![]() |
| Ilustrasi |
aho segala kita yang menyembah nama
yogya diketahui apa Yang Pertama
karena Tuhan kita yang Sedia Lama
dengan ketujuh sifat bersama-sama
kunjung kunjung di bukit yang maha tinggi
kolam sebuah di bawahnya
wajib insan mengenal diri
sifat Allah pada tubuhnya
nurani haqiqat khatam
supaya terang laut yang maha dalam
berhenti angin ombak pun padam
menjadi Sultan kedua alam
Tuhan kita Empunya Dzat
Awwalnya Hayy pertama bilang sifat
keduanya Ilmu dan Rupa Ma'lumat
ketiga Murid kan sekalian Iradat
keempat Qadir dengan Qudratnya tamam
kelimanya sifat bernama Kalam
keenamnya Sami' dengan Ada-Nya dawam
ketujuhnya Basir akan halal dan haram
ketujuhnya itu adanya qadim
akan istiadat allamin sempurna Alim
karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
bernama Bismillahirrahmanirrahim
Ilmu ini Haqiqat Muhammad an-Nabi
menurutkan Ma'lum dengan lengkapnya qawi
daripada Haqiqatnya itu jahil dan wali
beroleh i'tibarnya dengan sekalian peri
Tuhan kita itu empunya Kamal
di dalam Ilmu-Nya tiada panah zawal
Rahman dalamnya perhimpunan Jalal
beserta dengan Rahim sekalian Jamal
Tuhan kita itu bernama Aliyy
dengan sekalian sifat-Nya senantiasa baqi
'ala jamiil 'alamin Athar-Nya jadi
daripada sittu jihat --- sebab itulah khali
Cahaya Athar-Nya tiada padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan makhluq siang dan malam
ila 'abadil 'abad tiada kan karam
Tuhan kita itu seperti Bahr al-'Amiq
ombaknya penuh pada sekalian tariq
laut dan ombak keduanya rafiq
akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq
lautnya 'Alim haluannya Ma'lum
keadaannya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim shu'unnya Mahkum
pada sekalian 'alamin inilah rusum
jikalau sini kamu tahu akan wujud
itulah tempat kamu shuhud
buangkan rupamu daripada sekalian quyud
supaya dapat ke dalam diri qu'ud
pada wujud Allah itulah yogya kau qa'im
buangkan rupa dan namamu da'im
nafikan rasamu daripada makhdum dan khadim
supaya sampai kepada Amal yang Khatim
jika engkau belum tetap seperti batu
hukum dua lagi khadim dan ratu
setelah lupa engkau dari emas dan mati
mangkanya dapat menjadi satu
jika belum fana daripada ribu dan ratus
tiadakan dapat adamu kau hapus
nafikan rasamu daripada kasar dan halus
supaya dapat barang katamu harus
Hamzah Fansuri sungguh pun da'if
haqiqatnya hampir sampai pada Dhat al-Sharif
sungguh pun habab rupanya khatif
wasilnya da'im dengan Bahr al-Latif
Hamzah miskin orang uryani
seperti Ismail menjadi qurbani
bukannya 'Ajami lagi 'Arabi
senantiasa wasil dengan Yang Baqi
Hamzah Fansuri terlalu karam
di dalam laut yang maha dalam
berhenti angin ombak pun padam
menjadi sultan kedua alam
[]
Keterangan:
Syair di atas adalah salah satu karya Hamzah Fansuri. Dalam "Syair Nama-nama Tuhan" agaknya perlu hati-hati untuk memahami makna yang terkandung. Apalagi Hamzah Fansuri adalah tokoh yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai "antagonis" dalam sejarah Aceh dan dunia. Tapi, kita kesampingkan dulu untuk sementara perdebatan itu. Hamzah Fansuri harus kita akui sebagai salah satu pembaharuan dalam bidang bahasa. Seperti yang terlihat pada karya di atas yang sepenuhnya bersumber dari buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh, telah mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan: sangat sulit untuk memadukan padanan kata dan bahasa yang tepat pada masa itu.
Baca juga syair-syair Hamzah Fansuri yang lainnya:





