22 June 2016

Syair Ruh Idafi - Hamzah Fansuri

ilustrasi

ta'ayyun awwal wujud yang jami'i
pertama di sana nyata Ruh Idafi
semesta 'alam sana lagi ijmali
itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi

ta'ayyun thani wujud yang tamyizi
di sana terperi sekalian ruhi
semesta 'alam sana tafsil yang mujmali
itulah bernama haqiqat insani

ta'ayyun thalith wujud yang mufassali
ia itulah anugerah daripada karunia Ilahi
semesta 'alam sana tafsil fi'li
itulah bernama a'yan khariji

rahasia ini yogya diketahui
pada kita sekalian yang menuntuti
demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
dari sanalah kita sekalian menjadi

pada kunhinya itu belum berketahuan
demikianlah martabat asal permulaan
bernama wahdat tatkala zaman
itulah 'Ashiq sifat menyatakan

wahdat itulah bernama Kamal Dhati
menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
tatkala itu bernama Ruh Idafi
itulah mahkota Qurayshi dan 'Arabi

wahdat itulah sifat yang Keesaan
memberikan wujud pada sekalian insan
muhit-Nya lengkap pada sekalian zaman
olehnya itulah tiada Ia bermakan

wahdat itulah yang pertama nyata
di dalam-Nya mawjud sekalian rata
muhit-Nya lengkap pada sekalian anggota
demikianlah umpama cahaya dan permata

wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
tiada bercerai dengan itlaq Ahadiyyat
tanzih dan tashbih di sana ma'iyyat
demikianlah sekarang zahir pada ta'ayyunat

wahdat itulah bernama bayang bayang
di sana nyata Wayang dan Dalang
muhit-Nya lengkap pada sekalian padang
mushahadat di sana jangan kepalang

wahdat itulah yang pertama awwal
ijmal dan tafsil sana mujmal
muhit-Nya lengkap pada sekalian af'al
itulah martabat usul dan asal

wahdat itulah yang pertama tanazzul
ijmal dan tafsil sana maqbul
muhit-Nya lengkap pada sekalian maf'ul
itulah Haqiqat Junjungan Rasul

wahdat itulah yang pertama tajalli
tiada bercerai dengan Wujud Mutlaqi
ijmal dan tafsil di dalam 'ilmi
itulah martabat kejadian Ruh Idafi

wahdat itulah yang pertama taqayyid
di sana idafat lam yulad dan lam yalid
pada sekalian ta'ayyun jangan kau taqlid
mangkanya sampai bernama tajrid

wahdat itulah sifat yang talahuq
tanzih dan tashbih sana eluk
muhit-Nya nyata tatkala masuk
itulah pertemuan Khaliq dan Makhluq

wahdat itulah sifat yang talazum
tanzih dan tashbih sana malzum
muhit-Nya lengkap pada sekalian ma'lum
itulah pertemuan Qasim dan Maqsiim

wahdat itulah sifat yang taqarun
tanzih dan tashbih sana maqrun
muhit-Nya lengkap pada sekalian mudabbirun
itulah murad: wa fi anfusikum a fa la tubsirun

[]

Syair di atas juga termasuk karya fenomenal Hamzah Fansuri yang bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya:

21 June 2016

Syair A'yan Thabitah - Hamzah Fansuri

ilustrasi
 
aho segala kamu yang bernama taulan!
tuntut ma'rifat pada mengenal a'yan
kerana di sana sekalian 'arifan
barang katanya setengah dengan firman

a'yan thabitah bukankah shu'un dhatiyyah?
mengapa pulang dikata wujud 'ilmiyyah!
tatkala awwal baharu muqabalah
olehnya janggal sebab lagi mentah

a'yan thabitah bukankah suwari?
mengapa pulang dikata sifat wahyi!
tatkala awwal baharu tafsil 'ilmi
olehnya janggal tiada mengetahui

a'yan thabitah bukankah mahiyyat al-mukminat?
mengapa pulang dikata mustahilat!
tatkala awwal telah bernama ma'lumat
olehnya janggal tiada mendapat

a'yan thabitah bukankah makhluq?
mengapa pulang dikata ma'shuq!
tatkala awwal baharu masbuq
olehnya janggal lalu tafaruq

a'yan thabitah bukankah mir'at?
mengapa pulang dikata 'adamiyyat!
tatkala awwal bernama furuf 'aliyat
olehnya janggal menjadi dalalat

a'yan thabitah bukankah 'alam?
mengapa pulang dikata 'adam!
tatkala awwal telah sudah mutalazam
olehnya janggal penglihatnya kelam

a'yan thabitah bukankah 'ashiq?
mengapa pulang dikata Khaliq!
tatkala awwal baharu mutalahiq
olehnya janggal lalu mufariq

a'yan thabitah bukankah ma'lum?
mengapa pulang dikata ma'dum!
tatkala awwal telah sudah termaqsum
olehnya janggal tiada mafhum

a'yan thabitah bukankah faqir?
mengapa pulang dikata amir!
tatkala awwal baharu hadir
olehnya janggal menjadi khasir

a'yan thabitah bukankah ja'izul wujud?
mengapa pulang dikata mumtani'ul wujud!
tatkala awwal telah sudah mawjud
olehnya janggal menjadi juhud

a'yan thabitah bukankah shu'un thubuti?
mengapa pulang dikata 'adam mahdi!
tatkala awwal sudah mujmali
olehnya janggal menjadi Mu'tazili

Catatan:
Syair A'yan Thabitah juga termasuk karangan Hamzah Fansuri. Tidak banyak literatur yang membahas syair di atas. Saya sendiri tidak begitu banyak paham apa maksud dari syair di atas. Tapi syair di atas dapat menunjukkan seni bahasa yang tinggi. Syair di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Agung.

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya:

20 June 2016

Syair Nama Nama Tuhan - Hamzah Fansuri

Ilustrasi

aho segala kita yang menyembah nama
yogya diketahui apa Yang Pertama
karena Tuhan kita yang Sedia Lama
dengan ketujuh sifat bersama-sama

kunjung kunjung di bukit yang maha tinggi 
kolam sebuah di bawahnya
wajib insan mengenal diri
sifat Allah pada tubuhnya

nurani haqiqat khatam
supaya terang laut yang maha dalam
berhenti angin ombak pun padam
menjadi Sultan kedua alam

Tuhan kita Empunya Dzat
Awwalnya Hayy pertama bilang sifat
keduanya Ilmu dan Rupa Ma'lumat
ketiga Murid kan sekalian Iradat

keempat Qadir dengan Qudratnya tamam
kelimanya sifat bernama Kalam
keenamnya Sami' dengan Ada-Nya dawam
ketujuhnya Basir akan halal dan haram

ketujuhnya itu adanya qadim
akan istiadat allamin sempurna Alim
karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
bernama Bismillahirrahmanirrahim

Ilmu ini Haqiqat Muhammad an-Nabi
menurutkan Ma'lum dengan lengkapnya qawi
daripada Haqiqatnya itu jahil dan wali
beroleh i'tibarnya dengan sekalian peri

Tuhan kita itu empunya Kamal
di dalam Ilmu-Nya tiada panah zawal
Rahman dalamnya perhimpunan Jalal
beserta dengan Rahim sekalian Jamal

Tuhan kita itu bernama Aliyy
dengan sekalian sifat-Nya senantiasa baqi
'ala jamiil 'alamin Athar-Nya jadi
daripada sittu jihat --- sebab itulah khali

Cahaya Athar-Nya tiada padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan makhluq siang dan malam
ila 'abadil 'abad tiada kan karam

Tuhan kita itu seperti Bahr al-'Amiq
ombaknya penuh pada sekalian tariq
laut dan ombak keduanya rafiq
akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq

lautnya 'Alim haluannya Ma'lum
keadaannya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim shu'unnya Mahkum
pada sekalian 'alamin inilah rusum

jikalau sini kamu tahu akan wujud
itulah tempat kamu shuhud
buangkan rupamu daripada sekalian quyud
supaya dapat ke dalam diri qu'ud

pada wujud Allah itulah yogya kau qa'im
buangkan rupa dan namamu da'im
nafikan rasamu daripada makhdum dan khadim
supaya sampai kepada Amal yang Khatim

jika engkau belum tetap seperti batu 
hukum dua lagi khadim dan ratu
setelah lupa engkau dari emas dan mati
mangkanya dapat menjadi satu

jika belum fana daripada ribu dan ratus
tiadakan dapat adamu kau hapus
nafikan rasamu daripada kasar dan halus
supaya dapat barang katamu harus   

Hamzah Fansuri sungguh pun da'if
haqiqatnya hampir sampai pada Dhat al-Sharif
sungguh pun habab rupanya khatif
wasilnya da'im dengan Bahr al-Latif

Hamzah miskin orang uryani
seperti Ismail menjadi qurbani
bukannya 'Ajami lagi 'Arabi
senantiasa wasil dengan Yang Baqi

Hamzah Fansuri terlalu karam
di dalam laut yang maha dalam
berhenti angin ombak pun padam
menjadi sultan kedua alam

[]

Keterangan:
Syair di atas adalah salah satu karya Hamzah Fansuri. Dalam "Syair Nama-nama Tuhan" agaknya perlu hati-hati untuk memahami makna yang terkandung. Apalagi Hamzah Fansuri adalah tokoh yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai "antagonis" dalam sejarah Aceh dan dunia. Tapi, kita kesampingkan dulu untuk sementara perdebatan itu. Hamzah Fansuri harus kita akui sebagai salah satu pembaharuan dalam bidang bahasa. Seperti yang terlihat pada karya di atas yang sepenuhnya bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh, telah mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan: sangat sulit untuk memadukan padanan kata dan bahasa yang tepat pada masa itu. 

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya:

19 June 2016

Bismillahirrahmanirrahimi - Hamzah Fansuri

Kaligrafi Arab Bismillah

subhanallah terlalu kamil(1)
menjadikan insan alam dan jahil
dengan hamba-Nya daim(2) la wasil(3)
itulah Mahbub(4) bernama Adil 

Mahbub itu tiada berlawan
lagi alim lagi bangsawan
kasihnya banyak lagi gunawan
aulad itu bisa tertawan

bersunting bunga lagi bumalai(5)
kainnya warna berbagai-bagai
tau berbunyi di dalam sagai(6)
olehnya itu orang teralali

ingat-ingat kau lalu lalang
berlekas-lekaslah jangan amang(7)
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim(8) jalanmu datang

rumahnya 'ali(9) berpatam birai(10)
lakunya bijak sempurna bisai(11)
tudungnya halus terlalu pipai(12)
daim berbuni di luar tirai

jika sungguh engkau asyik mabuk
memakai candi(13) pergi menjaluk(14)
ke dalam pagar supaya kau masuk
barang ghairallah(15) sekaliannya amuk

berjalan engkau rajin rajin
mencari guru yang tahu akan batin
yugia kau tuntut jalan yang amin(16)
supaya dapat lekas kau kahwin

berahimu daim akan orang kaya
manakan dapat tiada berbahaya
ajib segala akan hati sahaya
hendak berdapat dengan maya raya 

tiada kau tahu akan agamamu
terlalu ghurur(17) dengan hartamu
nafsu dan syahwat daim sertamu
asyik dan mabuk bukan kerjamu

rantaikan kehendak sekalian musuh
anjing tunggal yugia kau bunuh
dengan Mahbubmu seperti suluh
supaya dapat berdakap tubuh

dunia nan kau sandang sandang
manakan dapat ke bukit rentang
angan anganmu terlalu panjang
manakan dapat segera memandang

dunia jangan kau taruh
supaya hampir Mahbub yang jauh
indah segala akan kalah kaluh
ke dalam api pergi berlabuh

Hamzah miskin hina dan karam
bermain mata dengan Rabbul Alam
selamanya sangat terlalu dalam
seperti mayat sudah tertanam

Allah Maujud(18) terlalu baqi(19)
dari enam jihad kenahinya cali
wa huwal auwalu(20) sempurna 'ali
wa huwal akhiru(21) dalam nurani

nurani itu hakikat khatam
pertama terang di laut dalam
menjadi makhluk sekalian alam
itulah bangsa Hawa dan Adam

tertentu awal suatu cahaya
itulah cermin yang mulia raya
kelihatan di sana miskin dan kaya
menjadi dua Tuhan dan sahaya

nurani itu terlalu zahir
bernama Ahmad(22) dari cahaya satir(23)
penjuru alam keduanya hadir
itulah makna awal dan akhir

Awal dan akhir asma(24)nya jarak
zahir dan batin warnanya banyak
sungguh pun dua ibu dan anak
keduanya cahaya di sana banyak

yugia kau pandang kapas dan kain
keduanya wahid asmanya lain
wahidkan hendak zahir dan batin
itulah ilmu kesudahannya main

angga(25)mu itu asalnya tahir(26)
batinnya arak zahirnya takir
lagi kau saqi(27) lagi kau sakir
itulah Mansyur menjadi nazir(28)

hunuskan mata tunukan sarung
isbat(29)kan Allah nafi(30)kan patung
laut tauhid yugia kau harung
itulah ilmu tempat bernaung

rupamu zahir kau sangka tanah
itulah cermin sudah terasah
jangan kau pandang jauh berpayah
mahbubmu hampir serta ramah

kerjamu mudah periksamu kurang
kau sangka tasbih(31) membilang tulang
ilmumu baharu berorang orang
lupakan fardhu yang sedia hutang

jauharmu lengkap dengan tubuh
warnanya nyala seperti suluh
lupakan nafsu yang sedia musuh
manakan dapat adamu luruh

jauhar yang mulia sungguh pun sangat
akan orang muda kasih akan alat
akan ilmu Allah hendak kau pendapat
mangkanya sampai pulangmu rahat(32)

Hamzah Nuwi zahirnya Jawi(33)
batinnya cahaya Ahmad yang safi(34)
sungguh pun ia hina jati
asyiknya daim akan Zatul Bari(35) 

Sidang fakir empunya kata
Tuhanmu zahir terlalu nyata
jika sungguh engkau bermata
lihatlah dirimu rata-rata

kenal dirimu hai anak jamu
jangan lupa akan diri kamu
ilmu hakikat yugia kau ramu(36)
supaya terkenal 'ali padamu

jikalau terkenal dirimu baqi
elokmu itu tiada berbagi
hamba dan Tuhan daim berdami(37)
memandang diri jangan kau lali

kenal dirimu hai anak dagang
menafikan diri jangan kau sayang
suluh isbat yugia kau pasang
supaya dapat mudah kau datang

dengarkan sini hai anak ratu
ombak dan airnya asalnya satu
seperti manikam muhith(38) dengan batu 
inilah tamsil engkau dan ratu

jika terdengar olehmu firman
pada Taurat, Injil, dan Furqan(39)
wa Huwa ma'akum(40) pada ayat Quran
bikulli syai-in muhith(41) terlalu 'iyan(42)

syari'at Muhammad ambilkan suluh
ilmu hakikat yugia kau pertubuh
nafsumu itu yugia kau bunuh
makanya dapat sekalian luruh(43)

mencari dunia berkawan kawan
oleh nafsu khabis(44) engkau tertawan
nafsumu itu yugia kau lawan
mangkanya sampai engkau bangsawan

mahbubmu itu tiada berhail(45)
fa ainama tuwallu(46) jangan kau ghafil(47)
fa samma wajhullah(48) sempurna wasil
inilah jalan orang kamil(49)

kekasihmu zahir terlalu terang
pada kedua alam nyata terbentang
ahlul ma'rifah terlalu menang
wasilnya daim tiada berselang

hempaskan akal dan rasamu
lenyapkan badan dan nyawamu
pejamkan hendak dua matamu
di sana lihat peri rupamu

adamu itu yugia kau serang
supaya dapat negeri yang henang(50)
seperti Ali tatkala perang
melepaskan duldul tiada berkekang

Hamzah miskin orang 'uryani(51)
seperti Ismail jadi qurbani(52)
bukannya Ajam dan 'Arabi
nantiasa wasil dengan yang baqi 

[]

Catatan Kaki:
  1. Kamil (bahasa Arab): sempurna
  2. Daim (bahasa Arab): senantiasa
  3. Wasil (bahasa Arab): sampai
  4. Mahbub (bahasa Arab): kekasih
  5. Bumalai (bahasa Melayu lama): elok
  6. Sagai: hamba
  7. Amang: angan-angan
  8. Salim (bahasa Arab): sejahtera
  9. 'Ali (bahasa Arab): yang tinggi
  10. Birai: hiasan
  11. Bisai: pandai
  12. Pipai: licin
  13. Candi: telekung
  14. Menjaluk: minta
  15. Ghairallah (bahasa Arab): selain dari Allah
  16. Amin (bahasa Arab): yang aman
  17. Ghurur (bahasa Arab): tertipu
  18. Maujud (bahasa Arab): yang ada
  19. Baqi (bahasa Arab): yang kekal
  20. Wa huwal auwalu (bahasa Arab): Ia yang awal
  21. Wa huwal akhiru (bahasa Arab): Ia yang akhir
  22. Ahmad: nama lain dari Nabi Muhammad
  23. Satir (bahasa Arab): yang bersembunyi
  24. Asma (bahasa Arab): nama
  25. Angga: anggota
  26. Tahir (bahasa Arab): suci
  27. Saqi (bahasa Arab): yang meminum
  28. Nazir (bahasa Arab)
  29. Isbat (bahasa Arab): memastikan adanya Allah
  30. Nafi (bahasa Arab): meniadakan
  31. Tasbih: buah tasbih alat penghitung bacaan zikir
  32. Rahat (bahasa Arab): senang
  33. Jawi:  maksudnya orang Melayu
  34. Safi (bahasa Arab): bersih
  35. Zatul Bari (bahasa Arab): zat Allah
  36. Ramu: mengumpulkan bahan-bahan
  37. Berdami: tidak bercerai, bersatu
  38. Muhith (bahasa Arab): meliputi
  39. Furqan: nama lain dari Quran
  40. Wa Huwa ma'akum: Allah itu bersamamu
  41. Bi kulli syai-in muhith: kutipan ayat Quran dari Surah An-Nisa ayat 36 yang terjemahan lengkap ayat tersebut: "Dan langit bumi miliknya Allah dan Allah itu meliputi segala sesuatu." 
  42. 'Iyan (bahasa Arab): nyata, pasti
  43. Luruh: lenyap, fana
  44. Khabis (bahasa Arab): busuk, jahat
  45. Hail (bahasa Arab): tirai, pembatas
  46. Fa ainama tuwallu...: kutipan ayat Quran dari Surah Al-Baqarah ayat 115, yang terjemahan selengkapnya ayat tersebut berbunyi: "Kepunyaan Allah timur dan barat, karena itu ke mana saja engkau menghadap, di sana terdapat Wajah Allah, sesungguhnya Allah mempunyai ilmu yang luas". 
  47. Ghafil (bahasa Arab): lupa
  48. Fa samma wajhullah: bahagian ayat 115 Surah Al-Baqarah, lihat nomor 46 
  49. Kamil (bahasa Arab): sempurna, yang dimaksud di sini adalah Insan Kamil atau Manusia Sempurna
  50. Henang: tetap
  51. 'Uryani (bahasa Arab): telanjang
  52. Qurbani (bahasa Arab): korban. Maksudnya seperti Nabi Ismail yang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi mimpi ayahnya, Nabi Inrahim

Keterangan:
Syair di atas termasuk salah satu karya Hamzah Fansuri. Saya menemukan karya tersebut dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh. Buku tersebut disunting oleh Abdul Hadi WM dan LK Ara. Catatan kaki dan beberapa keterangan yang ada pada syair di atas adalah hasil suntingan dalam buku tersebut. Untuk menelaah dan memahami syair-syair di atas sangat dibutuhkan ilmu-ilmu bantu yang menunjang agar apa yang dimaksud oleh sang penyair dapat pahami (sekurang-kurangnya mendekati). 

Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri lainnya berikut ini:

18 June 2016

Syair Perahu - Hamzah Fansuri

Ilustrasi syair perahu karya Hamzah Fansuri

inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah
membetuli jalan tempat berpindah
di sanalah i'tikat diperbetuli sudah [i'tikat = imam]

wahai muda, kenali dirimu
ialah perahu tamsil tubuhmu
tiadalah berapa lama hidupmu
ke akhirat jua kekal diammu

hai muda arif budiman
hasilkan kemudi dengan pedoman
alat perahumu jua kerjakan
itulah jalan membetuli insan

perteguh jua alat perahumu
hasilkan bekal air dan kayu
dayung pengayuh taruh di situ
supaya laju perahumu itu

sudahlah hasil kayu dan ayar [ayar = air]
angkatlah pula sauh dan layar
pada beras bekal jantanlah taksir
niscaya sempurna jalan yang kabir [kabir = besar]

perteguh jua alat perahumu
muaranya sempit tempatmu lalu
banyaklah di sana ikan dan hiu
menanti perahumu lalu dari situ

muaranya dalam, ikan pun banyak
di sanalah perahu karam dan rusak
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak

ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang [rencam = kacau]
ikan pun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang

muaranya itu terlalu sempit
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba'id [ba'id = jauh]

baiklah perahu engkau perteguh
hasilkan pendapat dengan tali sauh [hasilkan pendapat = ikatkan tali penambat ke darat]
anginnya keras ombaknya cabuh [cabuh = kacau]
pulaunya jauh tempat berlabuh

lengkapkan pendarat dan tali sauh
derasmu banyak bertemu musuh
selebu rencam ombaknya cabuh [samudera yang memusingkan]
la ilaha illallah akan tali yang teguh

barang siapa bergantung di situ
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju
selamat engkau ke pulau itu

la ilaha illah jua yang engkau ikut
di laut keras topan dan ribut
hiu dan paus di belakang menurut
pertetaplah kemudi jangan terkejut

Laut Silan terlalu dalam
di sanalah perahu rusak dan karam
sungguh pun banyak di sana menyelam
larang mendapat permata nilam [nilam = sejenis batu yang indah]

Laut Silan wahid al kahhar [al kahhar = Yang Berkuasa]
riaknya rencam ombaknya besar
anginnya songsongan (mem)belok sengkar [sengkar = balok/papan melintang di kapal]
perbaik kemudi jangan berkisar

itulah laut yang maha indah
ke sanalah kita semuanya berpindah
hasilkan bekal kayu yang juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah  

Silan itu ombaknya kisah [kisah = cerita]
banyaklah akan ke sana berpindah
topan dan ribut terlalu 'azamah ['azamah = hebat]
perbetuli pedoman jangan berubah

Laut Kulzum terlalu dalam
ombaknya muhit pada sekalian alam [muhit = sangat luas]
banyaklah di sana rusak dan karam
perbaiki na'am siang dan malam [na'am = ya, maksudnya sebuah pengakuan]  

ingati sungguh siang dan malam
lautnya deras bertambah dalam
angin pun keras ombaknya rencam
ingati perahu jangan tenggelam

jikalau engkau ingati sungguh
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh

Sampailah ahad dengan masanya
datanglah angin dengan paksanya
belajar perahu sidang budiman (nya)
berlayar itu dengan kelengkapannya

wujud Allah nama perahunya
ilmu Allah akan ....
iman Allah nama kemudinya
"yakin akan Allah" nama pawangnya

"taharat dan istinja" nama lantainya [taharat dan istinja = suci dan bersuci]
"kufur dan maksiat" air ruangnya [kufur dan maksiat = tidak percaya dan durhaka]
tawakkul akan Allah juru batunya
tauhid itu akan sauhnya

la ilaha illallah akan talinya
kamal Allah akan tiangnya [kamal = kesempurnaan]
as salam 'alaikum akan tali lenggangnya
taat dan ibadat anak dayungnya

shalat akan nabi tali bubutannya
istighfar Allah akan layarnya
"allahu akbar" nama anginnya
subhan Allah akan lajunya

"wallahu a'lam" nama rantaunya
"iradat Allah" nama bandarnya
"kudrat Allah"" nama labuhannya
"surga jannat an na'im" nama negerinya

karangan ini suatu madah
mengarangkan syair tempat berpindah
di dalam dunia janganlah tami'ah [tami'ah = loba]
di dalam kubur berkhalwat sudah

kenal dirimu di dalam kubur
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur
di balik papan badan terhancur 

di dalam dunia banyaklah mamang
ke akhirat jua tempatmu pulang
janganlah disusahi emas dan uang
itulah membawa badan terbuang

tuntuti ilmu jangan kepalang
di dalam kubur terbaring seorang
Munkar wa Nakir ke sana datang
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang

tongkatnya lekat tiada terhisab
badanmu remuk siksa dan azab
akalmu itu hilang dan lenyap
.............................................

Munkar wa Nakir bukan kepalang
suaranya merdu bertambah garang
tongkatnya besar terlalu panjang
cambuknya banyak tiada terbilang

kenal dirimu, hai anak Adam!
tatkala di dunia terangnya alam
sekarang di kubur tempatmu kelam
tiada berbeda siang dan malam

kenal dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur terlentang
kelam dan dingin bukan kepalang
dengan siapa lawan berbincang?

la ilaha illallah itu firman
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian
iman tersurat pada hati insap
siang dan malam jangan dilalaikan

la ilaha illallah itu terlalu nyata
tauhid ma'rifat semata-mata [ma'rifat = pengetahuan tentang zat Allah]
memandang yang gaib semuanya rata
lenyapkan ke sana sekalian kita 

la ilaha illallah itu jangan kaupermudah-mudah
sekalian makhluk ke sana berpindah
da'im dan ka'im jangan berubah [da'im dan ka'im = kekal dan teguh]
khalak di sana dengan la ilaha illallah [khalak = yang dijadikan/makhluk]

la ilaha illallah itu jangan kaulalaikan 
siang dan malam jangan kausunyikan
selama hidup juga engkau pakaikan
Allah dan Rasul juga yang menyampaikan

la ilaha illallah itu kata yang teguh
memadamkan cahaya sekalian rusuh
jin dan syaitan sekalian musuh
hendak membawa dia bersungguh-sungguh

la ilaha illallah itu kesudahan kata
tauhid dan ma'rifat semata-mata
hapuskan hendak sekalian perkara
hamba dan Tuhan tiada berbeda

la ilaha illallah itu tempat mengintai
medan yang kadim tempat berdamai [kadim = kekal]
wujud Allah terlalu bitai [bitai = ??]
siang dan malam jangan bercerai


Keterangan
Syair di atas bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh, yang disunting oleh Abdul Hadi W.M dan L.K. Ara, yang selanjutnya syair di atas bersumber lagi dari De Geschriften van Hamzah Pansoeri (dissertatie J. Doorenbos). Syair di atas adalah karangan Hamzah Fansuri, yaitu seorang ahli suluk yang masyhur, yang hidup pada akhir abag ke-16 dan permulaan abad ke-17. Tempat bermukimnya ialah Barus, ia sangat banyak mengunjungi negeri asing, seperti Pahang, Banten, Kudus, Syarh Nawi (tempat kedudukan Raja Siam), Mekkah, dan Madinah. Ilmu batinnya tentang sifat Tuhan, dunia, dan manusia tiada diterima oleh ulama-ulama agama Islam zaman itu.  


Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri berikut ini:

17 June 2016

Kedudukan Wanita dalam Kerajaan Aceh Darussalam

Lukisan (ilustrasi) Laksamana Malahayati, sumber foto: wikipedia.

Sejak dari Kerajaan Islam Peureulak, Kerajaan Islam Samudera/Pasai sampai-sampai kepada Kerajaan Aceh Darussalam, Islam telah diambil menjadi dasar negara, dan sumber hukumnya, yaitu Quran, Sunnah, Ijmak, dan Qiyas.

Dalam Adat Meukuta Alam (Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh Darussalam) tersebut Kanun Meukuta Alam Al-Asyi, yaitu Al-Quran, Al-Hadits, Ijmak Ulama Ahlus Sunnah, dan Al-Qiyas.

Karena Islam telah diambil menjadi Dasar Negara dan Quran serta Sunnah telah dinyatakan sebagai sumber hukum, maka kedudukan wanita dalam Kerajaan Aceh Darussalam, disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Al-Quran dan Sunnah.

Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dari sumber yang satu, yaitu dari Adam, baik pria ataupun wanita, baik yang berkulit putih ataupun yang berkulit hitam. Karena itu, kedudukan pria dengan wanita sama; manusia sama derajat dalam pandangan Allah:
Wahai umat manusia! Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari satu sumber (Adam), dan dari sumber itu sendiri Allah menciptakan isterinya (Hawa). Dan kemudian daripada keduanya, Allah mengembangbiakkan pria dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah, di mana dengan namanya kamu saling minta dan saling ikat silaturrahim. Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kamu. (QS. An-Nisa:1)
Menurut pandangan Islam, bahwa hak dan kewajiban pria dengan wanita sama dalam masyarakat bangsa dan dalam masyarakat dunia. Kalaupun ada berlebih dan berkurang, semata-mata terletak pada nilai takwanya:
Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu terdiri dari pria dan wanita, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah agar saling kenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling terhormat di antara kamu di sisi Allah, yaitu orang yang paling tinggi nilai takwanya. (QS. Al-Hujurat:13) 
Perintah menyembah Allah diiringi dengan perintah berbuat bakti kepada orang tua. Pembaktian anak kepada ayah dan ibu sama derajatnya:
Hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ayah ibumu. (QS. An-Nisa:36)
Orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih, baik pria ataupun wanita; mereka akan masuk surga, dan sedikitpun mereka tidak dianiaya. (QS. An-Nisa:124)
Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menegaskan bahwa tiap-tiap mukmin yang berusaha, baik pria ataupun wanita, pasti akan mendapat balasan dan pahala sesuai dengan kadar amalannya, antaranya:
Janganlah kamu iri hati terhadap kurnia Allah yang berlebih berkurang di antara kamu. Untuk kaum pria yang berusaha akan mendapat hasil menurut kadar usahanya, demikian pula untuk kaum wanita yang berusaha, mereka akan mendapat hasil sesuai dengan usahanya. Mintalah kurnia Allah, sesungguhnya Allah mengetahui segala-galanya. (QS. An-Nisa:32)
Betapa besar perhatian Allah kepada kaum wanita, antara lain terbukti bahwa dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang bernama An-Nisa, di mana di dalamnya banyak dibicarakan masalah-masalah yang ada sangkut paut dengan wanita dan masyarakatnya.

Dalam masalah jihad atau perang, dalam masalah negara, menurut Islam, kewajiban pria dan wanita sama, artinya sama-sama wajib berjihad untuk menegakkan agama Allah, sama-sama wajib berjihad untuk membela tanah air, sama-sama wajib bekerja untuk memimpin dan membangun negara, seperti yang dapat dipahami dari hadits-hadits berikut:
Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari seorang sahabat wanita, yang mengatakan: "Kami pergi berperang bersama Rasul Allah, di mana antara lain tugas kami menyediakan makan dan minum bagi para prajurit; mengembalikan anggota tentara yang syahid ke Madinah." (Al-Hadits Riwayat Bukhari).
Seorang sahabat wanita yang lain berkata: "Kami ikut perang bersama Rasul Allah sampai tujuh kali, di mana kami merawat prajurit yang luka, menyediakan makanan dan minuman bagi mereka". (Al-Hadits Riwayat Bukhari)
Mengenai hak wanita untuk memegang jabatan-jabatan dalam negara, hatta jabatan yang tertinggi, dinyatakan boleh, asal mereka sanggup dan mempunyai pengetahuan untuk bidang-bidang jabatan yang akan dipegangnya, sama seperti hak pria dalam hal tersebut.

Dalam sebuah kitab yang bernama Safinatul Hukkam ditegaskan bahwa wanita boleh menjadi raja atau sultan, asal memiliki syarat-syarat kecakapan dan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan dalil-dalil ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi serta pendapat para ulama, maka Kerajaaan Islam Peureulak, Kerajaan Islam Samudera/Pasai, dan Kerajaan Aceh Darussalam, telah memberi kepada kaum wanita Aceh hak dan kewajiban yang sama dengan kaum pria.

Karena itu, adalah suatu hal yang logis kalau sejarah telah mencatat sejumlah nama wanita yang telah memainkan peranan yang amat penting di Aceh, sejak zaman Kerajaan Islam Peureulak sampai kepada Kerajaan Aceh Darussalam. Berikut ini ada beberapa wanita Aceh yang terlibat aktif dalam masalah politik dan pemerintahan pada zaman kerajaan dulu:
  1. Puteri Lindung Bulan, anak bungsu dari Raja Muda Sedia yang memerintah Kerajaan Islam Benua/Tamiang dalam tahun 753-800 H atau 1333-1298 M.
  2. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, yang menjadi penguasa terakhir dari Kerajaan Islam Samudera/Pasai, yang memerintah dalam tahun 801-831 H atau 1400-1428 M.
  3. Laksamana Malahayati, seorang janda muda yang menjadi Panglima dari Armada Inong Bale (Armada Wanita Janda) yang digagas oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil, yang memerintah dalam tahun 997-1011 H atau 1589-1604 M. Pada masa-masa inilah Laksamana Malahayati terlibat dalam urusan negara.
  4. Ratu Safiatuddin, yang memerintah Aceh dalam tahun 1050-1086 H atau 1641-1675 M.
  5. Ratu Naqiatuddin, yang memerintah Aceh dalam tahun 1086-1088 H atau 1675-1678 M.
  6. Ratu Zakiatuddin, yang memerintah Aceh dalam tahun 1088-1098 H atau 1678-1688 M.
  7. Ratu Kamalat, yang memerintah Aceh dalam tahun 1098-1109 H atau 1688-1699 M.
  8. Cut Nyak Dhin, yang setelah suaminya, Teuku Umar syahid, dia mengambil alih estafet kepemimpinan perang. Dalam keadaan buta, Cut Nyak Dhin telah ditawan dan dibuang ke Pulau Jawa oleh Belanda.
  9. Teungku Fakinah, seorang wanita ulama yang menjadi pahlawan, memimpin sebuah resimen dalam Perang Aceh, dan setelah usai perang, Fakinah mendirikan pusat pendidikan Islam yang bernama Dayah Lam Diran.
  10. Cut Meutia, seorang pahlawan wanita yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya dalam hutan-hutan Pase, yang kemudian syahid, karena telah bersumpah tidak akan mau menyerah hidup kepada Belanda.
  11. Pocut Baren, seorang pahlawan wanita bertahun-tahun memimpin perang terhadap Belanda (18898-1906 M), sehingga beliau tertawan dalam mempertahankan bentengnya setelah luka parah.
  12. Pocut Meurah Intan, srikandi yang juga bernama Putroe Biheu bersama putera-puteranya, Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin, berperang tanpa kenal menyerah bertahun-tahun untuk menghadapi tentara Belanda, dan dalam keadaan luka parah ia dapat ditawan dalam tahun 1904. Demikian pula puteranya, Tuanku Nurdin, sedangkan puteranya yang lain, Tuanku Muhammad telah syahid dalam tahun 1902.
  13. Cut Po Fatimah, seorang pahlawan wanita yang menjadi teman seperjuangan Cut Meutia, puteri dari seorang ulama besarm Teungku Khatim atau Teungku Chik Mata Ie. Cut Po Fatimah bersama suaminya, Teungku Di Barat melanjutkan perang setelah Cut Meutia dan suaminya syahid, sehingga dalam pertempuran pada tanggal 22 Februari 1912, Cut Po Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan.
 
 
Keterangan:
Artikel di atas adalah karya Ali Hasjmy yang terdapat dalam buku 59 Tahun Aceh Merdeka Di Bawah Pemerintahan Ratu, yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang di Jakarta pada tahun 1977. Tulisan di atas terdapat pada halaman 21-26.

Konsientisasi (Pemikiran Pendidikan Paulo Freire)

Paulo Freire, 19 September 1921 - 2 Mei 1997, sumber foto: wikipedia.

Pendahuluan
Paulo Freire adalah salah seorang tokoh pendidikan yang berasal dari Brasil. Dia lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di Brasil bagian timur laut, wilayah yang miskin dan terbelakang. Ayahnya, Joaquim Temistocles Freire adalah seorang anggota polisi militer di Pernambuco yang berasal dari Rio Grande do Norte. Sedangkan ibunya, Eldetrus Neves Freire juga berasal dari Pernambuco (F. Danuwinata dalam Paulo Freire, 2008:x).

Pada tahun 1929, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat berimbas ke Brasil. Orang tua Paulo Freire yang tergolong dalam kelas menengah ikut mengalami kejatuhan finansial. Paulo Freire merasakan bagaimana kehidupan anak-anak yang sedang bersekolah mengalami kelaparan. Dia juga belajar mengerti apa artinya menjadi lapar. Sehingga dia bertekad untuk mengabdikan kehidupannya pada perjuangan melawan kelaparan agar anak-anak lain jangan sampai mengalami kesengsaraan yang tengah dialaminya itu.

Pada tahun 1960-an, terjadilah keresahan sosial di Brasil. Sejumlah gerakan pembaharuan berkembang secara serentak. Gerakan-gerakan ini dilatarbelakangi oleh tujuan politiknya masing-masing. Pada waktu itu Brasil mempunyai penduduk sekitar 34,5 juta jiwa dan hanya 15,5 juta yang dapat mengikuti pemilihan umum. Hak ikut serta dalam pemilu dikaitkan dengan kemampuan orang untuk menuliskan nama masing-masing (Paulo Freire, 2008:xi-xii). Jadi, penduduk Brasil yang tidak dapat menggunakan hak politiknya lebih dari setengah total jumlah penduduk Brasil. Paulo Freire merasa prihatin dengan situasi ini. Untuk itulah Paulo Freire mulai merancang program pendidikan guna membantu masyarakat Brasil yang buta huruf.

Pada tahun 1961, Joao Goulart menjadi Presiden Brasil menggantikan Janio Quadros. Joao Goulart adalah seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Gerakan Paulo Freire mendapat dukungan dari sang presiden. Paulo Freire menerapkan program kenal aksara di kalangan petani di daerah timur laut. Apa yang dibangkitkan dalam proses kenal aksara tidak hanya terbatas pada kemampuan mereka untuk membaca dan menulis, tetapi juga membawa mereka ke proses kesadaran politik. Artinya mereka berpartisipasi aktif dan secara nyata ikut menentukan arah perkembangan bersama (Paulo Freire, 2008:xiii). Dari proses-proses inilah lahirnya konsep konsientisasi, sebuah kata kunci yang sering digunakan oleh Paulo Freire dalam perkembangan pemikiran pendidikannya.

Pemahaman Konsientisasi
Istilah konsientisasi dapat diartikan sebagai penyadaran. Istilah ini juga dapat digunakan untuk belajar memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut (Paulo Freire, 2008:1). Penggunaan kata konsientisasi bukan ditujukan untuk mengadakan perlawanan secara fisik. Konsientisasi berarti proses menyadarkan atau membuka kesadaran seseorang agar lebih peka terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di lingkungannya. 

Lebih lanjut Paulo Freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga fase (William A. Smith, 2008:xvii), yaitu:
  1. Kesadaran magis (magical consciousness), yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan antara kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketidakberdayaan.
  2. Kesadaran naif (naival consciousness), keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat.
  3. Kesadaran kritis (critical consciousness), kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.
Dari pemaparan singkat di atas, konsientisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses kesadaran manusia untuk memahami realitas kultural yang ada di lingkungan mereka. Konsientisasi juga merupakan sebuah pemikiran untuk mengubah suatu kesadaran manusia dari kesadaran magis, menuju kesadaran naif, dan akhirnya terbentuklah kesadaran kritis. Kesadaran kritis inilah yang menjadi tujuan utama konsientisasi. Sebuah konsep pemikiran pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire.

Menuju Kesadaran Kritis
Paulo Freire adalah seorang tokoh yang kritis. Pada masanya, kondisi masyarakat Amerika Latin merupakan masyarakat yang tertutup dengan ciri-ciri sebagai berikut (Paulo Freire, 2007:134-135):
  • struktur sosialnya sangat rigid dan hirarkis
  • sedikitnya jumlah pasar karena perekonomian ditentukan oleh negara asing
  • mengekspor bahan-bahan mentah dan mengimpor barang-barang jadi tanpa memiliki daya tawar
  • sistem pendidikannya selektif dan 'berbahaya' dengan peran sekolah sebagai alat untuk mempertahankan status quo
  • banyaknya orang yang buta huruf dan terserang penyakit
  • tingginya angka kematian bayi
  • kekurangan gizi yang berakibat pada gangguan mental yang sulit diobati
  • rendahnya tingkat harapan hidup, dan
  • tingginya angka kejahatan
Meninjau kondisi di atas, Paulo Freire melihat adanya model kesadaran yang berkorespondensi dengan kehidupan nyata masyarakat yang belum mandiri. Kesadaran semacam ini secara hostoris terbentuk karena struktur sosial. Ciri pokok kesadaran ini, seperti masyarakat yang belum mandiri, adalah ketaatan semu pada kondisi yang ada, atau seolah-olah mengikuti arus namun sebenarnya tidak. Kesadaran seperti ini tidak cukup menjada jarak dengan realitas sehingga sulit untuk mengobjektifikasinya secara kritis. Kesadaran ini disebut dengan kesadaran semin intransitif (Paulo Freire, 2007:135) atau kesadaran magis.

Orang-orang yang berada pada fase kesadaran ini akan sangat mudah terperangkap ke dalam mitos-mitos atau kepercayaan-kepercayaan kuno. Keadaan ini akan sangat mudah digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkuasa untuk memperdayai masyarakatnya. Di Indonesia, keadaan seperti ini terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru. Masyarakat banyak yang dibungkam dengan kondisi nyata kehidupan sosial, politik, dan ekonomi mereka.

Paulo Freire melihat kesadaran magis ini dengan menekankan dua orientasi dasar, yaitu menyerahkan fakta-fakta kepada penguasa (pemerintah) untuk menjelaskan mengapa segalanya seperti ini dan pandangan yang sederhana tentang hubungan kausalitas. Di Amerika Latin, kita dapat melihat contoh situasi yang menggambarkan kesadaran magis ini. Misalnya pernyataan-pernyataan: "Kami tidak dapat belajar karena kami tidak memiliki uang," atau "Masyarakat Indian kami tidak bersekolah, tidak mempelajari sesuatu, karena mereka tidak mengerti sesuatu." Kasus tersebut dapat kita simpulkan bahwa mereka hanya melihat hubungan antara dua hal, uang dan sekolah, atau sekolah dan pemahaman, tetapi mereka gagal bertanya mengapa mereka tidak memiliki uang atau mengapa mereka tidak bersekolah (William A. Smith, 2008:63-67).

Fase kesadaran selanjutnya adalah kesadaran naif atau transitif. Perubahan dari kesadaran magis ke kesadaran naif adalah perubahan dari menyesuaikan diri dengan fakta-fakta kehidupan yang tak terelakkan ke memperbarui penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan individu-individu dalam sebuah sistem yang pada dasarnya keras. Kontradiksi yang dihadapi oleh individu yang naif ini terjadi antara sistem ideal yang seharusnya berjalan, dan pelanggaran terhadap sistem tersebut oleh orang-orang jahat dan bodoh. Jika mereka dapat memperbarui perilakunya, maka sistem tersebut akan berjalan dengan baik.

Orang-orang menyederhanakan masalah dengan cara menimpakan penyebabnya pada individu-individu, bukan pada sistem itu sendiri. Argumentasi-argumentasi mereka rapuh ketika menjelaskan bahwa individu terpisah dari sistem di mana mereka hidup dan pada puncaknya mengarah pada argumentasi yang larut dengan realitas (William A. Smith, 2008:69).

Fase ketiga yaitu kesadaran kritis. Isu yang muncul adalah perubahan sistem yang tidak adil, bukannya pembaruan atau penghancuran individu-individu tertentu. Proses perubahan ini memiliki dua aspek, yaitu pertama, penegasan diri dan penolakan untuk menjadi 'inang bagi benalu', dan kedua, berusaha secara sadar dan empiris untuk mengganti sistem yang menindas dengan sistem yang adil dan bisa mereka kuasai. Tidak seperti kesadaran naif, individu ini tidak menyalahkan individu-individu, tetapi justru menunjukkan pemahaman yang benar atas dirinya sendiri dan sistem yang memaksa tertindas dan penindas berkolusi (William A. Smith, 2008:80-81).

Pada tingkat kesadaran naif, di mana individu tertindas ingin memperbarui sistem yang telah dirusak oleh orang-orang jahat yang melanggar norma dan aturan bisa dibagi menjadi dua sub kesadaran (William A. Smith, 2008:102):
  1. Individu-individu menyalahkan diri mereka sendiri dan kawan-kawannya karena dianggap telah melanggar norma. Dengan perasaan bersalah dan melakukan tindak kekerasan horizontal, mereka itu justru memperkuat kepercayaan penindas. Tindakan-tindakan mereka diarahkan untuk mengubah diri mereka sendiri dan meniru penindas: menjadi lebih berpendidikan, lebih berkuasa, dan lebih putih.
  2. Individu-individu tertindas menyalahkan individu penindas atau kelompok penindas tertentu karena melanggar norma-norma yang ada. Mereka mengetahui maksud dan betapa kasarnya perilaku penindas tersebut, tetapi mereka menimpakan penyebab persoalan ini pada individu penindas. Tindakan-tindakan mereka diarahkan untuk mempertahankan diri dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh pelanggaran norma individu penindas.
Individu-individu yang berkesadaran kritis menganggap sistem ini perlu ditransformasi. Tetapi untuk mengubah realitas secara mendasar tidak cukup dengan melakukan tambal-sulam terhadap hubungan antara penindas dan tertindas, karena penyebab penindasan ini adalah sistem, yakni seperangkat norma yang menguasai si tertindas dan penindas. Proses transformasi ini dimulai dengan menolak dan menyingkirkan ideologi penindas dan meningkatnya penghargaan terhadap diri sendiri dan kekuatan komunitas. Mereka berpikir secara ilmiah dan tidak lagi merujuk pada kasus-kasus penindasan tetapi pada wilayah sosio-ekonomi makro di mana kehidupan berjalan dalam konteks glibal. Individu-individu yang krisis mulai mencari model-model peran baru, mengandalkan kekuatan diri dan sumber-sumber daya komunitas, keberanian mengambil resiko dan independen terhadap penindas. Pendekatan baru dalam pemecahan masalah ini, yaitu polemik diganti dialog dengan kawan-kawannya, menyebabkan individu tertindas harus memformulasikan tindakan-tindakan sendiri yang berujung pada pembebasan dan transformasi yang sebenarnya (William A. Smith, 2008:102-103).

Paulo Freire yang mengutip dari Fransisco Weffert menyebutkan bahwa bangkitnya kesadaran kritis membuka jalan ke arah pengungkapan ketidakpuasan sosial secara tepat karena ketidakpuasan itu adalah unsur-unsur yang nyata dari sebuah situasi yang menindas (Paulo Freire, 2008:3). Dengan adanya kesadaran kritis ini, maka individu-individu cenderung berpikir dan bertindak secara kritis. Dalam lingkup pendidikan misalnya, kesadaran kritis perlu dikembangkan kepada peserta didik. Inilah yang menjadi salah satu gambaran dari konsientisasi.

Kesimpulan
Konsientisasi merupakan belajar memahami pertentangan-pertentangan sosial ekonomi serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari situasi pertentangan itu. Konsientisasi juga merupakan proses di mana manusia berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan.
Yang diharapkan dari proses konsientisasi ini adalah adanya suatu perubahan kesadaran dari kesadaran magis ke kesadaran naif, dan akhirnya terwujudlah cita-cita konsientisasi itu sendiri, yakni kesadaran kritis. Kesadaran kritis ini mutlak diperlukan untuk mengubah situasi sosial, ekonomi, dan politik di negara-negara yang miskin dan terbelakang atau negara-negara yang masih dijajah secara sosial ekonomi.
Dalam lingkup pendidikan, teori konsientisasi dapat dikategorikan sebagai teori pendidikan perkembangan. Fase-fase dalam konsientisasi bersifat hirarkis. Kesadaran kritis lebih berbeda dan integral dibandingkan dengan kesadaran magis. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kesadaran kritis menunjukkan fase kesadaran yang lebih tinggi atau 'lebih baik'.
Daftar Pustaka
  • Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
  • Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2008
  • William A. Smith, Conscientizacao: Tujuan Pendidikan Paulo Freire, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008