25 September 2016

Tlön, Uqbar, Orbis Tertius

 

I

Saya menemukan Uqbar berkat pertautan antara sebuah cermin dan sebuah ensiklopedia. Cermin menakutkan itu menggantung di ujung koridor sebuah rumah di Jalan Goana di kawasan Ramos Mejia; ensiklopedia tersebut, dinamai secara menyesatkan, The Anglo-American Cyclopaedia (New York, 1917), cetakan ulang dari, persis namun menyimpang, Encyclopaedia Britannica edisi 1902. Peristiwanya terjadi sekitar lima tahun lalu. Bioy Casares makan malam bersama saya dan kami berbincang panjang lebar tentang kemungkinan menulis novel dengan narator orang pertama di mana ia menghilangkan atau menyelewengkan fakta-fakta dan bermain-main dengan pelbagai kontradiksi, sehingga hanya segelintir pembaca - sangat sedikit pembaca - yang akan mampu menangkap kenyataan banal dan mengerikan di balik novel tersebut. Dari dinding koridor yang jauh, cermin itu terus mengawasi kami; dan kami menemukan, dengan keniscayaan dahsyat penemuan-penemuan di larut malam, betapa cermin mengandung hal-hal yang sesungguhnya menyeramkan. Lalu Bioy Casares mengatakan, salah seorang intelektual penyebal di Uqbar berpendapat bahwasanya cermin dan senggama sama buruknya, karena keduanya memperbanyak jumlah manusia. Saya bertanya dari mana ia mengutip pendapat menarik itu, dan ia menjawab bahwa itu terdapar di dalam The Anglo-American Cyclopaedia, pada artikel mengenai Uqbar. Kebetulan rumah (yang kami sewa lengkap dengan seluruh isinya) itu memiliki ensiklopedia tersebut. Pada halaman-halaman akhir Jilid XLVI, kami mendapati artikel tentang Upsala; pada awal Jilid XLVII, tentang bahasa-bahasa Ural-Altaik; namun tak secuil pun tentang Uqbar. Bioy, tampak agak kaget, segera membuka Jilid Indeks. Ia eja satu per satu kata-kata yang mungkin - Ukbar, Ucbar, Ooqbar, Ookbar, Oukbahr ... Sebelum pulang, ia menambahkan bahwa itu suatu wilayah di Irak atau Asia Kecil. Harus saua akui saya mengiyakan dengan sedikit canggung sebenarnya. Saya menduga negeri tak terdaftar berikut tokoh penyebal anonim tadi pastilah rekaan (yang timbul dari kesahajaan) Bioy demi memperkuat suatu pernyataan. Keraguan saya semakin mantap setelah pencarian sia-sia ke dalam beberapa atlas Justus Perthes.

Esoknya, Bioy menelepon saya dari Buenos Aires. Ia mengatakan artikel tentang Uqbar itu kini ada di hadapannya, pada Jilid XLVI The Anglo-American Cyclopaedia. Nama tokoh penyebal yang ia kutip memang tidak disebutkan, namun ada sebuah catatan menyangkut doktrin yang dikemukakannya, hanya barangkali lebih rendah mutu sastranya. Bioy berkata: "Senggama dan cermin sama buruknya." Teks ensiklopedia tersebut berbunyi: "Menurut salah seorang pemikir gnostik itu, alam semesta kasat mata ini adalah suatu ilusi atau (lebih tepatnya) sebentuk sofisme. Cermin dan hubungan suami-istri sama buruk karena keduanya melipatgandakan dan menyebarluaskan alam semesta." Saya bilang, terus terang, saya ingin membaca langsung artikel itu. Beberapa hari kemudian ia membawanya. Bagi saya ini cukup mengejutkan, sebab indeks-indeks kartografi Erdkunde karya Ritter, yang amat teliti itu, sama sekali tidak mencantumkan Uqbar.

Yang dibawa Bioy, ternyata, memang Jilid XLVI The Anglo-American Cyclopaedia. Pada halaman sub-judul dan gigir sampul, tanda abjadnya (Tor-Ups) sama dengan milik kami; tetapi, jumlah halamannya bukan 917, melainkan 921. Empat halaman tambahan itu berisi artikel tentang Uqbar, yang (seperti telah diamati pembaca tentu) tidak tercakup dalam tanda abjad tadi. Kamu pun akhirnya yakin tidak ada perbedaan lain antara kedua eksemplar tersebut. Keduanya (kalau tidak salah sudah saya katakan di atas) adalah cetakan ulang dari edisi kesepuluh Encyclopaedia Britannica. Bioy membelinya di suatu acara bazar buku suatu ketika.

Kami membaca artikel itu dengan saksama. Kalimat yang dikutip Bioy mungkin satu-satunya bagian yang menakjubkan. Selebihnya tampak sangat masuk akal, selaras dengan keseluruhan corak penulisannya. Sewaktu membaca ulang, kami mendapati, di balik kerapian gaya prosanya, suatu kekaburan mendasar. Dari empat belas nama yang tertera di bagian geografi, kami hanya mengenali tiga - Khurasan, Armenia, Erzurum - dihubung-hubungkan dalam teks secara membingungkan. Dari nama tokoh-tokoh sejarah, hanya satu: Semerdis, ahli sihir gadungan, yang dikilaskan lebih sebagai kiasan. Tulisan tersebut sepertinya hendak menegaskan juga batas-batas wilayah Uqbar, namun menggunakan acuan-acuan samar, yakni sungai-sungai dan kawah-kawah dan kakaran pegunungan yang termasuk di dalam wilayah itu juga. Kami baca, misalnya, bahwa dataran rendah tsai Khaldun dan Axa Delta menandai batas selatan, serta bahwa di pulau-pulau sekitar delta hidup dan berkembang-biak kuda-kuda liar. Ini di halaman 918. Di bagian sejarah (halaman 920) kami dapati bahwa, akibat suatu penyiksaan religius pada abad ke-13, para penganut paham ortodoks mengungsi ke pulau-pulau itu; di sana hingga sekarang masih terdapat prasasti-prasasti mereka, di mana bisa ditemukan batuan cermin dari dalam tanahnya. Bagian bahasa dan sastra berisi uraian singkat. Hanya satu hal layak dicatat: disebutkan sastra Uqbar bercorak fantasi dan epik serta legenda-legendanya tak sedikit pun merujuk kepada realitas, tetapi kepada dua wilayah imajiner bernama Mlejnas dan Tlön ... Dalam daftar kepustakaan tercantum empat judul buku yang belum pernah kami jumpai, meski yang ketiga - Silas Haslam, History of the Land Called Uqbar (1874) - ada di katalog toko buku Bernard Quaritch. Sedangkan yang pertama, Lesbare und lesenswerthe Bemerkungen uber das Land Ukkbar in Klein-Asien (1641) karya Johann Valentin Andrea. Ini fakta penting; beberapa tahun kemudian, saya menjumpai nama itu lagi dalam salah satu tulisan De Quincey (Writings, Jilid XIII) dan mendapati ternyata itu nama seorang teolog Jerman yang, di abad ke-17, menggambarkan komunitas imajiner "Rosae Crucis" - suatu komunitas yang didirikan oleh sekelompok orang di kemudian hari, meniru segala yang telah ia gambarkan.

Malam itu kami mendatangi Perpustakaan Nasional. Kami periksa habis-habisan pelbagai atlas, katalog, berkala perkumpulan-perkumpulan geografi, memoar para sejarawan dan musafir: tak seorang pun pernah ke Uqbar. Indeks umum seri ensiklopedia milik Bioy juga tak menyertakan nama itu. Esoknya, Carlos Mastronardi (yang telah saya beritahu soal ini) melihat sampul warna hitam dan emas The Anglo-American Cyclopaedia di sebuah toko buku di bilangan Corrientes dan Tacalhuano. Ia masuk dan membuka Jilid XLVI. Tentu saja, tak sekelumit pun petunjuk mengenai Uqbar berhasil ia temukan.

II

Secercah ingatan buram dan menyirna tentang Herbert Ashe, seorang insinyur pada jawatan kereta api daerah selatan, membayang di sebuah kamar hotel di Adrogue, di antara semerbak bunga sedap malam dan ilusi kedalaman kaca cermin. Sepanjang hidup ia, seperti banyak pria Inggris lain, mengidap sejenis kemayaan; sesudah meninggal dunia, ia bahkan tak segaib semasa hayatnya. Perawakannya jangkung dan loyo; jenggotnya, yang lemas dan membujur-sangkar, pernah suatu ketika berwarna merah. Saya tahu ia seorang duda, tanpa anak. Beberapa tahun sekali ia pergi ke Inggris untuk mengunjungi (kalau dilihat dari foto-foto yang pernah ia tunjukkan kepada kami) sebuah jam matahari dan sejumlah pohon ek. Ia dan ayah saya bersahabat karib (istilah ini agak berlebihan) gaya Inggris, yang diawali dengan menghindari pembicaraan hal-hal pribadi dan akhirnya meniadakan sama sekali segala bentuk pembicaraan. Mereka biasa bertukar-pinjam buku dan terbitan berkala, atau bermain catur berjam-jam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Saya teringat ia berdiri di koridor hotel, menggenggam sebuah buku matematika, sesekali memandangi langit yang perlahan berubah warna. Suatu hari, kami bercakap-cakap tentang sistem angka duodesimal (di mana 12 ditulis 10). Ashe mengatakan ia sedang menyalin suatu tabel duodesimal ke dalam sistem seksagesimal (di mana 60 ditulis 10). Ia menambahkan bahwa tugas itu dilimpahkan kepadanya oleh seorang Norwegia di Rio Grande do Sul. Kami telah mengenalnya selama delapan tahun dan ia tak pernah menceritakan pengalamannya tinggal di daerah itu ... Kami berbincang tentang kehidupan pedesaan, tentang capanga, tentang asal-usul kata gaucho dalam bahasa orang Brazil (yang di Uruguay, oleh sebagian orang lanjut usia, masih dilafalkan gauucho) dan tak ada percakapan lagi - astaga - perihal fungso duodesimal. September 1937 (kami tidak berada di hotel waktu itu), Herbert Ashe meninggal dunia karena gondok nadinya pecah. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat menerima kiriman paket tercatat dari Brazil. Isinya sejilid buku berukuran agak besar. Ashe menaruhnya di pojok bar, di mana - berbulan-bulan kemudian - saya menemukannya. Saya membacanya dan mengalami rasa pusing yang aneh, seperti gamang terbawa melayang, sesuatu yang tidak akan saya ceritakan di sini, karena ini bukan cerita tentang perasaan-perasaan saya melainkan tentang Uqbar dan Tlön dan Orbis Tertius. Dalam Islam ada yang dinamakan "Malam Seribu Bulan", ketika pintu-pintu rahasia langit terbuka dan air di kendi-kendi berasa manis; kalau saja pintu-pintu itu terbuka, niscaya tak akan saya rasakan pengalaman seperti di terik siang itu. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, tebalnya 1001 halaman. Pada sampul kuningnya saya menjumpai kata-kata aneh, yang tercetak juga di halaman judul: A First Encyclopaedia of Tlön, Volume XI, Hlaer to Jangr. Tidak ada petunjuk tahun dan tempat penerbitan. Di halaman pertama dan di helai kertas sutera bergambar-warna tertera cap biru berbentuk oval dengan inskripsi: Orbis Tertius. Dua tahun sebelumnya pernah saya temukan, di dalam sejilid ensiklopedia bajakan, serangkaian deskripsi ringkas tentang suatu negeri khayali; sekarang hadir di hadapan saya sesuatu yang lebih berharga dan menantang. Sekarang, ada di tangan saya sebuah fragmen penting mengenai sejarah lengkap suatu planet tak dikenal, dengan beragam arsitektur dan kartu kocoknya, keseraman mitologi-mitologi dan pelbagai dialek bahasanya, kaisar-kaisar dan samudera-samuderanya, aneka mineral dan burung-burung dan ikan-ikannya, aljabar dan apinya, perdebatan-perdebatan teologi dan metafisikanya. Semuanya terpapar jelas, koheren, tak sedikit pun berkesan atau bernada dogmatis ataupun parodi.

Jilid XI yang saya sebutkan di atas mengandung bagian-bagian yang merujuk ke beberapa jilid sebelum dan sesudahnya. Dalam satu artikel di Nouvelle Revue Francaise, yang kini sudah klasik, Nestor Ibarra menyangkal adanya jilid-jilid lain tersebut; Ezequiel Martinez Estrada dan Drieu La Rochelle kemudian menyanggah penyangkalan itu, secara lebih meyakinkan. Nyatanya, sampai sekarang, pencarian yang amat sabar dan teliti tak juga menunjukkan titik terang. Telah kami jelajahi perpustakaan-perpustakaan di Amerika Selatan, Amerika Utara, dan Eropa - hasilnya nihil. Alfonso Reyes, jenuh dengan penyelidikan mubazir yang berlarut-larut ini, mengusulkan agar kami menyusun sendiri jilid-jilid yang raib: ex ungue leonem. Ia memperkirakan, setengah bersungguh-sungguh, bahwa satu generasi "ahli Tlön" akan cukup untuk menangani pekerjaan itu. Cetusan brilian ini merangsang kami berpikir ke soal yang lebih dasar: Siapakah gerangan para pencipta Tuhan Tlön? Bentuk jamak di sini tak terelakkan, sebab hipotesis pencipta tunggal - sesosok Leibniz transenden yang bekerja sendirian diam-diam - ternyata sulit kami pertahankan. Dalam bayangan kami dunia baru yang ajaib ini hasil karya suatu kelompok rahasia yang terdiri dari para astronom, biolog, ahli teknik, metafisikawan, ahli kimia, ahli aljabar, moralis, pelukis, ahli geometri, yang dipimpin seorang jenius tak dikenal. Sangatlah banyak orang yang menguasai masing-masing disiplin ilmu itu, tetapi tak banyak yang cukup memiliki kecanggihan daya cipta apalagi mampu mengendalikannya dalam suatu rencana ketat dan sistematis. Rencana ini demikian besar dan luas sehingga kontribusi tiap penulisnya juga nyaris tak terhingga. Mula-mula Tlön tampak seperti suatu khaos luar biasa, hasil permainan imajinasi liar dan gila; namun berangsur-angsur kelihatan bahwa ia memang sebentuk kosmos lengkap dengan hukum-hukum yang telah terumuskan secara eksak, setidaknya untuk sementara. Cukuplah dikatakan bahwa kontradiksi-kontradiksi yang seakan bermunculan dalam Jilid XI tersebut merupakan bukti adanya jilid-jilid lain, sebab alangkah jernih dan rapi, memang, rangkaian penjelasan yang terkadung di dalamnya. Majalah-majalah populer telah membeberkan, dengan antusiasme agak berlebihan, berita-berita tentang kehidupan margasatwa serta pemandangan alam Tlön; menurut saya, harimau transparan dan menara-menara darah yang digambarkan di situ sebenarnya tak teramat berharga untuk mendapat perhatian terus-menerus dari semua orang. Maka perkenankanlah saya, barang beberapa menit, menguraikan konsep mereka tentang alam semesta.

Hume selalu menyatakan bahwa argumen-argumen Berkeley tidak memberi kemungkinan sedikit pun untuk dibantah namun juga tidak pernah cukup meyakinkan. Diktum ini memang sepenuhnya benar bila diterapkan pada kehidupan di bumi, tetapi sama sekali tidak berlaku dalam kehidupan di Tlön. Bangsa-bangsa di planet ini berpendirian idealis tulen. Bahasa mereka, dan pelbagai turunannya - agama, sastra, metafisika - semua berlandasan idealisme. Dunia bagi mereka bukanlah sekumpulan objek dalam ruang, melainkan rentetan tindakan yang berdiri sendiri; ia bersifat berurutan dan temporal, bukan spasial. Dalam Ursprache Tlön - kalaulah bahasa induk itu memang ada, sumber dari bahasa-bahasa "masa kini" dan beragam dialeknya - tidak terdapat kata benda; banyak kata kerja impersonal, yang mengalami modifikasi dengan awalan (atau akhiran) bersuku-kata tunggal dan berfungsi sebagai kata keterangan. Contohnya, tidak ada kata "bulan", tetapi ada kata kerja yang dalam bahasa kita akan menjadi "berbulan" atau "membulan". "Bulan muncul di atas sungai" ditulis "hlör u fang axaxaxas mlö", atau, harfiahnya: "Naik di belakang aliran itu tampak berbulan". (Xul-Solar memberikan terjemahan yang lebih jitu: "Ke atas dari balik yang mengalir tersebut beranjak membulan")

Hal ini berlaku pada bahasa-bahasa di belahan dunia selatan. Pada bahasa-bahasa di belahan utara (hanya sedikit keterangan tentang Ursprache mereke dalam Jilid XI tadi), satuan utamanya bukanlah kata kerja melainkan kata sifat bersuku-kata tunggal. Kata benda dibentuk dengan menggabungkan macam-macam kata-kata sifat. Mereka tidak mengatakan "bulan" akan tetapi "bulat-terang-bening-atas-kelam" atau "jingga-pucat-di-luas-langit" atau kombinasi lain semacam itu. Dalam contoh barusan, beberapa kata sifat tersebut mengacu pada satu objek nyata, namun ini hanya kebetulan yang jarang terjadi. Sastra di belahan ini (seperti halnya dunia subsisten ala Meinong) sarat dengan objek-objek ideal, yang diadakan dan dilenyapkan untuk suatu momen tertentu, sesuai kebutuhan puitisnya. Seringkali itu semua ditentukan oleh keserentakan belaka. Ada objek-objek yang terdiri dari dua ungkapan, satu bersifat visual dan satunya lagi mengacu kepada pendengaran: warna matahari terbit dan pekik nyaring burung di kejauhan. Ada juga yang terbentuk dari banyak ungkapan, misalnya: matahari dan debur air di dada perenang, warna mawar buram gemetar yang kita lihat dengan mata terpejam, rasa terhanyut di arus sungai dan di alam tidur. Objek-objek tingkat kedua ini dapat digabungkan dengan banyak lagi yang lain; menggunakan singkatan-singkatan tertentu, proses tersebut praktis berlangsung tiada habisnya. Ada puisi-puisi termasyhur yang terdiri dari satu kata mahabesar. Kata ini membentuk suatu objek puitis ciptaan sang penyair. Kenyataan bahwa tak seorang pun mempercayai adanya kata benda, paradoksnya, justru mengakibatkan tak terhingganya jumlah kata benda. Bahasa-bahasa di belahan utara Tlön mencakup seluruh kata benda yang ada dalam rumpun bahasa Indo-Eropa dan juga bahasa-bahasa lainnya.

Tidaklah berlebihan menyatakan bahwa budaya klasik Tlön terdiri dari hanya satu disiplin ilmu: psikologi. Semua hal lain bernaung di bawahnya. Telah saya katakan penduduk planet ini memahami alam semesta sebagai rangkaian proses-proses pikiran yang berlangsung tidak dalam ruang melainkan dalam urutan waktu. Spinoza menobatkan kemampuan berkembang-biak dan berpikir sebagai atribut-atribut ilahiah pada manusia; tak seorang pun di Tlön akan memahami penyejajaran ciri pertama (yang berlaku hanya dalam situasi keberadaan tertentu) dengan ciri kedua (yang merupakan padanan persis alam semesta). Dengan lain perkataan, mereka tak menganggap kenyataan ruang berada dalam waktu. Proses mencerap segumpal asap di cakrawala dan kemudian sebentang daratan dalam api berkobar dan kemudian sebatang rokok setengah padam yang menyebabkan kebakaran itu, dianggap sebagai contoh asosiasi gagasan semata-mata.

Monisme atau idealisme yang eksterm ini melenyapkan keabsahan ilmu-ilmu. Untuk menjelaskan (atau menilai) suatu hal, kita menghubungkan hal tersebut dengan yang lain; penghubungan demikian, di Tlön, merupakan tahap lanjutan dalam pikiran subjek bersangkutan, yang sama sekali tak dapat mempengaruhi atau menerangi keadaan sebelumnya. Setiap keadaan pikiran tak dapat direduksi - yakni, melakukan klasifikasi - mengandung sekaligus penyangkalannya sendiri. Maka dapatlah disimpulkan bahwa di Tlön tidak ada ilmu, tidak juga penalaran. Kenyataannya, paradoksnya, di sana ada ilmu, bahkan dalam jumlah tak terbilang. Dalam filsafat, berlangsung proses yang sama dengan apa yang terjadi pada kata benda bahasa belahan utara. Bahwa setiap sistem filsafat merupakan sejenis permainan dialektis, suatu philosophie des Als Ob, maka pelibatgandaan ini tentu mudah dipahami. Ada banyak sekali sistem filsafat menakjubkan yang bersusunan bagus atau bercorak sensasi. Para metafisikawan Tlön tidak berikhtiar mencari kebenaran atau mendekati kebenaran, tetapi berlomba mengejar kedahsyatan. Mereka beranggapan filsafat adalah suatu cabang dari sastra fantasi. Mereka tahu suatu sistem tak lain daripada subordinasi seluruh aspek alam semseta ke bawah naungan satu aspek tertentu. Bahkan ungkapan "seluruh aspek" sesungguhnya bisa ditolak, karena mengandaikan terangkumnya masa sekarang dan segenap masa yang telah lampau: sesuatu yang mustahil. Lagipula tak dibenarkan memakai bentuk jamak "masa-masa lampau," karena mengandaikan prosedur lain yang sama mustahilnya.... Salah satu aliran filsafat di Tlön bergerak lebih jauh hingga menyatakan penyangkalan atas waktu: bahwa masa kini tak terdefinisi, masa mendatang tak lain hanyalah pengharapan kini, masa lampau tak lebih daripada ingatan kini. Sebuah aliran lain menyatakan seluruh waktu telah berlangsung dan hidup kita cuma secercah ingatan redup, rusak dan keliru atau seberkas pantulan dari suatu proses tak terulang. Ada sebuah aliran lain mengatakan, bahwa sejarah alam semesta - termasuk di dalamnya hidup kita semua beserta segala rinciannya - adalah karya tulis satu dewa tingkat rendah dalam kontaknya dengan iblis. Sebuah aliran lain berpendapat bahwa alam semesta sepadan dengan sandi yang tak semua lambangnya absah, di mana kebenaran hanya terjadi setiap tiga ratus malam. Yang lain lagi berpendapat bahwa ketika kita tidur di sini, di tempat lain kita tengah terjaga, dan dengan demikian tiap satu orang adalah dua orang.

Di antara ajaran-ajaran di Tlön, materialisme-lah yang paling susah diterima dan paling merupakan skandal. Sejumlah pemikir telah merumuskannya lebih sedikit dengan kejernihan daripada kegairahan, seperti halnya orang yang mengajukan sebuah paradoks. Demi mempermudah pemahaman atas tesis muskil ini, seorang cendekiawan penyebal dari abad kesebelas mengemukakan parabel sembilan koin, yang kemasyhuran dan kericuhannya di Tlön lebih kurang sama dengan paradoks Zeno dari Elea. Ada banyak versi dari "penalaran-semu-benar" ini, dengan perbedaan jumlah koin dan jumlah penemuannya. Berikut ini versi paling umum:
Pada hari Selasa, X melewati sebuah jalan lengan dan kehilangan sembilan keping logam tembaga. Hari Kamis, Y menemukan di jalan itu empat koin, agak berkarat akibat hujan hari Rabu. Hari Jumat, Z menemukan tiga koin di jalan tadi. Jumat pagi, X menemukan dua koin di koridor rumahnya. (Sang penyebal mencoba melakukan deduksi, dari cerita ini, tentang realitas - yakni kontinyuitas - sembilan koin yang ditemukan kembali itu). Sungguh msukil (tandasnya) membayangkan empat dari sembilan koin tersebut tidak eksis antara Selasa dan Kamis, tiga koin antara Selasa dan Jumat pagi, dua koin antara Selasa dan Jumat pagi. Adalah logis berpikir bahwa kesemuanya eksis - setidaknya secara rahasia, tersembunyi dari pemahaman manusia - pada tiap saat dari tiga rentang waktu tersebut.
Bahasa Tlön tidak memungkinkan perumusan paradoks ini; kebanyakan orang malahan sama sekali tidak memahaminya. Para pembela akal waras mula-mula tak melakukan apa pun selain menampik kebenaran anekdot itu. Mereka menganggapnya tak lebih daripada sebentuk kesalahan verbal belaka, yang didasarkan atas penggunaan sepasang neologisme asing dan tak lazim bagi semua pemikiran serius: kata "menemukan" dan "kehilangan," yang patut dipertanyakan karena keduanya mengandaikan kesamaan antara sembilan koin pertama dan yang ditemukan kemudian. Mereka mengingatkan bahwa semua kata benda (manusia, koin, Kamis, Rabu, hujan) hanya memiliki nilai metaforis. Mereka mencela pernyataan detil yang menyesatkan "agak berkarat akibat hujan hari Rabu," sebab mengandaikan hal yang justru hendak dibuktikan: kontinuitas keberadaan empat koin antara Kamis dan Selasa. Mereka menjelaskan bahwa kesetaraan dan kesamaan adalah dua hal yang berlainan, serta merumuskan suatu reductio ad absurdum: kasus hipotesis tentang sembilan orang yang selama sembilan malam berturut-turut mengalami rasa sakit hebat. Tidakkah absurd, mereka bertanya, menganggap rasa sakit ini satu dan sama adanya? Mereka mengatakan tokoh penyebal itu cuma didorong niat sembrono menganugerahkan kategori ilahiah keberadaan terhadap sejumlah koin, dan bahwa kadangkala ia menolak kemajemukan sedangkan di kala lain tidak. Mereka mengedepankan argumen: jika kesetaraan berarti kesamaan, maka harus juga diakui bahwa sembilan koin tersebut adalah satu koin sesungguhnya.

Ajaibnya, sanggahan-sanggahan ini ternyata tidak cukup kuat. Seratus tahun setelah problem tersebut dikemukakan, seorang pemikir yang tak kalah brilian daripada sang penyebal namun berasal dari kalangan ortodoks merumuskan sebuah hipotesis yang sangat berani. Pernyataan bernasib mujur ini menegaskan bahwa hanya ada satu Subjek, bahwa Subjek tunggal ini adalah setiap makhluk di alam semesta dan makhluk-makhluk ini merupakan organ dan topeng-topeng Sang Mahakudus. X adalah Y dan Y adalah Z. Z menemukan tiga koin karena ia ingat X telah menghilangkannya; X menemukan dua koin di koridor karena ia ingat koin-koin lainnya sudah ditemukan.... Jilid XI mengungkapkan tiga alasan yang menentukan keberjayaan panteisme idealis ini. Pertama, penolakannya atas solipsisme; kedua, kemungkinan menjaga landasan psikologis ilmu-ilmu; ketiga, kemungkinan mempertahankan pemujaan kepada dewa-dewa. Schopenhauer yang jernih dan penuh gelora, merumuskan sebuah doktrin yang hampir serupa, pada jilid pertama Parerga und Paralipomena. 

Geometri di Tlön tersusun atas dua disiplin yang agak berlainan: bagian visual dan bagian taktil menyerupai geometri kita dan berada di bawah geometri visual. Dasar geometri visual adalah permukaan, bukan titik. Disiplin ini tidak mengakui adanya garis-garis paralel dan menyatakan bahwa manusia dengan geraknya mengubah bentuk-bentuk di sekitarnya. Landasan hitungnya: angka-angka yang tak terdefinisi. Ditekankan pentingnya konsep "lebih besar" dan "lebih kecil". yang dalam matematika kita dilambangkan dengan > dan <. Dikemukakan pula bagaimana operasi hitung mengubah jumlah dan mengubah angka-angka tak terdefinisi menjadi terdefinisi. Bahwa beberapa orang yang mengadakan perhitungan angka-angka yang sama memperoleh hasil sama, bagi para psikolog Tlön, merupakan contoh asosiasi gagasan atau semacam latihan ingatan. Kita tahu di Tlön pengetahuan bersifat tunggal dan kekal.

Dalam praktik sastra, gagasan tentang subjek tunggal juga berpengaruh kuat. Pencantuman nama penulis bukanlah hal yang lazim. Tidak ada istilah plagiarisme: sudah ditetapkan, dimaklumi, bahwa semua karya seorang pengarang, yang anonim dan baka. Para kritikus kerapkali menciptakan pengarang sendiri: mereka pilih dua karya yang sama sekali berbeda - katakanlah, Tao Te Ching dan 1001 Malam - dan menyebut keduanya karya seorang pengarang dan kemudian menelaah, secara terperinci dan gamblang, psikologi sang sastrawan yang mengagumkan ini...

Buku-buku mereka juga berbeda. Karya-karya fiksi hanya memiliki satu alur cerita, dengan segala kemungkinan permutasinya. Karya-karya yang lebih bercorak filosofis dengan cara masing-masing memasukkan tesis dan antitesis, pro dan kontra menyangkut doktrin yang tengah diulas. Sebuah buku yang tidak sekaligus mengandung buku-kontra di dalamnya dianggap tidak utuh.

Berabad-abad idealisme, tak percuma, telah mempengaruhi kehidupan nyata. Di wilayah-wilayah paling kuno di Tlön, penggandaan objek-objek yang sudah raib tak jarang terjadi. Dua orang mencari sebatang pensil; orang pertama menemukannya tanpa memberitahu siapa pun; orang kedua menemukan sebatang pensil juga, tak kurang nyata, namun lebih menyerupai yang dibayangkannya. Objek kedua ini disebut hrönir dan, meski agak janggal bentuknya, biasanya sedikit lebih panjang. Mula-mula, hingga belum lama berselang, hrönir adalah produk tak disengaja dari keteledoran dan keterlupaan. Cukup mengherankan bahwa produksi hrönir secara lebih metodis baru berkembang tak lebih dari seratus tahun lalu, tetapi itulah yang diungkapkan dalam Jilid XI. Usaha-usaha awal menemui kegagalan. Namun demikian, mungkin modus operandi-nya perlu juga digambarkan. Kepala salah satu penjara milik negara memberitahu para tahanan bahwa ada kuburan terntentu di tepi sungai purba dan menjanjikan pembebasan bagi siapa saja yang menemukan peninggalan penting ini. Beberapa bulan sebelum penggalian, kepada para tahanan diperlihatkan foto objek-objek yang mesti dicari. Usaha pertama membuktikan ternyata pengharapan dan kecemasan cenderung menghalangi penemuan; seminggu kerja dengan perkakas linggis dan sekop tak berhasil mengangkat hrön dalam bentuk apa pun, selain sebuah roda berkarat yang berasal dari suatu kurun sesudah penggalian. Penemuan ini dirahasiakan dan prosesnya belakangan diulangi di empat sekolahan. Di tiga tempat terjadi kegagalan yang hampir total; di tempat keempat (kepala sekolahnya mendadak meninggal dunia pada saat awal penggalian) murid-murid menemukan - atau menciptakan - sebuah topeng emas, sebatang pedang kuno, dua atau tiga guci tanah liat dan batang tubuh seorang raja (yang seperti tercetak kaku serta agak rusak), di dadanya tertera suatu inskripsi yang tak kunjung tersingkap maknanya. Demikianlah, mulai disadari betapa meragukannya kesaksian mereka yang mengetahui sifat eksperimental pencarian itu.... Beberapa pencarian massal menghasilkan objek-objek yang saling bertentangan; akhirnya kerja perorangan yang cenderung penuh improvisasi, lebih disukai. Pembuatan hrönir secara metodis dengan sistem pabrik (menurut Jilid XI) telah memberikan hasil-hasil yang sangat bermanfaat bagi para ahli purbakala. Dengan ini dimungkinkan penyelidikan atau bahkan modifikasi masa silam, yang kini menjadi tak kurang fleksibel dan jinak dibanding masa mendatang. Ganjilnya, hrönir tingkat dua dan tiga - hrönir turunan hrön lain, atau turunan dari hrön hasil turunan hrön lain lagi - menonjolkan ketidaksempurnaan hrin tingkat pertama; hrön tingkat lima hampir tak terbedakan lagi; tingkat sembilan, sering dikira tingkat dua; pada tingkat sebelas tercapai kesempurnaan, kemurnian garis, yang tak dimiliki objek aslinya. Berlangsung proses melingkar: hrön tingkat duabelas mulai menampakkan kembali kemerosotan kualitas. Yang lebih ganjil, dan lebih murni, daripada hrin mana pun, seringkali, ialah ur: objek yang dihasilkan oleh sugesti, diperkokoh oleh harapan. Topeng emas yang tadi saya sebutkan adalah salah satu contoh yang sudah dikenal luas.

Pelbagai hal mengenai penggandaan di Tlön; dan juga cenderung memudar serta kehilangan detail bila mulai dilupakan orang. Sebagai contoh klasik: sepetak beranda, yang terus ada selama ia didatangi seorang pengemis dan sirna ketika si pengemis meninggal dunia. Ada kalanya, sekawanan burung, seekor kuda, menyelamatkan kembali reruntuhan sebuah bangunan teater terbuka.

Postscriptum (1947). Artikel di atas saya tampilkan sebagaimana aslinya, seperti termuat dalam Antologi Sastra Fantasi (1940), tanpa pemangkasan sedikit pun kecuali terhadap sejumlah metafora dan semacam ringkasan kasar yang kini terasa berlebihan. Begitu banyak yang telah terjadi semenjak itu.... Yang akan saya lakukan di sini tak lebih, adalah menceritakannya kembali.

Maret 1941, selembar surat yang ditandatangani Gunnar Erfjord ditemukan terselip di antara halaman-halaman buku karya Hinton kepunyaan Herbert Ashe. Amplopnya berstempel pos Ouro Preto. Surat tersebut menyingkap sepenuhnya tabir misteri Tlön. Isinya membuktikan kebenaran hipotesis Martinez Estrada. Suatu malam di Lucerne atau di London, di awal abad ke-17, berlangsunglah permulaan sejarah dahsyat itu. Sebuah kelompok rahasia yang penuh tekad suci (di antara anggota-anggotanya terdapat nama Dalgarno dan kemudian juga George Barkeley) didirikan untuk mendirikan sebuah negeri. Program pendahuluannya yang tersusun samar meliputi studi-studi hermetik, filantropi, dan kabbala. Dari kurun awal inilah buku aneh karya Andrea muncul. Setelah beberapa tahun mengadakan serangkaian pertemuan rahasia yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan prematur, diputuskan bahwa satu generasi tidaklah cukup untuk merekayasa pemerian lengkap tentang suatu negeri. Mereka bersepakat agar masing-masing anggota mengangkat seorang murid yang dapat diandalkan untuk meneruskan pekerjaan tersebut, dan seterusnya. Perjanjian turun-temurun ini berjalan baik; dua abad kemudian, kelompok persaudaraan yang diburu-buru dan dianiaya itu muncul lagi, di Amerika. Pada 1824, di Memphis, Tennessee, salah seorang anggotanya bertemu hartawan asketik Ezra Buckley. Sang hartawan, dengan gaya sedikit merendahkan, membiarkan tamunya bicara panjang lebar - dan menertawakan keluguan rencana itu. Ia mengatakan agak absurd di Amerika berencana mendirikan satu negeri, dan mengusulkan penciptaan sebuah planet. Terhadap gagasan raksasa ini ia menambahkan, akibat nihilisme yang dianutnya, bahwa segala sesuatunya harus dirahasiakan. Kala itu 20 jilid Encyclopaedia Britannica tengah beredar di Amerika Serikat; Buckley menghendaki disusunnya satu set ensiklopedia tentang sebuah planet khayali. Ia mau menghibahkan tambang-tambang emas, sungai-sungai luas, padang-padang ternak berikut sapi dan banteng-bantengnya, budak-budak Negro, rumah-rumah bordil serta sejumlah besar uang tunai yang dimilikinya, dengan satu syarat: "Mahakarya itu tidak akan bersekutu dengan si penyaru Yesus Kristus." Buckley tidak percaya adanya Tuhan, tetapi ingin membuktikan kepada Tuhan yang tidak ada ini, bahwa manusia-manusia fana mampu menciptakan sebuah dunia. Buckley tewas diracun di Baton Rouge pada tahun 1828; pada 1914 kelompok itu menyerahkan kepada para pendukungnya yang berjumlah tiga ratus orang, jilid akhir A First Encyclopaedia of Tlön. Edisi ini dirahasiakan; keseluruhan 40 jilidnya (usaha terbesar yang pernah dilakukan manusia) akan dijadikan landasan bagi sebuah edisi lain yang lebih terperinci, ditulis bukan dalam bahasa Inggris melainkan dalam salah satu bahasa Tlön. Revisi atas dunia khayali ini dinamakan, untuk sementara, Orbis Tertius; dan salah satu koresponden iblisnya yang rendah hati adalah Herbert Ashe, entah sebagai agen atau sahabat Gunnar Erfjord, tidak jelas. Bahwa ia menerima satu eksemplar Jilid XI, menunjukkan bahwa kemungkinan kedualah agaknya yang lebih masuk akal. Tetapi bagaimana dengan yang lainnya?

Di tahun 1942, peristiwa-peristiwa yang menyusul terasa semakin intens. Salah satunya masih saya ingat jelas dan rasanya menggerakkan firasat tertentu dalam diri saya. Itu terjadi di sebuah apartemen di Jalan Laprida, di muka balkon tinggi berwarna cerah yang menghadap ke arah matahari terbenam. Putri Faucigny Lucinge menerima kiriman barang-barang perak yang dipesannya dari Poitiers. Dari kedalaman kotak kemasan penuh stempel asing itu tersembul benda-benda halus dan mati: seperangkat piring perak dari Utrecht dan Paris bertatahan aneka margasatwa, dan satu cerek samovar. Lalu, sebentar bergerak, lemah, seperti burung yang tidur, misterius: sebuah kompas. Sang Putri tak memperhatikannya. Jarum birunya seakan mendamba, menuding gemetar ke arah utara; logam penampangnya berbentuk cekung; huruf-huruf di sepamnjang tepi kelilingnya sama persis dengan salah satu abjad Tlön. Inilah sebuah penyusupan pertama dunia fantasi ke dalam dunia nyata.

Saya masih juga agak terganggu oleh satu peristiwa mengejutkan yang membuat saya menjadi saksi penyusupan kedua, terjadi beberapa bulan kemudian, di sebuah kedai milik seorang Brazil di pedalaman Cuchilla Negra. Saya dan Amorim baru pulang dari Sant' Anna. Sungai Tacuarembo meluap sehingga kami terpaksa mencoba (menikmati sebisanya) sisa-sisa keramahan sang pemilik kedai. Ia menyediakan untuk kami sepasang dipan tua di sebuah kamar besar, di antara tumpukan tong dan kantong anggur dari kulit hewan. Kami naik ke tempat tidur, tapi terus terjaga sampai fajar oleh suara meracau orang mabuk di sebelah rumah, yang mencampurkan sumpah-serapah dengan cuplikan sejumlah milonga - atau bait-bait sebuah milonga yang sama. Tentu saja kami menganggap kegaduhan ini akibat minuman keras dari tebu olahan si pemilik kedai. Waktu subuh, si pemabuk ditemukan tergeletak tanpa nyawa di serambi. Suaranya yang parau telah mengecoh kami: ia ternyata seorang muda belia. Di tengah igaunya semalam, beberapa koin dan sebutir logam mengkilap berbentuk kerucut sebesar dadu, sempat terjatuh dari sabuknya. Seorang bocah mencoba mengambil logam kerucut itu, gagal. Seorang dewasa pun nyaris tak kuat memungutnya dari tanah. Saya coba mengangkatnya dengan telapak tangan selama beberapa menit; saya masih ingat betapa tak wajar memang beratnya, dan setelah dilepas pun rasa menekannya tak kunjung hilang. Masih saya ingat juga jejak lingkaran yang membekas dalam di telapak tangan setelah itu. Pengalaman merasakan benda sangat mungil tapi sangat berat itu meninggalkan kesan aneh yang tak mengenakkan, antara ngeri dan gusar. Salah seorang penduduk menyarankan agar benda itu dibuang saja ke sungai yang tengah meluap; Amorim menukarnya dengan beberapa peso. Tak seorang pun mengenal si jenazah, selain bahwa "ia datang dari daerah perbatasan." Kerucut kecil yang demikian berat (terbuat dari sejenis logam yang bukan berasal dari dunia kita) adalah lambang ketuhanan di wilayah tertentu di Tlön.

Di sini saya tutup bagian pribadi cerita ini. Selebihnya ada dalam ingatan (kalau tidak dalam harapan atau ketakutan) pembaca sekalian. Cukuplah kiranya saya sebut atau saya panggil kembali fakta-fakta berikut ini, dengan hanya kata-kata singkat yang akan diperkuat dan diperkaya sendiri oleh kesadaran reflektif kita masing-masing. Sekitar 1944, seorang yang sedang mengadakan riset untuk koran The American (Nashville, Tennessee) menjumpai 40 jilid A First Encyclopaedia of Tlön. Hingga sekarang bahkan masih menjadi kontroversi apakah penemuan ini terjadi secara kebetulan atau memang sepengetahuan (dan seizin) para pemimpin misterius Orbis Tertius. Kemungkinan terakhir-lah yang kelihatannya lebih bisa diterima. Sejumlah hal menakjubkan dalam jilid XI (misalnya, pelipatgandaan hrönir) telah dihilangkan atau dipadatkan dalam edisi Memphis tersebut; cukup masuk akal membayangkan bahwa penghapusan ini mengikuti rencana mendemonstrasikan suatu dunia lain yang tak terlalu jauh berbeda dari dunia nyata. Penyebaran benda-benda dari Tlön ke pelbagai negeri akan melengkapkan rencana ini... Dan nyatanya pers internasional di sana-sini terus mengabarkan adanya "temuan-temuan". Buku-buku manual, antologi, rangkuman, versi harfiah dari edisi asli maupun bajakan atas "Karya Terbesar Manusia" itu telah membanjiri Bumi. Dalam tempo singkat, kenyataan takluk digambarkan secara beraneka ragam. Dan, memang, ia mendambakan aneka ragam penggambaran atas dirinya. Sepuluh tahun silam, setiap simetri yang mencerminkan suatu keteraturan - materialisme dialektis, anti-Semitisme, Naziisme - sudah cukup untuk memabukkan pikiran manusia. Apalah lagi yang bisa dilakukan selain menyerahkan diri ke bawah kuasa Tlön, ke dalam seluk-beluk kehidupan yang teratur sempurna? Tak ada artinya menjawab bahwa kenyataan juga penuh keteraturan. Memang mungkin saja demikian, namun itu hanya di bawah kuasa hukum langit - saya terjemahkan: di luar hukum manusia - yang tak pernah cukup kita pahami. Tlön, tentu saja, adalah suatu labirin; namun hanyalah labirin ciptaan manusia, labirin yang ditakdirkan untuk disingkap oleh manusia.

Kontak dengan Tlön, berikut kebiasaan-kebiasaan hidupnya, telah memecah-belah dunia ini. Terpesona akan keselarasannya yang indah, umat manusia menjadi lupa, untuk kesekian kalinya, bahwa itu keselarasan permainan tingkat ahli catur, bukan tingkat malaikat. Kini bahkan sekolah-sekolah telah dirasuki "bahasa-bahasa primitif" (yang masih hipotetis) dari Tlön; dan pengajaran tentang sejarahnya yang penuh harmoni (dengan sejumlah episode mengharukan) mulai menghapus sejarah yang pernah dituturkan di masa kanak saya; suatu masa silam fiktif mulai menggusur masa silam lain dalam ingatan kita, suatu masa yang tak pernah kita ketahui secara pasti - termasuk kemungkinan kelirunya. Numismatologi, farmakologi dan arkeologi telah diubah. Saya mengerti bahwa biologi dan matematika hanya menanti penjelamaan barunya... Suatu dinasti cerai-berai yang terdiri dari manusia-manusia penyendiri, terus berkeliaran, mengembara, mengubah wajah dunia. Pekerjaan mereka masih berlanjut. Kalau perkiraan kami tidak meleset, seratus tahun mendatang seseorang akan menemukan Ensiklopedia Tlön Kedua. 

Maka bahasa Inggris, Perancis, dan (apalagi) Spanyol, dan seterusnya akan lenyap dari permukaan Bumi. Dunia akan menjadi Tlön. Saya tidak peduli dengan semua ini dan akan melanjutkan, di hari-hari tenteram dan sunyi di Hotel Adrogue, percobaan terjemahan (yang tidak akan saya publikasi) dengan gaya bahasa zaman Quevedo, sebuah karya Sir Thomas Browne, Urn Burial.

Catatan Pengarang:
  1. Haslam juga menerbitkan A General History of Labyrinths. 
  2. Russell (The Analysis of Mind, 1921 hal. 159) mengandaikan planet Bumi diciptakan beberapa menit lalu, diperlengkapi dengan satu umat manusia yang mengingat masa silam "khayali".
  3. Satu abad, dalam sistem duodesimal, sama dengan seratus empat puluh empat tahun.
  4. Kini, salah satu gereja di Tlön berpendapat, secara platonis, bahwa suatu rasa sakit tertentu, nuansa hijau tertentu pada warna kuning, temperatur tertentu, hanya menegaskan sebuah kenyataan. Semua orang, pada puncak senggama yang memusingkan, adalah satu orang. Semua orang yang mengulang sebaris karya Shakespeare ialah William Shakespeare.
  5. Buckley adalah seorang pemikir-bebas, fatalis, dan pembela sistem perbudakan.
  6. Tetap ada problem, tentu saja, mengenai bahan untuk benda-benda tertentu.
Diterjemahkan oleh Hasif Amini dari edisi bahasa Inggris berjudul "Tlön, Uqbar, Orbis Tertius" berdasarkan dua versi terjemahan dari bahasa Spanyol oleh Anthony Kerrigan (Ficciones, New York: Grove Press, 1962) dan John E. Irby (Labyrinths: Selected Stories and Other Writings, New York: New Directions, 1964).

Catatan Penerjemah:
  1. Bahasa-bahasa Ural-Altaik, rumpun bahasa tua yang hidup di sekitar Pegunungan Ural (dianggap perbatasan Asia-Eropa) dan kawasan utara Skandinavia.
  2. Carl Ritter (1779-1859), ahli geografi asal Jerman yang, bersama Alexander von Humboldt, merintis ilmu geografi modern. Seri bukunya, Die Erdkunde im Verhaltniss zur Natur und zur Geschichte des Menschen (Ilmu Bumi dan Hubungannya dengan Alam dan Sejarah Manusia) dimaksudkan sebagai survei menyeluruh sedunia namun tak pernah rampung; terdiri dari 19 jilid.
  3. Johann Valentin Andrea, nama ini tidak ditemukan dalam kaitang dengan buku yang menggambarkan komunitas Rosicrucian. Buku itu, Fama Fraternitas (1614), tanpa nama penulis, mengisahkan pengembaraan Christian Rosenkreuz, konon pendiri ordo tersebut, konon lahir pada 1378 dan hidup selama 106 tahun, ke sejumlah negeri di Timur Tengah mencari pencerahan sebelum akhirnya kembali ke Jerman; cerita itu kini dianggap lebih sebagai dongeng, dan Rosenkreuz sebagai tokoh simbolis.
  4. Thomas de Quincey (1785-1859), esais dan kritikus sastra asal Inggris, dianggap salah seorang stylist terkuat dalam Kesusastraan Inggris. Sebuah karyanya yang menonjiol, Confession of an English Opium Eater. 
  5. Rosae Crucis, Rosicrucian Order, atau Ordo Salib Mawar, suatu perkumpulan sedunia, tapi terutama bergerak di negara-negara Eropa dan Amerika; mengajarkan esoterisme hasil persilangan sejumlah tradisi keagamaan dan unsur-unsur okultisme purba. Asal-usulnya tidak jelas; ada yang merentangkan keberadaannya sejak Mesir dan Yunani Kuno; tapi tak ditemukan bukti-bukti terpercaya yang berasal dari sebelum abad ke-17.
  6. Gaucho, kaum penggembala atau semacam koboi Amerika Latin, kebanyakan berdarah campuran Spanyol dan Indian.
  7. Orbis Tertius, nama untuk planet Bumi dalam kosmografi di zaman Renaissance.
  8. Nouvelle Revue Francaise, sebuah jurnal sastra yang terbit di Paris.
  9. Ex ungue leonem, memutuskan (mengerjakan) sesuatu berdasarkan contoh.
  10. Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716) ahli filsafat, matematika, fisika, dan sejarah asal Jerman. Dalam waktu bersamaan, namun tidak bersama-sama, dengan Newton ia membangun sistem kalkulus diferensial dan integral.
  11. David Hume (1711-1776) ahli filsafat, sejarah, teori politik dan ekonomi asal Skotlandia. Ia menggabungkan empirisme dengan skeptisisme. Hume berangkat dari, dan tak pernah mempertanyakan, pandangan John Locke bahwa apa yang kita persepsi secara langsung adalah senantiasa kesan(-kesan) inderawi.
  12. George Berkeley (1685-1753) filsuf dan rohaniawan kelahiran Irlandia, pendukung idealisme bahkan solipsisme yang mengabsahkan hanya pengetahuan-diri; menentang pandangan empirisisme John Locke.
  13. Ursprache, bahasa induk yang direkonstruksi secara teoritis sebagai asal-muasal beberapa bahasa.
  14. Alexius Meinong (1853-1920) filsuf dan psikolog dari Austria, dikenal dengan Gegenstandstheorie atau teori objek. Menurut Meinong, suatu objek betapa pun adalah suatu objek dan memiliki karakter dan unsur-unsur tertentu (Sosein), meskipun mungkin tidak memiliki eksistensi (Sein). Maka, "gunung emas" adalah suatu objek, yang ada sebagai konsep, meskipun tidak ada gunung emas di dunia pengalaman inderawi.
  15. Bahasa-bahasa Indo-Eropa, rumpun bahasa yang meliputi sebagian besar bahasa di Eropa dan beberapa di Asia (Barat).
  16. Philosophie des Als Ob, Philosophy of As If, Filsafat Seolah-olah. Hans Vaihinger dalam buku Die Philosophie des Als-Ob (Berlin, 1911) membedakan antara hipotesis ilmiah, yang mungkin benar, dan fiksi (As If), yang tidak benar namun memiliki manfaat semi kognitif. Sistem metafisik termasuk kategori terakhir ini. 
  17. Paradoks Zeno dari Elea, mengemukakan tentang ketidakmungkinan terjadinya gerak, sebab sebelum gerak itu terjadi harus ditempuh setengah jaraknya terlebih dulu, dan sebelum (setengah) jarak itu dicapai setengahnya lagi harus dicapai terlebih dulu dan seterusnya menuju tak terhingga.
  18. Reductio ad absurdum, pembuktian kesalahan (pemikiran) dengan jalan melakukan penalaran atasnya hingga tercapai suatu kesimpulan yang absurd.
  19. Arthur Schopenhauer (1788-1860) filsuf Jerman yang sering disebut sebagai "filsuf pesimisme"; pendukung pemikiran filsafat kehendak (will) yang berlawanan dengan idealisme Hegel. Pikiran-pikiran Schopenhauer banyak mempengaruhi eksistensialisme dan psikoanalisis freud. Dalam kumpulan eseinya, Parerga und Paralipomema, Schopenhauer pernah menulis tentang "keserentakan terjadinya hal-hal yang secara kausal tak berkaitan."
  20. Antologi Sastra Fantasi (1940), bunga rampai khazanah sastra fantasi dari Barat dan Timur, disunting oleh Borges dan dua penulis Argentina yang lain yakni pasangan suami istri Adolfo Bioy-Casares dan Silvina Ocampo, diterbitkan di Argentina oleh Editorial Sudamericana.
  21. Studi-studi Hermetik, pengkajian masalah-masalah spiritual esoteris berdasarkan ajaran Hermes Trismegistus, yang konon hidup selama ribuan tahun di zaman Mesir Kuno.
  22. Kabbala, aliran mistik paling menonjol dalam tradisi Yahudi.
  23. Fransisco Gomez de Quevedo y Villegas (1580-1645) penyair dan satirs yang dianggap tak ada bandingannya dalam kesusastraan Spanyol. Pemuka gaya Baroque-conceptismo, bentuk ekspresi rumit penuh permainan kata (pun) dan ekspresi-ekspresi yang megah.
  24. Sir Thomas Browne (1606-1682) penulis (juga tabib) asal Inggris, salah seorang tokoh penting di zaman Baroque.
 
Catatan Pengetik: 
  1. Karya terjemahan Borges di atas diketik seutuhnya dari Kalam, Jurnal Kebudayaan, edisi 4, 1995.
  2. Saya menyukai tulisan-tulisan Borges karena gaya penulisannya yang memukau. Borges memiliki wawasan terhadap sejarah dan mampu meramunya ke dalam fiksi (dan) setengah fakta.
  3. Borges berhasil menyuguhkan kisah-kisah yang ganjil dengan imajinasi dan fantasi yang luar biasa.
  4. Berkali-kali saya membaca ulang karya-karya Borges, bermaksud meniru, tapi gagal.

14 September 2016

Secangkir Kopi Bersama Fansuri

Saya memasuki sebuah taman yang ditumbuhi oleh beberapa pohon rindang. Sudah lama saya tak singgah di taman itu. Rasa sejuk pun mulai membasuh saya walau siang begitu teriknya. Di sudut taman itu, ada sebuah warung kopi yang secara tak sadar langkah saya telah berayun ke sana. Hingar-bingarnya deru kendaraan yang berada di depan taman itu tidak mengurangi kesejukan yang saya rasakan. Setibanya di warung kopi taman tersebut, saya menilik ke sekeliling. Warung telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik berdiskusi. Tak ada tempat kosong. Tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang laki-laki tua sederhana yang sedang menyendiri menatap ke arah lalu-lalangnya kendaraan di bawah sebuah pohon rindang. 

Saya menyapa laki-laki itu seraya meminta izin untuk dapat duduk bersamanya dengan dalih tak ada tempat lain yang bisa ditempati. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan kami duduk saling berhadapan. Kemudian saya memesan secangkir kopi. Tak butuh waktu lama untuk menghirup nikmatnya aroma kopi tersebut karena dengan segera kopi telah terhidang di hadapan saya.

Saya tatap laki-laki tua itu yang tak bergeming sedikit pun sejak saya duduk bersamanya. Ia terus menatap hampa seakan tak menggubris keberadaan saya. Saya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sedang Anda pikirkan, Teungku?" tanya saya sesantun mungkin. Laki-laki itu menatap tajam ke arah saya dan menjawab singkat, "Tuhan!" Saya kaget mendengar jawaban tersebut. Sungguh seorang laki-laki yang agak misterius bagi saya.

"Bisakah Anda menjelaskannya lebih lanjut kepada saya mengenai Tuhan?" pinta saya. Laki-laki tua itu lama menatap saya seakan menyangsikan pertanyaan yang saya ajukan. "Tuhan, ketika segala sesuatu itu belum ada (berwujud), maka ketahui olehmu yang pertama sekali ada itu hanyalah Allah sebagai zat semata, tanpa sifat dan nama. Allah sebagai zat adalah Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas. Allah adalah yang awwal dan yang akhir, dan yang tiada teribaratkan dan tiada termisalkan. Nama zat semata tersebut adalah Huwa."

Saya tersentak dalam kegamangan dan bertanya lagi, "Apakah yang Anda maksudkan Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas tersebut?" Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas serupa laut yang dalam, karena hakikat zat tidak dapat diketahui dan tak seorang pun dapat mengenalinya. Allah yang dalam sisi-Nya tanpa aktivitas adalah zat semata dan bernama Huwa. Maka ketika Allah dalam kondisi beraktivitas adalah wujud Allah. Akhirnya zat Allah dan wujud Allah adalah Esa.

Maka dapat dipahami bahwa wujud Allah dan wujud alam adalah Esa. Karena alam ada pada dirinya sendiri dan tidak memiliki wujud. Karena alam itu bukanlah wujud. Wujud alam itu adalah bayang-bayang (wahmi) yang maksudnya adalah bayang-bayang seperti pada cermin, di mana ia tampak memiliki wujud tapi pada hakikatnya tidak. Maka dapat disimpulkan bahwa alam ini tidak memiliki wujud sendiri melainkan diberikan wujudnya oleh Allah.

Simbol bayangan pada cermin ini merupakan hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan antara Allah dan alam seperti tampak dalam ajarannya mengenai penciptaan. Proses penciptaan ini tidak lain karena manifestasi Allah terhadap diri-Nya sendiri (tajalli). Proses manifestasi diri ini dilakukan dengan beberapa fase (ta'ayyunat). berupa kenyataan pertama atau disebut juga martabat wahdat, atau pemanifestasian zat kepada diri-Nya sendiri. Allah melihat kesempurnaan diri-Nya sendiri dan sungguh Allah Maha Sempurna atas segalanya.

Saya terkesan dengan uraian tersebut walau agak sulit dipahami. Lalu saya menyeruput kopi untuk memecah kebuntuan pikiran. "Kemudian bagaimana dengan manusia? Apakah manusia dapat mencapai Tuhan atau zat-Nya? Bisakah Anda memberikan gambaran bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan?"

Beliau memberikan tamsilan secara tasawuf, bahwa manusia ibarat seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Luas dan dalamnya laut tidak mampu dilukiskan dengan akal pikiran sepertti halnya kedalaman dan keluasan ilmu dan zat-Nya.

Namun seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat samapi, bertemu, dan pada akhirnya bersatu dengan Allah (wahdatul wujud). Seorang hamba yang dapat bersatu dengan Allah adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fana fillah, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan inni ana-llah yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.

Saya terhenyak dan hampir saja melompat mendengar penjelasan yang terakhir ini. Bukankah ini hampir serupa dengan pernyataan Al-Hallaj dengan perkataannya ana al-haq yang akhirnya digantung karena dianggap menyesatkan. Tapi saya belum berani bersimpul dan mendengar penjelasan beliau selanjutnya. Dalam mencari Tuhan, manusia juga ibarat seekor burung dan Tuhan ibarat ruang angkasa. Sama seperti ikan dan lautan yang luas. Burung dan ikan tidak akan mungkin mencari Tuhan di angkasa maupun di lautan karena keduanya sangat luas, tak berujung, dan tak bertepi. Ini adalah gambaran sebuah pengembaraan jiwa atau ruh seseorang dalam mencari kesempurnaan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa kesempurnaan diri seseorang terpusat pada hatinya. Semakin jernih hati seseorang semakin jelas dan terang ia dapat mengetahui dan melihat Tuhan.

"Apakah kamu memahaminya, wahai anak muda?" Saya menggeleng. "Maka renungkanlah apa yang sudah saya katakan tadi. Saya menduga kamu pasti telah berkesimpulan bahwa apa yang saya katakan tadi telah menyeleweng dari akidah. Ketahui olehmu bahwa ini bukanlah konsep panteisme yang sering diperdebatkan itu. Wujudiyah yang saya maksudkan di sini memiliki makna lebih tinggi, yakni aspek rohaniah yang sangat tinggi (as-sirr fissirr). Pahamilah tasawuf secara sempurna karena manusia biasa amat sulit menemukan labirin rantai-rantai rohaniah dengan Tuhan. Banyak yang mulhidah (menyimpang) dari wujudiyah murni, dan saya tetap pada wujudiyah muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan). Untuk itu, dalam melakukan usaha-usaha ini dibutuhkan seorang mursyid (guru) yang akan membimbing proses ini. Karena manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dan dapat menyatu dengan Tuhan (wahdatul wujud) adalah manusia yang telah memperoleh ilmu ladunni ataupun ma'rifatullah secara sempurna dan telah berhasil mencapai taraf ketiadaan diri.

Saya akhirnya tersenyum pertanda mulai memahami penjelasan laki-laki tua itu. Kopi terakhir yang saya cicipi pun semakin nikmat. Diskusi ini sangat berarti bagi saya dan saya terdorong untuk lebih mengenal laki-laki tua tersebut.

"Maaf, Teungku! Bolehkah saya tahu siapa Anda dan dari mana Anda berasal?"

Laki-laki tua itu bangkit dari duduknya dan hanya berkata, "Saya harus pergi karena Tuhan telah memanggil." 

Saya terpaku dan tampak sedih karena mungkin saya tidak akan berjumpa lagi dengannya untuk sebuah diskusi baru. Namun sebelum beliau pergi, beliau berujar, "Segala muda dan sopan, segala tuan berhuban, 'uzlatnya berbulan-bulan, mencari Tuhan ke dalam hutan."

12 September 2016

Pasukan Cap Sauh


Pernahkah kau mendengar tentang Pasukan Cap Sauh? Tidak banyak lembaran sejarah yang mengisahkan kiprah pasukan ini yang hanya berusia pendek. Wajar, jika kau tak mendapati di catatan sejarah mana pun perihal pasukan ini. Mungkin yang kau baca hanyalah serpihannya saja yang memberi terang tugas Pasukan Cap Sauh secara singkat, padat, tapi tak jelas. Ya, Pasukan Cap Sauh adalah pasukan yang dibentuk bersama tiga pasukan lainnya untuk mendukung Cumbok. Kelak, pasukan ini akan menjadi salah satu ingatan kelam bagi kita. Ingatan bernoda hitam yang sangat memalukan. Baiklah, akan kuceritakan sejenak petualanganku selama bergabung dengan Pasukan Cap Sauh itu. Kalian bisa membacanya sambil menikmati secangkir kopi, atau teh, mungkin juga cappucino, atau barangkali minuman dari Barat yang tak kukenal sebelumnya.

Sebagai salah satu anggota Pasukan Cap Sauh, aku wajib bergerak secara gesit dan lincah. Ingat! Siapa saja yang tergabung dalam pasukan ini memang dituntut untuk lebih cekatan. Karena nanti kami akan berurusan dengan perihal rampok-merampok harta benda. Untuk menjadi perampok, kau harus punya nyali. Utamanya nyali untuk mati. Siapa tahu korban perampokan akan mempertahankan harta bendanya sampai mati.

Aku ikut bergabung ke dalam Pasukan Cap Sauh karena patah hati. Seorang perempuan Lam Meulo yang sangat kucintai telah dinikahkan oleh orangtuanya dengan seorang alim nan kaya. Lelaki yang lebih alim dan kaya tentunya dapat menjamin masa depan anaknya. Barangkali tak ada yang bisa diharapkan dari lelaki sepertiku ini, memang. Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki harta berlimpah, juga tanah warisan.

Ketika Lam Meulo bergemuruh akibat sikap keras kepala Cumbok, banyak orang mati sia-sia. Mulanya aku tidak tertarik dengan konflik ini. Konflik yang menyebabkan orang alim diburu. Tapi rasa sakit di hatiku tak pernah terobati. Siapa tahu dengan bergabung dengan gerakan Cumbok aku dapat membalaskan dendamku pada Teungku Pakeh, laki-laki yang telah menikahi Siti. Siti adalah gadis kampung polos yang tidak tahu menahu soal percintaan. Baginya menjadi isteri hanyalah melayani. Tak penting cinta itu seperti apa. Karena cinta itu tidak bisa dimakan.

"Bodoh sekali kau, Siti," kataku ketika Siti baru pulang mengaji. Seekor merpati terbang secara acak ketika langkah gesaku mencegat Siti. Sang merpati sepertinya mengutuk diriku karena sedang berusaha menebar pesona pada seekor betina yang tak jauh dari tempat kami.

"Kalau aku bodoh, kenapa kau ingin menjadi suamiku?" jawabnya enteng.

"Kelak kau akan menyesal, Siti."

"Kalau begitu, nikahkan aku segera. Aku akan menjadi pelayanmu seumur hidupku."

"Ayahmu tidak akan setuju. Bagaimana kalau kawin lari?"

"Sekarang kau yang bodoh, Amir! Bukankah kawin lari itu berdosa?"

"Ayahmu itu yang berdosa. Sampai mati tidak akan pernah merestuiku. Apa dia tidak tahu agama?"

Siti marah karena ayahnya dihujat. Panggilanku berkali-kali tak dihiraukan.

Sejak itu Siti tidak ingin bertemu lagi denganku. Sejak itu Siti selalu menjadi hantu. Sejak itu Siti telah meracuni jiwaku. Sejak itu aku menjadi gila. Sejak itu pula aku tidak lagi takut akan mati.

Lalu datang tawaran dari T. Leman, anak seorang bangsawan Lam Meulo untuk mengajakku bergabung bersama gerakan mereka. T. Leman lihai membujuk. Buktinya dia berhasil memasukkan namaku sebagai anggota Pasukan Cap Sauh tanpa meminta persetujuan atau anggukan kepala.

"Nanti malam datanglah ke rumahku. Kita akan merencanakan tugas pertama kita."

Sikap diamku bukan dianggapnya sebagai sebuah penolakan. Kala itu aku berada di ambang keraguan. Banyak pertimbangan yang mesti kupikirkan. Tapi tidak pernah ada jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar bagiku adalah mengayunkan langkah kakiku ke rumah T. Leman nanti malam.

Di rumah T. Leman telah berkumpul pemuda-pemuda tanggung yang tak kukenal satu sama lainnya. Orang yang kukenal hanya T. Leman. Dia malah memperkenalkan kami satu per satu, namun nama-nama mereka cepat sekali terabaikan dalam ingatanku. Bukan karena aku tidak mampu menghafal nama-nama, tapi keraguan masih mengepung hatiku. Barulah ketika aku mendengar nama Teungku Pakeh disebut-sebutkan akan menjadi salah satu target kami, keraguan pada diriku sirna seketika bersama kembalinya kesadaranku. Teungku Pakeh menjadi alasan paling besar yang akhirnya membuatku tidak lagi ragu bergabung bersama Pasukan Cap Sauh. Di penghujung malam, T. Leman membagi-bagikan sehelai kain hitam kepada kami untuk diikatkan di lengan kiri kami.

"Kain ini akan menjadi tanda agar kalian tahu mana lawan dan mana kawan!"

Target pertama kami sebagai anggota Pasukan Cap Sauh adalah kantor Pesindo. Misi kami merampas surat-surat berharga dan merampok segala harta benda yang ada di sana. Kau tahu, ternyata tugas itu tidaklah semudah yang kubayangkan semula dan tanpa perlawanan. Seperti mengetahui maksud kami, beberapa anggota Pesindo siaga di sana. Beruntung jumlah pasukan kami melebihi pemuda-pemuda Pesindo yang berusaha bertahan.  Akhirnya kami berhasil melumpuhkan pertahanan pemuda-pemuda Pesindo. Beberapa pemuda Pesindo harus mati karena kesombingan mereka. Mereka salah menafsirkan arti kesetiaan.

Pasukan Cap Sauh bagai kerasukan setan. Setiap melihat orang-orang yang bukan bagian dari kami, dianiaya seperti binatang. Kemarahan mendarah daging dalam tubuh kami. Tahukah kau apa sebab kemarahan kami begitu memuncak? Bukan karena ambisi Cumbok yang keras kepala, bukan karena kaum bangsawan telah dipermalukan oleh kaum alim, bukan pula karena senjata-senjata Jepang urung kami peroleh. Semua kemarahan yang merasuk pasukan itu karena kami merindukan perang. Kendati musuh abadi kita, Belanda dan Jepang masih berada di tanah leluhur ini, jiwa perang tidak akan pernah lekang dalam tabiat kita.

Setelah berhasil melumpuhkan Pesindo, kami terus memburu simpatisan Pesindo. Yang tak kalah pentingnya dalam petualanganku adalah ketika kami berhasil menjarah rumah Zainal Abidin dan Hasan Moehammad. Mereka ini pengurus-pengurus Pesindo yang dibenci oleh kaum bangsawan. Tak puas menguras harta benda, kami juga membakar rumah-rumah mereka.

Kemenangan demi kemenangan berada di pihak kami. Harta benda pengurus Pesindo, kaum alim, dan para rakyat yang kami anggap mendukung mereka telah banyak kami rampok. Setiap kemenangan mesti dirayakan. Begitulah janji T. Leman. Pesta ie jok masam selalu mengiringi perayaan kemenangan. Kami menenggaknya sampai puas.

Perlu kau tahu juga, Pasukan Cap Sauh bukan saja merampok. Tapi siap membantai dan membunuh orang-orang yang menghalanginya. Padahal tugas bunuh-membunuh adalah tugasnya Pasukan Cap Tombak. Dengan keberhasilan-keberhasilan ini, Cumbok telah mengirimkan sinyal ancaman untuk kaum alim. Kami siap berperang melawan kaum alim yang mendapat dukungan dari rakyat.

Waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Pada pertengahan bulan Desember 1945 - aku melupakan hari dan tanggal yang mengubah kehidupanku itu - Pasukan Cap Sauh mengepung rumah Teungku Pakeh. Sebelumnya, beberapa kaum alim ada yang telah meninggalkan kampungnya dengan membawa harta benda sekadarnya. Tapi Teungku Pakeh bukan tipe orang yang ingin mengalah dengan keadaan. Dia memilih bertahan. Baginya, berperang melawan pengkhianat sama besar pahalanya dengan mati syahid. Kami menganggap pendapatnya itu sebagai sebuah lelucon.

Teungku Pakeh berdiri di depan pintu rumahnya dengan rencong di tangan kanannya dan perisai kecil di tangan kirinya. Melihat penampilannya pada malam itu, aku membayangkan dia tak ubahnya seperti prajurit yang terlambat bangun ketika musuh sudah berada di depan mata. Tapi aku tidak punya waktu untuk melihat kematian Teungku Pakeh. Yang kuinginkan adalah memastikan keadaan Siti agar aman dari kebengisan Pasukan Cap Sauh. Anggap saja Teungku Pakeh sudah mati dan angan-anganku mulai menembus batas mimpiku. Aku membayangkan kelak dengan kematian Teungku Pakeh, aku bisa menjadi suami Siti dan ayah dari satu anak laki-lakinya yang masih menetek. Cintaku pada Siti masih belum pudar.

Suara binatang malam mengiringi malam maut itu di antara suara-suara kegaduhan. Aku belum melihat Siti. Dengan cekat aku berusaha menerobos beberapa pasukan yang sedang membantai Teungku Pakeh. Siti tidak berada di dalam rumah. Pintu belakang rumahnya terbuka lebar. Pastilah dia sudah lari lewat pintu belakang itu. Di belakang rumah itu ada sebuah kebun yang banyak ditanami pinang dan beberapa pohon durian. Di bawah sinar bulan aku bisa melihat Siti. Tapi dia tidak sendiri. Ada dua kelebat bayangan yang bersenjata bersama Siti. Siti tampak menggendong bayinya yang tak bergeming sedikit pun. Mungkin sedang terbuai dalam pelukan ibunya.  

Dua pemuda yang berbadan kekar itu menangkap Siti. Bayinya terlepas dari gendongannya. Bayi itu menangis. Lalu ada kekuatan gaib yang mendorongku berlari ke arah mereka untuk menyelamatkan Siti. Tapi terlambat. Siti yang sedang dicabuli dari tadi dan berusaha melawan maut harus menerima tusukan benda tajam ke tubuhnya. Sebabnya adalah Siti telah menusuk seorang pemuda itu dengan pisau dapur tepat di lambungnya.

Seumur hidup aku akan menyesali keterlambatan diriku itu. Ketika tiba di sana, tanpa berkata apa pun aku menebas leher dua pemuda itu. Dalam sekejap saja mereka mati. Suara bayi yang menangis memancing beberapa pasukan yang telah berada di dalam rumah. Dan mereka melihatku secara langsung telah membunuh dua pasukan cabul itu. Aku gemetar. Ketika pasukan yang mengacungkan pedang ke udara itu menuju ke arah kami, dalam hitungan detik aku melarikan diri. Airmata terburai dan hilang bersama angin. Siti telah mati. Tapi bayinya masih dalam pangkuanku.

Sampai sekarang aku belum mengetahui kekuatan apa yang kumiliki karena aku terus berlari mengikuti timur tanpa henti-henti selama enam jam lebih. Ketika matahari mulai terbit dan mengeringkan sisa-sisa embun, barulah aku berhenti. Aku istirhat sejenak di sebuah sungai yang batunya besar-besar. Kuyakin, inilah Sungai Batee Iliek. Tujuanku ke timur kemudian berakhir di Lhokseumawe.

***

Jika kau melewati Jalan Kamboja di suatu kampung, kau akan melihat sebuah nisan dengan nama Amir di antara berpuluh-puluh nisan bernama sama, atau mungkin juga ratusan. Setiap hari raya, nisan-nisan itu akan diziarahi. Doa dan harapan dikirimkan kepada Tuhan agar arwah mendapat surga di alam yang lain. 

Para pengunjung nisan Amir pun silih berganti didatangi oleh beberapa orang yang sudah ubanan, pria tampan dan gadis-gadis cantik, kanak-kanak yang berbedak tebal, dan bayi-bayi yang masih berpopok. Mereka masih menganggap Amir sebagai buyut, kakek, dan ayah tanpa mereka tahu siapa nenek atau ibu mereka. Tahukah kau, Amir yang terkubur di sana sebenarnya masih perjaka. []


Cerpen di atas dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Minggu, 11 September 2016.

4 September 2016

Perempuan Penenun

Credit: Pixabay.
Ini adalah cerita dari masa lampau. Masa dewa-dewa. Di salah satu sudut dunia ketika peta belum tertata rapi. Di Maionia, daerah Asia Minor (Anatolia), ada seorang perempuan yang sangat cantik. Kecantikannya akan membuat liur para pemuda meleleh. Di kota itu, belum ada perempuan yang kecantikannya sebanding Arachne, nama sang perempuan itu.

Selain menyimpan kecantikan misterius, Arachne adalah penenun ulung. Tenunannya sangat halus, rapi, indah, cantik, dan banyak padanan kata-kata yang dapat melukiskan ketakjuban terhadap karyanya. Arachne menenun dengan penuh cinta. Jemarinya lihai mengikuti irama pola-pola yang ada dalam imajinasinya. Arachne dapat mengatur belitan, jahitan, dan pola-pola tenunannya dengan tenang. 

Tapi perempuan ini berlagak angkuh. Ia menafikan dewa-dewi. Baginya, bakat yang ada dalam dirinya adalah bakat yang diperolehnya sendiri. Bukan berasal dari dewa-dewi. Atau ia menolak tegas jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa Dewi Athena-lah yang mengajarinya langsung. Dewi dari segala dewi. 

Pikirannya terganggu dengan sikap penduduk Maionia itu. Suatu hari ia mulai jenuh dan cepat marah ketika bertemu penduduk Maionia.

"Tenunanku lebih indah dari Athena!" serunya pada segerombolan perempuan-perempuan pegosip.

"Lihatlah tenunanku. Apa kalian meragukan keindahannya?" katanya pada pemuda-pemuda yang lewat di depan rumahnya.

"Akan kutantang Athena untuk menenun!" ujarnya pada orang-orang.

Seorang perempuan tua memberi saran pada Arachne yang kelewat batas itu pada suatu hari.

"Janganlah kau menantang seorang dewi. Kau akan dikutuk. Tak pantas tantanganmu itu dialamatkan ke dewi. Tantanglah sesama manusia. Jangan dewi."

Tapi nasehat perempuan tua itu malah ditanggapi dengan kemarahan.

"Aku tidak takut dengan dewimu. Kalau kau mau, hai nenek tua. Bawalah dewi yang kau puja itu di hadapanku! Kalau dia berani menerima tantanganku, aku siap kapan saja. Sekarang pun tak masalah," jawab Arachne sombong.

Orang-orang Maionia yang melihat kejadian itu berkumpul. Menyaksikan perdebatan sengit perempuan tua misterius dengan Arachne. Kejadian ajaib tiba-tiba terjadi. Perempuan tua bijak itu berubah wujud. Ternyata perempuan tua itu adalah Dewi Athena. Orang-orang yang berada di sana pun bersujud. Tuhan mereka telah turun ke bumi.

Melihat Athena di hadapannya, Arachne gugup. Tapi dia sudah terlanjur melontarkan kata-kata tantangan. Tak mungkin dia batalkan.

Maka, pertandingan menenun antara Athena dan Arachne pun tidak terelakkan. Tanpa banyak bicara. keduanya pun mulai menenun. Tidak ada hakim. Tidak ada pembantu hakim. Semua penduduk Kota Maionia berkumpul untuk menyaksikan pertandingan menenun. Pertandingan yang begitu langka karena manusia menantang dewi.

Sementara itu, Athena dan Arachne tampak sibuk menenun. Benang-benang beraneka warna melayang-layang di udara. Tentu yang bisa melakukan itu adalah Athena. Sedangkan Arachne, dengan lihainya menjalin benang-benang dengan kecepatan dan irama yang beraturan. Penduduk kota merasa was-was. Siapa saja yang menang akan berdampak buruk bagi mereka. Jika Athena menang, Arachne akan mendapat kutukan. Namun, jika Arachne menang, maka akan datang bencana besar. Mereka pun mendukung Athena. Tapi tak sedikit pula yang secara diam-diam mendukung Arachne. Terutama pemuda-pemuda lajang. Mereka menelan ludah melihat kecantikan Arachne. Ketika ia menenun, kecantikannya malah berlipat ganda.

Pertandingan pun usai.

Athena memperlihatkan hasilnya kepada penduduk kota. Bagian tengah karya Athena terdapat gambar dua belas Dewa Olimpus sedang duduk di atas tahtanya masing-masing. Di keempat sudut tenunan itu tergambarkan dewa-dewa yang sedang marah terhadap manusia-manusia yang membangkang. Pesan moral yang ingin disampaikan Athena adalah agar manusia segera menyerah sebelum semuanya terlambat.

Arachne juga memperlihatkan hasilnya yang begitu indah. Dilukiskan pada kain tenun itu para dewa yang sedang berzina, berselingkuh, dan memperkosa perempuan-perempuan cantik. Sungguh imajinasi yang liar. Di antara lukisan dewa-dewa bejat itu, Zeus dan Poseidon mendominasi wajah-wajah para dewa. Pesan moral yang disampaikan adalah dewa-dewa juga punya dosa yang tak termaafkan.

Athena takjub dengan karya Arachne. Tapi begitu murka ketika melihat Zeud dan Poseidon di sana. Zeus adalah ayahnya. Dan Athena tidak bisa menerima ada manusia yang menjelekkan ayahnya. Dengan kekuatan dewi, Athena menghancurkan karya Arachne sampai tak tersisa sedikit pun. Penduduk kota mulai ketakutan melihat murka Athena. Mereka tak henti bersujud.

Melihat kemurkaan Athena, Arachne mekarikan diri. Ia sadar akan banyak tekanan yang menimpa dirinya. Antara malu, marah, dan kesal, Arachne mengakhiri hidupnya. Ia gantung diri. Dan mati seketika. Kematian yang begitu indah. Athena merasa iba. Ia pun menghidupkan kembali Arachne. Tapi dengan kutukan.

Arachne hidup kembali. Namun tubuhnya perlahan-lahan berubah. Mengecil dan menjadi seekor hewan. Arachne dan keturunannya akan mendapat kutukan yang tak termaafkan. Ia harus rela hidup bergelantungan di mana saja. Ia akan terus merajut, menenun, untuk bisa bertahan hidup. Konon, orang-orang meyakini bahwa laba-laba yang dikenal sekarang adalah wujud Arachne.

17 August 2016

Guru

Saya adalah seorang guru. Tidak pernah terniatkan sebelumnya untuk menjadi seorang guru. Dulu saya beranggapan bahwa menjadi seorang guru akan mengekang kebebasan saya. Ya, saya dulu adalah seorang yang bebas. Tidak ingin terikat dalam suatu aturan baku. Atau diperintahkan oleh sebuah sistem yang kaku. Menjebak saya dalam sebuah perilaku yang rancu. Cita-cita saya bukanlah menjadi guru. Karena saya bukan orang yang pantas digugu.

Tugas guru adalah mendidik dan membimbing. Sumber foto Matra Pendidikan.

Tapi, semuanya termentahkan. Beberapa tahun saya menjadi seorang guru, perlahan saya mulai memahami betapa pentingnya sosok seorang guru. Ayah saya (almarhum) adalah seorang guru. Pagi-pagi sekali beliau sudah bangun. Menyiapkan dirinya untuk mengabdi. Menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Saya ingat, setiap pukul tujuh pagi beliau sudah berangkat ke sebuah sekolah dasar. Kadang-kadang beliau mengantarkan kami ke bangku sekolah. Rutinitas harian yang selalu dilakukannya. Dari situlah saya mulai mengerti tentang sebuah kedisiplinan.

Guru adalah pribadi yang kompleks. Sebuah pribadi yang datang dari jiwa. Seorang guru bukan sekadar mentransferkan ilmu kepada murid-muridnya, melainkan lebih dari itu. Guru harus menunjukkan sikap yang pantas ditiru, baik itu sikap, perilaku, tutur, dan kehidupan sosialnya. Bukan main-main tugas seorang guru.

Saya mulai merasakan keindahan menjadi seorang guru. Dalam kehidupan sosial, saya mulai menunjukkan jati diri saya sebagai seorang guru. Saya tak malu lagi menjadi seorang guru atau orang-orang yang memanggil saya dengan sebutan cek gu, tak lagi merasa risih. Bukankah menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang besar? Pekerjaan yang mendidik, membimbing, dan mendoktrin arah masa depan anak-anak bangsa.

Sudah semestinya seorang guru mendapatkan tempat yang layak di mata masyarakat. Para orang tua seharusnya juga harus mengikhlaskan anak-anak mereka yang telah dititip di sekolah kepada para guru. Kita masih ingat dengan kasus Pak Guru Dasrul di Makassar yang telah menjadi korban kekerasan orang tua murid. Kasus yang sangat sederhana ini namun telah mencoreng wajah pendidikan kita. Pak Guru Dasrul mendapatkan kekerasan fisik karena orang tua salah seorang murid tidak bisa menerima hukuman yang diberikan kepada anaknya.

Hukuman adalah sebuah hal yang lazim ditemui dalam dunia sekolah. Hukuman itu dapat bermacam-macam tergantung tingkat kesalahan yang dilakukan oleh seorang murid. Kita jangan membandingkan hukuman yang diterima murid-murid era 90-an atau 2000-an ke bawah, di mana guru tak segan-segan melayangkan tangannya untuk mencubit, menampar, atau bahkan memukul murid-murid yang bersalah. Di era sekarang, hukuman serupa itu dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

Saya yakin, hukuman berupa fisik yang diterima oleh murid-murid tak sampai membuat mereka harus diopname di rumah sakit. Hukuman itu hanya bersifat sementara, tidak akan menjadi permanen. Mengenai tingkat hukuman yang harus diterima oleh murid-murid yang bersalah memang berbeda-beda, atau menjadi perdebatan yang membingungkan. Menghadapi murid-murid yang keras kepala atau bandel susahnya minta ampun. Beda guru, beda pula cara penyelesaian masalahnya. Beda murid, beda juga cara pendekatannya. Beda orang tua, bedalah cara mereka mendidik anak-anaknya di rumah. Segala perbedaan itu, segala penyelesaian masalah yang ada, mau tidak mau harus diterima dengan pikiran yang jernih.

Dalam hal ini, saya tak sepenuhnya membela seorang guru. Guru adalah seorang pribadi, seorang manusia juga, yang memiliki sikap emosional yang berbeda-beda. Saya melihat rekan-rekan seprofesi saya sebagai mitra yang harus siap dengan tugasnya dalam mendidik dan membimbing. Saya tak membantah jika ada guru-guru yang masih belum menjiwainya dirinya sebagai seorang pendidik. Guru yang seperti ini masih banyak ditemukan di negara kita. Guru yang bermental lemah, yang menganggap tugasnya hanya sebatas masuk ke dalam kelas saja, menghabiskan waktu mengajar dengan hal-hal yang tak berguna. Bahkan ada guru yang tak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya karena urusan-urusan yang beragam.

Guru semisal ini "belumlah layak" menjadi seorang guru. Mereka hanya menghitung hak-hak yang mesti mereka peroleh semata. Tapi lupa bagaimana kewajiban mereka harus dipenuhi.

Dunia pendidikan kita selalu menarik untuk dikupas habis. Segala persoalan yang negatif dapat dengan mudah dijumpai dalam ranah ini. Semua saling menyalahkan. Agar dunia pendidikan kita dapat berbenah, marilah kita mengaca pada diri kita sendiri dan jangan segan-segan untuk mengaku salah.

1 August 2016

Cumbok. Kisah Awal

Cumbok telah menoreh luka dalam sejarah. Luka yang menyayat, luka yang menimbulkan benci, dendam kesumat, dan hilangnya nyawa orang-orang yang tak terlibat langsung dalam konflik itu. Hanya karena prinsip, kerakusan, kecemasan hilangnya kekuasaan, dan sikap keras kepala satu orang (saja), maka telah pecahlah perang yang melibatkan ratusan atau ribuan orang. Tujuannya, demi harga diri! Benarkah demikian?

Peta penyerangan terhadap Cumbok.

Ada beberapa sebab yang memicu pecahnya tragedi Cumbok. Sebelumnya, saya telah menuliskan Kisah Ringkas Perang Cumbok pada postingan lalu. Kali ini, saya hendak mengurai tragedi Cumbok dari beberapa buku referensi. Dulu, saya tak paham kenapa tragedi Cumbok terjadi? Orang-orang pernah mengatakan kepada saya bahwa keturunan uleebalang adalah pengkhianat bangsa. Atau para pewaris uleebalang itu adalah pembunuh para ulama. Atau uleebalang itu hanyalah kaum feodal yang anti republik. Atau uleebalang itu adalah pemeras rakyat. Semua penilaian negatif itu membuat saya turut penasaran. Selanjutnya, saya mencari informasi tentang uleebalang-uleebalang yang bermuara pada kisah perang Cumbok.

Apa kesimpulan yang saya temukan? Ternyata orang-orang yang memberikan penilaian negatif terhadap kaum uleebalang merunut pada perang Cumbok ini. Simpulan sementara saya, tragedi Cumbok lahir karena ada seorang uleebalang yang tidak bisa menerima kenyataan terhadap proses sejarah yang berlangsung kala itu. Tragedi ini dicetuskan oleh Teuku Muhammad Daud Cumbok. Hingga saat ini, saya belum menemukan jawaban apakah peristiwa Cumbok ini terjadi di wilayah lainnya di Aceh atau tidak. Tapi yang jelas, peristiwa Cumbok ini memberikan dampak terhadap renggangnya hubungan antara uleebalang dengan ulama dan rakyat.

Apa Cumbok Itu?

Cumbok adalah nama sebuah kecamatan (landschap) yang termasuk ke dalam Kewedanaan (onderafdeeling) Lam Meulo yang tergabung dalam Kabupaten (afdeeling) Aceh Utara (Noordkust van Aceh). Kecamatan Cumbok ini pada zaman Hindia Belanda disebut Landschap van Cumbok. Sedang kepala daerahnya disebut uleebalang Cumbok. Ia memakai gelar Teuku Seri Muda Pahlawan Bintara Cumbok. Sebelum proklamasi kemerdekaan, uleebalang Cumbok adalah Teuku Muhammad Daud yang terkenal dengan Teuku Cumbok. Dan yang menjadi Controleur Lam Meulo pawa waktu itu adalah Scholten.

Sebelum kemerdekaan, Aceh Pidie meliputi tiga kewedanaan, yaitu Sigli, Lam Meulo, dan Meureudu. Kewedanaan-kewedanaan tersebut masuk ke dalam Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari tujuh kewedanaan, termasuk tiga kewedanaan Aceh Pidie. Ketujuh kewedanaan Aceh Utara, yaitu Sigli, Lam Meulo, Meureudu, Bireun, Lhokseumawe, Lhoksukon, dan Takengon. 

Pada zaman Republik, Aceh Utara dipecah lagi menjadi tiga kabupaten, yaitu 1) Kabupaten Aceh Pidie yang terdiri dari Kewedanaan Sigli, Kewedanaan Lam Meulo, dab Kewedanaan Meureudu, 2) Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari Kewedanaan Lhokseumawe, Kewedanaan Lhoksukon, dan Kewedanaan Bireun, 3)Kabupaten Aceh Tengah, terdiri dari Kewedanaan Takengon ditambah dengan Kewedanaan Kuta Cane dan Kewedanaan Blang Kejeren yang mulanya termasuk ke dalam Kabupaten Aceh Timur. Status kewedanaan kemudian dihapuskan di seluruh Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Kuta Cane dan Blang Kejeren diangkat menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Aceh Tenggara.

Rapat Para Uleebalang di Beureunun

Kisah Cumbok mulai menarik ketika pada tanggal 22 Oktober 1945, para uleebalang mengadakan rapat di kediaman uleebalang Keumangan, Teuku Keumangan Umar di Beurunun. Dalam rapat ini, golongan uleebalang yang merasa terancam dengan eksistensi PUSA, pemuda PUSA, dan PRI khususnya di wilayah Lam Meulo, membicarakan masalah krusial mereka terhadap ancaman-ancaman tersebut. Dari rapat besar tersebut, maka dihasilkan dua keputusan penting, yaitu:
  1. Membentuk organisasi yang tugasnya mempertahankan kedudukan uleebalang, bernama Markas Besar Uleebalang yang berpusat di Lam Meulo
  2. Untuk dapat bertindak secara efektif, dibentuk pula suatu barisan dengan persenjataan lengkap yang dinamakan dengan Barisan Penjaga Keamanan (BPK)
Mengenai Barisan Penjaga Keamanan (BPK), golongan uleebalang ini telah membentuk tiga barisan yang memiliki tugasnya masing-masing, yaitu:
  1. Barisan Cap Bintang. Tugasnya berperang melawan rakyat yang tidak mau tunduk kepada mereka.
  2. Barisan Cap Sauh. Tugasnya merampok segala harta benda rakyat untuk kepentingan tentara BPK dan membakar rumah orang-orang yang melawan.
  3. Barisan Cap Tombak. Tugasnya menangkap orang-orang alim dan pintar untuk dibunuh atau disembelih dan menculik para perempuan.
Di sini saya melihat bahwa para uleebalang sangat serius dalam menghadapi kenyataan pahit akan hilangnya pengaruh mereka terhadap masyarakat.
 
Ada sebuah kisah, sebuah insiden, yang memantik api peperangan. Tanggal 4 Desember 1945, di Sigli telah terjadi sebuah peristiwa besar. Pada tanggal itu, ada kesepakatan antara Jepang dengan pengikut uleebalang dan pengikut rakyat untuk menyerahkan senjata mereka kepada masing-masing pihak. Jepang disebut-sebut sengaja mengulur waktu penyerahan senjata ini agar kedua pihak bertikai ini dapat saling berperang. Nah, sebelum tanggal kesepakatan itu, pengikut uleebalang secara diam-diam memasuki Sigli. Mereka berkubu di rumah Teuku Tjut Hasan, Gunco Sigli dan rumah Teuku Pakeh Sulaiman, uleebalang Pidie. Mereka menduduki beberapa tempat strategis. Malah, mereka melakukan razia kepada setiap orang yang memasuki Sigli. Tujuannya adalah untuk mencari anggota PRI atau orang-orang yang terlibat dalam komplotan ini.

Tidak seimbangnya kekuatan dan jumlah PRI dengan pengikut uleebalang ini menyebabkan PRI menyingkir ke luar Sigli. Keadaan ini dimanfaatkan oleh pengikut uleebalang untuk menguasai Sigli. Siasat Jepang yang sengaja mengulur waktu ini memang berhasil. Apalagi Jepang juga berjanji akan menyerahkan perlengkapan perang kepada NRI (tentara resmi pemerintah) di hadapan khalayak umum. 

Pada tanggal yang telah ditetapkan Jepang, rakyat umum berduyun-duyun menuju lokasi penyerahan senjata untuk menyaksikan seremonial tersebut. Namun pengikut uleebalang curiga terhadap pergerakan massa tersebut. Mereka menuduh ada PRI di balik pergerakan massa tersebut.

Sekitar pukul setengah empat petang, terdengar bunyi letusan senjata api. Letusan pertama sebanyak tiga kali berturut-turut. Diyakini berasal dari rumah Teuku Pakeh Sulaiman, yang menjadi salah satu kubu pengikut uleebalang. Selanjutnya, terdengar pula letusan senjata dari tengah-tengah kota. Keadaan demikian membuat massa menjadi panik. Mereka berpikir perang besar akan terjadi. Dan mereka akan terkepung dan akhirnya mati. Karena dalam pergerakan massa itu, hanya ada beberapa massa yang memang membawa senjata, namun jumlahnya sangat sedikit. Tak layak untuk ikut bertempur di medan terbuka. 
 
Perang terbuka sedang berlangsung. Pengikut uleebalang menembak pergerakan massa yang membubarkan diri untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Sementara itu, anggota PRI yang berada di antara pergerakan massa itu membalas serangan. Kepungan dari pihak uleebalang yang menyerang dari berbagai sisi telah menyudutkan anggota PRI. Tidak pelak lagi, banyak korban di pihak PRI. Disebutkan, lebih kurang dari 50 orang telah tewas, kebanyakan dari pihak PRI dan selebihnya adalah rakyat yang tidak berdosa. Dari pihak PRI, ada nama Teuku Rizal, Teuku Banta Syam, dan sialnya lagi bagi Sjamaun Gaharu, utusan pemerintah yang berusaha mendamaikan kedua kubu yang bertikai karena ajudannya ikut tewas. Perang awal ini berlangsung selama dua hari dua malam.

Situasi yang menyulut api kemarahan rakyat ini, karena provokasi pihak uleebalang, telah menyebabkan pihak Jepang, para pemuda (netral), tentara pemerintah resmi yang berasal dari Kutaraja, bahu-membahu untuk melerai pertikaian antar saudara tersebut agar tidak banyak korban yang akan jatuh. Perlahan-lahan, mereka memang berhasil meredakan konflik tersebut untuk sementara waktu ini.

Begitulah kisah awal yang memicu pecahnya perang Cumbok. Dari kejadian di atas, masing-masing pihak bersikeras ingin memiliki senjata yang dimiliki oleh Jepang sebelum Jepang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

Tulisan di atas saya ambil dari sumber berikut ini:
  • Abdullah Arif, Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjoembok, Koetaradja: Semangat Merdeka, 1946
  • M. Nur El Ibrahimy, Tgk. M. Daud Beureueh, Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, Cetakan Kedua, Jakarta: PT. Gunung Agung, 1988

23 July 2016

Sekelumit Kisah Pecahnya Perang Cumbok

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah menyerah kepada tentara sekutu. Dengung kemerdekaan Indonesia mulai bergema di setiap daerah, mulai dari kota hingga menjalar ke kampung-kampung. Kekalahan Jepang ini berhubungan langsung dengan kekalahan Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya yang juga baru usai kala itu.

Rumah Teuku Muhammad Daud Cumbok di Lam Meulo, sumber foto Media KITLV.
Tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai diumumkan oleh Soekarno dan Hatta ke seluruh dunia. Kabar ini menjadi sebuah berita hangat dan ramai diperbincangkan oleh orang-orang. Merah putih berkibar di mana-mana. Termasuk juga di Aceh. 

Di Lam Meulo, seorang uleebalang bernama Teuku Daud Cumbok pesimis dengan kemerdekaan ini. Ia ragu dan memandang sinis terhadap gerakan-gerakan rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air Indonesia. Menurut pandangannya, Indonesia belum sanggup untuk merdeka karena belum matang dan Belanda kapan saja siap untuk merenggut kemerdekaan itu dari tangan bangsa kita. 

Anjuran dari Residen NRI untuk mengibarkan bendera merah putih di setiap wilayah malah ditertawakan oleh Teuku Daud Cumbok. Ketika surat kawat perihal itu tiba di tangannya, ia meremas-remas surat itu. Malah, ketika di setiap sudut Kota Lam Meulo ditempelkan maklumat-maklumat dan berita-berita tentang kemerdekaan Indonesia, semua pengumuman itu dirobek-robek oleh kaki tangan Teuku Daud Cumbok.

Parahnya lagi, ketika dilangsungkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Lam Meulo dan rapat-rapat umum yang diadakan, tak sekali pun Teuku Daud Cumbok menghadirinya. Bahkan, ketika ada rapat umum yang diadakan di wilayah kekuasaannya, ia menghalang-halanginya agar rapat umum itu mengalami kegagalan. Jika ada orang-orang yang memakai lencana merah putih dihina dan dilecehkan.

Pernah di suatu ketika, pada tanggal 12 Oktober 1945, bendera merah putih berkibar di Kantor Gunco (Wedana) Lam Meulo yang dinaikkan oleh barisan rakyat, bendera itu langsung diturunkan oleh Teuku Daud Cumbok. Ia sebagai seorang Gunco memiliki hak dan tanggung jawab di kantor itu. Tidak boleh ada bendera yang berkibar di sana kecuali atas izinnya.

Serangkaian sikap-sikap Teuku Daud Cumbok di atas, diyakini menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Cumbok yang sangat memalukan itu, karena terjadinya pertikaian antara saudara sebangsa dan seiman. 

Selain sikap-sikapnya yang licik itu, diam-diam Teuku Daud Cumbok menjalin hubungan rahasia dengan agen-agen NICA yang waktu itu masih berkeliaran bebas. Menurut kabar, ia pernah mengirimkan uang sebesar 5.000 gulden kepada bekas Kontroleur Belanda Lam Meulo melalui kaki tangannya.

Ia telah banyak mengumpulkan bekas-bekas serdadu Belanda untuk mengajarkan seni peperangan kepada pengikut-pengikutnya. Melalui juru propagandanya, Teuku Daud Cumbok juga berusaha menarik simpati rakyat. Ia mengklaim dirinya telah menerima surat-surat dari Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Jawa. Dalam surat itu, ia diperintahkan untuk mendirikan tentara-tentaranya sendiri di kawasan Lam Meulo. Akibat propaganda ini, banyak rakyat yang bodoh ikut bergabung dengannya.

Akibat perbuatannya ini, kedudukan TKR di wilayah Lam Meulo sedikit terancam. Hal ini akan semakin memperuncing keadaan yang bertambah panas, dan kapan saja pertikaian senjata dapat meletus. 

Dari rentetan peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh uleebalang pada saat itu berjiwa nasionalis. Salah seorang uleebalang yang jiwa nasionalisnya dapat diandalkan adalah Teuku Nyak Arief yang dengan berani menentang setiap penjajahan. Sedangkan uleebalang-uleebalang yang anti nasionalis merasa khawatir akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi ketika mengetahui Jepang sudah kalah. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya yang didapatkan secara turun-temurun, seperti Teuku Muhammad Daud Cumbok ini. Sang uleebalang Cumbok, yang menguasai wilayah (kecamatan) Lam Meulo. Sekarang menjadi Kota Bakti di Kabupaten Pidie. Demikianlah.

Catatan:
Tulisan singkat di atas diolah dari buku Di Sekitar Peristiwa Pengchianat Tjumbok karangan Abdullah Arif yang diterbitkan di Koetaradja oleh Semangat Merdeka tahun 1946.