itu akan diziarahi. Doa dan harapan dikirimkan kepada Tuhan agar arwah mendapat surga di alam yang lain. 

Para pengunjung nisan Amir pun silih berganti didatangi oleh beberapa orang yang sudah ubanan, pria tampan dan gadis-gadis cantik, kanak-kanak yang berbedak tebal, dan bayi-bayi yang masih berpopok. Mereka masih menganggap Amir sebagai buyut, kakek, dan ayah tanpa mereka tahu siapa nenek atau ibu mereka. Tahukah kau, Amir yang terkubur di sana sebenarnya masih perjaka. []


Cerpen di atas dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Minggu, 11 September 2016.

4 September 2016

Perempuan Penenun

Credit: Pixabay.
Ini adalah cerita dari masa lampau. Masa dewa-dewa. Di salah satu sudut dunia ketika peta belum tertata rapi. Di Maionia, daerah Asia Minor (Anatolia), ada seorang perempuan yang sangat cantik. Kecantikannya akan membuat liur para pemuda meleleh. Di kota itu, belum ada perempuan yang kecantikannya sebanding Arachne, nama sang perempuan itu.

Selain menyimpan kecantikan misterius, Arachne adalah penenun ulung. Tenunannya sangat halus, rapi, indah, cantik, dan banyak padanan kata-kata yang dapat melukiskan ketakjuban terhadap karyanya. Arachne menenun dengan penuh cinta. Jemarinya lihai mengikuti irama pola-pola yang ada dalam imajinasinya. Arachne dapat mengatur belitan, jahitan, dan pola-pola tenunannya dengan tenang. 

Tapi perempuan ini berlagak angkuh. Ia menafikan dewa-dewi. Baginya, bakat yang ada dalam dirinya adalah bakat yang diperolehnya sendiri. Bukan berasal dari dewa-dewi. Atau ia menolak tegas jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa Dewi Athena-lah yang mengajarinya langsung. Dewi dari segala dewi. 

Pikirannya terganggu dengan sikap penduduk Maionia itu. Suatu hari ia mulai jenuh dan cepat marah ketika bertemu penduduk Maionia.

"Tenunanku lebih indah dari Athena!" serunya pada segerombolan perempuan-perempuan pegosip.

"Lihatlah tenunanku. Apa kalian meragukan keindahannya?" katanya pada pemuda-pemuda yang lewat di depan rumahnya.

"Akan kutantang Athena untuk menenun!" ujarnya pada orang-orang.

Seorang perempuan tua memberi saran pada Arachne yang kelewat batas itu pada suatu hari.

"Janganlah kau menantang seorang dewi. Kau akan dikutuk. Tak pantas tantanganmu itu dialamatkan ke dewi. Tantanglah sesama manusia. Jangan dewi."

Tapi nasehat perempuan tua itu malah ditanggapi dengan kemarahan.

"Aku tidak takut dengan dewimu. Kalau kau mau, hai nenek tua. Bawalah dewi yang kau puja itu di hadapanku! Kalau dia berani menerima tantanganku, aku siap kapan saja. Sekarang pun tak masalah," jawab Arachne sombong.

Orang-orang Maionia yang melihat kejadian itu berkumpul. Menyaksikan perdebatan sengit perempuan tua misterius dengan Arachne. Kejadian ajaib tiba-tiba terjadi. Perempuan tua bijak itu berubah wujud. Ternyata perempuan tua itu adalah Dewi Athena. Orang-orang yang berada di sana pun bersujud. Tuhan mereka telah turun ke bumi.

Melihat Athena di hadapannya, Arachne gugup. Tapi dia sudah terlanjur melontarkan kata-kata tantangan. Tak mungkin dia batalkan.

Maka, pertandingan menenun antara Athena dan Arachne pun tidak terelakkan. Tanpa banyak bicara. keduanya pun mulai menenun. Tidak ada hakim. Tidak ada pembantu hakim. Semua penduduk Kota Maionia berkumpul untuk menyaksikan pertandingan menenun. Pertandingan yang begitu langka karena manusia menantang dewi.

Sementara itu, Athena dan Arachne tampak sibuk menenun. Benang-benang beraneka warna melayang-layang di udara. Tentu yang bisa melakukan itu adalah Athena. Sedangkan Arachne, dengan lihainya menjalin benang-benang dengan kecepatan dan irama yang beraturan. Penduduk kota merasa was-was. Siapa saja yang menang akan berdampak buruk bagi mereka. Jika Athena menang, Arachne akan mendapat kutukan. Namun, jika Arachne menang, maka akan datang bencana besar. Mereka pun mendukung Athena. Tapi tak sedikit pula yang secara diam-diam mendukung Arachne. Terutama pemuda-pemuda lajang. Mereka menelan ludah melihat kecantikan Arachne. Ketika ia menenun, kecantikannya malah berlipat ganda.

Pertandingan pun usai.

Athena memperlihatkan hasilnya kepada penduduk kota. Bagian tengah karya Athena terdapat gambar dua belas Dewa Olimpus sedang duduk di atas tahtanya masing-masing. Di keempat sudut tenunan itu tergambarkan dewa-dewa yang sedang marah terhadap manusia-manusia yang membangkang. Pesan moral yang ingin disampaikan Athena adalah agar manusia segera menyerah sebelum semuanya terlambat.

Arachne juga memperlihatkan hasilnya yang begitu indah. Dilukiskan pada kain tenun itu para dewa yang sedang berzina, berselingkuh, dan memperkosa perempuan-perempuan cantik. Sungguh imajinasi yang liar. Di antara lukisan dewa-dewa bejat itu, Zeus dan Poseidon mendominasi wajah-wajah para dewa. Pesan moral yang disampaikan adalah dewa-dewa juga punya dosa yang tak termaafkan.

Athena takjub dengan karya Arachne. Tapi begitu murka ketika melihat Zeud dan Poseidon di sana. Zeus adalah ayahnya. Dan Athena tidak bisa menerima ada manusia yang menjelekkan ayahnya. Dengan kekuatan dewi, Athena menghancurkan karya Arachne sampai tak tersisa sedikit pun. Penduduk kota mulai ketakutan melihat murka Athena. Mereka tak henti bersujud.

Melihat kemurkaan Athena, Arachne mekarikan diri. Ia sadar akan banyak tekanan yang menimpa dirinya. Antara malu, marah, dan kesal, Arachne mengakhiri hidupnya. Ia gantung diri. Dan mati seketika. Kematian yang begitu indah. Athena merasa iba. Ia pun menghidupkan kembali Arachne. Tapi dengan kutukan.

Arachne hidup kembali. Namun tubuhnya perlahan-lahan berubah. Mengecil dan menjadi seekor hewan. Arachne dan keturunannya akan mendapat kutukan yang tak termaafkan. Ia harus rela hidup bergelantungan di mana saja. Ia akan terus merajut, menenun, untuk bisa bertahan hidup. Konon, orang-orang meyakini bahwa laba-laba yang dikenal sekarang adalah wujud Arachne.

17 August 2016

Guru

Saya adalah seorang guru. Tidak pernah terniatkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru. Dulu saya beranggapan bahwa menjadi seorang guru akan mengekang kebebasan saya. Ya, saya dulu adalah seorang yang bebas. Tidak ingin terikat dalam suatu aturan baku. Atau diperintahkan oleh sebuah sistem yang kaku. Menjebak saya dalam sebuah perilaku yang rancu. Cita-cita saya bukanlah menjadi guru. Karena saya bukan orang yang pantas digugu.

Tugas guru adalah mendidik dan membimbing. Sumber foto Matra Pendidikan.

Tapi, semuanya termentahkan. Beberapa tahun saya menjadi seorang guru, perlahan saya mulai memahami betapa pentingnya sosok seorang guru. Ayah saya (almarhum) adalah seorang guru. Pagi-pagi sekali beliau sudah bangun. Menyiapkan dirinya untuk mengabdi. Menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Saya ingat, setiap pukul tujuh pagi beliau sudah berangkat ke sebuah sekolah dasar. Kadang-kadang beliau mengantarkan kami ke bangku sekolah. Rutinitas harian yang selalu dilakukannya. Dari situlah saya mulai mengerti tentang sebuah kedisiplinan.

Guru adalah pribadi yang kompleks. Sebuah pribadi yang datang dari jiwa. Seorang guru bukan sekadar mentransferkan ilmu kepada murid-muridnya, melainkan lebih dari itu. Guru harus menunjukkan sikap yang pantas ditiru, baik itu sikap, perilaku, tutur, dan kehidupan sosialnya. Bukan main-main tugas seorang guru.

Saya mulai merasakan keindahan menjadi seorang guru. Dalam kehidupan sosial, saya mulai menunjukkan jati diri saya sebagai seorang guru. Saya tak malu lagi menjadi seorang guru atau orang-orang yang memanggil saya dengan sebutan cek gu, tak lagi merasa risih. Bukankah menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang besar? Pekerjaan yang mendidik, membimbing, dan mendoktrin arah masa depan anak-anak bangsa.

Sudah semestinya seorang guru mendapatkan tempat yang layak di mata masyarakat. Para orang tua seharusnya juga harus mengikhlaskan anak-anak mereka yang telah dititip di sekolah kepada para guru. Kita masih ingat dengan kasus Pak Guru Dasrul di Makassar yang telah menjadi korban kekerasan orang tua murid. Kasus yang sangat sederhana ini namun telah mencoreng wajah pendidikan kita. Pak Guru Dasrul mendapatkan kekerasan fisik karena orang tua salah seorang murid tidak bisa menerima hukuman yang diberikan kepada anaknya.

Hukuman adalah sebuah hal yang lazim ditemui dalam dunia sekolah. Hukuman itu dapat bermacam-macam tergantung tingkat kesalahan yang dilakukan oleh seorang murid. Kita jangan membandingkan hukuman yang diterima murid-murid era 90-an atau 2000-an ke bawah, di mana guru tak segan-segan melayangkan tangannya untuk mencubit, menampar, atau bahkan memukul murid-murid yang bersalah. Di era sekarang, hukuman serupa itu dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

Saya yakin, hukuman berupa fisik yang diterima oleh murid-murid tak sampai membuat mereka harus diopname di rumah sakit. Hukuman itu hanya bersifat sementara, tidak akan menjadi permanen. Mengenai tingkat hukuman yang harus diterima oleh murid-murid yang bersalah memang berbeda-beda, atau menjadi perdebatan yang membingungkan. Menghadapi murid-murid yang keras kepala atau bandel susahnya minta ampun. Beda guru, beda pula cara penyelesaian masalahnya. Beda murid, beda juga cara pendekatannya. Beda orang tua, bedalah cara mereka mendidik anak-anaknya di rumah. Segala perbedaan itu, segala penyelesaian masalah yang ada, mau tidak mau harus diterima dengan pikiran yang jernih.

Dalam hal ini, saya tak sepenuhnya membela seorang guru. Guru adalah seorang pribadi, seorang manusia juga, yang memiliki sikap emosional yang berbeda-beda. Saya melihat rekan-rekan seprofesi saya sebagai mitra yang harus siap dengan tugasnya dalam mendidik dan membimbing. Saya tak membantah jika ada guru-guru yang masih belum menjiwainya dirinya sebagai seorang pendidik. Guru yang seperti ini masih banyak ditemukan di negara kita. Guru yang bermental lemah, yang menganggap tugasnya hanya sebatas masuk ke dalam kelas saja, menghabiskan waktu mengajar dengan hal-hal yang tak berguna. Bahkan ada guru yang tak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya karena urusan-urusan yang beragam.

Guru semisal ini "belumlah layak" menjadi seorang guru. Mereka hanya menghitung hak-hak yang mesti mereka peroleh semata. Tapi lupa bagaimana kewajiban mereka harus dipenuhi.

Dunia pendidikan kita selalu menarik untuk dikupas habis. Segala persoalan yang negatif dapat dengan mudah dijumpai dalam ranah ini. Semua saling menyalahkan. Agar dunia pendidikan kita dapat berbenah, marilah kita mengaca pada diri kita sendiri dan jangan segan-segan untuk mengaku salah.

1 August 2016

Cumbok. Kisah Awal

Cumbok telah menoreh luka dalam sejarah. Luka yang menyayat, luka yang menimbulkan benci, dendam kesumat, dan hilangnya nyawa orang-orang yang tak terlibat langsung dalam konflik itu. Hanya karena prinsip, kerakusan, kecemasan hilangnya kekuasaan, dan sikap keras kepala satu orang (saja), maka telah pecahlah perang yang melibatkan ratusan atau ribuan orang. Tujuannya, demi harga diri! Benarkah demikian?

Peta penyerangan terhadap Cumbok.

Ada beberapa sebab yang memicu pecahnya tragedi Cumbok. Sebelumnya, saya telah menuliskan Kisah Ringkas Perang Cumbok pada postingan lalu. Kali ini, saya hendak mengurai tragedi Cumbok dari beberapa buku referensi. Dulu, saya tak paham kenapa tragedi Cumbok terjadi? Orang-orang pernah mengatakan kepada saya bahwa keturunan uleebalang adalah pengkhianat bangsa. Atau para pewaris uleebalang itu adalah pembunuh para ulama. Atau uleebalang itu hanyalah kaum feodal yang anti republik. Atau uleebalang itu adalah pemeras rakyat. Semua penilaian negatif itu membuat saya turut penasaran. Selanjutnya, saya mencari informasi tentang uleebalang-uleebalang yang bermuara pada kisah perang Cumbok.

Apa kesimpulan yang saya temukan? Ternyata orang-orang yang memberikan penilaian negatif terhadap kaum uleebalang merunut pada perang Cumbok ini. Simpulan sementara saya, tragedi Cumbok lahir karena ada seorang uleebalang yang tidak bisa menerima kenyataan terhadap proses sejarah yang berlangsung kala itu. Tragedi ini dicetuskan oleh Teuku Muhammad Daud Cumbok. Hingga saat ini, saya belum menemukan jawaban apakah peristiwa Cumbok ini terjadi di wilayah lainnya di Aceh atau tidak. Tapi yang jelas, peristiwa Cumbok ini memberikan dampak terhadap renggangnya hubungan antara uleebalang dengan ulama dan rakyat.

Apa Cumbok Itu?

Cumbok adalah nama sebuah kecamatan (landschap) yang termasuk ke dalam Kewedanaan (onderafdeeling) Lam Meulo yang tergabung dalam Kabupaten (afdeeling) Aceh Utara (Noordkust van Aceh). Kecamatan Cumbok ini pada zaman Hindia Belanda disebut Landschap van Cumbok. Sedang kepala daerahnya disebut uleebalang Cumbok. Ia memakai gelar Teuku Seri Muda Pahlawan Bintara Cumbok. Sebelum proklamasi kemerdekaan, uleebalang Cumbok adalah Teuku Muhammad Daud yang terkenal dengan Teuku Cumbok. Dan yang menjadi Controleur Lam Meulo pawa waktu itu adalah Scholten.

Sebelum kemerdekaan, Aceh Pidie meliputi tiga kewedanaan, yaitu Sigli, Lam Meulo, dan Meureudu. Kewedanaan-kewedanaan tersebut masuk ke dalam Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari tujuh kewedanaan, termasuk tiga kewedanaan Aceh Pidie. Ketujuh kewedanaan Aceh Utara, yaitu Sigli, Lam Meulo, Meureudu, Bireun, Lhokseumawe, Lhoksukon, dan Takengon. 

Pada zaman Republik, Aceh Utara dipecah lagi menjadi tiga kabupaten, yaitu 1) Kabupaten Aceh Pidie yang terdiri dari Kewedanaan Sigli, Kewedanaan Lam Meulo, dab Kewedanaan Meureudu, 2) Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari Kewedanaan Lhokseumawe, Kewedanaan Lhoksukon, dan Kewedanaan Bireun, 3)Kabupaten Aceh Tengah, terdiri dari Kewedanaan Takengon ditambah dengan Kewedanaan Kuta Cane dan Kewedanaan Blang Kejeren yang mulanya termasuk ke dalam Kabupaten Aceh Timur. Status kewedanaan kemudian dihapuskan di seluruh Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Kuta Cane dan Blang Kejeren diangkat menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Aceh Tenggara.

Rapat Para Uleebalang di Beureunun

Kisah Cumbok mulai menarik ketika pada tanggal 22 Oktober 1945, para uleebalang mengadakan rapat di kediaman uleebalang Keumangan, Teuku Keumangan Umar di Beurunun. Dalam rapat ini, golongan uleebalang yang merasa terancam dengan eksistensi PUSA, pemuda PUSA, dan PRI khususnya di wilayah Lam Meulo, membicarakan masalah krusial mereka terhadap ancaman-ancaman tersebut. Dari rapat besar tersebut, maka dihasilkan dua keputusan penting, yaitu:
  1. Membentuk organisasi yang tugasnya mempertahankan kedudukan uleebalang, bernama Markas Besar Uleebalang yang berpusat di Lam Meulo
  2. Untuk dapat bertindak secara efektif, dibentuk pula suatu barisan dengan persenjataan lengkap yang dinamakan dengan Barisan Penjaga Keamanan (BPK)
Mengenai Barisan Penjaga Keamanan (BPK), golongan uleebalang ini telah membentuk tiga barisan yang memiliki tugasnya masing-masing, yaitu:
  1. Barisan Cap Bintang. Tugasnya berperang melawan rakyat yang tidak mau tunduk kepada mereka.
  2. Barisan Cap Sauh. Tugasnya merampok segala harta benda rakyat untuk kepentingan tentara BPK dan membakar rumah orang-orang yang melawan.
  3. Barisan Cap Tombak. Tugasnya menangkap orang-orang alim dan pintar untuk dibunuh atau disembelih dan menculik para perempuan.
Di sini saya melihat bahwa para uleebalang sangat serius dalam menghadapi kenyataan pahit akan hilangnya pengaruh mereka terhadap masyarakat.
 
Ada sebuah kisah, sebuah insiden, yang memantik api peperangan. Tanggal 4 Desember 1945, di Sigli telah terjadi sebuah peristiwa besar. Pada tanggal itu, ada kesepakatan antara Jepang dengan pengikut uleebalang dan pengikut rakyat untuk menyerahkan senjata mereka kepada masing-masing pihak. Jepang disebut-sebut sengaja mengulur waktu penyerahan senjata ini agar kedua pihak bertikai ini dapat saling berperang. Nah, sebelum tanggal kesepakatan itu, pengikut uleebalang secara diam-diam memasuki Sigli. Mereka berkubu di rumah Teuku Tjut Hasan, Gunco Sigli dan rumah Teuku Pakeh Sulaiman, uleebalang Pidie. Mereka menduduki beberapa tempat strategis. Malah, mereka melakukan razia kepada setiap orang yang memasuki Sigli. Tujuannya adalah untuk mencari anggota PRI atau orang-orang yang terlibat dalam komplotan ini.

Tidak seimbangnya kekuatan dan jumlah PRI dengan pengikut uleebalang ini menyebabkan PRI menyingkir ke luar Sigli. Keadaan ini dimanfaatkan oleh pengikut uleebalang untuk menguasai Sigli. Siasat Jepang yang sengaja mengulur waktu ini memang berhasil. Apalagi Jepang juga berjanji akan menyerahkan perlengkapan perang kepada NRI (tentara resmi pemerintah) di hadapan khalayak umum. 

Pada tanggal yang telah ditetapkan Jepang, rakyat umum berduyun-duyun menuju lokasi penyerahan senjata untuk menyaksikan seremonial tersebut. Namun pengikut uleebalang curiga terhadap pergerakan massa tersebut. Mereka menuduh ada PRI di balik pergerakan massa tersebut.

Sekitar pukul setengah empat petang, terdengar bunyi letusan senjata api. Letusan pertama sebanyak tiga kali berturut-turut. Diyakini berasal dari rumah Teuku Pakeh Sulaiman, yang menjadi salah satu kubu pengikut uleebalang. Selanjutnya, terdengar pula letusan senjata dari tengah-tengah kota. Keadaan demikian membuat massa menjadi panik. Mereka berpikir perang besar akan terjadi. Dan mereka akan terkepung dan akhirnya mati. Karena dalam pergerakan massa itu, hanya ada beberapa massa yang memang membawa senjata, namun jumlahnya sangat sedikit. Tak layak untuk ikut bertempur di medan terbuka. 
 
Perang terbuka sedang berlangsung. Pengikut uleebalang menembak pergerakan massa yang membubarkan diri untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Sementara itu, anggota PRI yang berada di antara pergerakan massa itu membalas serangan. Kepungan dari pihak uleebalang yang menyerang dari berbagai sisi telah menyudutkan anggota PRI. Tidak pelak lagi, banyak korban di pihak PRI. Disebutkan, lebih kurang dari 50 orang telah tewas, kebanyakan dari pihak PRI dan selebihnya adalah rakyat yang tidak berdosa. Dari pihak PRI, ada nama Teuku Rizal, Teuku Banta Syam, dan sialnya lagi bagi Sjamaun Gaharu, utusan pemerintah yang berusaha mendamaikan kedua kubu yang bertikai karena ajudannya ikut tewas. Perang awal ini berlangsung selama dua hari dua malam.

Situasi yang menyulut api kemarahan rakyat ini, karena provokasi pihak uleebalang, telah menyebabkan pihak Jepang, para pemuda (netral), tentara pemerintah resmi yang berasal dari Kutaraja, bahu-membahu untuk melerai pertikaian antar saudara tersebut agar tidak banyak korban yang akan jatuh. Perlahan-lahan, mereka memang berhasil meredakan konflik tersebut untuk sementara waktu ini.

Begitulah kisah awal yang memicu pecahnya perang Cumbok. Dari kejadian di atas, masing-masing pihak bersikeras ingin memiliki senjata yang dimiliki oleh Jepang sebelum Jepang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

Tulisan di atas saya ambil dari sumber berikut ini:
  • Abdullah Arif, Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjoembok, Koetaradja: Semangat Merdeka, 1946
  • M. Nur El Ibrahimy, Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, Cetakan Kedua, Jakarta: PT. Gunung Agung, 1988

23 July 2016

Sekelumit Kisah Pecahnya Perang Cumbok

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah menyerah kepada tentara sekutu. Dengung kemerdekaan Indonesia mulai bergema di setiap daerah, mulai dari kota hingga menjalar ke kampung-kampung. Kekalahan Jepang ini berhubungan langsung dengan kekalahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya yang juga baru usai kala itu.

Rumah Teuku Muhammad Daud Cumbok di Lam Meulo, sumber foto Media KITLV.
Tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai diumumkan oleh Soekarno dan Hatta ke seluruh dunia. Kabar ini menjadi sebuah berita hangat dan ramai diperbincangkan oleh orang-orang. Merah putih berkibar di mana-mana. Termasuk juga di Aceh. 

Di Lam Meulo, seorang uleebalang bernama Teuku Daud Cumbok pesimis dengan kemerdekaan ini. Ia ragu dan memandang sinis terhadap gerakan-gerakan rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air Indonesia. Menurut pandangannya, Indonesia belum sanggup untuk merdeka karena belum matang dan Belanda kapan saja siap untuk merenggut kemerdekaan itu dari tangan bangsa kita. 

Anjuran dari Residen NRI untuk mengibarkan bendera merah putih di setiap wilayah malah ditertawakan oleh Teuku Daud Cumbok. Ketika surat kawat perihal itu tiba di tangannya, ia meremas-remas surat itu. Malah, ketika di setiap sudut Kota Lam Meulo ditempelkan maklumat-maklumat dan berita-berita tentang kemerdekaan Indonesia, semua pengumuman itu dirobek-robek oleh kaki tangan Teuku Daud Cumbok.

Parahnya lagi, ketika dilangsungkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Lam Meulo dan rapat-rapat umum yang diadakan, tak sekali pun Teuku Daud Cumbok menghadirinya. Bahkan, ketika ada rapat umum yang diadakan di wilayah kekuasaannya, ia menghalang-halanginya agar rapat umum itu mengalami kegagalan. Jika ada orang-orang yang memakai lencana merah putih dihina dan dilecehkan.

Pernah di suatu ketika, pada tanggal 12 Oktober 1945, bendera merah putih berkibar di Kantor Gunco (Wedana) Lam Meulo yang dinaikkan oleh barisan rakyat, bendera itu langsung diturunkan oleh Teuku Daud Cumbok. Ia sebagai seorang Gunco memiliki hak dan tanggung jawab di kantor itu. Tidak boleh ada bendera yang berkibar di sana kecuali atas izinnya.

Serangkaian sikap-sikap Teuku Daud Cumbok di atas, diyakini menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Cumbok yang sangat memalukan itu, karena terjadinya pertikaian antara saudara sebangsa dan seiman. 

Selain sikap-sikapnya yang licik itu, diam-diam Teuku Daud Cumbok menjalin hubungan rahasia dengan agen-agen NICA yang waktu itu masih berkeliaran bebas. Menurut kabar, ia pernah mengirimkan uang sebesar 5.000 gulden kepada bekas Kontroleur Belanda Lam Meulo melalui kaki tangannya.

Ia telah banyak mengumpulkan bekas-bekas serdadu Belanda untuk mengajarkan seni peperangan kepada pengikut-pengikutnya. Melalui juru propagandanya, Teuku Daud Cumbok juga berusaha menarik simpati rakyat. Ia mengklaim dirinya telah menerima surat-surat dari Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Jawa. Dalam surat itu, ia diperintahkan untuk mendirikan tentara-tentaranya sendiri di kawasan Lam Meulo. Akibat propaganda ini, banyak rakyat yang bodoh ikut bergabung dengannya.

Akibat perbuatannya ini, kedudukan TKR di wilayah Lam Meulo sedikit terancam. Hal ini akan semakin memperuncing keadaan yang bertambah panas, dan kapan saja pertikaian senjata dapat meletus. 

Dari rentetan peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh uleebalang pada saat itu berjiwa nasionalis. Salah seorang uleebalang yang jiwa nasionalisnya dapat diandalkan adalah Teuku Nyak Arief yang dengan berani menentang setiap penjajahan. Sedangkan uleebalang-uleebalang yang anti nasionalis merasa khawatir akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi ketika mengetahui Jepang sudah kalah. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya yang didapatkan secara turun-temurun, seperti Teuku Muhammad Daud Cumbok ini. Sang uleebalang Cumbok, yang menguasai wilayah (kecamatan) Lam Meulo. Sekarang menjadi Kota Bakti di Kabupaten Pidie. Demikianlah.

Catatan:
Tulisan singkat di atas diolah dari buku Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjumbok karangan Abdullah Arif yang diterbitkan di Koetaradja oleh Semangat Merdeka tahun 1946.

18 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (2)

Saya akan melanjutkan kisah Muhammad Daud berdasarkan imajinasi saya dan bersumber dari buku. Sebelumnya, di Kisah Muhammad Daud Bagian Pertama, saya telah menceritakan Muhammad Daud yang keras kepala dan berprinsip teguh sampai ia ditangkap oleh Jepang karena terlalu reaksioner.

Pada awal-awal proklamasi kemerdekaan, Muhammad Daud dan rekan-rekannya bersikukuh untuk mempertahankan jiwa proklamasi dari perkosaan NICA. Mereka berjuang dalam mempertahankan front Aceh dengan tenaga dan alat sekadarnya sehingga melambungkan namanya ke seluruh Sumatera bahkan namanya terdengar hingga ke Jawa. Presiden Soekarno pun bergetar dan terusik. Bukan karena dapat mengancam posisinya, tapi karena ketakjuban beliau terhadap sosok Muhammad Daud. Karenanya, Presiden Soekarno mengangkat Muhammad Daud menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia, meskipun berkedudukan di Aceh. 

Foto Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diambil dari Wikipedia.
Namun, saya sempat mendengar sebuah prahara ketika negara hendak membentuk TNI di Aceh. Pembentukan TNI merupakan lanjutan dari TRI dengan laskar-laskar rakyat. Di Aceh, banyak sekali laskar rakyat yang bertebaran. Salah satu yang sangat ditakuti oleh musuh adalah Laskar Mujahidin yang dipimpin langsung oleh Muhammad Daud. Laskar ini ternyata tidak ingin bergabung dengan TRI yang resmi. Jika pun dipaksa, maka mereka akan melawan. Alasan laskar ini adalah mereka juga memiliki jasa dalam revolusi yang masih belum selesai itu. Mereka punya cara sendiri dalam melakukan pergerakan dan berjuang dengan senjata.

Kami khawatir, jika ketegangan ini tak mampu diredam, maka akan pecah perang sesama anak bangsa. Namun, Muhammad Daud dengan bijak dan adil berhasil mendamaikan laskarnya dengan pihak TRI. Ia berhasil juga membujuk laskar-laskarnya untuk rela bergabung di bawah TRI. 

Ketika Muhammad Daud diangkat menjadi Gubernur Militer untuk wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, banyak kalangan yang terkejut, termasuk saya. Bukankah Muhammad Daud tidak memiliki ijazah pendidikan tinggi yang formal? Ia hanyalah seorang anak lulusan pesantren (dayah). Namun, pemerintah memiliki alasan lain. Muhammad Daud adalah seorang pemimpin laskar rakyat yang sangat berpengaruh. Laskar ini memiliki jumlah tentara yang banyak. Dan tidak boleh diremehkan oleh siapa pun. Laskar-laskar ini tidak hanya murid-murid Muhammad Daud saja, tapi juga terdiri dari rakyat-rakyat yang telah dilatih dalam bertempur. Pemerintah tak menyoalkan jabatan ini, bahkan Muhammad Daud kala itu diberi pangkat Jenderal Mayor Tituler.

Saat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, Aceh dijadikan propinsi. Muhammad Daud menjadi Gubernur Sipil yang sebelumnya adalah Gubernur Militer. Namun, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, Aceh berada di bawah Propinsi Sumatera Utara. Di sinilah muncul kegaduhan baru. Bagaimana mungkin, kita sebagai orang Aceh yang telah berjuang mati-matian mengusir penjajah dan memiliki garis sejarah tersendiri digabungkan dengan daerah lain.

Kisah selanjutnya akan begitu panjang. Kita hanya bisa membacanya saja dari berbagai sumber. Dan kisah yang saya ceritakan ini hanyalah berasal dari satu sumber saja. Bisa saja sumber ini tak akurat, atau sebaliknya. Sejak saat itu, saya belum mendengar kabar tentang Muhammad Daud.

15 July 2016

Daud Beureueh dan Kisah-kisahnya (1)

Namanya Muhammad Daud. Sungguh nama yang luar biasa. Betapa tidak! Bukankah dua nama itu termasuk dalam 25 nabi yang mesti kita hafal. Saya ingat dulu, ketika di sekolah, guru mewajibkan kami untuk menghfal 25 nabi itu. Muhammad adalah nabi kita yang terakhir. Dan kalian jangan percaya jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa dialah nabi, seorang utusan Tuhan. Orang bebal sekali pun (mungkin) tidak akan percaya. Kitalah umat Muhammad, umat nabi yang terakhir, umat yang paling mulia ~ umat sebelumnya juga umat yang mulia ~ di mana Nabi kita akan memperjuangkan nasib kita kelak di akhirat di hadapan Allah. Semoga kita semua masuk ke surga. Sedangkan Daud, juga seorang nabi Allah yang mulia. Pendahulu Muhammad, yang mengajarkan Zabur untuk umatnya. Semoga umat Zabur juga akan berkumpul bersama kita kelak.

Teungku Daud Beureueh, sumber foto saya ambil di Wikipedia
Lantas, kenapa orang tua Muhammad Daud tidak membubuhkan nama Daud terlebih dahulu sebelum Muhammad? Padahal Daud adalah sang pendahulunya. Itulah mulianya seorang Muhammad di mata umatnya. Kita kerap mendahulukan Muhammad atau menabalkan nama Muhammad terlebih dahulu, sebelum diikuti dengan nama yang lain. Sudah semestinya kita menjaga nama baik Muhammad apabila nama kita serupa dengan namanya. 

Saya mengenal Muhammad Daud kecil sebagai seorang yang tak pernah mengecap bangku sekolah. Tapi ajaibnya, Muhammad Daud tidak buta dengan huruf latin. Berbeda dengan sebayanya yang juga tak ke sekolah. Tapi dalam perihal agama, Muhammad Daud mampu mengulik isi kitab yang dipelajarinya di pesantren. Mulanya Muhammad Daud berguru dengan Teungku Muhammad Hamid di Titeu. Tak lama memang. Hanya satu setengah tahun saja. Dulu dia sempat mengajak saya untuk ikut bersamanya. Namun, saya menolaknya. Kemudian Muhammad Daud berguru ke Teungku Ahmad Harun yang dikenal dengan Teungku di Tanoh Mirah. Empat tahun setengah Muhammad Daud bertekun di sana. Benih-benih kealimannya mulai muncul. Kami kerap bertanya masalah hukum kepadanya yang dijawab dengan lugas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kisah percintaan Muhammad Daud berakhir di Kampung Usi Meunasah Dayah. Meskipun Muhammad Daud sangat tertutup tentang masalah ini kepada kami, tapi Muhammad Daud sungguh beruntung menikahi Teungku Halimah. Di sana ia mendirikan sebuah pesantren yang santrinya berasal dari seluruh Aceh. Tahun 1930, Muhammad Daud membentuk Jami'ah Diniyyah. Setelah itu, Muhammad Daud juga mendirikan Madrasah Sa'adah Abadiah di Blang Paseh, Sigli. Di sini, Muhammad Daud berhasil meyakinkan penganut-penganut ajaran Al-Hallaj. Penganut ini yakin bahwa Allah, Muhammad, dan Adam hakikatnya adalah satu. Serupa kain, benang, dan kapas.

Muhammad Daud adalah pemuda yang keras kepala dan tahan uji terhadap segala persoalan pelik yang membelitnya. Ia tak segan-segan menentang pemerintah mengenai persoalan yang tak cocok dengan prinsipnya. Dikisahkan oleh seseorang, Muhammad Daud muda sangat menentang feodalisme. Utamanya kekuasaan para uleebalang yang culas. Adalah Teuku Keumangan Umar yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Muhammad Daud. Ia sangat membenci Muhammad Daud sampai-sampai ia melarang Muhammad Daud untuk mengajar di daerah kekuasaan uleebalang itu. Banyak yang tak suka terhadap Teuku Keumangan Umar karena sikapnya yang terlalu feodal, kolot, brutal, dan gemar memeras rakyat. Pernah di suatu masa, Teuku Keumangan dihalau oleh Belanda ke Ulee Lheue, Kutaraja akibat laporan keuangan yang dikirimkan ke Belanda tidak beres. Kampung yang berada di wilayahnya seakan "terbebaskan". Perkara-perkara sengketa yang terjadi di kampung tak pernah sampai ke pengadilan uleebalang di Beureunun. Pajak tak pernah juga disetor ke Beureunun, tapi disetor ke kantor asisten residen di Sigli. Sungguh perbuatan yang sangat licik.

Muhammad Daud bahkan pernah ditahan selama tiga hari oleh Teuku Keumangan Umar karena dianggap sebagai dalang percobaan pembunuhan terhadap Belanda di wilayah kekuasaannya. Namun dia dibebaskan oleh Belanda karena tak terbukti. Sungguh kesal Teuku Muhammad Keumangan. Akibat desakan Teuku Muhammad Keumangan kepada Belanda dan semakin meruncingnya konflik di antara dua tokoh ini, maka Belanda mendesak Muhammad Daud untuk hijrah ke Tapak Tuan, Aceh Selatan. Ia menerimanya. Tapi saya belum tahu alasannya.

Kisah lain yang saya dengar tentang Muhammad Daud adalah ketika dalam khutbah Jum'at di Mesjid Raya Kutaraja, Muhammad Daud mengupas ringkas tentang Islam dan Komunis. Tegas dan terang ia menyebutkan bahwa komunis adalah musuh Islam. Ia menasehatkan agar umat Islam harus menjauhkan diri dari PKI yang pada masa itu mulai berkembang. 

Lidah Muhammad Daud tak segan-segan menyebut kafir kepada orang yang tidak disenanginya. Dalam artian bahwa orang itu berkelakuan tak sesuai dengan agama. Vonis bagi si kafir bisa saja ia katakan di mana pun ia bersuara. Apakah itu di masjid, di dalam rapat, atau tempat-tempat yang menurut pemahamannya layak "dikafirkan". Muhammad Daud memang seorang tokoh yang unik. Perpaduan antara Bung Tomo dan Bung Karno. Pidatonya lancar, bahannya tak pernah habis, ia sanggup berdiri di atas podium berlama-lama.

Kisah Muhammad Daud terus berbinar. Tahun 1939, ia mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). PUSA dan Muhammad Daud tak terpisahkan. Orang-orang yang mendengar Muhammad Daud atau pada masa itu orang sudah lebih mengenalnya dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh tentu akan terbayang PUSA. 

Saya terhenyak ketika melihat kemajuan pesat yang dialami oleh Muhammad Daud. Dan saya semakin takzim saat mengetahui bahwa Muhammad Daud dan PUSA dengan semangat berapi-api mengusir Hindia Belanda dari tanah Aceh. Sudah sepantasnya kita berhutang terima kasih kepadanya dan rekan-rekan seperjuanganya. Mereka telah mengubah sejarah Aceh.

Lantas, bagaimana kiprah Muhammad Daud setelah Hindia Belanda pergi? Ketika Jepang berkuasa, Muhammad Daud pernah ditahan oleh Jepang karena terlalu reaksioner. Padahal kita tahu bahwa PUSA pernah membantu Jepang untuk mendarat di Aceh (Baca juga: Saat Jepang Masuk ke Aceh). Tapi, Muhammad Daud dibebaskan kembali.

Ah, sudah terlalu malam. Kisah sahabat saya itu akan saya lanjutkan di waktu mendatang. Ini hanyalah sebuah kisah imajiner saya. Anda boleh percaya atau tidak. Tapi kisah ini saya olah dari buku karangan M. Nur El Ibrahimy yang berjudul Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh.